03 July 2010

Slamet A. Sjukur 85 Tahun



Usai memberikan kursus komposisi untuk enam bocah di Wisma Musik Melodia, Jalan Ngagel Jaya Surabaya, 30 Juni 2010, pukul 15.00, Slamet Abdul Sjukur mendapat kejutan. Komponis dan guru piano terkenal itu menerima kue ulang tahun dari para bocah sekolah dasar. Anak-anak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, kemudian menyalami lelaki yang doyan memelihara brewok itu.

Slamet Abdul Sjukur akhirnya ngeh kalau hari itu, Rabu 30 Juni 2010, usianya bertambah satu. "Saya malah nggak tahu kalau sedang ulang tahun. Wong saya nggak pernah bikin perayaan," ujar Slamet kepada Radar Surabaya. Komentar-komentar Slamet yang spontan dan cenderung nyeleneh membuat anak-anak asuhnya tertawa kecil.

Slamet Abdul Sjukur lahir di Surabaya, 30 Juni 1925. Karena itu, usianya kini telah 85 tahun. Hebatnya, sampai sekarang rambutnya masih hitam lebat, bahkan gondrong. Hanya deretan gigi bagian bawah yang sudah tak utuh. "Saya ikhlas saja menjalani hidup. Mengalir saja, nggak stres dan nggak mau dibikin stres," ujar peraih penghargaan Officier de l'Ordre Arts et des Letters dari pemerintah Prancis itu.

Dulu, Slamet mengaku sengaja 'mendiskon' usianya 10 tahun agar kelihatan muda. Tak heran, banyak pemusik yang menyangka seniman nyentrik ini lahir pada 1935. "Tapi sekarang saya justru bangga kelihatan sudah tua. Tahun lahir saya yang benar, ya, 1925. Bangga karena sampai usia 85 saya masih bisa ke mana-mana untuk mengajar, nonton konser, membuat komposisi, dan makan enak," ujar Slamet.

Dibandingkan orang-orang seusianya, Slamet A Sjukur tak punya keluhan apa pun. Kolesterol normal. Tekanan darah oke. Kadar gula darah no problem. Asam urat normal. "Saya bisa makan makanan apa saja, kapan saja saya mau. Apalagi, saya kan gak punya tanggungan," katanya.

Di usia mendekati 90 tahun, Slamet Abdul Sjukur justru memperkenalkan program musik baru, yakni menciptakan sebanyak mungkin komponis baru. Menjadi komponis atau pencipta musik itu tidak sulit. "Menjadi komponis itu sama mudahnya dengan membuat telur mata sapi," katanya.

Program 'mata sapi' inilah yang diberikan Slamet kepada enam anak di Wisma Musik Melodia selama empat hari. Tidak semua anak bisa main musik. Misalnya, Vajra Virya alias Koko, putra penulis Lan Fang. Namun, oleh Slamet, Vajra dan kawan-kawan dicetak menjadi komponis hanya dalam tempo empat hari. "Koko ini sudah bisa bikin komposisi. Dan bagus lagi," kata Slamet.

Si Koko kemudian mengetukkan tangannya di meja membuat ritme, ditingkahi bebunyian aneh dari mulutnya. Menurut Slamet, kursus kilat komposisi ini selain mengembalikan kegembiraan bermain anak-anak, juga untuk mengimbangi banjir pemain piano di Surabaya dan Jakarta. Tidak ada tugas atau pekerjaan rumah.

"Saya buat seramah mungkin kayak kursus masak," katanya.

No comments:

Post a Comment