29 August 2010

Nasib Bangsa Kuli di Malaysia



Coba terka, tukang sapu di menara kembar Kuala Lumpur ini orang mana? (GETTY IMAGES)


Berapa banyak pekerja Indonesia (TKI) yang berada di Malaysia? Dua juta? Tiga juta? Lima juta? Yah, TKI legal plus ilegal di Malaysia kira-kira lima juta orang. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membentuk sebuah negara. Bandingkan penduduk Singapura, Timor Leste, atau Brunei Darussalam.

Kerja apa saja TKI-TKI kita di Malaysia itu? Benar. Hampir semuanya pekerja-pekerja kasar. Kuli bangunan. Kuli pelabuhan. Kuli rumah tangga alias babu. Tukang petik kelapa sawit. Tukang aspal jalan. Tukang jaga bayi. Tukang tebang pohon di hutan. Penjaga ternak. Hampir tidak ada orang Indonesia yang bekerja di sektor bergengsi.

Indonesia benar-benar jadi bangsa kuli di Malaysia. Rakyat Malaysia, khususnya yang lahir di atas tahun 1970, 1980... apalagi yang muda-muda tahunya ya orang Indonesia itu kuli. Budak. Rela dibayar mudah. Rela bekerja dalam kondisi tak manusiawi. Rela didera. Jadi mainan para majikan baik itu orang Malaysia yang Melayu, China, atau India.

Berkali-kali orang Indonesia dianiaya, disiksa, diperlakukan tak manusiawi... di Malaysia. Itu bukan cerita baru. Sejak 1950-an, ketika Malaysia belum merdeka, orang Indonesia sudah merantau di negara jiran yang suka mengklaim 'saudara serumpun' itu. Dan perilaku-perilaku kejam, bengis, biadab dari para majikan -- tentu saja tak semua majikan jahat dan kejam -- sudah ada.

Karena itu, unjuk rasa anti-Malaysia yang sering terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, apa pun pemicunya, sebetulnya hanya pengulangan sejarah. Sejarah kelam negara bernama Indonesia. Negara berusia 65 tahun, cukup tua, tapi tak juga maju-maju. Indonesia yang gagal menciptakan lapangan kerja sehingga jutaan rakyatnya terpaksa merantau, cari uang, di Malaysia meskipun sudah tahu bakal menemui begitu banyak penderitaan dan hinaan.

"Orang Indonesia bodoh. Orang Indonesia tak bisa berpikir. Tak bisa buat apa-apa selain jadi pembantu rumah tangga, kuli, tukang cuci piring....!"

Begitulah kata-kata hinaan yang kerap kita dengar dari cerita saudara-saudara kita yang merantau di Malaysia. Tapi mau bilang apa? Indonesia, negara yang merdeka 17 Agustus 1945, gagal menciptakan lapangan kerja. Cari kerja sulit. Pemerintah, parlemen, politisi Indonesia hanya suka ribut, bertengkar, cari jabatan, korupsi... tanpa memikirkan penciptaan lapangan kerja untuk rakyat.

Indonesia jauh lebih luas daripada Malaysia. Pertambangan ada. Perkebunan ada. Kelautan boleh. Industri lumayanlah. Tapi mengapa itu semua tak mampu menyerap orang Indonesia? Sehingga harus cari kerja di Malaysia dengan kondisi yang buruk? Harus menahan rasa malu, rendah diri, yang luar biasa?

"Jangankan kerja di kebun, kerja jadi tukang sedot kakus, jualan tahi manusia... pun saya mau. Kalau tinggal di kampung, bagaimana bisa dapat uang? Cari kerja di Indonesia sangat susah, apalagi yang sekolahnya cuma sekolah dasar," kata salah satu teman saya yang sekarang kerja di Malaysia Timur.

Yah, bagi orang miskin, supermiskin, melarat, apa pun dilakukan asalkan bisa makan. Makan seadanya. Bisa menyambung hidup yang senen-kemis. Ribuan orang Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata, sejak 1950-an justru sangat berterima kasih kepada Malaysia yang telah memungkinkan mereka bekerja, dapat uang, bisa membangun kampung halaman dan masa depan.

Di Malaysia, kata teman-teman saya yang dari Flores, siapa pun pasti dapat pekerjaan. Tak perlu pakai ijazah. Pokoknya mau kerja kasar, punya otot dan sedikit otak, orang sudah bisa menikmati lembaran ringgit. "Di Indonesia, kami mau kerja apa? Pemerintah mau kasih kami orang pekerjaankah?" gugat orang Flores kepada mantan gubernur Nusa Tenggara Timur suatu ketika.

Hubungan Malaysia dengan Indonesia memang tidak simetris. Hubungan yang tak sejajar. Ibarat hubungan antara majikan dan babu alias kuli. Orang Indonesia jauh lebih membutuhkan Malaysia agar bisa bekerja. Kerja apa saja, termasuk kuli peternakan babi atau pabrik pengolahan kotoran manusia.

Sebaliknya, orang Malaysia tidak begitu membutuhkan jasa orang Indonesia. Andaikan jutaan orang Indonesia itu ditarik ke Indonesia, Malaysia yang berstatus majikan, high profile, itu akan dengan mudah mendapatkan jutaan pekerja dari negara-negara lain. Ingat, di dunia ini masih banyak negara miskin yang tak mampu menyediakan lapangan kerja untuk warganya.

Pekerja Indonesia bisa diganti orang Bangladesh, Filipina, Timor Leste, India, Myanmar, Laos, Kamboja... dan entah apa lagi.

Oh, Indonesia... bangsa yang besar dengan ribuan pulau, 240 juta penduduk, tapi hanya bisa mengeskpor kuli, babu, dan pekerja kasar ke Malaysia!

28 August 2010

Lele Madja Dubes Chili



Saya bersama Pak Lele Madja dan Bu Fransiska, istrinya.

Salah satu putra Flores, ALOYSIUS LELE MADJA, dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai duta besar Republik Indonesia untuk Chile. Dia dilantik bersama 23 duta besar lain di Istana Negara Jakarta pada 10 Agustus 2010. Syukurlah!

Saya tidak kaget membaca berita yang dirilis kantor berita ANTARA dan situs resmi kepresidenan itu. Sebab, Lele Madja memang diplomat yang merintis karier dari bawah. Bukan 'diplomat-diplomatan' ala pensiunan pejabat tinggi Polri/TNI yang kompetensi diplomatiknya diragukan.

Lahir di Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, Aloysius Lele Madja sudah berkarier di Departemen Luar Negeri RI selama setengah abad. Dia pernah bertugas sebagai konsulat Indonesia di Rusia, Jerman, Italia, Hungaria, Australia. Madja juga fasih berbahasa asing, bukan sekadar Inggris.

“Dr. Madja itu poliglot. Dia bisa bicara dalam bahasa Jerman, Prancis, Hungaria, Inggris dengan fasih. Aksen bahasa Inggrisnya seperti orang Eropa saja,” tulis Duncam Graham, wartawan senior Australia.

Saya pernah berbincang akrab dengan Pak Lele Madja ketika beliau berkunjung ke Surabaya. Begitu mendengar gaya bicaranya, saya langsung curiga kalau Pak Lele ini bekas siswa seminari atau mantan frater.

"Maaf, Pak, Anda menguasai banyak bahasa. Apa pernah studi di seminari menengah atau seminari tinggi di Flores?" tanya saya. Saat itu Aloysius Lele Madja masih menjabat Konjen RI di Perth, Australia.

Dia tersenyum. "Memang, dulu saya skeolah di Seminari Mataloko," papar Madja. Seminari Mataloko merupakan seminari tertua di Flores yang didirikan W Schmidt pada 1929.

"Dulu cita-cita saya memang jadi pastor. Ternyata, panggilan saya bukan di situ. Saya justru menjadi suami dan bapaknya anak-anak," kata Madja disambut tawa Fransiska, istrinya.

Lele Madja sukses menjadi 'romonya tiga anak': Concytha, Samuel, Bernadette.

Selain fasih banyak bahasa asing, Lele Madja ternyata jago main bola. Bahkan, dia mengaku main bola hampir tiap hari. Bahkan, saat bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bonn, Jerman, Madja sempat mengambil kursus pelatih sepak bola.

Bisa jadi pelatih kalau sudah pensiun? "Hehehe... Saya memang suka bola kaki sejak remaja," akunya.

Berkaitan dengan bola, Madja berharap tim nasional Indonesia suatu saat bisa berlaga di ajang Piala Dunia. "Saya bermimpi sekitar tahun 2050 kita sudah bisa ikut Piala Dunia."

Baiklah, Pak Dubes! Selamat bertugas di Chile!

27 August 2010

Pagoda Tian Ti di Kenjeran



Kenjeran Park (Kenpark) punya ikon baru. Namanya Pagoda Tian Ti (Langit-Bumi) atau juga disebut Sky World. Duplikat bangunan sejenis di Beijing, Tiongkok, ini merupakan karya terbaru Soetiadji Yudho, bos Kenpark dan Sanggar Agung.

Meskipun belum diresmikan, Pagoda Tian Ti ini sudah bisa dinikmati pengunjung Kenpark. Letaknya tak jauh dari Kya-Kya Sea Side yang dipenuhi lampion itu. Kita juga bisa berjalan kaki melewati kya-kya baru yang disebut Kya-Kya 12 Shio. Tak heran, kawasan wisata Kenpark semakin kental dengan nuansa Tionghoa.

Menurut rencana, Pagoda Tian Ti diresmikan bersamaan dengan Perayaan Malam Bulan Purnama atau Pesta Kue Bulan (Tiong Chiu Pia) pada 21 September 2010 mendatang. Karena itu, sejak tiga bulan lalu, para pekerja sibuk bekerja lembur agar bangunan serta pelataran pagoda itu segera rampung. Panggung raksasa untuk festival tahunan setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek itu akan dibuat di depan pagoda.

Mengapa Soetiadji tak pernah berhenti membangun ikon-ikon unik di Kenpark? Bukankah di sana sudah ada sejumlah ikon Tionghoa? Sebut saja Sanggar Agung, patung Dewi Kwan Im di pantai, Buddha Empat Muka, Kya-Kya Sea Side, dan Kya-Kya 12 Shio?

Bagi Soetiadji, yang juga pemilik sejumlah hotel di Surabaya itu, pembangunan Sky World alias Pagoda Tian Ti ini merupakan sebuah kebutuhan. Sebab, sejak lama dia punya komitmen untuk melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa agar bisa dinikmati dan diapresiasi orang banyak.

Selama ini banyak orang terkagum-kagum dengan pagoda tua di Beijing yang dikenal dengan Temple of Heaven. Pagoda tersebut menjadi bangunan cagar budaya dan punya nilai sejarah yang tinggi di Tiongkok.

Setiap hari banyak wisatawan dari berbagai negara datang untuk menikmatinya. Maka, Soetiadji tertarik membangun pagoda sejenis di Kenpark. Kebetulan lahan di dekat pantai berhutan bakau di Kenjeran ini masih cukup luas. "Saya bangun persis dengan di Beijing, tapi lebih luas. Ruang dalamnya kosong, nggak ada patung dan sejenisnya," tegasnya.

Sebagai pengelola tempat wisata pantai terbesar di Kota Surabaya, Soetiadji sadar bahwa objek wisata alam seperti hutan bakau, laut, debur ombak, angin sepoi-sepoi, dan aneka makanan laut saja tidak cukup. Tak mungkin menarik sebanyak mungkin masyarakat untuk datang ke Kenpark.

“Kalau hanya datang untuk lihat laut, ya, paling satu dua kali saja langsung bosan,” katanya.

Gedung bundar itu berdiameter 60 meter dengan tinggi 58 meter. Ukurannya sengaja dibuat lebih besar dan lebih tinggi ketimbang di Beijing. Tapi pagoda ini sangat mirip aslinya, terutama pada aksesori, ukiran, ornamen, fisik gedung, dan warna kuil.

Konstruksinya dibuat dari baja, sedangkan aslinya terbuat dari kayu. ''Banyak keterbatasan saat membuat, tetapi kami buat semirip mungkin,'' ujar Soetiadji.

Konsep yin yang dan fengsui yang menjadi lambang keseimbangan juga dihadirkan. Simbol kerajaan berupa naga dan phoenix juga disajikan di semua relief bangunan. Bahkan, di sisi bawah terdapat lima naga sebagai perlambang empat penjuru arah angin dan satu naga menjadi pilar bangunan.


Sejak dipercaya mengelola Kenpark Surabaya, yang juga dikenal sebagai Pantai Ria Kenjeran Baru, Soetiadji Yudho membangunan berbagai fasilitas olahraga di sana. Ada fasilitas balapan (racing) kaliber nasional, bahkan internasional, kolam renang, gedung bulutangkis, futsal, kolam pemancingan, olahraga air, lapangan tembak, hingga pacuan kuda.


Kenpark pernah terkenal dengan Kampung Koboi yang eksotik. Berbagai even tingkat nasional, bahkan internasional, pernah dan akan terus digelar di Kenpark. Itu yang membuat tempat wisata ini sudah dikenal luas di kancah internasional.

“Kita ingin agar para pengunjung bisa rekreasi, berolahraga, atau sekadar menikmati pemandangan pantai, sambil makan dan minum,” tegas Soetiadji.

Setelah membangun fasilitas olahraga, Soetiadji mempercantik kompleks Kenpark dengan aneka bangunan berarsitektur khas Tionghoa. Dia memang punya komitmen melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa dan Nusantara umumnya. Apalagi, Soetiadji melihat belum ada tempat wisata pantai di Indonesia yang dikemas seperti itu.

Maka, klenteng lama direlokasi dan direnovasi menjadi tempat ibadah Tridharma yang anggun dan eksotik di atas laut. Namanya Sanggar Agung. Ada patung Dewi Kwan Im berukuran raksasa yang masuk rekor Muri (Museum Rekor Indonesia).

Kemudian patung Buddha Empat Muka yang juga masuk Muri. Kya-Kya dengan ribuan lampion yang juga diakui Muri. Tak puas dengan kya-kya di pinggir pantai, dibangun lagi Kya-Kya 12 Shio. “Ini supaya pengunjung Kenpark bisa menikmati arsitektur yang indah dan punya nilai budaya,” tegas Soetiadji.

Khusus untuk Pagoda Tian Ti, meski meniru bangunan serupa di Beijing, Tiongkok, Soetiadji menegaskan, gedung bundar itu tidak dimaksudkan sebagai rumah ibadah agama tertentu. Ruangan pagoda yang tiga lantai itu dibiarkan kosong. Tak akan diisi dengan ikon-ikon, patung, atau aksesoris agama tertentu.

“Siapa saja dengan latar belakang agama, etnis, suku... apa saja, silakan menikmati keindahan bangunan itu. Mau bikin acara apa saja, sepanjang untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan, spiritualias, kebersamaan, boleh,” tandasnya.

Menurut dia, Pagoda Tian Tan atau Temple of Heaven di Beijing tidak boleh dimasuki sembarang orang. Sebab, bangunan itu merupakan cagar budaya dan tempat bersejarah yang sangat dilindungi oleh negara. Pengunjung hanya bisa melihat dari luar. “Kalau di Kenjeran ini boleh,” katanya.

26 August 2010

Wang Dandan Ganti Xu Lian



Setelah bertugas selama tiga setengah tahun di Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok, Xu Lian ditarik ke Beijing. Atase konjen ini digantikan Wang Dandan. Kemarin (24/8/2010), Xu Lian memperkenalkan sang penggantinya, Wang Dandan, khusus kepada Radar Surabaya.

"Saya sebentar lagi pulang. Selanjutnya, Dandan (baca: Tantan) yang akan menggantikan saya. Dia baru saja datang ke Surabaya kemarin," ujar Xu Lian di ruang tamu Konjen Tiongkok, Jalan Mayjen Sungkono Kav B1/105 Surabaya.

Seperti Xu Lian, atase sekaligus penerjemah resmi Konjen Tiongkok ini terlebih dahulu belajar bahasa Indonesia di Beijing. Dandan bahkan sempat menjadi dosen di Beijing Foreign Stuides University.

"Tenang saja karena Dandan ini sudah pintar berbahasa Indonesia. Jadi, para relasi konjen akan lebih mudah berkomunikasi dengan dia," tukasnya.

Diperkenalkan oleh Xu Lian, Dandan selalu memperlihatkan senyum manisnya. Dia langsung akrab layaknya orang Tiongkok yang sudah lama tinggal di Indonesia. "Apakah Anda pernah berkunjung ke Indonesia?" tanya Radar Surabaya.

Dandan membenarkan. "Saya sempat kuliah dua tahun di Jogjakarta di UNJ. Universitas Negeri Jogjakarta," ungkap Dandan seraya tersenyum lebar. Gadis berkacamata ini bahkan bisa sedikit memahami bahasa Jawa ala Jogja.

Saat mahasiswa di Beijing, Dandan mengaku mempelajari bahasa Melayu. Bahasa nasional Malaysia ini, meski mirip, tetap berbeda jauh dengan bahasa Indonesia. Karena itu, dia baru lancar berbahasa Indonesia ketika kuliah di Jogjakarta. "Kalau bahasa Melayu, saya lupa," katanya.

Sementara itu, Xu Lian pada September mendatang ditarik pulang ke Beijing, ibukota Tiongkok. Di sana dia bekerja di kementerian luar negeri.

"Saya tidak akan lupa Indonesia, khususnya Surabaya. Makanan-makanannya saya suka," ujar Xu Lian. Dia mengakusenang menikmati nasi goreng ikan asin dan rujak.

Romo Boedi Prasetijo dan Sepeda




Kendati sibuk sebagai kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya, ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya, Romo ALFONSUS BOEDI PRASETIJO selalu meluangkan waktu untuk bersepeda. Dia juga membentuk komunitas sepeda bernama Pedhal Power.

Pagi-pagi buta, setiap Ahad atau hari libur nasional, hampir pasti Romo Boedi Prasetijo bersama komunitas sepedanya mengukur sejumlah ruas jalan di Kota Surabaya dan sekitarnya. Berkumpul di halaman Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat, berdoa sejenak... dan medhal rame-rame.

Jika Pedhal Power tak punya kegiatan, romo asal Cepu, Jawa Tengah, ini pun tak segan-segan untuk melakukan solo run. Bersepeda seorang diri. "Orang bersepeda itu kan tujuannya supaya sehat, bisa refreshing. Maka, saya usahakan untuk bersepada kapan saja," ujar Romo Boedi Prasetijo.

Belum lama ini, ketika para pastor lain menggunakan mobil ke kawasan Pakuwon City untuk menghadiri peletakan batu pertama Seminari Providentia Dei, Romo Boedi memilih bersolo run. Mancal sepeda anyarnya dari Dukuh Kupang sampai kawasan Sukolilo, Kenjeran, itu. "Ini sepeda saya yang baru. Rasanya lebih enak," ujar Romo Boedi sembari memperlihatkan sepeda barunya kepada saya.

Hobi bersepeda ria ini sebetulnya sudah dilakoni Romo Boedi sejak lama. Namun, dia kian asyik menikmati olahraga murah meriah, bebas polusi, ini ketika kuliah di Manila, Filipina. Rakyat negara yang sekarang dipimpin Presiden Benigno Aquino itu tergolong gila bersepeda.

Suatu ketika, tahun 2001, puluhan ribu warga Filipina melakukan Pedhal Power dengan rame-rame bersepeda menduduki Istana Malacanang. Romo Boedi ikut dalam massa Pedhal Power ini. Hasilnya, Presiden Joseph Estrada yang dituduh korupsi mengundurkan diri.

Betapa terkesannya pada Pedhal Power ini, ketika kembali ke Surabaya, Romo Boedi mendirikan komunitas sepeda sehat bernama Pedhal Power. "Jadi, saya memang meniru apa yang dilakukan di Filipina saja. Tapi Pedhal Power di sini benar-benar tak ada kaitan dengan politik. Murni olahraga supaya badan kita sehat, gak gampang sakit."

Romo Boedi mulai bikin 'heboh' pada 17 Agustus 2006. Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Ke-61 Republik Indonesia. Dia berhasil mengajak 17 orang untuk bersepeda bersama keliling Surabaya. Mereka mengunjungi sembilan gereja Katolik. Di gereja-gereja itu, mereka mengadakan upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi.

"Acara diakhiri pemotongan tumpeng dan makan bersama," tutur Romo Boedi. Sejak itulah nama Romo Boedi Prasetijo identik dengan Pedhal Power. Pastor yang paling 'gila' sepeda di Surabaya, bahkan Jawa Timur.


Empat tahun lalu, Romo Boedi Prasetijo bersama 17 penggemar sepeda onthel mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di sembilan gereja di Surabaya. Sejak itu nama Pedhal Power mulai dikenal di kalangan komunitas onthel.

Romo Boedi Prasetijo memang identik dengan Pedhal Power dan sepeda sehat. Boleh dikata, dialah pastor yang paling 'gila' bersepeda di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia.

Boedi pun tak kehilangan ide membuat even-even untuk menggerakkan para penggemar sepeda di Surabaya, khususnya di sekitar tempat tinggalnya di kompleks Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat Surabaya.

“Di Surabaya ini sebenarnya banyak orang yang suka naik sepeda. Jadi, menggerakkannya gampang sekali. Cukup telepon atau SMS saja sudah jadi,” katanya.

Kegiatan lain yang cukup besar adalah peringatan Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008. Dipimpin Romo Boedi, puluhan penggemar sepeda melakukan napak tilas beberapa tempat bersejarah di Kota Surabaya. Yakni, Hotel Majapahit, Museum Sampoerna, Tugu Pahlawan, Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo (RKZ), dan Gereja Katedral Surabaya.

“Kita ingin agar kegiatan bersepeda ini tidak sekadar olahraga, cari keringat, tapi ada misi mengunjungi bangunan-bangunan cagar budaya. Syukurlah, para peserta puas dan sangat menikmati perjalanan itu,” kata pastor yang hobi fotografi ini.

Satu lagi even langka yang digagas Romo Boedi adalah menjajal Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Selain karena Jembatan Suramadu memang tak boleh dilalui sepeda onthel, program ini dilaksanakan ketika jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu belum diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tepatnya, Minggu pagi, 24 Mei 2009, Romo Boedi bersama rombongan Pedhal Power bisa dengan rileks menjajal Suramadu. Padahal, saat itu jembatan belum dibuka untuk masyarakat umum. Kok bisa nekat begitu?

“Hehehe…. Kebetulan kami minta bantuan salah satu tokoh yang punya akses ke proyek Suramadu. Ternyata, beliau ini mengizinkan asalkan jangan lama-lama,” katanya.

Tak lama setelah tur ke Suramadu, Romo Boedi dan komunitasnya melakukan tur serupa ke Gresik. Saat itu, Minggu pagi, diadakan misa pemberkatan Gereja Santa Maria Gresik yang baru direnovasi. Tiba di Gresik, romo lulusan Filipina ini langsung ganti kaus Pedhal Power, mandi sejenak, dan mengenakan jubah dan kasula layaknya pastor Katolik. Bergabunglah dia dengan pastor-pastor lain untuk mengikuti perayaan ekaristi alias misa kudus.

Selepas misa, jubah dilipat, dimasukkan tas, dan Boedi Prasetijo kembali mengenakan busana olahraga. Mengayuh sepeda kembali ke Surabaya. “Jangankan Gresik, saya dan teman-teman bahkan sudah pernah tur ke Puhsarang, Kediri, dengan sepeda,” katanya, bangga. (rek)

22 August 2010

Etika Menonton Konser Klasik




Menonton konser musik klasik tentu berbeda dengan menyaksikan show pop. Sebelum konser dimulai, biasanya dibacakan tata tertib konser. Salah satunya, dan ini sangat penting, adalah tidak menyalakan ponsel (HP) selama konser berlangsung. Tepuk tangan hanya boleh dilakukan setelah musik/lagu dimainkan.

Sayang, etika konser yang sudah berlangsung ratusan tahun ini makin sulit diterapkan di masa sekarang. Masa teknologi informasi. Masa Facebook, Blackberry, dan sejenisnya. Masa di mana HP yang canggih dan modern menjadi bagian dari kehidupan manusia sekarang.

Mungkin orang Indonesia, khususnya yang muda-muda, rela mematikan sama sekal perangkat HP atau IT-nya dan fokus ke konser klasik? Selama satu jam atau dua jam? Rasanya sangat sulit, bahkan mendekati mustahil. Itulah yang saya amati dalam beberaa konser musik klasik di Surabaya beberapa bulan terakhir.

Selasa 10 Agustus 2010, Surabaya Symphony Orchestra bikin Konser Kemerdekaan di Hotel Shangri-La, Jalan Mayjen Sungkono 120 Surabaya. Pembawa acara, Dewi Endrawati, yang juga salah satu vokalis malam itu, membacakan etika konser. HP, laptop, pager (kalau masih ada), dan sejenisnya TOLONG dimatikan.

Pusatkan perhatian Anda, fokus, pada konser. Nikmatilah musik. Bukankah Anda sudah bayar mahal untuk bisa menyaksikan konser musik klasik, orkes simfoni, yang memang jarang ada di Indonesia?

Konser pun berlangsung dengan prakonser, semacam pemanasan. Kemudian pembukaan dengan lagu Indonesia Raya. Kemudian konser utama dengan seriosa Indonesia, lagu Bukit Kemenangan dan petikan opera Mozart yang dahsyat. Saya memandang ke barisan penonton VIP, mengamati perilaku penonton.

Wuih, menjengkelkan!

Bukannya menikmati musik, para remaja dan sejumlah orang dewasa itu sepertinya punya geng-geng sendiri. Asyik membahas pesan BBM, foto-foto dengan ponsel, ngobrol sendiri.... Khas anak muda generasi digital. Net generation! Tak ada usaha untuk fokus ke konser. Tak ada usaha untuk menikmati komposisi klasik. Tak ada usaha untuk mengapresiasi para pemusik dan penyanyi yang sudah berlatih sangat lama.

Tak jauh dari saya, ada dua ekspat, warga Amerika Serikat, guru sekolah internasional di Surabaya, menyaksikan pergelaran dengan penuh minat. Bule-bule, kalangan ekspat, yang cukup banyak itu, tampaknya benar-benar menikmati musik. Tak ada ekspat yang main-main HP, BBM, atau chatting selama konser berlangsung. Jauh sekali "peradaban" musik mereka ketimbang kita.

Sejak awal saya sudah menduga penonton yang suka bicara, main HP, foto-foto ala FB... itu tak akan tahan menonton orkes simfoni sampai selesai. Jangankan selesai, sampai setengah bagian saja sulit. Apalagi concerto piano dari pianis hebat Teguh Sukaryo, membawakan karya Franz Liszt, Piano Concerto Number 2 in A Major.

Komposisi ini sangat panjang, penuh dinamika, dan menuntut konsentrasi tinggi dari pemain maupun penonton. Mungkinkan remaja-remaja tadi bisa bertahan ketika fokus mereka terbagi dengan BBM? Sudah pasti tidak. Setelah saya kembali dari sisi kiri, rupanya anak-anak muda itu sudah tak ada lagi di ruang konser. Kursi-kursi yang tadinya lumayan penuh kini lengang. Makin lama makin habis, kurang dari 50 persen.

Di akhir konser, saat acara penyerahan bunga, apresiasi untuk para pengisi acara -- seremoni yang sangat penting dalam konser klasik -- ballroom Shangri-La yang luas itu terasa lengang. Bahkan, beberapa nama besar yang dijadwalkan menyerahkan karangan bunga sudah kabur lebih dulu. Syukurlah, para ekspatriat masih bertahan, menyempatkan diri bersalaman dengan dirigen Solomon Tong serta para pemusik dan penyanyi.

Apa yang salah dengan masyarakat kita di Indonesia, khususnya Surabaya? Mengapa sulit sekali mematikan HP (dan sejenisnya) selama 90 menit selama konser klasik? Orang-orang Barat itu mungkin lebih sibuk dari kita. Toh, mereka bisa menghentikan aktivitas seluler secara total sebelum disuruh pembawa acara. Beda sekali dengan kita, orang Indonesia, yang sebetulnya terlambat mengenal teknologi apa pun.

Atau, kalau dipikir-pikir, zaman sudah berubah sama sekali. Dulu, di era Mozart, Haydn, Beethoven, Liszt, Chopin... telepon seluler, BB, laptop, netbook... belum ada. Dus, orang bisa dengan mudah fokus ke musik. Beda dengan zaman sekarang: orang semakin sulit konsentrasi ke satu titik.

Atau, jangan-jangan musik klasik memang tidak cocok dengan manusia zaman sekarang yang serbasibuk dan multitasker. Hare gini liat musik klasik!!!

Ling Ling Napi Tiongkok



Namanya Ling Ling atau lengkapnya Qui Qingling. Cantik, kuning terang, khas Tiongkok. Usianya 23 tahun. Si cantik ini ditangkap polisi dan petugas imigrasi di Bandara Juanda. Ling Ling kemudian divonis lima tahun penjara karena menyelundupkan narkoba.

Pada 30 Desember 2009, Ling Ling melahirkan anak pertamanya di Penjara Sukun, Malang, Jawa Timur. Nama sang ayah dirahasiakan. Yang jelas, pacarnya si Ling di Tiongkok Selatan sana. Karena berstatus terpidana, apa boleh buat, Ling Ling harus merawat si bayi di LP Sukun tanpa sanak keluarga.

“Anaknya Ling Ling sekarang sudah tujuh bulan, lagi lucu-lucunya. Cakep kayak mamanya,” ujar Lanny Chandra, ketua Yayasan Pelita Kasih, kepada saya.

Sejak 10 tahun silam Lanny bersama timnya aktif bikin pelayanan di penjara-penjara di Jawa Timur. Kasih obat, makanan, komunikasi dalam bahasa Mandarin, bergurau akrab... dan tak lupa kasih Alkitab untuk dibaca napi-napi Tiongkok yang hampir semuanya komunis-ateis. Sekarang, menurut Lanny, Ling Ling sudah 'bertobat', percaya Tuhan, rajin berdoa, dan rajin baca kitab suci berbahasa mandarin pemberian Pelita Kasih.

Ketika dikunjungi rombongan Pelita Kasih, Ling Ling terlihat sumringah. Beda banget dengan ketika sedang menjalani masa kehamilan di Rutan Medaeng, Sidoarjo. “Dia bahagia karena punya baby. Baby itu hiburan yang luar biasa bagi dia,” kata Lanny.

Saking bahagianya, menurut Lanny, Ling Ling menamai anaknya Lim Cu En. Artinya kira-kira: "Anugerah dari Tuhan."

Wow, napi komunis jadi Kristen dan religius! Mudah-mudahan bukan karena kepepet di dalam penjara Indonesia yang sumpek!

Lanny bilang ikut bahagia karena Ling Ling yang kini semakin religius. “Ling Ling bilang dia mendapat anugerah yang besar dari Tuhan justru setelah dia menghadapi masalah di Indonesia, di penjara,” ujar Lanny.

Ling Ling dianggap sebagai putrinya sendiri.

Qui Qingling terbukti terlibat kasus penyelundupan 8.790 butir obat bius. Dia ditangkap petugas bea cukai di Bandara Juanda pada 24 April 2009. Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 28 Oktober 2009, dia divonis lima tahun penjara.

Kini, si Ling Ling harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dalam penjara di Malang bersama putra sulungnya. Jauh dari sanak saudara di Tiongkok. Tapi justru di balik tembok penjara dia mengenal Tuhan, menjadi pengikut Kristus.

"Di Tiongkok saya ateis. Dulu saya tidak pernah kenal yang namanya Tuhan," katanya.

17 August 2010

Bung Karno di Peneleh



Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"ASSALAMUALAIKUM! Assalamualaikum....," ucap Ahmad Iffandy. Tak ada jawaban dari dalam. Lantas, ketua RW 4 Peneleh, Surabaya, itu menjejakkan kakinya di tangga besi bercat hijau. Pak RW masuk ke kamar di loteng lantai dua itu.

Saya pun menyusul. Meski siang hari, Ahad (15/8/2010), suasana gelap karena ruangan los sekitar 20 x 10 meter itu tak punya jendela. Ventilasi tak ada. Maka, Iffandy harus menyalakan lampu di siang bolong.

"Sudah menjadi kebiasaan kalau semua orang yang datang ke sini harus kasih salam atau kulonuwun. Biar semuanya sama-sama enak, nggak terjadi apa-apa," kata Pak RW, sapaan akrab Ahmad Iffandy, tersenyum lebar.

Meski lampu sudah dinyalakan, ruangan itu masih tetap terasa pengap. Mirip gudang atau lumbung padi. Tapi para pengunjung biasanya mengaku lebih tenang berada di sini. Katanya, bisa lebih konsentrasi, bahkan meditasi.

"Saya dengar dari para sesepuh kalau tempat ini memang dipakai Bung Karno untuk semedi dan belajar. Juga tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan zaman dulu," tutur Pak RW yang asli Peneleh ini.

Berlokasi di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29 dan 31 (dua rumah dijadikan satu), rumah tua yang dibangun pada 1870 ini tak jauh berbeda dengan rumah-rumah lain. Bahkan, lebih sederhana karena rumah-rumah sebelah sudah dimodifikasi dan dipercantik. Catnya dominan hijau dan kuning. Kamar tidur ada tiga, kemudian kamar tamu, dapur, serta kamar los di loteng yang gelap tadi.

Bedanya, rumah tua ini milik Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam. Ketika Pak Tjokro, sapaan akrab HOS Tjokroaminoto, mengambil alih kepemimpinan SI dari tangan Haji Samanhudi di Solo 1905, ormas pribumi pertama dan terbesar di Hindia Belanda itu berkantor di Surabaya.

Di rumah sederhana berukuran 36 di depan Kali Mas ini. Pada berhasil menjadikan SI organisasi massa terbesar. Berdasar sejarah, SI beranggotakan satu juta orang dari penjuru negeri.

Inilah daya tarik utama rumah berloteng di atas dapur itu. Begitu banyak orang yang singgah, indekos, ikut pertemuan di sini. Salah satunya penghuni loteng rumah ini, yang memang dijadikan kos-kosan, adalah Soekarno. Pria perlente yang kemudian menjadi proklamator dan presiden pertama RI ini tercatat pernah kos pada 1917 hingga 1919.

Saat itu dia sekolah di Hoogere Burger School (HBS), sekolah setingkat SMA di Kebonrodjo, sekarang menjadi Kantor Pos Besar Surabaya. Istri Pak Tjokro, Soeharsikin, dikenal sebagai ibu kos yang tegas. Anak-anak kos harus bangun pukul 04.00, salat subuh, dan masuk rumah paling lambat pukul 22.00. Soekarno muda harus membayar uang kos 12,5 gulden. Jumlah ini dinaikkan ketika ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, diangkat menjadi guru sekolah di Blitar.

Karena bekalnya pas-pasan, Soekarno sering lapar. Namun, dia tak bisa bicara banyak dengan Bu Tokro yang sangat sibuk itu. Adapun Pak Tjokro lebih sibuk lagi sebagai pemimpin SI dan Dewan Rakyat. Untung, ada Mbok Tambeng, pembantu rumah tangga keluarga Pak Tjokro, yang sering memberi jajan dan makanan kecil kepada Soekarno.

Sebenarnya, Bung Karno tidak kebetulan ngenger di rumah Pak Tjokro, tokoh politik paling top masa itu. Sebab, awalnya keluarga Bung Karno sempat tinggal di Pendean VI. Kampung lawas yang jaraknya hanya 500-an meter dari Peneleh VII. Bung Karno lahir di kampung itu.

Ayah Bung Karno, Raden Soekemi, dan Pak Tjokro teman seperjuangan yang akrab. Maka, ketika Soekemi pindah kerja ke Mojokerto, sementara Bung Karno harus sekolah di HBS Surabaya, Soekemi memilih menitipkan Bung Karno ke Pak Tjokro.



MODEL bangunan lama ini simetris. Temboknya dari batu bata tebal. Berkapur. Pintu dan jendela dari kayu jati dicat hijau. Lantai plesteran semen. Tidak ada tegel, apalagi keramik. Masuk pintu utama yang ada di tengah bangunan, kita langsung bisa melihat bagian belakang rumah.

Sebelah kanan dari pintu masuk ada ruang tamu ukuran lima meter persegi. Di sebelah kiri ada dua kamar mungil berhimpitan. Ada satu kamar lagi di belakang ruang tamu. Setelah itu hanya ada dapur dan kamar mandi.

Alkisah, ketika zaman Pak Tjokro, ada pagar ke kebun di belakang rumah. Kebun ini tembus ke Peneleh VI. Saat ini rumah itu tidak berpenghuni. Dulu, seorang tua yang akrab disapa Mama Ema mendapat kepercayaan oleh ahli waris Pak Tjokro memegang kunci rumah. Tapi sekarang, setelah dijadikan bangunan cagar budaya, pengelolaannya langsung oleh pengurus RT 2 dan RW 4 Peneleh. Ini juga untuk memudahkan koordinasi dengan Pemkot Surabaya manakala dibutuhkan uang untuk perawatan dan sebagainya.

“Katanya, dulu, Bung Karno sering lompat pagar di belakang, karena di ruang tamu banyak tamu-tamunya Pak Tjokro,” kata Ahmad Iffandy, ketua RW 4, yang kini berperan sebagai pemegang kunci. Bisa dibayangkan kegesitan Soekarno muda mengingat kamar di belakang yang ditempatinya cukup tinggi.

"Kalau sampai jatuh, ya, bisa patah," tukas salah satu warga Peneleh yang ikut kerja bakti membersihkan rumah HOS Tjokroaminoto, siang itu.

Tak ada yang terlalu istimewa yang bisa dinikmati di rumah berusia seabad lebih ini. Apalagi, sejumlah bagian rumah sudah tak asli lagi saking uzurnya. Namun, kita bisa bernostalgia melihat beberapa foto hitam-putih perjalanan hidup Bung Karno muda menimba ilmu di HBS Surabaya dan akhirnya menikahi Siti Oetari, yang tak lain putri Pak Tjokro. Saat dinikahkan di rumah ini, Peneleh VII, Soekarno berusia 18 tahun dan Oetari 14. Masih bau kencur! Pak Tjokro memutuskan menikahkan putrinya dengan Bung Karno setelah sang istri tercinta meninggal dunia.

Tampak di foto para tamu mengapit pasangan pengantin baru. Bung Karno berbusana tradisional, pakai udeng, pakai dasi, sarung motif Solo melampaui pergelangan kakinya. Oetari yang berwajah anak-anak memakai busana khas ningrat Jawa. Selepas pernikahan Soekarno-Oetari, Pak Tjokro pindah rumah ke Plampitan. Di sana Soekarno yang sudah resmi menjadi menantunya mendapat kamar yang besar.

Meski sudah menjadi suami-istri, di kemudian hari, Bung Karno mengaku tidak melakukan hubungan layaknya suami-istri dengan Siti Oetari. Dia menganggap hubungannya dengan Oetari layaknya kakak dan adik. Lulus HBS, Bung Karno pindah ke Bandung untuk kuliah di sekolah teknik. Oetari diajak serta untuk kos di rumah Sanusi, aktivis politik rekan Pak Tjokro.

Seperti diketahui, Bung Karno ternyata kecantol dengan ibu kos, Inggit Ganarsih, yang tak lain istri Sanusi. Maka, awal tahun 1923 Bung Karno mengembalikan Oetari kepada ayahnya, Pak Tokro. Ketika menjadi presiden RI, Bung Karno memberikan hadiah rumah kepada Oetari di Jalan Ngagel Jaya Selatan Surabaya.




KETUA RW 4 Peneleh, Ahmad Iffandy, masih ingat, pada tahun 1960-an Bung Karno kerap bernostalgia di rumah Pak Tjokro, tempat kos-kosannya dulu, di Peneleh VII/29-31. Si Bung naik jeep terbuka. Warga Kampung Peneleh tentu saja tumplek-blek mengelu-elukan sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu.

"Turun dari jeep, Bung Karno jalan kaki ke sini. Ramai sekali," kenang Iffandy.

Setelah Orde Baru, segala yang berbau Bung Karno tak bisa diekspos secara terbuka. Rumah Pak Tjokro bahkan sempat dikoskan kepada sejumlah orang. Dianggap rumah biasa, layaknya rumah-rumah penduduk di Peneleh. Syukurlah, bangunan itu masih terpelihara sampai hari ini.

Sekarang Iffandy bersama bunda-bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Peneleh secara rutin membersihkan rumah ini tiap Ahad siang. Meski biaya perawatan pas-pasan, mereka bangga punya bangunan bersejarah di tengah kampung.

"Mudah-mudahan rumah ini bisa menjadi inspirasi bagi orang Indonesia dalam melanjutkan perjuangan Pak Tjokro, Bung Karno, dan para pahlawan kita," harap Iffandy.

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 17 Agustus 2010

Bung Karno di Flores



Pohon sukun yang ditanam ulang tak jauh dari lokasi asli di Ende.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

"Di Pulau Bunga yang sepi tak berkawan, aku telah menghabiskan berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah." (Sukarno: An Autobiography, Cindy Adams, 1965)


POHON sukun bercabang lima yang tumbuh di jantung kota Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu tingginya sekitar 20 meter. Warga setempat biasa menyebut Pohon Pancasila. Maklum, pohon ini mengingatkan orang pada renungan Bung Karno selama menjalani pengasingan selama empat tahun di Ende, 1934-1938, khususnya tentang Pancasila.

Setiap Jumat malam, seperti dikutip buku Bung Karno dan Pancasila: Ilham dari Flores untuk Nusantara, Bung Karno berjalan sejauh 500 meter dari rumah pengasingan untuk menyendiri. Di bawah pohon sukun di pesisir pantai itulah, Bung Karno merenungkan gagasan mengenai dasar negara Indonesia yang akan merdeka, yang sekarang dikenal sebagai Pancasila.

"Jadi, sukun ini bukan sukun sembarangan. Dia punya nilai sejarah," kata Musa Pua Ita, penjaga atau juru kunci rumah pengasingan Bung Karno di Ende.

Menurut Musa, orang kampung yang biasa melahap buku-buku tentang Bung Karno, lima sila Pancasila itu disimbolkan oleh lima cabang pohon sukun. Cabang pertama melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Cabang kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dan seterusnya hingga sila kelima.

Sayang, pohon sukun bersejarah itu terus menua dan akhirnya mati pada 1970. Rezim Orde Baru cenderung mengabaikan sejarah, bahkan memanipulasi sejarah, dan memberi stigma negatif pada semua yang berbau Soekarno. Maka, lokasi bekas pohon sukun itu pun berubah fungsi menjadi lapangan sepak bola.

Hingga suatu ketika, pada 1980-an, Bupati Ende Herman Joseph Gadi Djou merasa perlu 'mengembalikan' sukun di kabupaten yang dipimpinnya. Lalu, ditanamlah sukun baru di sebelah barat lokasi mula-mula.



FOTO: Rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Flores.

SETELAH keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, 31 Desember 1931, Bung Karno ditangkap lagi beberapa bulan kemudian. Kali ini, Bung Karno tidak diadili, tapi langsung dibuang ke Ende.

Pulau Flores waktu itu, 1930-an, masih terisolasi, dengan penduduk yang masih sangat terbelakang. Namun, misionaris Eropa, khususnya Belanda dan Jerman, dari kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) sudah berada di Flores dan sekitarnya setelah mengambil alih urusan pastoral dari kongregasi Societas Jesu alias Serikat Jesus (SJ).

Pada 1930-an, romo-romo SVD berhasil menjadikan 50 persen penduduk Flores dan pulau-pulau sekitarnya [Lembata, Adonara, Solor] beragama Katolik. Adapun 50 persen penduduk lain tetap menganut 'agama asli'. Orang Belanda menyebut para penganut 'agama nenek moyang' ini sebagai KAFIR atau PERCAYA SIA-SIA.

