17 August 2010

Bung Karno di Peneleh



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"ASSALAMUALAIKUM! Assalamualaikum....," ucap Ahmad Iffandy. Tak ada jawaban dari dalam. Lantas, ketua RW 4 Peneleh, Surabaya, itu menjejakkan kakinya di tangga besi bercat hijau. Pak RW masuk ke kamar di loteng lantai dua itu.

Saya pun menyusul. Meski siang hari, Ahad (15/8/2010), suasana gelap karena ruangan los sekitar 20 x 10 meter itu tak punya jendela. Ventilasi tak ada. Maka, Iffandy harus menyalakan lampu di siang bolong.

"Sudah menjadi kebiasaan kalau semua orang yang datang ke sini harus kasih salam atau kulonuwun. Biar semuanya sama-sama enak, nggak terjadi apa-apa," kata Pak RW, sapaan akrab Ahmad Iffandy, tersenyum lebar.

Meski lampu sudah dinyalakan, ruangan itu masih tetap terasa pengap. Mirip gudang atau lumbung padi. Tapi para pengunjung biasanya mengaku lebih tenang berada di sini. Katanya, bisa lebih konsentrasi, bahkan meditasi.

"Saya dengar dari para sesepuh kalau tempat ini memang dipakai Bung Karno untuk semedi dan belajar. Juga tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan zaman dulu," tutur Pak RW yang asli Peneleh ini.

Berlokasi di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29 dan 31 (dua rumah dijadikan satu), rumah tua yang dibangun pada 1870 ini tak jauh berbeda dengan rumah-rumah lain. Bahkan, lebih sederhana karena rumah-rumah sebelah sudah dimodifikasi dan dipercantik. Catnya dominan hijau dan kuning. Kamar tidur ada tiga, kemudian kamar tamu, dapur, serta kamar los di loteng yang gelap tadi.

Bedanya, rumah tua ini milik Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam. Ketika Pak Tjokro, sapaan akrab HOS Tjokroaminoto, mengambil alih kepemimpinan SI dari tangan Haji Samanhudi di Solo 1905, ormas pribumi pertama dan terbesar di Hindia Belanda itu berkantor di Surabaya.

Di rumah sederhana berukuran 36 di depan Kali Mas ini. Pada berhasil menjadikan SI organisasi massa terbesar. Berdasar sejarah, SI beranggotakan satu juta orang dari penjuru negeri.

Inilah daya tarik utama rumah berloteng di atas dapur itu. Begitu banyak orang yang singgah, indekos, ikut pertemuan di sini. Salah satunya penghuni loteng rumah ini, yang memang dijadikan kos-kosan, adalah Soekarno. Pria perlente yang kemudian menjadi proklamator dan presiden pertama RI ini tercatat pernah kos pada 1917 hingga 1919.

Saat itu dia sekolah di Hoogere Burger School (HBS), sekolah setingkat SMA di Kebonrodjo, sekarang menjadi Kantor Pos Besar Surabaya. Istri Pak Tjokro, Soeharsikin, dikenal sebagai ibu kos yang tegas. Anak-anak kos harus bangun pukul 04.00, salat subuh, dan masuk rumah paling lambat pukul 22.00. Soekarno muda harus membayar uang kos 12,5 gulden. Jumlah ini dinaikkan ketika ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, diangkat menjadi guru sekolah di Blitar.

Karena bekalnya pas-pasan, Soekarno sering lapar. Namun, dia tak bisa bicara banyak dengan Bu Tokro yang sangat sibuk itu. Adapun Pak Tjokro lebih sibuk lagi sebagai pemimpin SI dan Dewan Rakyat. Untung, ada Mbok Tambeng, pembantu rumah tangga keluarga Pak Tjokro, yang sering memberi jajan dan makanan kecil kepada Soekarno.

Sebenarnya, Bung Karno tidak kebetulan ngenger di rumah Pak Tjokro, tokoh politik paling top masa itu. Sebab, awalnya keluarga Bung Karno sempat tinggal di Pendean VI. Kampung lawas yang jaraknya hanya 500-an meter dari Peneleh VII. Bung Karno lahir di kampung itu.

Ayah Bung Karno, Raden Soekemi, dan Pak Tjokro teman seperjuangan yang akrab. Maka, ketika Soekemi pindah kerja ke Mojokerto, sementara Bung Karno harus sekolah di HBS Surabaya, Soekemi memilih menitipkan Bung Karno ke Pak Tjokro.



MODEL bangunan lama ini simetris. Temboknya dari batu bata tebal. Berkapur. Pintu dan jendela dari kayu jati dicat hijau. Lantai plesteran semen. Tidak ada tegel, apalagi keramik. Masuk pintu utama yang ada di tengah bangunan, kita langsung bisa melihat bagian belakang rumah.

Sebelah kanan dari pintu masuk ada ruang tamu ukuran lima meter persegi. Di sebelah kiri ada dua kamar mungil berhimpitan. Ada satu kamar lagi di belakang ruang tamu. Setelah itu hanya ada dapur dan kamar mandi.

Alkisah, ketika zaman Pak Tjokro, ada pagar ke kebun di belakang rumah. Kebun ini tembus ke Peneleh VI. Saat ini rumah itu tidak berpenghuni. Dulu, seorang tua yang akrab disapa Mama Ema mendapat kepercayaan oleh ahli waris Pak Tjokro memegang kunci rumah. Tapi sekarang, setelah dijadikan bangunan cagar budaya, pengelolaannya langsung oleh pengurus RT 2 dan RW 4 Peneleh. Ini juga untuk memudahkan koordinasi dengan Pemkot Surabaya manakala dibutuhkan uang untuk perawatan dan sebagainya.

“Katanya, dulu, Bung Karno sering lompat pagar di belakang, karena di ruang tamu banyak tamu-tamunya Pak Tjokro,” kata Ahmad Iffandy, ketua RW 4, yang kini berperan sebagai pemegang kunci. Bisa dibayangkan kegesitan Soekarno muda mengingat kamar di belakang yang ditempatinya cukup tinggi.

"Kalau sampai jatuh, ya, bisa patah," tukas salah satu warga Peneleh yang ikut kerja bakti membersihkan rumah HOS Tjokroaminoto, siang itu.

Tak ada yang terlalu istimewa yang bisa dinikmati di rumah berusia seabad lebih ini. Apalagi, sejumlah bagian rumah sudah tak asli lagi saking uzurnya. Namun, kita bisa bernostalgia melihat beberapa foto hitam-putih perjalanan hidup Bung Karno muda menimba ilmu di HBS Surabaya dan akhirnya menikahi Siti Oetari, yang tak lain putri Pak Tjokro. Saat dinikahkan di rumah ini, Peneleh VII, Soekarno berusia 18 tahun dan Oetari 14. Masih bau kencur! Pak Tjokro memutuskan menikahkan putrinya dengan Bung Karno setelah sang istri tercinta meninggal dunia.

Tampak di foto para tamu mengapit pasangan pengantin baru. Bung Karno berbusana tradisional, pakai udeng, pakai dasi, sarung motif Solo melampaui pergelangan kakinya. Oetari yang berwajah anak-anak memakai busana khas ningrat Jawa. Selepas pernikahan Soekarno-Oetari, Pak Tjokro pindah rumah ke Plampitan. Di sana Soekarno yang sudah resmi menjadi menantunya mendapat kamar yang besar.

Meski sudah menjadi suami-istri, di kemudian hari, Bung Karno mengaku tidak melakukan hubungan layaknya suami-istri dengan Siti Oetari. Dia menganggap hubungannya dengan Oetari layaknya kakak dan adik. Lulus HBS, Bung Karno pindah ke Bandung untuk kuliah di sekolah teknik. Oetari diajak serta untuk kos di rumah Sanusi, aktivis politik rekan Pak Tjokro.

Seperti diketahui, Bung Karno ternyata kecantol dengan ibu kos, Inggit Ganarsih, yang tak lain istri Sanusi. Maka, awal tahun 1923 Bung Karno mengembalikan Oetari kepada ayahnya, Pak Tokro. Ketika menjadi presiden RI, Bung Karno memberikan hadiah rumah kepada Oetari di Jalan Ngagel Jaya Selatan Surabaya.




KETUA RW 4 Peneleh, Ahmad Iffandy, masih ingat, pada tahun 1960-an Bung Karno kerap bernostalgia di rumah Pak Tjokro, tempat kos-kosannya dulu, di Peneleh VII/29-31. Si Bung naik jeep terbuka. Warga Kampung Peneleh tentu saja tumplek-blek mengelu-elukan sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu.

"Turun dari jeep, Bung Karno jalan kaki ke sini. Ramai sekali," kenang Iffandy.

Setelah Orde Baru, segala yang berbau Bung Karno tak bisa diekspos secara terbuka. Rumah Pak Tjokro bahkan sempat dikoskan kepada sejumlah orang. Dianggap rumah biasa, layaknya rumah-rumah penduduk di Peneleh. Syukurlah, bangunan itu masih terpelihara sampai hari ini.

Sekarang Iffandy bersama bunda-bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Peneleh secara rutin membersihkan rumah ini tiap Ahad siang. Meski biaya perawatan pas-pasan, mereka bangga punya bangunan bersejarah di tengah kampung.

"Mudah-mudahan rumah ini bisa menjadi inspirasi bagi orang Indonesia dalam melanjutkan perjuangan Pak Tjokro, Bung Karno, dan para pahlawan kita," harap Iffandy.

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 17 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment