04 August 2010

Delapan Romo Baru



Oleh LAMBERTUS HUREK

Umat Katolik di Jawa Timur layak berbahagia. Di tengah krisis panggilan imamat yang melanda sejumlah negara di dunia, Rabu (4/8/2010), Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono menahbiskan delapan imam baru. Misa tahbisan di Gereja Katedral Surabaya ini dihadiri puluhan pastor, biarawan/biarawati, serta sekitar 2.000 jemaat dari berbagai daerah.

"Ini merupakan buah dari doa-doa umat selama ini. Akhirnya, Tuhan kembali memilih delapan frater ini untuk mengabdikan diri sebagai gembala umat," ujar Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Romo Boedi Prasetijo.

Adapun delapan romo anyar itu adalah Robertus Djoko Sulistiyo, Leo Giovanni Marcel PS, Stefanus Darno, Petrus Kanisius Timotheus Siga, Antonius Widhi Hariantoro, Yosef Silvinus Sapomo CM, Yohanes Benny Suwito, dan Stefanus Iswadi Prayidno. Sebelumnya, para frater (calon pastor, Red) ini sudah ditahbiskan sebagai diakon oleh Mgr Sutikno.

Seperti biasa, upacara penerimaan Sakramen Imamat ini berlangsung meriah dan megah. Para tertahbis didampingi orangtua masing-masing serta barisan para pastor berjalan perlahan ke depan altar. Diiringi paduan suara gabungan, para orangtua itu menyerahkan putra terbaik mereka kepada Uskup Surabaya untuk ditahbiskan.

Ini merupakan momen mengharukan, sebagai simbol bahwa semenjak misa tahbisan ini putra mereka sudah dipersembahkan kepada Tuhan dan gereja. Tak heran, sepanjang misa berlangsung beberapa ibunda romo baru berlinang air mata. Haru sekaligus bangga karena perjalanan imamat yang dirintis selama bertahun-tahun itu akhirnya sampai juga ke tujuan.

"Mereka itu orang-orang pilihan. Sebab, banyak siswa seminari yang gagal dan akhirnya menjadi romonya anak-anak, bukan romonya umat," kata salah satu mantan siswa seminari yang gagal menjadi pastor.

Adegan paling mengharukan ketika para frater ini menerima kasula, busana khusus yang dikenakan pastor untuk memimpin perayaan ekaristi alias misa kudus. Kemudian, para calon imam merebahkan tubuh di lantai (beralas karpet) untuk menerima penumpangan tangan dan berkat dari Mgr Sutikno. Setelah dinyatakan resmi berstatus pastor, para romo baru ini diperkenalkan kepada umat. Jemaat yang hadir pun memberikan tepuk tangan meriah.

Yosef Silvinus Sapomo, romo baru yang berasal dari Dayak, Kalimantan, mengaku bahagia dan bangga karena cita-citanya semasa kecil akhirnya terkabul. Ketika anak-anak sekolah umumnya bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha sukses, Sapomo justru ingin menjadi pastor. Karena itu, dia menyatakan siap diutus ke mana saja oleh Congregatio Missionis (CM), komunitas imam tempat dia berkabung.

"Puji Tuhan, saya langsung ditugaskan di Papua Nugini. Ini tidak pernah saya bayangkan saat kecil. Waktu kecil dulu saya selalu bertanya dalam hati, kenapa kok yang jadi romo itu hanya orang-orang Barat dan orang Flores? Memangnya orang Dayak nggak bisa jadi romo? Sekarang saya bisa membuktikan bahwa orang Dayak pun bisa jadi romo," tukas Romo Sapomo CM dengan humor khasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 5 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment