07 August 2010

Batu Pertama Seminari Providentia Dei




Setelah berjalan selama satu tahun, Seminari Tinggi Providentia Dei mulai 'menemukan' gedung baru yang permanen. Kampus khusus untuk mencetak para calon pastor di Keuskupan Surabaya itu bakal menempati gedung di Pakuwon City, Keputih, Surabaya.

Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono meletakkan batu pertama sekaligus memimpin upacara pemberkatan pembangunan gedung Providentia Dei, Sabtu (7/8/2010). Nantinya, gedung seminari berada satu kompleks dengan kampus Universitas Katolik Widya Mandala.

"Rupanya, panitia memilih tanggal istimewa untuk peletakan batu pertama, yakni 7 Agustus 2010, pukul 09.00. Jadi, angkanya gampang diingat: 7, 8, 9, 10," ujar Fransiskus Joko, staf Keuskupan Surabaya, kemarin.

Didirikan Mgr Sutikno pada 4 Agustus 2009, Seminari Providentia menempati gedung sementara di Hening Griya, Jl Jemur Handayani Surabaya. Sejak awal uskup asli Tanjung Perak, Surabaya, ini bertekad membangun gedung yang layak sebagai kawah candradimuka para calon pastor di masa depan. Lantas, dibuatlah desain gedung yang megah lima lantai.

Selama hampir setahun ini, pihak keuskupan dan panitia berusaha mengumpulkan dana pembangunan gedung seminari. Sejumlah pengembang ternama di Surabaya dan sekitarnya diajak untuk bersama-sama memikirkan pengadaan lahan dan gedung.

Akhirnya, panitia bisa bernapas lega setelah mendapat kepastian lahan yang cukup luas di Pakuwon City, Surabaya Timur. Setelah peletakan pertama, pembangunan fisik diperkirakan kelar tahun depan, tepatnya Mei 2011.

"Mudah-mudahan rencana pembangunan gedung seminari berlangsung mulus," kata salah satu tokoh umat Katolik di Surabaya.

Bagi Mgr Sutikno, keberadaan Seminari Providentia Dei di wilayah Keuskupan Surabaya sangat penting karena membuat para calon imam lebih mengenal situasi Keuskupan Surabaya sejak awal masa pembinaan. Mereka juga diharapkan lebih mencintai panggilan mereka sebagai calon imam diosesan.

"Dan kelak, ketika sudah menjadi imam, mereka dapat melayani umat di Keuskupan Surabaya secara lebih efektif," tegas uskup.

Selama ini para calon romo yang akan bertugas di Keuskupan Surabaya menempuh pendidikan dan pembinaan di Seminari Widya Sasana Malang. Sebab, Keuskupan Surabaya hanya punya sebuah seminari menengah di Garum, Blitar. Rupanya, Uskup Surabaya yang baru ini tak mau lagi 'menitipkan' para calon romonya di seminari milik keuskupan lain.

1 comment: