27 August 2010

Pagoda Tian Ti di Kenjeran



Kenjeran Park (Kenpark) punya ikon baru. Namanya Pagoda Tian Ti (Langit-Bumi) atau juga disebut Sky World. Duplikat bangunan sejenis di Beijing, Tiongkok, ini merupakan karya terbaru Soetiadji Yudho, bos Kenpark dan Sanggar Agung.

Meskipun belum diresmikan, Pagoda Tian Ti ini sudah bisa dinikmati pengunjung Kenpark. Letaknya tak jauh dari Kya-Kya Sea Side yang dipenuhi lampion itu. Kita juga bisa berjalan kaki melewati kya-kya baru yang disebut Kya-Kya 12 Shio. Tak heran, kawasan wisata Kenpark semakin kental dengan nuansa Tionghoa.

Menurut rencana, Pagoda Tian Ti diresmikan bersamaan dengan Perayaan Malam Bulan Purnama atau Pesta Kue Bulan (Tiong Chiu Pia) pada 21 September 2010 mendatang. Karena itu, sejak tiga bulan lalu, para pekerja sibuk bekerja lembur agar bangunan serta pelataran pagoda itu segera rampung. Panggung raksasa untuk festival tahunan setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek itu akan dibuat di depan pagoda.

Mengapa Soetiadji tak pernah berhenti membangun ikon-ikon unik di Kenpark? Bukankah di sana sudah ada sejumlah ikon Tionghoa? Sebut saja Sanggar Agung, patung Dewi Kwan Im di pantai, Buddha Empat Muka, Kya-Kya Sea Side, dan Kya-Kya 12 Shio?

Bagi Soetiadji, yang juga pemilik sejumlah hotel di Surabaya itu, pembangunan Sky World alias Pagoda Tian Ti ini merupakan sebuah kebutuhan. Sebab, sejak lama dia punya komitmen untuk melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa agar bisa dinikmati dan diapresiasi orang banyak.

Selama ini banyak orang terkagum-kagum dengan pagoda tua di Beijing yang dikenal dengan Temple of Heaven. Pagoda tersebut menjadi bangunan cagar budaya dan punya nilai sejarah yang tinggi di Tiongkok.

Setiap hari banyak wisatawan dari berbagai negara datang untuk menikmatinya. Maka, Soetiadji tertarik membangun pagoda sejenis di Kenpark. Kebetulan lahan di dekat pantai berhutan bakau di Kenjeran ini masih cukup luas. "Saya bangun persis dengan di Beijing, tapi lebih luas. Ruang dalamnya kosong, nggak ada patung dan sejenisnya," tegasnya.

Sebagai pengelola tempat wisata pantai terbesar di Kota Surabaya, Soetiadji sadar bahwa objek wisata alam seperti hutan bakau, laut, debur ombak, angin sepoi-sepoi, dan aneka makanan laut saja tidak cukup. Tak mungkin menarik sebanyak mungkin masyarakat untuk datang ke Kenpark.

“Kalau hanya datang untuk lihat laut, ya, paling satu dua kali saja langsung bosan,” katanya.

Gedung bundar itu berdiameter 60 meter dengan tinggi 58 meter. Ukurannya sengaja dibuat lebih besar dan lebih tinggi ketimbang di Beijing. Tapi pagoda ini sangat mirip aslinya, terutama pada aksesori, ukiran, ornamen, fisik gedung, dan warna kuil.

Konstruksinya dibuat dari baja, sedangkan aslinya terbuat dari kayu. ''Banyak keterbatasan saat membuat, tetapi kami buat semirip mungkin,'' ujar Soetiadji.

Konsep yin yang dan fengsui yang menjadi lambang keseimbangan juga dihadirkan. Simbol kerajaan berupa naga dan phoenix juga disajikan di semua relief bangunan. Bahkan, di sisi bawah terdapat lima naga sebagai perlambang empat penjuru arah angin dan satu naga menjadi pilar bangunan.


Sejak dipercaya mengelola Kenpark Surabaya, yang juga dikenal sebagai Pantai Ria Kenjeran Baru, Soetiadji Yudho membangunan berbagai fasilitas olahraga di sana. Ada fasilitas balapan (racing) kaliber nasional, bahkan internasional, kolam renang, gedung bulutangkis, futsal, kolam pemancingan, olahraga air, lapangan tembak, hingga pacuan kuda.


Kenpark pernah terkenal dengan Kampung Koboi yang eksotik. Berbagai even tingkat nasional, bahkan internasional, pernah dan akan terus digelar di Kenpark. Itu yang membuat tempat wisata ini sudah dikenal luas di kancah internasional.

“Kita ingin agar para pengunjung bisa rekreasi, berolahraga, atau sekadar menikmati pemandangan pantai, sambil makan dan minum,” tegas Soetiadji.

