19 July 2010

Nelayan Spesialis Kupang




Ahad, 18 Juli 2010, ratusan warga Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo, mengadakan ritual tahunan nyadran. Sebanyak 40 perahu beriringan menuju Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri, di Pantai Kepetingan.

Usai pengajian di petilasan lawas itu, warga nelayan Balongdowo berlayar lagi ke muara sungai. Lantas, pulang ke desanya. Pengajian malam, makan bersama, lomba-lomba, menikmati hiburan sederhana layaknya wong kampung.

Balongdowo sejak dulu dikenal sebagai kampung nelayan spesialis kupang. Kalau nelayan Bluru Kidul di Kecamatan Sidoarjo spesialis kerang. Memang ada semacam kearifan lokal di kalangan nelayan untuk membuat spesialisasi. Dengan begitu, potensi konflik sesama nelayan di laut bisa diredam.

Sesekali cobalah Anda datang ke Balongdowo. Begitu perahu bersandar di pinggir kali, ibu-ibu datang menyerbu untuk menurunkan hasil tangkapan. Mengolah sejenis kerang kecil: mengeluarkan tubuh si kupang dari cangkangnya.

“Biasanya, yang berangkat kelaut lima sampai delapan,” ujar Danu, ketua nelayan Balongdowo. “Kalau ibu-ibu itu tugasnya mencuci kupang."

Kupang diolah menjadi berbagai makanan. Mulai dari petis, kerupuk, hingga lontong kupang yang sering kita lihat di pinggir Sidoarjo. Saban hari, ibu-ibu mengolah kupang sejak malam hari hingga subuh. Hasilnya lumayan. Dalam sehari mereka dapat Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.

Kupang ini ada dua macam: kupang putih dan kupang merah. Kupang putih diolah menjadi petis, sedangkan kupang merah menjadi kerupuk. Dari segi harga, kupang merah lebih mahal. Kupang merah dihargai Rp 4.000, sedangkan kupang putih Rp 1.500 per timba.

Kulit cangkang yang melindung daging lunak si kupang pun tidak terbuang percuma. Kulit itu dapat digunakan sebagai campuran makanan ayam. Tentu saja, harus digiling terlebih dahulu menjadi tepung, kemudian dicampurkan ke dedak. “Ada pabrik pakan ternak di Mojokerto yang nampung kulit kupang,” ujar Danu.

Bagi nelayan tradisonal seperti di Balongdowo ini, alam sangat menentukan dalam upaya pencarian si kupang. Mereka harus pandai membaca bintang utara sebagai penunjuk arah atawa kompas dan gerakan bulan. Ombak bukan hambatan karena karakteristik laut di pesisir utara Pulau Jawa jauh lebih tenang dibandingkan laut selatan yang ganas.

Berangkat melaut selalu menunggu air pasang dua kali sehari. “Jadi, berangkatnya gak tentu. Kalau berangkat siang, pulangnya malam. Begitu sebaliknya.” .

Kendala yang sering dihadapi saat musim hujan tiba. Sebab, suhu di permukaan laut lebih rendah dari daratan.

Berbekal peralatan sederhana berupa serok dan sepatu, para nelayan terjun ke dasar laut untuk mengais kupang di antara lumpur. Mereka pakai sepatu untuk melindungi kaki dari serpihan cangkang kupang yang tajam dan hewan laut yang punya sengat atau berbisa.

Mencari kupang bukanlah pekara mudah. Dibutuhkan keahlian, pengalaman, dan nasib baik. Kupang hidup di air payau, selalu berada di perairan dangkal yang berlumpur. Sehingga, lumpur sering ikut terambil jika belum biasa.

Nelayan yang tidak punya perahu dapat menyewa perahu dengan tarif Rp 50 ribu per hari. Karena itu, uang sewa dapat ditanggung bersama para nelayan yang melaut. Berapa hasil tangkapan nelayan kupang Balongdowo? Rata-rata delapan karung. Kalau diuangkan sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Ini kupang mentah yang belum diolah sama sekali.

Bila dibandingkan dengan nasib nelayan umumnya, kesejahteraan nelayan kupang di Sidoarjo relatif lebih baik. Alam telah memberikan rezeki secara turun-temurun. Posisi kupang selalu di tempat yang sama. Dan, meski terus-menerus diambil, si kupang tidak pernah habis.

“Hasil kupang juga bisa jadi uang semua. Jadi, kehidupan nelayan di sini bisa dianggap cukuplah,” kata Danu.

Cukup gak cukup, ya, dicukup-cukupno ae, Cak!

1 comment:

  1. semua itu dari rahnat allah, walaupun dewi sekardadu sudah tiada, ia adalah manusia pilihan allah, dimana tempat makam para nabi, para sunan pasti rejekinya melimpah

    ReplyDelete