17 August 2010

Bung Karno di Flores



Pohon sukun yang ditanam ulang tak jauh dari lokasi asli di Ende.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"Di Pulau Bunga yang sepi tak berkawan, aku telah menghabiskan berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah." (Sukarno: An Autobiography, Cindy Adams, 1965)


POHON sukun bercabang lima yang tumbuh di jantung kota Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu tingginya sekitar 20 meter. Warga setempat biasa menyebut Pohon Pancasila. Maklum, pohon ini mengingatkan orang pada renungan Bung Karno selama menjalani pengasingan selama empat tahun di Ende, 1934-1938, khususnya tentang Pancasila.

Setiap Jumat malam, seperti dikutip buku Bung Karno dan Pancasila: Ilham dari Flores untuk Nusantara, Bung Karno berjalan sejauh 500 meter dari rumah pengasingan untuk menyendiri. Di bawah pohon sukun di pesisir pantai itulah, Bung Karno merenungkan gagasan mengenai dasar negara Indonesia yang akan merdeka, yang sekarang dikenal sebagai Pancasila.

"Jadi, sukun ini bukan sukun sembarangan. Dia punya nilai sejarah," kata Musa Pua Ita, penjaga atau juru kunci rumah pengasingan Bung Karno di Ende.

Menurut Musa, orang kampung yang biasa melahap buku-buku tentang Bung Karno, lima sila Pancasila itu disimbolkan oleh lima cabang pohon sukun. Cabang pertama melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Cabang kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dan seterusnya hingga sila kelima.

Sayang, pohon sukun bersejarah itu terus menua dan akhirnya mati pada 1970. Rezim Orde Baru cenderung mengabaikan sejarah, bahkan memanipulasi sejarah, dan memberi stigma negatif pada semua yang berbau Soekarno. Maka, lokasi bekas pohon sukun itu pun berubah fungsi menjadi lapangan sepak bola.

Hingga suatu ketika, pada 1980-an, Bupati Ende Herman Joseph Gadi Djou merasa perlu 'mengembalikan' sukun di kabupaten yang dipimpinnya. Lalu, ditanamlah sukun baru di sebelah barat lokasi mula-mula.



FOTO: Rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Flores.

SETELAH keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, 31 Desember 1931, Bung Karno ditangkap lagi beberapa bulan kemudian. Kali ini, Bung Karno tidak diadili, tapi langsung dibuang ke Ende.

Pulau Flores waktu itu, 1930-an, masih terisolasi, dengan penduduk yang masih sangat terbelakang. Namun, misionaris Eropa, khususnya Belanda dan Jerman, dari kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) sudah berada di Flores dan sekitarnya setelah mengambil alih urusan pastoral dari kongregasi Societas Jesu alias Serikat Jesus (SJ).

Pada 1930-an, romo-romo SVD berhasil menjadikan 50 persen penduduk Flores dan pulau-pulau sekitarnya [Lembata, Adonara, Solor] beragama Katolik. Adapun 50 persen penduduk lain tetap menganut 'agama asli'. Orang Belanda menyebut para penganut 'agama nenek moyang' ini sebagai KAFIR atau PERCAYA SIA-SIA.

Kota Ende di Flores bagian tengah menjadi pusat misi Katolik di Flores oleh romo-romo SVD. Sebelumnya, pusat misi Katolik berada di Larantuka, kota paling timur Pulau Flores. Pusat misi yang berada di Larantuka itu dianggap tidak efektif. Tidak bisa menjangkau seluruh Flores yang cukup luas.

Oleh pemerintah Hindia-Belanda, Flores dimasukkan dalam Keresidenan Timor yang berpusat di Kupang.

Nah, dengan menumpang kapal laut, KPM Jan van Riebeeck, Bung Karno bersama istri, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsih, dan putri angkat, Ratna Djuami, bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Ende. Selama sebulan Soekarno dan keluarga tinggal sementara di pesanggrahan. Kemudian, ahli pidato ini pindah ke rumah seluas 12 X 9 meter, pemberian Raja Ende (saat itu) Raja Aru Busman. Untuk ukuran Ende, tempat tinggal itu tergolong mewah, punya halaman luas, dan kebun.

Meskipun hidupnya relatif tenang dan makmur, Bung Karno dapat tunjangan 150 gulden per bulan, Bung Karno dikabarkan depresi. Dia terpukul kematian HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam, ayah angkat dan mantan mertuanya. Belum lagi orang-orang kampung awalnya selalu menghindari Bung Karno dan keluarga besarnya. Maklum, penduduk diinstruksikan untuk tidak bergaul dengan politisi buangan dari Tanah Jawa.

Namun, seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950, para pastor Katolik yang umumnya orang Belanda justru tidak menghiraukan instruksi pemerintah. Mereka tetap akrab dengan Bung Karno. Pastor G. Huytink SVD kemudian dikenal sebagai teman akrab sekaligus mitra diskusi Bung Karno. Kemudian ada misionaris lain kerap berdiskusi dengan Bung Karno seperti Pastor Johannes Bouma SVD, Pastor Johannes van der Heijden SVD, serta Bruder Lambertus SVD, si tukang kayu.

