29 August 2010

Nasib Bangsa Kuli di Malaysia



Coba terka, tukang sapu di menara kembar Kuala Lumpur ini orang mana? (GETTY IMAGES)


Berapa banyak pekerja Indonesia (TKI) yang berada di Malaysia? Dua juta? Tiga juta? Lima juta? Yah, TKI legal plus ilegal di Malaysia kira-kira lima juta orang. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membentuk sebuah negara. Bandingkan penduduk Singapura, Timor Leste, atau Brunei Darussalam.

Kerja apa saja TKI-TKI kita di Malaysia itu? Benar. Hampir semuanya pekerja-pekerja kasar. Kuli bangunan. Kuli pelabuhan. Kuli rumah tangga alias babu. Tukang petik kelapa sawit. Tukang aspal jalan. Tukang jaga bayi. Tukang tebang pohon di hutan. Penjaga ternak. Hampir tidak ada orang Indonesia yang bekerja di sektor bergengsi.

Indonesia benar-benar jadi bangsa kuli di Malaysia. Rakyat Malaysia, khususnya yang lahir di atas tahun 1970, 1980... apalagi yang muda-muda tahunya ya orang Indonesia itu kuli. Budak. Rela dibayar mudah. Rela bekerja dalam kondisi tak manusiawi. Rela didera. Jadi mainan para majikan baik itu orang Malaysia yang Melayu, China, atau India.

Berkali-kali orang Indonesia dianiaya, disiksa, diperlakukan tak manusiawi... di Malaysia. Itu bukan cerita baru. Sejak 1950-an, ketika Malaysia belum merdeka, orang Indonesia sudah merantau di negara jiran yang suka mengklaim 'saudara serumpun' itu. Dan perilaku-perilaku kejam, bengis, biadab dari para majikan -- tentu saja tak semua majikan jahat dan kejam -- sudah ada.

Karena itu, unjuk rasa anti-Malaysia yang sering terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, apa pun pemicunya, sebetulnya hanya pengulangan sejarah. Sejarah kelam negara bernama Indonesia. Negara berusia 65 tahun, cukup tua, tapi tak juga maju-maju. Indonesia yang gagal menciptakan lapangan kerja sehingga jutaan rakyatnya terpaksa merantau, cari uang, di Malaysia meskipun sudah tahu bakal menemui begitu banyak penderitaan dan hinaan.

"Orang Indonesia bodoh. Orang Indonesia tak bisa berpikir. Tak bisa buat apa-apa selain jadi pembantu rumah tangga, kuli, tukang cuci piring....!"

Begitulah kata-kata hinaan yang kerap kita dengar dari cerita saudara-saudara kita yang merantau di Malaysia. Tapi mau bilang apa? Indonesia, negara yang merdeka 17 Agustus 1945, gagal menciptakan lapangan kerja. Cari kerja sulit. Pemerintah, parlemen, politisi Indonesia hanya suka ribut, bertengkar, cari jabatan, korupsi... tanpa memikirkan penciptaan lapangan kerja untuk rakyat.

Indonesia jauh lebih luas daripada Malaysia. Pertambangan ada. Perkebunan ada. Kelautan boleh. Industri lumayanlah. Tapi mengapa itu semua tak mampu menyerap orang Indonesia? Sehingga harus cari kerja di Malaysia dengan kondisi yang buruk? Harus menahan rasa malu, rendah diri, yang luar biasa?

"Jangankan kerja di kebun, kerja jadi tukang sedot kakus, jualan tahi manusia... pun saya mau. Kalau tinggal di kampung, bagaimana bisa dapat uang? Cari kerja di Indonesia sangat susah, apalagi yang sekolahnya cuma sekolah dasar," kata salah satu teman saya yang sekarang kerja di Malaysia Timur.

Yah, bagi orang miskin, supermiskin, melarat, apa pun dilakukan asalkan bisa makan. Makan seadanya. Bisa menyambung hidup yang senen-kemis. Ribuan orang Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata, sejak 1950-an justru sangat berterima kasih kepada Malaysia yang telah memungkinkan mereka bekerja, dapat uang, bisa membangun kampung halaman dan masa depan.

