09 August 2010

Philippine Madrigal Singers di Surabaya




Oleh LAMBERTUS HUREK

Sekitar 500 orang menjadi saksi kepiawaian Philippine Madrigal Singers berolah suara di Aula Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya. Jumat malam, 6 Agustus 2010, penonton dibuat terpaku di tempat duduk dan geleng-geleng kepala menyaksikan akrobat vokal dari 21 vokalis asal Filipina.

Asal tahu saja, Philippine Madrigal Singers bukan kelompok paduan suara sembarangan. Mereka beberapa kali memenangi festival internasional.

The Madz, julukan populer Philippine Madrigal Singers, juga tercatat sebagai salah satu paduan suara yang paling banyak bepergian di berbagi negara. Surabaya beruntung menjadi salah satu kota di Indonesia yang disinggahi The Madz, selain Bandung, Jogjakarta, dan Jakarta. Para penyanyi yang kebanyakan mahasiswa ini mengaku puas dengan sambutan penggemar musik paduan suara di Kota Surabaya.

Berbeda dengan paduan suara umumnya, Philippine Madrigal Singers tidak menyanyi sambil berdiri. Mereka duduk manis membentuk setengah lingkaran. Selang-seling pria dan wanita. Juga tidak pakai dirigen atau konduktor yang kasih aba-aba. Juga tak ada iringan musik apa pun. Murni a capella. Tak ada teks atau partitur.

Mark Anthony Carpio, choirmaster atau semacam dirigen, duduk paling depan di sebelah kiri penonton. Mark memberikan aba-aba secara halus. Kita juga tak melihat Mark Anthony Carpio membunyikan garputala atau meniup flute untuk mengambil nada dasar.

Para penyanyi konsentrasi, ambil napas yang cukup... lalu tahu-tahu sudah membunyikan nada-nada indah. Kombinasi sopran, alto, tenor, bas, muncul begitu saja. Spontan banget! Sungguh, sebuah kelompok paduan suara kelas dunia yang sulit dicari tandingannya.

Philippine Madrigal Singers pun tak ingin berkenes-kenes dengan olah tubuh, tari-tarian, demi menarik perhatian penonton. Mereka percaya hanya dengan vokal yang terlatih, aransemen nan rancak, paduan suara niscaya terasa indah. Saya sungguh menikmati kor yang tidak lazim untuk ukuran Indonesia itu.

Kita punya Gracioso Sonora yang piawai membawakan lagu macam apa saja, dengan tingkat kesulitan macam Philippine Madrigal Singers. Tapi cara Philippine Madrigal Singers menyanyi sambil duduk manis ala orang lagi senam pernapasan, sangat menarik perhatian saya sebagai 'pengamat' paduan suara amatiran di Surabaya.

Konser bertajuk Indonesia Goodwill Concert Tour 2010 ini dibagi dua bagian. Bagian pertama bernuansa klasik.

O MAGNUM MYSTERIUM Javier Busto
DE PROFUNDIS John August Pamintuan
REVOICI VENIR DU PRINTEMPS Claude Le Jeune
LA BOMBA Mateo FLECHA
WE BEHELD ONCE AGAIN THE STARS Randall Stroope
I CAN TELL THE WORLD arr. Moses Hogan
PAMGUGUN Fransisco F. Feliciano
GAPAS Eudinice Palaruan


Bagian kedua:

SALIDUMMAY Normita Rio-Pablico
KOYU NO TEBULUL Eudinice Palaruan
TWA TANBOU Sidney Guillaume
GAMELAN R. Murray Schafer
LISOI LISOI arr. Ruben Federizon
IT MIGHT BE YOU Alan & Marilyin Bergman/Dave Grusin, arr. John August Pamintuan
I'LL BE THERE FOR YOU Martin Nievera, arr. John August Pamintuan
BEAUTIFUL GIRL Jose-Mari Chan, arr. Annie Nepomuceno
SEMPURNA Andra & Backbone, arr. Ily Matthew Maniano
CIRCLE OF LIFE Elton John/Tim Rice, arr. Anna Abeleda


Kehebatan Philippine Madrigal Singers sangat terasa di bagian kedua. Musik dari beberapa negara ini dibawakan dengan rancak, kental nuansa asal nyanyian rakyat itu. Ketika membawakan lagu Afrika, kita seakan berada di pedalaman benua hitam itu. Ada suara-suara aneh kayak lenguhan binatang, jeritan, teriakan, dan sebagainya.

Begitu pula ketika membawakan LISOI LISOI, lagu tradisional Batak, Sumatera Utara, suasana orang Batak bercengkrama di lapo tuak, bergembira, mungkin juga mabok, sangat terasa.

Aransemen untuk nomor pop macam BEAUTIFUL GIRL atau SEMPURNA, menurut saya, tidak seistimewa folk song. Tapi sambutan penonton sangat meriah karena lagu-lagu itu memang sangat dikenal. Kita dibuat senang karena paduan suara Filipina ini membawakan lagu pop Indonesia, SEMPURNA, dengan artikulasi bahasa Indonesia yang sempurna pula. Tidak seperti lidah orang bule yang cadel dan rada aneh ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Selepas CIRCLE OF LIFE, Mark Anthony sang pemimpin berdiri diikuti 20 penyanyi lain. Semua lagu di buku program sudah dibawakan. Mau pamit. Tapi penonton yang berdiri dan bertepuk tangan tak rela Philippine Madrigal Singers menyudahi pertunjukan.

"We want more! We want more!" teriak penonton berulang-ulang.

Para penyanyi Filipina ini pun tersenyum lebar. Lalu, duduk kembali.... menyanyi lagi. Nomor bonus alias encore.

Tidak tanggung-tanggung ada empat lagu tambahan. Di antaranya, LET IT BE dan BENGAWAN SOLO. Lagu karya almarhum Gesang ini tidak dibawakan ala keroncong, tapi ala Philippine Madrigal Singers. Vokalis cewek menyanyi, diiringi 'musik mulut' dari 20 temannya. Bengawan Solo rasa Filipina.

Meski terkesan baru berlatih Bengawan Solo, terlihat dari Mark Anthony yang harus baca partitur, padahal sebelumnya hafal di luar kepala, lagu penutup ini tetap enak didengar. Bengawan Solo ini benar-benar nomor pamungkas.

Terima kasih Philippine Madrigal Singers, kor yang dibentuk tahun 1963 di University of the Philippines! Kalian sudah memberikan pelajaran berharga buat paduan suara di Indonesia! Salam musik!

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 12 Agustus 2010.

10 comments:

  1. keren abis... itu emang paduan suara kelas dunia yg luar biasa!!!!

    ReplyDelete
  2. nyanyi itu memang boleh duduk atau berdiri, yg penting nyaman agar bisa ambil pernafasan yg bagus. cuma memang lebih bagus kalo nyanyi sambil berdiri, apalagi utk lagu2 klasik yg range nadanya sangat lebar. good luck.

    ReplyDelete
  3. Thanks Mas Hurek sudah meliput konser The MADZ...
    Baik teman-teman dari PSM ITB selaku promotor kedatangan The MADZ di Indonesia, para personil The MADZ sendiri, dan kami sebagai partner penyelenggara di Surabaya, sungguh senang dengan respon para chorister di Surabaya dan sekitarnya. YYI, sejak tiket di-release, teman2 Paduan Suara Mahasiswa Univ. Brawijaya Malang sudang memborong hampir seluruh tiket kategori pelajar/mahasiswa...
    Semoga di lain waktu kita masih punya kesempatan untuk menikmati dan belajar dari paduan suara - paduan suara kelas dunia seperti The MADZ ini.

    Salam,
    Patrisna Widuri
    Amadeus Enterprise - Surabaya

    ReplyDelete
  4. Oya, tentang posisi menyanyi sambil duduk, itu mereka mengikuti gaya bernyanyi para madrigal singers di abad pertengahan.. jadi bukan sekedar branding atau gimmick saja...

    Patrisna Widuri
    Amadeus Enterprise - Surabaya

    ReplyDelete
  5. mantap memang... kita perlu banyak referensi dr choir2 kelas dunia. thanks to patrisna cs...

    ReplyDelete
  6. bener2 paduan suara canggih, kelas dunia...

    ReplyDelete
  7. terima kasih ya sudah nonton dan membuat artikel tentang Madz. Kami senang melihat begitu banyak orang yang puas melihat penampilan Madz. Semoga kami bisa membawa paduan suara dunia lainnya ke Indonesia sehingga dunia paduan suara di Indonesia semakin maju.
    Salam :)
    Horas!

    ReplyDelete
  8. Patrisna yang budiman,

    Saya justru lebih berterima kasih kepada Patrisna yang telah kasih tahu saya ada konser bagus di GKI Pregbun. Saya salut sama Patrisna dkk di Amadeus yang sudah kerja keras untuk bikin macam-macam even bagus di bidang musik klasik, khususnya paduan suara.

    Semoga kerja keras Patrisna dkk dapat balasan dari Tuhan. Merdeka!!!!

    Terima kasih juga buat Grace dari PSM ITB yang sudah menulis komen di sini. GBU.

    ReplyDelete
  9. choir kita pun kalo dilatih intensif bisa kata the Madz. kita py kemampuan itu kok...

    ReplyDelete
  10. Sama-sama Mas Hurek, kalo kita semua bekerjasama dengan baik pasti musik klasik (maupun musik apapun) di tanah air bisa juga maju... Konser semacam ini tentu saja tujuannya adalah memacu sumber daya yang ada di Indonesia untuk bisa melakukan dan mencapai hal yang sama dengan yang ditunjukkan oleh (salah satunya) The MADZ...
    Hai Grace, salam untuk teman2 PSM ITB...


    Patrisna Widuri
    Amadeus Enterprise - Surabaya

    ReplyDelete