Lama-lama Bung Karno secara teratur berkunjung ke kediaman para misionaris. Lambert Giebels menulis:

"Mula-mula ia biasanya minum kopi dengan Pastor Huytink, setelah itu mendaki bukit mengunjungi Bruder Lambertus di bengkelnya. Dengan menggunakan alat-alat seadanya, Soekarno membetulkan perkakas rumah tangga atau merakit alat-alat yang dibutuhkan bersama bruder. Akhirnya, Soekarno mengunjungi Pastor Bouma di beranda depan biara.... Dengan Bouma, Soekarno mengadakan percakapan-percakapan intelektual."



FOTO: Salah satu lukisan karya Bung Karno.

DI samping membaca buku-buku milik perpustakaan misionaris SVD, Bung Karno mengisi waktu senggang dengan berbagai aktivitas kreatif. Salah satunya melukis.

Di Ende dia punya banyak waktu untuk membuat sketsa, melukis pemandangan dengan cat air, kemudian melukis di kanvas. Meski amatiran, lukisan-lukisan Bung Karno kerap dipuji kalangan kritisi, khususnya tentang pura di Bali. Belakangan, setelah menjadi presiden, Bung Karno menyempurnakan keahlian melukisnya pada Affandi, salah satu maestro seni lukis Indonesia.

Kegiatan lain di Ende adalah bercocok tanam. Halaman rumah yang luas diubah jadi kebun sayur. Dengan bimbingan ibu mertua, Bung Karno menanam sayur-mayur seperti kobis, kacang panjang, dan buncis. Raja lokal, Aru Busman, terkesan dengan hasil kebun percobaan Bung Karno. Sebab, penduduk Ende sudah lama mencoba menanam, tapi hasilnya sangat jelek.

Bung Karno kemudian dikenal luas sebagai 'ahli pertanian'. Dia mengkritik kebiasaan orang-orang kampung di Flores yang langsung tanam di atas tanah berpasir laut. Seharusnya, kata dia, tanah itu dicampur dengan tanah berhumus dan diberi pupuk.

Kegiatan kreatif lain adalah menulis dan menjadi sutradara drama (toneel). Toneel Kelimutu ini kemudian menjadi kelompok sandiwara pertama di Flores. Bung Karno mengajak siapa saja, kerabat, kenalan, hingga petani buta huruf, untuk main sandiwara. Dia beruntung karena para misionaris memberi dukungan dengan meminjamkan aula gereja untuk pementasan.

Lambat laun Soekarno dan Inggit beroleh banyak kenalan. Masyarakat yang awalnya menjauh, kini semakin lengket dengan keluarga Bung Karno. Mereka rela melakukan apa saja untuk membantu Bung Karno dan keluarga besarnya.



FOTO: Bung Karno naik haji tahun 1955.

HEBATNYA lagi, selama menjalani empat tahun pengasingan di Ende, Bung Karno selain banyak berdialog dengan para pastor Katolik, dia semakin mendalami ajaran agamanya, Islam. Ini terbaca dari Surat-Surat Islam dari Ende yang ditulis Bung Karno kepada TA Hassan, guru Persatuan Islam di Bandung.

Bung Karno menulis:

"Kabar dari Ende, sehat walafiat, alhamdulillah. Saya masih terus studi Islam, tapi sayang kurang perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis 'termakan.' Maklum, pekerjaan saya sehari-hari sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan di samping ngobrol dengan anak bini buat menggembirakan hati mereka adalah membaca saja.

"Berganti membaca buku-buku mengenai ilmu pengetahuan sosial dengan buku-buku mengenai Islam. Yang belakangan ini dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum ilmupengetahuan yang bukan Islam..." (Di Bawah Bendera Revolusi)

Di surat-surat itu tergambar jelas pandangan Bung Karno tentang pentingnya ijtihad, penolakannya atas taklid dan urgensi pembaharuan fikih. Dia sangat piawai mengulas hubungan tauhid dan kemanusiaan, Islam dengan negara, Islam dengan modernisasi. Bung Karno juga mengkritik keras kaum yang mengikat Islam pada zaman kuno:

"Islam adalah kemajuan, progress. Di dalam politik Islam pun orang tidak boleh meng-copy barang yang sudah lama, tidak boleh mengulangi zamannya khilafah-khilafah yang besar itu. Tidakkah di dalam langkah zaman yang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu."

Dalam beberapa bagian suratnya kepada Hassan, Bung Karno menyampaikan respeknya terhadap para pastor yang menyebarkan agama Katolik secara sistematik dan penuh dedikasi. Dia juga mempertanyakan mengapa ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Persis tidak mendakwakan Islam di Flores dan daerah-daerah minoritas muslim lainnya.

Karena itu, tepatlah kesimpulan Lambert Giebels:

"Di Ende, Soekarno menjadi seorang muslim yang aktif menjalankan agamannya."

FOTO-FOTO: http://henridaros.spaces.live.com/

4 comments:

  1. Bung Karno seorang intelektual sejati. Kapan lagi kita akan punya seorang pemimpin seperti itu?

    ReplyDelete
  2. sebagai org flores, kita bangga krn BK pernah tinggal cukup lama di flores dan menggelorakan semangat kemerdekaan, nasionalisme, toleransi. ternyata BK bisa bergaul erat dengan pater2 SVD di ende. informasi ini kayaknya jarang diketahui publik...

    Good luck, Bung!

    Frans K.

    ReplyDelete
  3. apa mungkin ya Indonesia akan memiliki sosok Bung Karno kembali??

    ReplyDelete
  4. terima kasih banyak atas informasi tntang bapak ir.soekarno

    ReplyDelete