01 August 2010

Mandarin Mudah ala Surabaya

Bahasa Mandarin kian populer di Surabaya. Dan itu membuat kita semakin mudah menjumpai buku pelajaran bahasa Tionghoa itu di pasar. Ada yang menggunakan metode internasional, tapi tidak sedikit pula buku kursus bahasa Mandarin yang disesuaikan dengan 'lidah' orang Indonesia.

Robby Tirtobisono, guru bahasa Mandarin asal Surabaya, belum lama ini merilis buku kecil bertajuk Kursus Cepat Bahasa Mandarin. Buku ini, menurut Robby, ditujukan untuk orang-orang kota yang sibuk, tapi ingin mempelajari bahasa Mandarin secara cepat dan praktis.

"Makanya, saya menulis secara sederhana dengan contoh-contoh yang tak asing lagi dengan orang Indonesia. Cara membacanya pun sama dengan dalam bahasa Indonesia," ungkap Robby Tirtobisono.

Kesulitan utama dalam pelajaran bahasa Mandarin yang selama ini dirasakan banyak orang adalah sistem aksara dan pengucapan. Kalaupun menggunakan aksara Latin, seperti bahasa Indonesia, cara membunyikannya tidak sama. Sistem ini yang disebut Hanyu Pinyin.

Contoh: XIEXIE NI harus dibaca SIE-SIE NI. Robby sengaja menggunakan sistem pelafalan ala bahasa Indonesia, bukan sistem internasional yang dikenal dengan Hanyu Pinyin. Ini agar lebih mudah dikuasai oleh orang Indonesia.

"Berbahasa apa pun itu cuma soal kebiasaan saja. Karena itu, orang yang belajar bahasa Mandarin harus terus berlatih dan membiasakan diri baik dengan maupun tanpa guru," tegasnya.

Robby menepis anggapan sejumlah kalangan bahwa Mandarin atau Putonghua merupakan bahasa paling sulit di dunia, sehingga sulit dipelajari. Anggapan seperti ini, menurut dia, merupakan mitos yang hanya melemahkan motivasi orang untuk belajar bahasa Mandarin.

"Yang penting, Anda mau menyediakan waktu untuk belajar. Kemudian, punya seseorang yang membantu mendampingi Anda. Syarat berikutnya, Anda harus berlatih dan terus berlatih," katanya.

Sementara itu, Siska dari Penerbit Indah Surabaya mengaku menerbitkan buku kursus bahasa Mandarin karya Robby ini karena permintaan pasar. Namun, penerbit yang bermarkas di kawasan Lebak Arum ini tidak berani mencetak buku dalam jumlah besar.

"Kita lihat respons masyarakat dulu. Kalau bagus baru kami cetak ulang," katanya. (rek)

2 comments:

  1. Buat saya,

    Kesulitan yang saya hadapi adalah mengerti struktur kalimat. Pengamatan saya, sepertinya tidak menggunakan kaidah S P O seperti bahasa Inggris / Indonesia. Apa benar begitu Bang?

    Dan bahasa Mandarin ada banyak classifier ya? Untuk orang, barang, buku, lembar, air dll. Waaaduh...menantang sekali lho :-)

    ReplyDelete
  2. Kalau mau pesen hub kemana?apa sudah masuk ke toko2 buku di luar sby,Jakrta gt???Tks

    ReplyDelete