28 August 2010

Lele Madja Dubes Chili



Saya bersama Pak Lele Madja dan Bu Fransiska, istrinya.

Salah satu putra Flores, ALOYSIUS LELE MADJA, dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai duta besar Republik Indonesia untuk Chile. Dia dilantik bersama 23 duta besar lain di Istana Negara Jakarta pada 10 Agustus 2010. Syukurlah!

Saya tidak kaget membaca berita yang dirilis kantor berita ANTARA dan situs resmi kepresidenan itu. Sebab, Lele Madja memang diplomat yang merintis karier dari bawah. Bukan 'diplomat-diplomatan' ala pensiunan pejabat tinggi Polri/TNI yang kompetensi diplomatiknya diragukan.

Lahir di Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, Aloysius Lele Madja sudah berkarier di Departemen Luar Negeri RI selama setengah abad. Dia pernah bertugas sebagai konsulat Indonesia di Rusia, Jerman, Italia, Hungaria, Australia. Madja juga fasih berbahasa asing, bukan sekadar Inggris.

“Dr. Madja itu poliglot. Dia bisa bicara dalam bahasa Jerman, Prancis, Hungaria, Inggris dengan fasih. Aksen bahasa Inggrisnya seperti orang Eropa saja,” tulis Duncam Graham, wartawan senior Australia.

Saya pernah berbincang akrab dengan Pak Lele Madja ketika beliau berkunjung ke Surabaya. Begitu mendengar gaya bicaranya, saya langsung curiga kalau Pak Lele ini bekas siswa seminari atau mantan frater.

"Maaf, Pak, Anda menguasai banyak bahasa. Apa pernah studi di seminari menengah atau seminari tinggi di Flores?" tanya saya. Saat itu Aloysius Lele Madja masih menjabat Konjen RI di Perth, Australia.

Dia tersenyum. "Memang, dulu saya skeolah di Seminari Mataloko," papar Madja. Seminari Mataloko merupakan seminari tertua di Flores yang didirikan W Schmidt pada 1929.

"Dulu cita-cita saya memang jadi pastor. Ternyata, panggilan saya bukan di situ. Saya justru menjadi suami dan bapaknya anak-anak," kata Madja disambut tawa Fransiska, istrinya.

Lele Madja sukses menjadi 'romonya tiga anak': Concytha, Samuel, Bernadette.

Selain fasih banyak bahasa asing, Lele Madja ternyata jago main bola. Bahkan, dia mengaku main bola hampir tiap hari. Bahkan, saat bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bonn, Jerman, Madja sempat mengambil kursus pelatih sepak bola.

Bisa jadi pelatih kalau sudah pensiun? "Hehehe... Saya memang suka bola kaki sejak remaja," akunya.

Berkaitan dengan bola, Madja berharap tim nasional Indonesia suatu saat bisa berlaga di ajang Piala Dunia. "Saya bermimpi sekitar tahun 2050 kita sudah bisa ikut Piala Dunia."

Baiklah, Pak Dubes! Selamat bertugas di Chile!

1 comment: