06 August 2010

Eyang Thalib, Selamat Jalan!



Kamis 5 Agustus 2010.

Saya datang melayat di rumah duka, Taman Erlangga V/16 Sidoarjo. Pak Bambang Trimuljono, aktivis kebudayaan, sudah ada di sana. Juga belasan pelukis dari Sidoarjo dan Surabaya. Juga puluhan pelajar SMP yang berbusana batik. Halaman itu penuh manusia yang berbelasungkawa.

Selamat jalan Eyang Thalib!
Semoga Anda berbahagia di sisi Tuhan!
Jasa-jasa Eyang terlalu banyak dan tak akan kami lupakan!

Almarhum M. Thalib Prasojo seniman serba bisa. Pelukis. Guru seni rupa. Penggiat kebudayaan. Pematung. Penjamas benda pusaka. Kreator wayang suket. Pembina padepokan budaya. Ayah dan eyang bagi para wartawan seni budaya di Jawa Timur.

Eyang Thalib meninggalkan kita semua pada usia 79. Namanya orang sepuh, Thalib Prasojo sakit-sakitan dalam beberapa bulan terakhir. Asma, fisik lemah, pilek, dan sebagainya. Tapi beliau tetap semangat mendampingi seniman muda maupun anak-anak sekolah yang baru mulai belajar mengenal kesenian.

Sepeninggal Liem Keng, kita di Jawa Timur mengandalkan Eyang Thalib sebagai seniman yang sangat fokus di sketsa. Ke mana-mana Eyang Thalib membawa spidol atau pulpen dan kertas gambar. Lalu... tak sampai 10 menit skesta sudah kelar.

Saya beruntung mendapat hadiah beberapa sketsa coretan Eyang Thalib. Salah satunya suasana nyadran, pesta nelayan tradisional Bluru Kidul, Sidoarjo. Saya akan mencari sketsa spontan karya Eyang Thalib yang kini ketelisut entah di mana.

Gajah mati meninggalkan gading. Seniman sekaliber Eyang Thalib wafat meninggalkan ribuan karya yang masih bisa kita nikmati. Masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, bisa menikmati patung-patung karya Eyang Thalib yang tersebar di berbagai tempat strategis.

Patung Gubernur Suryo di depan Grahadi. Patung WR Supratman di kompleks Makam WR Supratman. Patung di Tugu Pahlawan. Patung Suro & Boyo di depan Gelora Bung Tomo. Dan masih ada sejumlah patung garapan Eyang Thalib yang selalu memperlihatkan sosok nan kokoh dan berani.

Saya menyesal tak sempat menemui beliau di saat-saat terakhir hidupnya. Bahkan, ketika melayat ke rumah duka, iring-iringan jenazah sudah bergerak ke Delta Praloyo di Lingkar Timur Sidoarjo. Saya pun mengajak Eyang Bete dan beberapa seniman untuk menyusul ke Lingkar Timur.

Aha, ternyata upacara pemakaman sudah selesai. Saya pun hanya terdiam di kompleks makam anyar milik Pemkab Sidoarjo itu.

Eyang Thalib, selamat jalan! Saya hanya bisa kirim doa dari bumi. Saya yakin Anda sudah berbahagia di alam sana.

No comments:

Post a Comment