Kota Ende di Flores bagian tengah menjadi pusat misi Katolik di Flores oleh romo-romo SVD. Sebelumnya, pusat misi Katolik berada di Larantuka, kota paling timur Pulau Flores. Pusat misi yang berada di Larantuka itu dianggap tidak efektif. Tidak bisa menjangkau seluruh Flores yang cukup luas.

Oleh pemerintah Hindia-Belanda, Flores dimasukkan dalam Keresidenan Timor yang berpusat di Kupang.

Nah, dengan menumpang kapal laut, KPM Jan van Riebeeck, Bung Karno bersama istri, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsih, dan putri angkat, Ratna Djuami, bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Ende. Selama sebulan Soekarno dan keluarga tinggal sementara di pesanggrahan. Kemudian, ahli pidato ini pindah ke rumah seluas 12 X 9 meter, pemberian Raja Ende (saat itu) Raja Aru Busman. Untuk ukuran Ende, tempat tinggal itu tergolong mewah, punya halaman luas, dan kebun.

Meskipun hidupnya relatif tenang dan makmur, Bung Karno dapat tunjangan 150 gulden per bulan, Bung Karno dikabarkan depresi. Dia terpukul kematian HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam, ayah angkat dan mantan mertuanya. Belum lagi orang-orang kampung awalnya selalu menghindari Bung Karno dan keluarga besarnya. Maklum, penduduk diinstruksikan untuk tidak bergaul dengan politisi buangan dari Tanah Jawa.

Namun, seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950, para pastor Katolik yang umumnya orang Belanda justru tidak menghiraukan instruksi pemerintah. Mereka tetap akrab dengan Bung Karno. Pastor G. Huytink SVD kemudian dikenal sebagai teman akrab sekaligus mitra diskusi Bung Karno. Kemudian ada misionaris lain kerap berdiskusi dengan Bung Karno seperti Pastor Johannes Bouma SVD, Pastor Johannes van der Heijden SVD, serta Bruder Lambertus SVD, si tukang kayu.

Lama-lama Bung Karno secara teratur berkunjung ke kediaman para misionaris. Lambert Giebels menulis:

"Mula-mula ia biasanya minum kopi dengan Pastor Huytink, setelah itu mendaki bukit mengunjungi Bruder Lambertus di bengkelnya. Dengan menggunakan alat-alat seadanya, Soekarno membetulkan perkakas rumah tangga atau merakit alat-alat yang dibutuhkan bersama bruder. Akhirnya, Soekarno mengunjungi Pastor Bouma di beranda depan biara.... Dengan Bouma, Soekarno mengadakan percakapan-percakapan intelektual."



FOTO: Salah satu lukisan karya Bung Karno.

DI samping membaca buku-buku milik perpustakaan misionaris SVD, Bung Karno mengisi waktu senggang dengan berbagai aktivitas kreatif. Salah satunya melukis.

Di Ende dia punya banyak waktu untuk membuat sketsa, melukis pemandangan dengan cat air, kemudian melukis di kanvas. Meski amatiran, lukisan-lukisan Bung Karno kerap dipuji kalangan kritisi, khususnya tentang pura di Bali. Belakangan, setelah menjadi presiden, Bung Karno menyempurnakan keahlian melukisnya pada Affandi, salah satu maestro seni lukis Indonesia.

Kegiatan lain di Ende adalah bercocok tanam. Halaman rumah yang luas diubah jadi kebun sayur. Dengan bimbingan ibu mertua, Bung Karno menanam sayur-mayur seperti kobis, kacang panjang, dan buncis. Raja lokal, Aru Busman, terkesan dengan hasil kebun percobaan Bung Karno. Sebab, penduduk Ende sudah lama mencoba menanam, tapi hasilnya sangat jelek.

Bung Karno kemudian dikenal luas sebagai 'ahli pertanian'. Dia mengkritik kebiasaan orang-orang kampung di Flores yang langsung tanam di atas tanah berpasir laut. Seharusnya, kata dia, tanah itu dicampur dengan tanah berhumus dan diberi pupuk.

Kegiatan kreatif lain adalah menulis dan menjadi sutradara drama (toneel). Toneel Kelimutu ini kemudian menjadi kelompok sandiwara pertama di Flores. Bung Karno mengajak siapa saja, kerabat, kenalan, hingga petani buta huruf, untuk main sandiwara. Dia beruntung karena para misionaris memberi dukungan dengan meminjamkan aula gereja untuk pementasan.

Lambat laun Soekarno dan Inggit beroleh banyak kenalan. Masyarakat yang awalnya menjauh, kini semakin lengket dengan keluarga Bung Karno. Mereka rela melakukan apa saja untuk membantu Bung Karno dan keluarga besarnya.



FOTO: Bung Karno naik haji tahun 1955.

HEBATNYA lagi, selama menjalani empat tahun pengasingan di Ende, Bung Karno selain banyak berdialog dengan para pastor Katolik, dia semakin mendalami ajaran agamanya, Islam. Ini terbaca dari Surat-Surat Islam dari Ende yang ditulis Bung Karno kepada TA Hassan, guru Persatuan Islam di Bandung.

Bung Karno menulis:

"Kabar dari Ende, sehat walafiat, alhamdulillah. Saya masih terus studi Islam, tapi sayang kurang perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis 'termakan.' Maklum, pekerjaan saya sehari-hari sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan di samping ngobrol dengan anak bini buat menggembirakan hati mereka adalah membaca saja.

"Berganti membaca buku-buku mengenai ilmu pengetahuan sosial dengan buku-buku mengenai Islam. Yang belakangan ini dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum ilmupengetahuan yang bukan Islam..." (Di Bawah Bendera Revolusi)

Di surat-surat itu tergambar jelas pandangan Bung Karno tentang pentingnya ijtihad, penolakannya atas taklid dan urgensi pembaharuan fikih. Dia sangat piawai mengulas hubungan tauhid dan kemanusiaan, Islam dengan negara, Islam dengan modernisasi. Bung Karno juga mengkritik keras kaum yang mengikat Islam pada zaman kuno:

"Islam adalah kemajuan, progress. Di dalam politik Islam pun orang tidak boleh meng-copy barang yang sudah lama, tidak boleh mengulangi zamannya khilafah-khilafah yang besar itu. Tidakkah di dalam langkah zaman yang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu."

Dalam beberapa bagian suratnya kepada Hassan, Bung Karno menyampaikan respeknya terhadap para pastor yang menyebarkan agama Katolik secara sistematik dan penuh dedikasi. Dia juga mempertanyakan mengapa ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Persis tidak mendakwakan Islam di Flores dan daerah-daerah minoritas muslim lainnya.

Karena itu, tepatlah kesimpulan Lambert Giebels:

"Di Ende, Soekarno menjadi seorang muslim yang aktif menjalankan agamannya."

FOTO-FOTO: http://henridaros.spaces.live.com/

13 August 2010

Christina The di Konser Ke-65 SSO



FOTO: Solomon Tong (dirigen SSO) dan Christina The (soprano).

Konser ke-65 Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (10/8/2010) malam, dimeriahkan Christina The. Meski hanya membawakan dua lagu, soprano ini memukau sekitar 800 penonton yang hadir.

SULIT dipercaya, Christina yang mungil, imut-imut, ini punya power vokal yang dahsyat. Ketika membawakan komposisi karya Wolfgang Amadeus Mozart berjudul ALMA GRANDE E NOBIL CORE, kekuatan suara Christina sangat terasa. Teknik olah vokalnya pun sudah tak diragukan lagi.

Christina memang bukan orang baru di dunia seni vokal klasik atau, di Indonesia, lebih dikenal sebagai seriosa. Akhir Juli 2010 silam, Christina tampil di Esplanade Theatre, Singapura, bersama Singapore Lyric Opera. Dia juga master vokal lulusan Royal Academy of Music di London, Inggris.

Tapi, ingat, saat bernyanyi bersama SSO, yang dipimpin Solomon Tong, Christina sedang mengandung anak pertamanya. "Usia kehamilannya sekitar lima bulan. Makanya, kami selalu mengawasi dia. Khawatir ada apa-apa," ujar keluarga dekat Christina kepada Radar Surabaya.

Sebagai dirigen senior, Solomon Tong jelas mengetahui kondisi fisik Christina yang berbadan dua. Namun, pria kelahiran Xiamen, Tiongkok, 71 tahun silam itu sangat optimistis Christina mampu memberikan persembahan terbaik buat pencinta musik di Surabaya. Dan, benar saja, Christina mampu meniti titi nada yang menantang itu dengan sukses.

Tak heran, selepas konser, Christina didatangi puluhan penonton, dari berbagai tingkat usia, untuk menyampaikan apresiasi. Istri Tri Suseno, yang kini tinggal di Perth, Australia Barat, ini pun merespons dengan senyuman manis. "Terima kasih. Terima kasih," katanya.

Belum selesai bicara dengan satu penggemar, datang lagi beberapa penggemar lain untuk minta foto bersama. Christina memang tak hanya memukau di atas panggung. Meski sudah menjadi soprano ternama, kerap tampil di berbagai konser internasional, dia tetap rendah hati. Low profile. Semua penggemar dilayani dengan ramah.

"Saya juga masih tetap belajar," kata Christina yang pernah menjuarai 15 kompetisi vokal klasik di Australia itu.

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi JUMAT 13 Agustus 2010.

09 August 2010

Philippine Madrigal Singers di Surabaya




Oleh LAMBERTUS HUREK

Sekitar 500 orang menjadi saksi kepiawaian Philippine Madrigal Singers berolah suara di Aula Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya. Jumat malam, 6 Agustus 2010, penonton dibuat terpaku di tempat duduk dan geleng-geleng kepala menyaksikan akrobat vokal dari 21 vokalis asal Filipina.

Asal tahu saja, Philippine Madrigal Singers bukan kelompok paduan suara sembarangan. Mereka beberapa kali memenangi festival internasional.

The Madz, julukan populer Philippine Madrigal Singers, juga tercatat sebagai salah satu paduan suara yang paling banyak bepergian di berbagi negara. Surabaya beruntung menjadi salah satu kota di Indonesia yang disinggahi The Madz, selain Bandung, Jogjakarta, dan Jakarta. Para penyanyi yang kebanyakan mahasiswa ini mengaku puas dengan sambutan penggemar musik paduan suara di Kota Surabaya.

Berbeda dengan paduan suara umumnya, Philippine Madrigal Singers tidak menyanyi sambil berdiri. Mereka duduk manis membentuk setengah lingkaran. Selang-seling pria dan wanita. Juga tidak pakai dirigen atau konduktor yang kasih aba-aba. Juga tak ada iringan musik apa pun. Murni a capella. Tak ada teks atau partitur.

Mark Anthony Carpio, choirmaster atau semacam dirigen, duduk paling depan di sebelah kiri penonton. Mark memberikan aba-aba secara halus. Kita juga tak melihat Mark Anthony Carpio membunyikan garputala atau meniup flute untuk mengambil nada dasar.

Para penyanyi konsentrasi, ambil napas yang cukup... lalu tahu-tahu sudah membunyikan nada-nada indah. Kombinasi sopran, alto, tenor, bas, muncul begitu saja. Spontan banget! Sungguh, sebuah kelompok paduan suara kelas dunia yang sulit dicari tandingannya.

Philippine Madrigal Singers pun tak ingin berkenes-kenes dengan olah tubuh, tari-tarian, demi menarik perhatian penonton. Mereka percaya hanya dengan vokal yang terlatih, aransemen nan rancak, paduan suara niscaya terasa indah. Saya sungguh menikmati kor yang tidak lazim untuk ukuran Indonesia itu.

Kita punya Gracioso Sonora yang piawai membawakan lagu macam apa saja, dengan tingkat kesulitan macam Philippine Madrigal Singers. Tapi cara Philippine Madrigal Singers menyanyi sambil duduk manis ala orang lagi senam pernapasan, sangat menarik perhatian saya sebagai 'pengamat' paduan suara amatiran di Surabaya.

Konser bertajuk Indonesia Goodwill Concert Tour 2010 ini dibagi dua bagian. Bagian pertama bernuansa klasik.

O MAGNUM MYSTERIUM Javier Busto
DE PROFUNDIS John August Pamintuan
REVOICI VENIR DU PRINTEMPS Claude Le Jeune
LA BOMBA Mateo FLECHA
WE BEHELD ONCE AGAIN THE STARS Randall Stroope
I CAN TELL THE WORLD arr. Moses Hogan
PAMGUGUN Fransisco F. Feliciano
GAPAS Eudinice Palaruan


Bagian kedua:

SALIDUMMAY Normita Rio-Pablico
KOYU NO TEBULUL Eudinice Palaruan
TWA TANBOU Sidney Guillaume
GAMELAN R. Murray Schafer
LISOI LISOI arr. Ruben Federizon
IT MIGHT BE YOU Alan & Marilyin Bergman/Dave Grusin, arr. John August Pamintuan
I'LL BE THERE FOR YOU Martin Nievera, arr. John August Pamintuan
BEAUTIFUL GIRL Jose-Mari Chan, arr. Annie Nepomuceno
SEMPURNA Andra & Backbone, arr. Ily Matthew Maniano
CIRCLE OF LIFE Elton John/Tim Rice, arr. Anna Abeleda


Kehebatan Philippine Madrigal Singers sangat terasa di bagian kedua. Musik dari beberapa negara ini dibawakan dengan rancak, kental nuansa asal nyanyian rakyat itu. Ketika membawakan lagu Afrika, kita seakan berada di pedalaman benua hitam itu. Ada suara-suara aneh kayak lenguhan binatang, jeritan, teriakan, dan sebagainya.

Begitu pula ketika membawakan LISOI LISOI, lagu tradisional Batak, Sumatera Utara, suasana orang Batak bercengkrama di lapo tuak, bergembira, mungkin juga mabok, sangat terasa.

Aransemen untuk nomor pop macam BEAUTIFUL GIRL atau SEMPURNA, menurut saya, tidak seistimewa folk song. Tapi sambutan penonton sangat meriah karena lagu-lagu itu memang sangat dikenal. Kita dibuat senang karena paduan suara Filipina ini membawakan lagu pop Indonesia, SEMPURNA, dengan artikulasi bahasa Indonesia yang sempurna pula. Tidak seperti lidah orang bule yang cadel dan rada aneh ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Selepas CIRCLE OF LIFE, Mark Anthony sang pemimpin berdiri diikuti 20 penyanyi lain. Semua lagu di buku program sudah dibawakan. Mau pamit. Tapi penonton yang berdiri dan bertepuk tangan tak rela Philippine Madrigal Singers menyudahi pertunjukan.

"We want more! We want more!" teriak penonton berulang-ulang.

Para penyanyi Filipina ini pun tersenyum lebar. Lalu, duduk kembali.... menyanyi lagi. Nomor bonus alias encore.

Tidak tanggung-tanggung ada empat lagu tambahan. Di antaranya, LET IT BE dan BENGAWAN SOLO. Lagu karya almarhum Gesang ini tidak dibawakan ala keroncong, tapi ala Philippine Madrigal Singers. Vokalis cewek menyanyi, diiringi 'musik mulut' dari 20 temannya. Bengawan Solo rasa Filipina.

Meski terkesan baru berlatih Bengawan Solo, terlihat dari Mark Anthony yang harus baca partitur, padahal sebelumnya hafal di luar kepala, lagu penutup ini tetap enak didengar. Bengawan Solo ini benar-benar nomor pamungkas.

Terima kasih Philippine Madrigal Singers, kor yang dibentuk tahun 1963 di University of the Philippines! Kalian sudah memberikan pelajaran berharga buat paduan suara di Indonesia! Salam musik!

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 12 Agustus 2010.

Talenta Batak 2010 di TVRI



Orang Batak sejak dulu memang dikenal punya talenta luar biasa di bidang seni suara. Tak sekadar bakat alam, saudara-saudari kita dari bumi Tapanuli ini punya teknik vokal yang benar. Kemampuan bernyanyi mereka di atas rata-rata orang Indonesia umumnya.

Kami di pelosok Flores pun sejak dulu mengagumi orang-orang Batak bernyanyi. Suara Victor Hutabarat yang bening, jernih, tinggi, lantang... kerap terdengar di pelosok Flores. Saya ingat betul lagu-lagu Victor Hutabarat, khususnya MASA MUDA. Lagu ini boleh dikata menjadi 'lagu wajib' anak-anak muda Katolik di Flores pada era 1980-an dan 1990-an.

MASA MUDA SUNGGUH SENANG
JIWA PENUH DENGAN CITA-CITA
DENGAN API YANG TAK KUNJUNG PADAM
SELALU MEMBAKAR DALAM HATI
....

MASA MUDAKU MASA YANG TERINDAH
MASA TUHAN MEMANGGILKU
MASA MUDAKU MASA YANG KU KENANG
KUTINGGALKAN SEMUA DOSAKU

[Bisa Anda diteruskan? Kalau bisa, saya pastikan Anda pun penggemar album-album rohani Victor Hutabarat macam beta lah. Hehehe....]

Minggu malam, 8 Agustus 2010, TVRI menyiarkan lomba menyanyi lagu-lagu Batak bertajuk TALENTA NUSANTARA. Sembilan penyanyi tampil, hanya satu yang laki-laki bernama Yesaya. Delapan finalis berdarah Tapanuli, satunya Padang, Sumatera Barat. Yang menarik, hampir semua remaja finalis memakai kawat gigi.

Wuih... orang Batak kok senang banget dengan kawat gigi! Ada apa gerangan ini Tulang dan Ompung? Gaul abis deh!

Saya benar-benar puas dan terhibur. Betapa tidak. Ketua jurinya idola saya, Victor Hutabarat. Bang Victor tak hanya kasih komentar, tapi juga kasih contoh cara menyanyi yang baik dan benar. Bagaimana membunyikan nada-nada tinggi, pernapasan yang benar, stakato, frasering, hingga bagaimana ucapan kata-kata Batak yang benar. Menonton acara ini ibarat mengikuti kursus menyanyi profesional oleh vokalis hebat negara ini.

Dua juri yang lain pun punya wawasan musik di atas rata-rata. Beda banget dengan komentator lomba menyanyi serupa di televisi swasta yang kadang-kadang jurinya asal comot. Sekali lagi, orang-orang Batak ini membuktikan standar kualitas seni vokalnya yang luar biasa. Oh, ya, kita juga bisa menikmati suara Rita Butarbutar yang masih melengking tinggi dan bening. Bandingkan dengan penyanyi-penyanyi seusia Rita Butarbutar di ZONA MEMORI yang sering kedodoran.

Saya saksikan sembilan penyanyi muda, usia mereka rata-rata di bawah 24 tahun, menggunakan teknik vokal yang benar. Artikulasi, pernapasan, cara buka mulut, vokalisasi.... Ketika puluhan stasiun televisi swasta hanya memberi tempat kepada musik industri yang cara menyanyinya mengabaikan teknik seni suara, alhamdulillah, TVRI memberikan hiburan bergizi kepada permirsanya.

Sayang sekali, malam itu vokalis pria hanya Yesaya seorang. Mana penyanyi-penyanyi pria Batak yang lain? Bukankah sejak dulu laki-laki Batak sangat menonjol dalam olah vokal? Syukurlah, Yesaya bernyanyi dengan sangat baik. Teknik vokal sangat bagus, pembawaan, begitu pula vibrasi dan powernya. Saya, yang sama sekali tidak paham syair bahasa Batak, pun ikut merinding mendengar nyanyian si Yesaya.

Horas!!!!

07 August 2010

Batu Pertama Seminari Providentia Dei




Setelah berjalan selama satu tahun, Seminari Tinggi Providentia Dei mulai 'menemukan' gedung baru yang permanen. Kampus khusus untuk mencetak para calon pastor di Keuskupan Surabaya itu bakal menempati gedung di Pakuwon City, Keputih, Surabaya.

Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono meletakkan batu pertama sekaligus memimpin upacara pemberkatan pembangunan gedung Providentia Dei, Sabtu (7/8/2010). Nantinya, gedung seminari berada satu kompleks dengan kampus Universitas Katolik Widya Mandala.

"Rupanya, panitia memilih tanggal istimewa untuk peletakan batu pertama, yakni 7 Agustus 2010, pukul 09.00. Jadi, angkanya gampang diingat: 7, 8, 9, 10," ujar Fransiskus Joko, staf Keuskupan Surabaya, kemarin.

Didirikan Mgr Sutikno pada 4 Agustus 2009, Seminari Providentia menempati gedung sementara di Hening Griya, Jl Jemur Handayani Surabaya. Sejak awal uskup asli Tanjung Perak, Surabaya, ini bertekad membangun gedung yang layak sebagai kawah candradimuka para calon pastor di masa depan. Lantas, dibuatlah desain gedung yang megah lima lantai.

Selama hampir setahun ini, pihak keuskupan dan panitia berusaha mengumpulkan dana pembangunan gedung seminari. Sejumlah pengembang ternama di Surabaya dan sekitarnya diajak untuk bersama-sama memikirkan pengadaan lahan dan gedung.

Akhirnya, panitia bisa bernapas lega setelah mendapat kepastian lahan yang cukup luas di Pakuwon City, Surabaya Timur. Setelah peletakan pertama, pembangunan fisik diperkirakan kelar tahun depan, tepatnya Mei 2011.

"Mudah-mudahan rencana pembangunan gedung seminari berlangsung mulus," kata salah satu tokoh umat Katolik di Surabaya.

Bagi Mgr Sutikno, keberadaan Seminari Providentia Dei di wilayah Keuskupan Surabaya sangat penting karena membuat para calon imam lebih mengenal situasi Keuskupan Surabaya sejak awal masa pembinaan. Mereka juga diharapkan lebih mencintai panggilan mereka sebagai calon imam diosesan.

"Dan kelak, ketika sudah menjadi imam, mereka dapat melayani umat di Keuskupan Surabaya secara lebih efektif," tegas uskup.

Selama ini para calon romo yang akan bertugas di Keuskupan Surabaya menempuh pendidikan dan pembinaan di Seminari Widya Sasana Malang. Sebab, Keuskupan Surabaya hanya punya sebuah seminari menengah di Garum, Blitar. Rupanya, Uskup Surabaya yang baru ini tak mau lagi 'menitipkan' para calon romonya di seminari milik keuskupan lain.

06 August 2010

Eyang Thalib, Selamat Jalan!



Kamis 5 Agustus 2010.

Saya datang melayat di rumah duka, Taman Erlangga V/16 Sidoarjo. Pak Bambang Trimuljono, aktivis kebudayaan, sudah ada di sana. Juga belasan pelukis dari Sidoarjo dan Surabaya. Juga puluhan pelajar SMP yang berbusana batik. Halaman itu penuh manusia yang berbelasungkawa.

Selamat jalan Eyang Thalib!
Semoga Anda berbahagia di sisi Tuhan!
Jasa-jasa Eyang terlalu banyak dan tak akan kami lupakan!

Almarhum M. Thalib Prasojo seniman serba bisa. Pelukis. Guru seni rupa. Penggiat kebudayaan. Pematung. Penjamas benda pusaka. Kreator wayang suket. Pembina padepokan budaya. Ayah dan eyang bagi para wartawan seni budaya di Jawa Timur.

Eyang Thalib meninggalkan kita semua pada usia 79. Namanya orang sepuh, Thalib Prasojo sakit-sakitan dalam beberapa bulan terakhir. Asma, fisik lemah, pilek, dan sebagainya. Tapi beliau tetap semangat mendampingi seniman muda maupun anak-anak sekolah yang baru mulai belajar mengenal kesenian.

Sepeninggal Liem Keng, kita di Jawa Timur mengandalkan Eyang Thalib sebagai seniman yang sangat fokus di sketsa. Ke mana-mana Eyang Thalib membawa spidol atau pulpen dan kertas gambar. Lalu... tak sampai 10 menit skesta sudah kelar.

Saya beruntung mendapat hadiah beberapa sketsa coretan Eyang Thalib. Salah satunya suasana nyadran, pesta nelayan tradisional Bluru Kidul, Sidoarjo. Saya akan mencari sketsa spontan karya Eyang Thalib yang kini ketelisut entah di mana.

Gajah mati meninggalkan gading. Seniman sekaliber Eyang Thalib wafat meninggalkan ribuan karya yang masih bisa kita nikmati. Masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, bisa menikmati patung-patung karya Eyang Thalib yang tersebar di berbagai tempat strategis.

Patung Gubernur Suryo di depan Grahadi. Patung WR Supratman di kompleks Makam WR Supratman. Patung di Tugu Pahlawan. Patung Suro & Boyo di depan Gelora Bung Tomo. Dan masih ada sejumlah patung garapan Eyang Thalib yang selalu memperlihatkan sosok nan kokoh dan berani.

Saya menyesal tak sempat menemui beliau di saat-saat terakhir hidupnya. Bahkan, ketika melayat ke rumah duka, iring-iringan jenazah sudah bergerak ke Delta Praloyo di Lingkar Timur Sidoarjo. Saya pun mengajak Eyang Bete dan beberapa seniman untuk menyusul ke Lingkar Timur.

Aha, ternyata upacara pemakaman sudah selesai. Saya pun hanya terdiam di kompleks makam anyar milik Pemkab Sidoarjo itu.

Eyang Thalib, selamat jalan! Saya hanya bisa kirim doa dari bumi. Saya yakin Anda sudah berbahagia di alam sana.

05 August 2010

Belo dan Redenominasi Rupiah




Ribut-ribut soal redenominasi rupiah, saya teringat Uskup Belo. Carlos Filipe Ximenes Belo, nama lengkap rohaniwan Katolik ini, bekas Uskup Dili, Timor Leste. Belo jelas bukan pakar moneter atau ekonomi. Tapi sejak menjabat uskup di bekas wilayah provinsi ke-27 Indonesia itu, Belo terheran-heran dengan nominal mata uang rupiah.

"Uang kok nolnya banyak sekali," kata Belo beberapa saat setelah diangkat sebagai uskup oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang almarhum) tahun 1988.

Belo, meski lahir di Timor Leste, tinggal lama di Makau, Portugal, dan Italia. Sehingga dia punya referensi sendiri tentang mata uang negara-negara lain yang ekonominya kuat. Belo juga sejak dulu tidak mendukung klaim "integrasi" Timor Timur yang selalu dipropagandakan Indonesia serta tokoh-tokoh Timtim pro-Indonesia.

Karena itu, pendapat Belo tentang Indonesia, termasuk rupiahnya, sangat kritis. Pejabat-pejabat Orde Baru selalu dibuat kebakaran jenggot. Maklum, tentara-tentara yang bertugas di Timtim, dulu, banyak yang memelihara jenggot.

Pada 1980-an hingga pertengahan 1990-an, rupiah masih cukup kuat. Kursnya kalau tak salah Rp 2.500 per satu dolar Amerika Serikat (USD). Tidak pernah rupiah tembus 3.000, 4.000, atau 5.000 karena memang diintervensi pemerintah. Rupiah, istilahnya, belum dilepas. Mekanisme pasar belum dibolehkan oleh rezim Orde Baru.

Tapi tetap saja Bapa Uskup Belo yang mulia ini tidak sreg dengan uang rupiah yang nominalnya besar, tapi daya belinya sangat rendah. Kalah jauh dibandingkan uangnya negara tetangga macam Singapura, Malaysia, Thailand, Papua Nugini, apalagi Australia. Bagi Belo, otot rupiah yang loyo ini tidak masuk akal dan hanya bikin malu saja.

Lantas, berapa kurs rupiah yang ideal, Bapa Uskup?

"Kurs ideal? Yah, idealnya Rp 1 sama dengan USD 1. Satu banding satu baru namanya adil. Kalau satu dolar nilainya Rp 2.500, ya, sangat tidak adil," kata Belo enteng-entengan layaknya orang awam ekonomi moneter.

Ibarat lomba tarik tambang, menurut Belo, regu Indonesia dan regu USA harus punya jumlah pemain yang sama. Indonesia satu orang, USA satu orang. Jangan sampai USA satu orang, Indonesia 2.500 orang, dan USA selalu menang. Masak, Indonesia kalah terus?

Sekitar 20 tahun kemudian, kurs rupiah bukan lagi Rp 2.500, tapi Rp 10.000. Bahkan, pada masa krisis dulu rupiah pernah melemah hingga Rp 15.000. Satu orang USA, Indonesia 15 ribu orang. Begitu kira-kira logika Uskup Belo yang polos, lugu, tapi masuk akal juga.

Lantas, bagaimana cara membuat nilai rupiah setara dengan dolar USA?

"Saya tidak tahu. Silakan tanya sama pemerintah di Jakarta," kata Belo yang lahir pada 3 Februari 1948 itu.

Omongan Uskup Belo ini dulu dianggap main-main atau bercanda belaka. Maka, tak ada wartawan yang menanyankan ide 'redenominasi' rupiah kepada menteri keuangan, gubernur Bank Indonesia, apalagi Presiden Soeharto.

Kini, setelah ide redenominasi rupiah, Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya tiba-tiba teringat ucapan Uskup Belo dua dasawarsa lalu. Mimpi menjadikan nilai rupiah sekuat dolar USA!

04 August 2010

Rupiah Uang Sampah



KOIN Rp 5 sudah lama jadi SAMPAH. Tidak ada harganya sama sekali!


Sekitar lima tahun lalu, saya iseng-iseng menulis surat pembaca di surat kabar. Saya mengusulkan agar uang rupiah kita dikurangi tiga nolnya. Rp 1.000 dipotong tiga nol menjadi Rp 1. Dengan sendirinya, Rp 10.000 menjadi Rp 10, Rp 100.000 menjadi Rp 100.

Saya yang awam ekonomi belum tahu istilah REDENOMINASI. Bagi saya, mata uang rupiah itu terlalu banyak nolnya. Tak usah jauh-jauh dengan dolar Amerika, dengan ringgit Malaysia, dolar Singapura, atau Baht Thailand saja, rupiah kedodoran.

Teman-teman yang baru pertama kali ke luar negeri biasanya terkejut. Kok rupiah tak ada harganya di Singapura. Uang kita yang nolnya banyak itu, ketika ditukar ringgit atau dolar Singapura, nilai nominalnya sangat rendah. Nilai tukarnya pun tak karuan. Anjlok banget.

Sama anjloknya dengan martabat bangsa dan pejabat-pejabat kita yang terlalu doyan korupsi. Devaluasi rupiah sudah gak karu-karuan. Uang kita, mengutip Farial Anwar, sama dengan SAMPAH. "Rupiah itu termasuk 10 mata uang terburuk di dunia," kata pengamat pasar uang itu.

Sekali lagi, karena awam ekonomi, saya tidak membahas terlalu panjang tentang pengurangan nol yang sekarang populer dengan REDENOMINASI itu. Saya hanya bisa membayangkan masa lalu, ketika otot rupiah masih kuat. Ketika koin Rp 10, Rp 25, Rp 50, Rp 100... masih punya harga. Ketika koin-koin kita belum menjadi sampah logam yang sama sekali tak berharga macam sekarang.

Saya pernah mengalami situasi di mana mata uang tertinggi di Indonesia Rp 10.000. Pegang uang Rp 10.000, wow... kita yang masih anak-anak bisa makan enak, bisa membeli berbagai macam barang. Uang kembalian pun masih bisa dipakai membeli permen, pisang goreng, pensil, dan sebagainya.

Kemudian, mata uang tertinggi kita dinaikkan menjadi Rp 20.000. Saya rasa ototnya masih kuat. Pegang lima lembar uang kertas Rp 20.000, wuih... lama banget habisnya. Uang masih ada harganya. Belum jadi SAMPAH kayak sekarang.

Uang rupiah mulai pelan-pelan jadi SAMPAH ketika Bank Indonesia mencetak Pak Harto mesem (tersenyum). Uang kertas Rp 50.000. Rupiah mengalami devaluasi luar biasa. Rakyat makin susah karena daya beli berkurang meski jumlah nolnya naik banyak.

SAMPAH rupiah kian menjadi ketika dicetak uang kertas Rp 100.000. Uang kita, mengutip kata-kata Fahrial Anwar lagi, benar-benar SAMPAH yang memalukan. "Kita sebagai bangsa malu dengan uang kita sendiri," kata Fahrial.

Saya sependapat dengan Fahrial. Ketika bertemu dengan beberapa turis asing, khususnya asal Eropa, mereka terheran-heran ketika mata uangnya tiba-tiba berubah menjadi rupiah dengan begitu banyak nol. Sejak itulah, diam-diam, saya memimpikan mata uang rupiah yang nominalnya tidak terlalu tinggi, tapi punya daya beli yang dahsyat.

Bukan uang SAMPAH yang harganya sangat rendah seperti sekarang.

Maka, saya senang mendengar wacana yang digulirkan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution tentang redenominasi rupiah. Rp 1.000 menjadi Rp 1. Rp 100.000 menjadi Rp 100. Ide yang berani meski ditanggapi pro-kontra di masyarakat.

Saya juga membayangkan suatu ketika, mudah-mudahan tak lama lagi, rakyat Indonesia akrab lagi dengan istilah SEN. Beli pisang goreng bukan lagi Rp 500, tapi cukup setengah rupiah alias 50 sen. Koin Rp 5 yang dulu laku keras bisa kembali berotot.

TAMBAHAN

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, sebetulnya secara de facto telah terjadi REDENOMINASI ALAMIAH. Orang sekarang menyebut uang Rp 1.000.000 dengan SEWU alias SERIBU dan bukan SATU JUTA.

Contoh:

"Tiket pesawat Surabaya-Kupang PP piro?"
"Sewu, Cak!"

"Harga komputer bekas yang masih enak dipakai berapa, Cak?
"Gak mahal, cukup seribu saja, Cak!"


SEWU yang dimaksud di sini pasti bukan Rp 1.000, melainkan Rp 1.000.000. Jadi, kalau Bank Indonesia berencana memotong 'tiga nol' di rupiah, ya, masyarakat tidak akan kaget. Wong selama ini sudah berlaku setidaknya dalam bahasa percakapan informal sehari-hari.

Mao Xiaoli dari Xiamen



Selama empat hari para utusan organisasi nonpemerintah (NGO) dari lima negara Asia (Jepang, India, Filipina, Tiongkok, Indonesia) mengikuti workshop di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto. Mao Xiaoli, yang lebih suka disapa Lily, merupakan satu-satunya peserta asal Tiongkok.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK



Di tengah suasana alam pedesaan yang sejuk di kaki Gunung Penanggungan, jauh dari kebisingan mesin-mesin dan kendaraan bermotor, Selasa (3/8/2010) malam, peserta workshop menikmati kesenian tradisional bantengan ala Jolotundo, Trawas. Para seniman kampung, mulai anak-anak hingga dewasa memperlihatkan keterampilan pencak silat, tari tradisional, saling pecut, hingga adegan utama 'adu banteng'.

Mao Xiaoli alias Lily, yang duduk di deretan paling depan, tampak serius memperhatikan gerak-gerik pemain yang bergerak mengikuti iringan musik tradisional. Sesekali gadis tersenyum menyaksikan gerakan-gerakan lucu penari anak-anak. Namun, ketika adegan baku pukul tiba, pemain saling pecut, Lily memperlihatkan mimik takut.

"Keseniannya menarik, tidak berbeda jauh dengan kesenian rakyat di Tiongkok," ujar gadis asal Xiamen, Tiongkok Selatan, ini dalam bahasa Inggris yang fasih. Lily kemudian melayani permintaan wawancara singkat dengan Radar Surabaya seputar isu lingkungan yang dibahas selama workshop empat hari ini.

Sebagai aktivis China Mangrove Conservation Network (CMCN), mahasiswa semester akhir ini sudah tak asing lagi dengan isu-isu lingkungan baik dalam skala lokal, regional, maupun internasional. Kebetulan kota asalnya, Xiamen di Provinsi Fujian, Tiongkok, terletak di pinggir laut. Karena itu, di sana banyak sekali hutan bakau di sepanjang pantai.

Namun, seiring kemajuan ekonomi Tiongkok yang luar biasa, hutan-hutan bakau ini dibabat untuk berbagai keperluan bisnis dan profit. Orang sering lupa bahwa hutan bakau sangat efektif mencegah abrasi dan melindungi masyarakat pesisir dari bencana alam gelombang pasang atau tsunami.

"Itu sebabnya, saya aktif di CMCN yang fokus pada bakau. Saya bersama teman-teman yang masih muda berusaha peduli pada lingkungan, khususnya penyelamatan hutan bakau. Kami juga mengadakan kampanye dan melakukan penghijauan sesuai dengan kemampuan kami," kata nona manis ini lantas tersenyum.

Berkat aktivitasnya di bidang 'perbakauan' inilah, Lily akhirnya terpilih menjadi utusan resmi LSM asal Tiongkok ke lokakarya pendidikan lingkungan di PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto, Indonesia. Meski sebagian besar warga keturunan Tionghoa di Indonesia berasal dari Tiongkok Selatan, termasuk Xiamen, Lily sendiri masih asing dengan Indonesia.

"Tapi sekarang saya bisa menikmati alam dan kesenian Indonesia, bahkan di pedesaan," tutur Lily yang baru kali pertama berkunjung ke Indonesia.

Kenapa utusan Tiongkok hanya kamu seorang, sementara dari Jepang tiga orang, dan negara-negara lain lebih dari satu orang? "Waktunya terlalu mepet. Akhirnya, hanya saya yang dikirim ke Indonesia," jawabnya.

Menurut Lily, poin penting yang dipetik selama lokakarya di PPLH Seloliman adalah pentingnya pendidikan tentang pembangunan yang berkelanjutan. Masyarakat di dunia perlu menyadari bahwa pembangunan harus memperhatikan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Pembangunan ekonomi jangan sekali-kali mengabaikan lingkungan.

"Kita harus selalu ingat anak cucu kita," katanya. (rek)

Delapan Romo Baru



Oleh LAMBERTUS HUREK

Umat Katolik di Jawa Timur layak berbahagia. Di tengah krisis panggilan imamat yang melanda sejumlah negara di dunia, Rabu (4/8/2010), Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono menahbiskan delapan imam baru. Misa tahbisan di Gereja Katedral Surabaya ini dihadiri puluhan pastor, biarawan/biarawati, serta sekitar 2.000 jemaat dari berbagai daerah.

"Ini merupakan buah dari doa-doa umat selama ini. Akhirnya, Tuhan kembali memilih delapan frater ini untuk mengabdikan diri sebagai gembala umat," ujar Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Romo Boedi Prasetijo.

Adapun delapan romo anyar itu adalah Robertus Djoko Sulistiyo, Leo Giovanni Marcel PS, Stefanus Darno, Petrus Kanisius Timotheus Siga, Antonius Widhi Hariantoro, Yosef Silvinus Sapomo CM, Yohanes Benny Suwito, dan Stefanus Iswadi Prayidno. Sebelumnya, para frater (calon pastor, Red) ini sudah ditahbiskan sebagai diakon oleh Mgr Sutikno.

Seperti biasa, upacara penerimaan Sakramen Imamat ini berlangsung meriah dan megah. Para tertahbis didampingi orangtua masing-masing serta barisan para pastor berjalan perlahan ke depan altar. Diiringi paduan suara gabungan, para orangtua itu menyerahkan putra terbaik mereka kepada Uskup Surabaya untuk ditahbiskan.

Ini merupakan momen mengharukan, sebagai simbol bahwa semenjak misa tahbisan ini putra mereka sudah dipersembahkan kepada Tuhan dan gereja. Tak heran, sepanjang misa berlangsung beberapa ibunda romo baru berlinang air mata. Haru sekaligus bangga karena perjalanan imamat yang dirintis selama bertahun-tahun itu akhirnya sampai juga ke tujuan.

"Mereka itu orang-orang pilihan. Sebab, banyak siswa seminari yang gagal dan akhirnya menjadi romonya anak-anak, bukan romonya umat," kata salah satu mantan siswa seminari yang gagal menjadi pastor.

Adegan paling mengharukan ketika para frater ini menerima kasula, busana khusus yang dikenakan pastor untuk memimpin perayaan ekaristi alias misa kudus. Kemudian, para calon imam merebahkan tubuh di lantai (beralas karpet) untuk menerima penumpangan tangan dan berkat dari Mgr Sutikno. Setelah dinyatakan resmi berstatus pastor, para romo baru ini diperkenalkan kepada umat. Jemaat yang hadir pun memberikan tepuk tangan meriah.

Yosef Silvinus Sapomo, romo baru yang berasal dari Dayak, Kalimantan, mengaku bahagia dan bangga karena cita-citanya semasa kecil akhirnya terkabul. Ketika anak-anak sekolah umumnya bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha sukses, Sapomo justru ingin menjadi pastor. Karena itu, dia menyatakan siap diutus ke mana saja oleh Congregatio Missionis (CM), komunitas imam tempat dia berkabung.

"Puji Tuhan, saya langsung ditugaskan di Papua Nugini. Ini tidak pernah saya bayangkan saat kecil. Waktu kecil dulu saya selalu bertanya dalam hati, kenapa kok yang jadi romo itu hanya orang-orang Barat dan orang Flores? Memangnya orang Dayak nggak bisa jadi romo? Sekarang saya bisa membuktikan bahwa orang Dayak pun bisa jadi romo," tukas Romo Sapomo CM dengan humor khasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 5 Agustus 2010

01 August 2010

Mandarin Mudah ala Surabaya

Bahasa Mandarin kian populer di Surabaya. Dan itu membuat kita semakin mudah menjumpai buku pelajaran bahasa Tionghoa itu di pasar. Ada yang menggunakan metode internasional, tapi tidak sedikit pula buku kursus bahasa Mandarin yang disesuaikan dengan 'lidah' orang Indonesia.

Robby Tirtobisono, guru bahasa Mandarin asal Surabaya, belum lama ini merilis buku kecil bertajuk Kursus Cepat Bahasa Mandarin. Buku ini, menurut Robby, ditujukan untuk orang-orang kota yang sibuk, tapi ingin mempelajari bahasa Mandarin secara cepat dan praktis.

"Makanya, saya menulis secara sederhana dengan contoh-contoh yang tak asing lagi dengan orang Indonesia. Cara membacanya pun sama dengan dalam bahasa Indonesia," ungkap Robby Tirtobisono.

Kesulitan utama dalam pelajaran bahasa Mandarin yang selama ini dirasakan banyak orang adalah sistem aksara dan pengucapan. Kalaupun menggunakan aksara Latin, seperti bahasa Indonesia, cara membunyikannya tidak sama. Sistem ini yang disebut Hanyu Pinyin.

Contoh: XIEXIE NI harus dibaca SIE-SIE NI. Robby sengaja menggunakan sistem pelafalan ala bahasa Indonesia, bukan sistem internasional yang dikenal dengan Hanyu Pinyin. Ini agar lebih mudah dikuasai oleh orang Indonesia.

"Berbahasa apa pun itu cuma soal kebiasaan saja. Karena itu, orang yang belajar bahasa Mandarin harus terus berlatih dan membiasakan diri baik dengan maupun tanpa guru," tegasnya.

Robby menepis anggapan sejumlah kalangan bahwa Mandarin atau Putonghua merupakan bahasa paling sulit di dunia, sehingga sulit dipelajari. Anggapan seperti ini, menurut dia, merupakan mitos yang hanya melemahkan motivasi orang untuk belajar bahasa Mandarin.

"Yang penting, Anda mau menyediakan waktu untuk belajar. Kemudian, punya seseorang yang membantu mendampingi Anda. Syarat berikutnya, Anda harus berlatih dan terus berlatih," katanya.

Sementara itu, Siska dari Penerbit Indah Surabaya mengaku menerbitkan buku kursus bahasa Mandarin karya Robby ini karena permintaan pasar. Namun, penerbit yang bermarkas di kawasan Lebak Arum ini tidak berani mencetak buku dalam jumlah besar.

"Kita lihat respons masyarakat dulu. Kalau bagus baru kami cetak ulang," katanya. (rek)