Setelah membangun fasilitas olahraga, Soetiadji mempercantik kompleks Kenpark dengan aneka bangunan berarsitektur khas Tionghoa. Dia memang punya komitmen melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa dan Nusantara umumnya. Apalagi, Soetiadji melihat belum ada tempat wisata pantai di Indonesia yang dikemas seperti itu.

Maka, klenteng lama direlokasi dan direnovasi menjadi tempat ibadah Tridharma yang anggun dan eksotik di atas laut. Namanya Sanggar Agung. Ada patung Dewi Kwan Im berukuran raksasa yang masuk rekor Muri (Museum Rekor Indonesia).

Kemudian patung Buddha Empat Muka yang juga masuk Muri. Kya-Kya dengan ribuan lampion yang juga diakui Muri. Tak puas dengan kya-kya di pinggir pantai, dibangun lagi Kya-Kya 12 Shio. “Ini supaya pengunjung Kenpark bisa menikmati arsitektur yang indah dan punya nilai budaya,” tegas Soetiadji.

Khusus untuk Pagoda Tian Ti, meski meniru bangunan serupa di Beijing, Tiongkok, Soetiadji menegaskan, gedung bundar itu tidak dimaksudkan sebagai rumah ibadah agama tertentu. Ruangan pagoda yang tiga lantai itu dibiarkan kosong. Tak akan diisi dengan ikon-ikon, patung, atau aksesoris agama tertentu.

“Siapa saja dengan latar belakang agama, etnis, suku... apa saja, silakan menikmati keindahan bangunan itu. Mau bikin acara apa saja, sepanjang untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan, spiritualias, kebersamaan, boleh,” tandasnya.

Menurut dia, Pagoda Tian Tan atau Temple of Heaven di Beijing tidak boleh dimasuki sembarang orang. Sebab, bangunan itu merupakan cagar budaya dan tempat bersejarah yang sangat dilindungi oleh negara. Pengunjung hanya bisa melihat dari luar. “Kalau di Kenjeran ini boleh,” katanya.

3 comments:

  1. Kak Hurek, sebenarnya, dengan ejaan pinyin yang baku, seharusnya ditulis Tian Di (pengucapannya kalau menurut bahasa Indonesia T'ian Ti; memang membingungkan).

    ReplyDelete
  2. Tepat sekali. Anda memang teliti dan paham bahasa Tionghoa, George. Beda dengan kebanyakan orang Indonesia. Sistem Pinyin yang baku ala Tiongkok memang berlaku internasional, tapi belum diketahui orang Indonesia yang bukan Tionghoa. Setahu saya ada belasan sistem romanisasi bahasa Tionghoa, dan itu memang bikin bingung banyak orang.

    Andaikan kita pakai Pinyin ala RRT bagus, tapi bunyi yang diucapkan orang Indonesia pasti meleset. Waktu kecil saya kagum banget sama WU DIXI, pemain badminton putri Tiongkok. Saya ucapkan namanya WU DIKSI sesuai lidah orang Indonesia.

    Setelah bertahun-tahun, saya akhirnya geli sendiri setelah membaca buku pelajaran Mandarin. WU DIXI harusnya dibaca U-TISI. Saya percaya hampir semua orang Indonesia, kecuali yang Tionghoa, sama dengan saya. Seperti penyiar TVRI masa lalu membunyikan WU DIXI sebagai WU DIKSI.

    Contoh lain: LEE KUAN YEW. Jelas tidak baku karena melanggar pakem Pinyin ala Putonghua alias Mandarin. Kalau mau baku nama bekas perdana menteri Singapura ini harus ditulis LI GUANGYAO. Pasti semua orang bingung dengan nama ini. Kasus-kasus macam inilah yang membuat orang Indonesia kesulitan belajar bahasa Tionghoa.

    Salam.

    ReplyDelete
  3. Kak Hurek, memang benar pengamatan anda. Itu karena bahasa2 orang Tionghoa yang di Asia Tenggara itu asalnya pun bukan Mandarin, tetapi bahasa2 Tiongkok Selatan, terutama dari propinsi Hokkian (Fujian) dan propinsi Kanton (Guangdong).

    Kalau saya jadi Pak Soetiadji, saya tidak akan menjiplak mentah2 bangunan2 di Tiongkok, apalagi Tiongkok utara, yang sebenarnya bukanlah leluhur orang Tionghoa di Indonesia.

    Dengan uang saya, saya akan membangun museum Tionghoa Indonesia, memperkenalkan asal usul orang Tionghoa, budaya peranakan, dan semacam cultural center (pusat budaya) untuk belajar bahasa, belajar wayang potehi, belajar macam2 lah. Dengan demikian orang Tionghoa tidak lupa asalnya (yang bukan dari Tiongkok utara, tapi selatan) dan orang Jawa / Madura / Flores /dll. pun dapat mengapresiasi Tionghoa tanpa prejudice lagi.

    ReplyDelete