07 July 2010

Obesitas di Gereja



Ada baiknya gereja-gereja di Surabaya meniru Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, yang memberikan subsidi general check-up kepada jemaat. Umat di kota besar ini memang kelebihan kalori dan rawan penyakit generatif. Jarang olahraga, tak pernah jalan kaki, naik mobil atau motor ke mana-mana, suka makan enak di restoran kelas atas.

Maka, saya tidak kaget melihat begitu banyak jemaat di kota yang gemuk luar biasa alias terkena OBESITAS. Bahkan, obesitas ini juga menimpa para pastor. Ketika masih frater kurus kering. Praktik pastoral tambah empat lima kilogram. Tahbis diakon timbangan bertambah. Setelah menerima Sakramen Imamat alias ditahbiskan menjadi romo, kemakmuran pun dimulai: perut membuncit, olahraga jarang, suka makan enak.

Lima tahun jadi romo? Wow... berat badan makin tak terkendali.

Saya sering pangling melihat sejumlah frater yang kini sudah menjadi romo yang makmur. Dan kemakmuran di kota besar biasanya identik dengan perut buncit, berat badan berlebihan, kegemukan, dengan segala keluhannya. Maklum, pola konsumsi umat dan pastor di kota rata-rata kalori tinggi. Kebiasaan berolahraga ketika masih sekolah atau kuliah di seminari pun menghilang seiring kesibukan para romo melayani umat.

Melihat acara pemeriksaan kesehatan umat di Paroki Ngagel -- yang kebetulan punya klinik bagus di belakang gereja, Jalan Ngagel Madya 1 Surabaya -- saya teringat kondisi umat Katolik di Pulau Lembata, Nusatenggara Timur, tahun 1980-an dan 1990-an yang kurus-kurus. Kurang gizi. Krisis pangan, sering kelaparan. Karena stok jagung, apalagi beras, habis, penduduk terpaksa mencari buah-buahan di hutan atau bakau di pantai.

Pastor-pastor di pelosok Lembata umumnya tak sampai kurang gizi, tapi jarang yang kelebihan berat badan. Bagaimana bisa gemuk kalau tiap hari harus jalan kaki atau naik sepeda pancal dari desa ke desa? Saya masih ingat betul Pater Petrus M. Geurtz SVD, asal Belanda, yang selalu jalan kaki sambil menuntun kuda putih. Atau, Pastor Pater Willem van de Leur SVD, juga asal kota Breda, Belanda, yang suka naik sepeda onthel dengan kecepatan tinggi.

Tiba di gereja stasi tujuan, baik Pater Geurtz maupun Pater van de Leur mandi keringat. Capek luar biasa! Tapi sang pastor harus siap sedia melayani umat yang berdatangan, anak-anak, hingga mempersiapkan misa malam hari atau esok hari.

Para pastor misionaris Eropa, yang kini hampir semuanya sudah wafat ini, benar-benar luar biasa energinya. Kerja keras di kebun anggur Tuhan dan melayani domba-domba yang sederhana di pelosok-pelosok terpencil. Mereka bebas obesitas dan baru meninggal pada usia di atas 80 tahun. Bahkan, ada pastor Belanda yang usianya melebihi 100 tahun.

Lain di Pulau Lembata, lain di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, para pastor punya segala kemewahan. Mobil sangat bagus. Ruangan ber-AC. Makanan berlimpah dan berkalori tinggi. Mau makan di mana saja, menu kelas atas, bisa dilakukan kapan saja. Kamar makan di pastoran-pastoran di Jawa penuh makanan lezat. Tinggal pilih sesuai selera.

Begitu kompletnya kenikmatan, banyak pastor dan umat di kota-kota besar lupa berolahraga. Maka, datanglah penyakit-penyakit modern khas orang kota yang tak usah disebutkan lagi. Segala macam penyakit akibat gaya hidup dan pola konsumsi berlebihan.

Begitulah. Sejak dulu, di mana-mana, sudah ada ceramah kesehatan di lingkungan Gereja Katolik. Bedanya, di NTT, tema ceramah biasanya tentang cara mengatasi kekurangan gizi, menyiapkan makanan sehat, melawan malnutrisi, pemberantasan malaria, kebersihan lingkungan, hingga keluarga berencana alamiah.

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, tema ceramah di gereja-gereja berkisar pada obesitas, bahaya kolesterol, jantung koroner, diabetes, hipertensi, indeks massa tubuh, stroke, kanker, makanan kaya serat, dan sejenisnya.

2 comments:

  1. Dalam rangka memuculkan penulis-penulis Kristen kreatif, akan diselenggarakan festival penulis dan pembaca kristiani. Salah satu pre-event adalah lomba menulis cerpen dan novelet berdasar Alkitab. Anda mungkin berminat untuk ikut?
    Info lengkap dapat Anda klik di Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Berdasar Alkitab

    ReplyDelete
  2. Waaah Bang HUrek, saya baru baca artikel tentang kota Huntington di AS yang terkenal karena penduduknya banyak yg obese. Lalu pastor di gereja kota itu mulai mengadakan kampanye hidup sehat...setelah Jamie Oliver, koki terkenal dari Inggris datang ke sana dan berusaha mengubah cara hidup (baca: makan) penduduk di sana.

    Makan gudeg dan soto memang enak...tapi kalau setiap hari repot juga dan bisa jadi penyakit.

    Apa kabar Bang? Lama tidak berkunjung ke sini :-)

    ReplyDelete