05 August 2010

Belo dan Redenominasi Rupiah




Ribut-ribut soal redenominasi rupiah, saya teringat Uskup Belo. Carlos Filipe Ximenes Belo, nama lengkap rohaniwan Katolik ini, bekas Uskup Dili, Timor Leste. Belo jelas bukan pakar moneter atau ekonomi. Tapi sejak menjabat uskup di bekas wilayah provinsi ke-27 Indonesia itu, Belo terheran-heran dengan nominal mata uang rupiah.

"Uang kok nolnya banyak sekali," kata Belo beberapa saat setelah diangkat sebagai uskup oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang almarhum) tahun 1988.

Belo, meski lahir di Timor Leste, tinggal lama di Makau, Portugal, dan Italia. Sehingga dia punya referensi sendiri tentang mata uang negara-negara lain yang ekonominya kuat. Belo juga sejak dulu tidak mendukung klaim "integrasi" Timor Timur yang selalu dipropagandakan Indonesia serta tokoh-tokoh Timtim pro-Indonesia.

Karena itu, pendapat Belo tentang Indonesia, termasuk rupiahnya, sangat kritis. Pejabat-pejabat Orde Baru selalu dibuat kebakaran jenggot. Maklum, tentara-tentara yang bertugas di Timtim, dulu, banyak yang memelihara jenggot.

Pada 1980-an hingga pertengahan 1990-an, rupiah masih cukup kuat. Kursnya kalau tak salah Rp 2.500 per satu dolar Amerika Serikat (USD). Tidak pernah rupiah tembus 3.000, 4.000, atau 5.000 karena memang diintervensi pemerintah. Rupiah, istilahnya, belum dilepas. Mekanisme pasar belum dibolehkan oleh rezim Orde Baru.

Tapi tetap saja Bapa Uskup Belo yang mulia ini tidak sreg dengan uang rupiah yang nominalnya besar, tapi daya belinya sangat rendah. Kalah jauh dibandingkan uangnya negara tetangga macam Singapura, Malaysia, Thailand, Papua Nugini, apalagi Australia. Bagi Belo, otot rupiah yang loyo ini tidak masuk akal dan hanya bikin malu saja.

Lantas, berapa kurs rupiah yang ideal, Bapa Uskup?

"Kurs ideal? Yah, idealnya Rp 1 sama dengan USD 1. Satu banding satu baru namanya adil. Kalau satu dolar nilainya Rp 2.500, ya, sangat tidak adil," kata Belo enteng-entengan layaknya orang awam ekonomi moneter.

Ibarat lomba tarik tambang, menurut Belo, regu Indonesia dan regu USA harus punya jumlah pemain yang sama. Indonesia satu orang, USA satu orang. Jangan sampai USA satu orang, Indonesia 2.500 orang, dan USA selalu menang. Masak, Indonesia kalah terus?

Sekitar 20 tahun kemudian, kurs rupiah bukan lagi Rp 2.500, tapi Rp 10.000. Bahkan, pada masa krisis dulu rupiah pernah melemah hingga Rp 15.000. Satu orang USA, Indonesia 15 ribu orang. Begitu kira-kira logika Uskup Belo yang polos, lugu, tapi masuk akal juga.

Lantas, bagaimana cara membuat nilai rupiah setara dengan dolar USA?

"Saya tidak tahu. Silakan tanya sama pemerintah di Jakarta," kata Belo yang lahir pada 3 Februari 1948 itu.

Omongan Uskup Belo ini dulu dianggap main-main atau bercanda belaka. Maka, tak ada wartawan yang menanyankan ide 'redenominasi' rupiah kepada menteri keuangan, gubernur Bank Indonesia, apalagi Presiden Soeharto.

Kini, setelah ide redenominasi rupiah, Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya tiba-tiba teringat ucapan Uskup Belo dua dasawarsa lalu. Mimpi menjadikan nilai rupiah sekuat dolar USA!

No comments:

Post a Comment