19 July 2010

Petis Khas Sidoarjo

Sudah pernah lihat petis? Makan petis yang hitam itu? Kalau belum, datang saja ke Sidoarjo. Sidoarjo yang sejak akhir Mei 2006 terkenal ke seluruh dunia karena semburan lumpur Lapindo itu sejak dulu dijuluki kota petis.

Sebetulnya, petis ini juga dibuat di beberapa kota lain. Tapi orang Sidoarjo selalu membanggakan petisnya. "Petis Sidoarjo is the best!" klaim orang Sidoarjo (asli). Sebagai pemegang KTP Sidoarjo, saya membenarkan klaim itu.

Petis dibuat dari kupang. Dan, di Sidoarjo, kupang merupakan hasil tangkapan nelayan di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. Sejak zaman baheula, nelayan Balongdowo dikenal paling jago mengumpulkan kupang. Ibu-ibu nelayan kemudian menjadi pembuat petis nomor wahid.

Ibu Sila salah satunya. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada petis. Dia bikin petis putih (cere) dan petis hitam (letek) untuk dijual di Kejapanan, Gempol, Pasuruan, tiap pagi. Petis cere hanya menggunakan gula pasir, sedangkan petis letek dicampur gula aren, sehinga warnanya menjadi gelap.

“Warnanya bisa hitam karena dicampur dengan gula aren. Jadi, bukan warna asli petis,” terang Supirwan, pembuat petis yang lain.

Dari segi ketahanan dan kualitas, petis cere lebih baik ketimbang petis hitam. Petis hitam ini sering dijumpai sebagai teman makan gorengan. “Bila disimpan di lemari es bisa bertahan sampai satu bulan,” ujar Ibu Sila.

Petis cere disebut juga petis kualitas pertama. Sedangkan petis letek yang bertahan maksimal tiga hari disebut kualitas biasa.

Petis dibuat dari kupang putih karena kaldunya lebih mengembang ketimbang kupang merah. Selain itu, harga kupang merah lebih mahal.

Biasanya, pembuat petis mulai mengolah kaldu kupang dari pagi. Kaldu tersebut dimasak sambil diaduk hingga dua jam sampai mengental. Kemudian ditiriskan hingga mengembang.

Petisi letek sering digunakan pedagang kecil dan menengah karena harganya lebih murah. Sedangkan petis cere lazimnya dijual di rumah makan dan restoran yang memang mengutamakan kualitas. “Harga petis cere per kilonya Rp 20.000. Petis letek hanya Rp 8.000,” jelas Supirwan.

Dalam sehari, pembuat petis di Balongdowo dapat menghasilkan 50 kg petis. Kalau diuangkan berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Itu pun tergantung jumlah kaldu kupang yang disetorkan nelayan.

Vivin tiap hari menjual petis letek per bungkus dengan harga Rp 2.000. “Sehari 125 bungkus. Jadi, kira-kira dapat Rp 250.000,” katanya.

Usaha menembus pasar yang lebih tinggi ternyata tidak gampang. Ini karena masyarakat selama ini hanya tahu kalau petis itu terbuat dari udang. Padahal, kualitas dan daya tahan petis udang ini kurang bagus. “Kami pernah coba naruh di mini market, tapi gak laku,” ungkap Supirwan.

Kendala lain yang menghantui ialah harga gula yang terus naik. Otomatis harga petis pun ikut merangkak naik. Warga Balongdowo berharap agar pemerintah, khususnya bupati Sidoarjo yang baru, lebih mempromosikan petis kupang ke masyarakat. Entah di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.

Dengan begitu, Sidoarjo Kota Petis tak hanya sekadar slogan belaka.

1 comment:

  1. Setujuu.. Petis memang jadi kebanggaan Sidoarjo. :)
    Waktu teman saya yg dari Purworejo main ke Sidoarjo saja ibunya titip petis.
    Tapi tak sedikit juga teman-teman saya dari luar daerah tidak suka petis.

    ReplyDelete