Di Malaysia, kata teman-teman saya yang dari Flores, siapa pun pasti dapat pekerjaan. Tak perlu pakai ijazah. Pokoknya mau kerja kasar, punya otot dan sedikit otak, orang sudah bisa menikmati lembaran ringgit. "Di Indonesia, kami mau kerja apa? Pemerintah mau kasih kami orang pekerjaankah?" gugat orang Flores kepada mantan gubernur Nusa Tenggara Timur suatu ketika.

Hubungan Malaysia dengan Indonesia memang tidak simetris. Hubungan yang tak sejajar. Ibarat hubungan antara majikan dan babu alias kuli. Orang Indonesia jauh lebih membutuhkan Malaysia agar bisa bekerja. Kerja apa saja, termasuk kuli peternakan babi atau pabrik pengolahan kotoran manusia.

Sebaliknya, orang Malaysia tidak begitu membutuhkan jasa orang Indonesia. Andaikan jutaan orang Indonesia itu ditarik ke Indonesia, Malaysia yang berstatus majikan, high profile, itu akan dengan mudah mendapatkan jutaan pekerja dari negara-negara lain. Ingat, di dunia ini masih banyak negara miskin yang tak mampu menyediakan lapangan kerja untuk warganya.

Pekerja Indonesia bisa diganti orang Bangladesh, Filipina, Timor Leste, India, Myanmar, Laos, Kamboja... dan entah apa lagi.

Oh, Indonesia... bangsa yang besar dengan ribuan pulau, 240 juta penduduk, tapi hanya bisa mengeskpor kuli, babu, dan pekerja kasar ke Malaysia!

6 comments:

  1. Jangan kerana segelintir orang Malaysia yang biadap, maka saudara beranggapan semua rakyat Malaysia begitu.
    Lihat apa yang berlaku di Jakarta apabila bendera Malaysia di bakar, kami tidak bertindak sebaliknya kami rasional kerana beranggapan majoriti rakyat Indonesia tidak mempunyai pandangan sebegitu terhadap malaysia.
    Percayalah, kami majoriti tidak pernah menganggap bangsa Indonesia seperti yang saudara katakan itu.

    ReplyDelete
  2. hm...anehnya supir taksi yang saya tumpangi di malaysia pura2 jadi orang malaysia dan tidak mau mengakui keindonesiaannya.
    kalau kita sendiri malu bagaimana bangsa lain mau menghargai kita.

    ReplyDelete
  3. Hahahaha itu hanya pngethuan dya???dia sekrang maju tpi nyembah ke[ada inggris bayar pajak lagi ckckckckckck

    ReplyDelete
  4. Ave Bung Hurek, saya bisa ikut merasakan kegeraman, kekecewaan, keprihatinan, kemarahan yang membara dan ketidak berdayaan didalam lubuk sanubari anda.
    Orang2 Flores banyak sekali yang pandai. Sayangnya mereka yang cerdas banyak sekali menetap di Jawa, di Eropa dan di-negara2 maju lainnya. Harus segera dibentuk Kommunitas Flores 爱 Flores. Bersama membangun Flores yang adil dan makmur. Ada pepatah yang berbunyi:
    Jedes Volk hat die Regierung, die es verdient.
    Yang artinya: Bangsa brengsek, pemerintahnya tentu brengsek. Bangsa baik, pemerintahnya tentu baik.

    ReplyDelete
  5. Oleh itu indonesia jgn asyik nak maki2 Malaysia sbliknya lebih beruntung Malaysia tidak menghalau TKI pulang kerana sedih INDONESIA memijak dan mmbakar bendera MALAYSIA ttpi lagi brtmbah TKI yg dtg ke MALAYSIA DENGAN MUKA TEBAL SETELAH MELAKUKAN SEDEMIKIAN RUPA TRHADAP MALAYSIA..XSEDARKAH MALAYSIA MMBNTU INDONESIA SELAMA INI ?

    ReplyDelete