04 August 2010

Mao Xiaoli dari Xiamen



Selama empat hari para utusan organisasi nonpemerintah (NGO) dari lima negara Asia (Jepang, India, Filipina, Tiongkok, Indonesia) mengikuti workshop di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto. Mao Xiaoli, yang lebih suka disapa Lily, merupakan satu-satunya peserta asal Tiongkok.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK



Di tengah suasana alam pedesaan yang sejuk di kaki Gunung Penanggungan, jauh dari kebisingan mesin-mesin dan kendaraan bermotor, Selasa (3/8/2010) malam, peserta workshop menikmati kesenian tradisional bantengan ala Jolotundo, Trawas. Para seniman kampung, mulai anak-anak hingga dewasa memperlihatkan keterampilan pencak silat, tari tradisional, saling pecut, hingga adegan utama 'adu banteng'.

Mao Xiaoli alias Lily, yang duduk di deretan paling depan, tampak serius memperhatikan gerak-gerik pemain yang bergerak mengikuti iringan musik tradisional. Sesekali gadis tersenyum menyaksikan gerakan-gerakan lucu penari anak-anak. Namun, ketika adegan baku pukul tiba, pemain saling pecut, Lily memperlihatkan mimik takut.

"Keseniannya menarik, tidak berbeda jauh dengan kesenian rakyat di Tiongkok," ujar gadis asal Xiamen, Tiongkok Selatan, ini dalam bahasa Inggris yang fasih. Lily kemudian melayani permintaan wawancara singkat dengan Radar Surabaya seputar isu lingkungan yang dibahas selama workshop empat hari ini.

Sebagai aktivis China Mangrove Conservation Network (CMCN), mahasiswa semester akhir ini sudah tak asing lagi dengan isu-isu lingkungan baik dalam skala lokal, regional, maupun internasional. Kebetulan kota asalnya, Xiamen di Provinsi Fujian, Tiongkok, terletak di pinggir laut. Karena itu, di sana banyak sekali hutan bakau di sepanjang pantai.

Namun, seiring kemajuan ekonomi Tiongkok yang luar biasa, hutan-hutan bakau ini dibabat untuk berbagai keperluan bisnis dan profit. Orang sering lupa bahwa hutan bakau sangat efektif mencegah abrasi dan melindungi masyarakat pesisir dari bencana alam gelombang pasang atau tsunami.

"Itu sebabnya, saya aktif di CMCN yang fokus pada bakau. Saya bersama teman-teman yang masih muda berusaha peduli pada lingkungan, khususnya penyelamatan hutan bakau. Kami juga mengadakan kampanye dan melakukan penghijauan sesuai dengan kemampuan kami," kata nona manis ini lantas tersenyum.

Berkat aktivitasnya di bidang 'perbakauan' inilah, Lily akhirnya terpilih menjadi utusan resmi LSM asal Tiongkok ke lokakarya pendidikan lingkungan di PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto, Indonesia. Meski sebagian besar warga keturunan Tionghoa di Indonesia berasal dari Tiongkok Selatan, termasuk Xiamen, Lily sendiri masih asing dengan Indonesia.

"Tapi sekarang saya bisa menikmati alam dan kesenian Indonesia, bahkan di pedesaan," tutur Lily yang baru kali pertama berkunjung ke Indonesia.

Kenapa utusan Tiongkok hanya kamu seorang, sementara dari Jepang tiga orang, dan negara-negara lain lebih dari satu orang? "Waktunya terlalu mepet. Akhirnya, hanya saya yang dikirim ke Indonesia," jawabnya.

Menurut Lily, poin penting yang dipetik selama lokakarya di PPLH Seloliman adalah pentingnya pendidikan tentang pembangunan yang berkelanjutan. Masyarakat di dunia perlu menyadari bahwa pembangunan harus memperhatikan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Pembangunan ekonomi jangan sekali-kali mengabaikan lingkungan.

"Kita harus selalu ingat anak cucu kita," katanya. (rek)

2 comments: