26 August 2010

Romo Boedi Prasetijo dan Sepeda




Kendati sibuk sebagai kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya, ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya, Romo ALFONSUS BOEDI PRASETIJO selalu meluangkan waktu untuk bersepeda. Dia juga membentuk komunitas sepeda bernama Pedhal Power.

Pagi-pagi buta, setiap Ahad atau hari libur nasional, hampir pasti Romo Boedi Prasetijo bersama komunitas sepedanya mengukur sejumlah ruas jalan di Kota Surabaya dan sekitarnya. Berkumpul di halaman Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat, berdoa sejenak... dan medhal rame-rame.

Jika Pedhal Power tak punya kegiatan, romo asal Cepu, Jawa Tengah, ini pun tak segan-segan untuk melakukan solo run. Bersepeda seorang diri. "Orang bersepeda itu kan tujuannya supaya sehat, bisa refreshing. Maka, saya usahakan untuk bersepada kapan saja," ujar Romo Boedi Prasetijo.

Belum lama ini, ketika para pastor lain menggunakan mobil ke kawasan Pakuwon City untuk menghadiri peletakan batu pertama Seminari Providentia Dei, Romo Boedi memilih bersolo run. Mancal sepeda anyarnya dari Dukuh Kupang sampai kawasan Sukolilo, Kenjeran, itu. "Ini sepeda saya yang baru. Rasanya lebih enak," ujar Romo Boedi sembari memperlihatkan sepeda barunya kepada saya.

Hobi bersepeda ria ini sebetulnya sudah dilakoni Romo Boedi sejak lama. Namun, dia kian asyik menikmati olahraga murah meriah, bebas polusi, ini ketika kuliah di Manila, Filipina. Rakyat negara yang sekarang dipimpin Presiden Benigno Aquino itu tergolong gila bersepeda.

Suatu ketika, tahun 2001, puluhan ribu warga Filipina melakukan Pedhal Power dengan rame-rame bersepeda menduduki Istana Malacanang. Romo Boedi ikut dalam massa Pedhal Power ini. Hasilnya, Presiden Joseph Estrada yang dituduh korupsi mengundurkan diri.

Betapa terkesannya pada Pedhal Power ini, ketika kembali ke Surabaya, Romo Boedi mendirikan komunitas sepeda sehat bernama Pedhal Power. "Jadi, saya memang meniru apa yang dilakukan di Filipina saja. Tapi Pedhal Power di sini benar-benar tak ada kaitan dengan politik. Murni olahraga supaya badan kita sehat, gak gampang sakit."

Romo Boedi mulai bikin 'heboh' pada 17 Agustus 2006. Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Ke-61 Republik Indonesia. Dia berhasil mengajak 17 orang untuk bersepeda bersama keliling Surabaya. Mereka mengunjungi sembilan gereja Katolik. Di gereja-gereja itu, mereka mengadakan upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi.

"Acara diakhiri pemotongan tumpeng dan makan bersama," tutur Romo Boedi. Sejak itulah nama Romo Boedi Prasetijo identik dengan Pedhal Power. Pastor yang paling 'gila' sepeda di Surabaya, bahkan Jawa Timur.


Empat tahun lalu, Romo Boedi Prasetijo bersama 17 penggemar sepeda onthel mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di sembilan gereja di Surabaya. Sejak itu nama Pedhal Power mulai dikenal di kalangan komunitas onthel.

Romo Boedi Prasetijo memang identik dengan Pedhal Power dan sepeda sehat. Boleh dikata, dialah pastor yang paling 'gila' bersepeda di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia.

Boedi pun tak kehilangan ide membuat even-even untuk menggerakkan para penggemar sepeda di Surabaya, khususnya di sekitar tempat tinggalnya di kompleks Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat Surabaya.

“Di Surabaya ini sebenarnya banyak orang yang suka naik sepeda. Jadi, menggerakkannya gampang sekali. Cukup telepon atau SMS saja sudah jadi,” katanya.

Kegiatan lain yang cukup besar adalah peringatan Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008. Dipimpin Romo Boedi, puluhan penggemar sepeda melakukan napak tilas beberapa tempat bersejarah di Kota Surabaya. Yakni, Hotel Majapahit, Museum Sampoerna, Tugu Pahlawan, Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo (RKZ), dan Gereja Katedral Surabaya.

“Kita ingin agar kegiatan bersepeda ini tidak sekadar olahraga, cari keringat, tapi ada misi mengunjungi bangunan-bangunan cagar budaya. Syukurlah, para peserta puas dan sangat menikmati perjalanan itu,” kata pastor yang hobi fotografi ini.

Satu lagi even langka yang digagas Romo Boedi adalah menjajal Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Selain karena Jembatan Suramadu memang tak boleh dilalui sepeda onthel, program ini dilaksanakan ketika jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu belum diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tepatnya, Minggu pagi, 24 Mei 2009, Romo Boedi bersama rombongan Pedhal Power bisa dengan rileks menjajal Suramadu. Padahal, saat itu jembatan belum dibuka untuk masyarakat umum. Kok bisa nekat begitu?

“Hehehe…. Kebetulan kami minta bantuan salah satu tokoh yang punya akses ke proyek Suramadu. Ternyata, beliau ini mengizinkan asalkan jangan lama-lama,” katanya.

Tak lama setelah tur ke Suramadu, Romo Boedi dan komunitasnya melakukan tur serupa ke Gresik. Saat itu, Minggu pagi, diadakan misa pemberkatan Gereja Santa Maria Gresik yang baru direnovasi. Tiba di Gresik, romo lulusan Filipina ini langsung ganti kaus Pedhal Power, mandi sejenak, dan mengenakan jubah dan kasula layaknya pastor Katolik. Bergabunglah dia dengan pastor-pastor lain untuk mengikuti perayaan ekaristi alias misa kudus.

Selepas misa, jubah dilipat, dimasukkan tas, dan Boedi Prasetijo kembali mengenakan busana olahraga. Mengayuh sepeda kembali ke Surabaya. “Jangankan Gresik, saya dan teman-teman bahkan sudah pernah tur ke Puhsarang, Kediri, dengan sepeda,” katanya, bangga. (rek)

1 comment: