13 July 2010

Maya Petjinan di Brasil



Serasa bermimpi, Paulina Mayasari akhirnya sukses mempresentasikan Jejak Petjinan Soerabaia di depan forum United Nations Alliance of Civilizations, Rio de Janeiro, Brasil.

Meski sudah sering berbicara dalam bahasa Inggris sebagai staf UNESCO, Paulina Mayasari mengaku grogi mempresentasikan komunitas Tionghoa Surabaya di forum internasional itu. Maya, sapaan akrab arek asli Jalan Bibis Surabaya ini, harus latihan menghafal pidato, membuat contekan, dan sebagainya.

"Saya juga mesti ingat ngeklik laptop supaya slide presentasi berubah sesuai pidato. Hahaha... I definitely lost my art of presentation. Kayaknya dulu gak separah gini deh," kenang Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari, kepada Radar Surabaya, Kamis (8/7/2010).

Menjelang gilirannya berpidato, Maya tambah grogi saja. Larilah dia ke toilet. "Saya latihan pidato di toilet sambil matut-matut baju dan rias. Dengan kaca yang besar itu, saya bisa melihat mimik muka dan gerak tubuh dengan jelas. Kembali ke ruangan, gak betah duduk diam. Saya nyempetin ngobrol sama Wanjiru, salah seorang finalis."

Tapi akhirnya Maya bisa mengatasi demam panggungnya. Dia menyampaikan presentasi tentang komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya, berikut program wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan yang digagasnya. "Saya orang Indonesia keturunan Tionghoa. Di negara saya ada banyak streotipe tentang warga Tionghoa. Dan saya sedang bekerja keras untuk mengubah strereotipe ini," katanya.

Maya kemudian menyinggung kerusuhan tahun 1998 menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. Saat itu perempuan berkacamata tebal ini sangat khawatir dengan kelanjutan kuliahnya di Universitas Trisakti Jakarta, karena muncul kerusuhan hebat. Warga Tionghoa jadi sasaran. "Saya cemas dengan kehidupan saya. Itu yang mendorong saya menghentikan stereotipe ini."

Di tengah kecemasan itu, Maya akhirnya bisa menyelesaikan studinya di Usakti. Sejak itu Maya bertekad mengajak orang untuk mengenal lebih jauh kehidupan warga Tionghoa di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2009, program Melantjong Petjinan Soerabaia resmi dimulai.

"Saya senang karena pesertanya dari berbagai latar belakang etnis, agama, pendidikan, pekerjaan. Semua diajak untuk menghargai perbedaan dan keragaman," katanya.

Maya pun lega. Presentasi ditutup dengan hadirnya masing-masing perwakilan sponsor yang memberikan sertifikat para finalis, dan foto bersama. Selesai? "Belum sampai di lobi saya sudah diselamati oleh Renata, orang Indonesia (yang tinggal di New York, USA). Ternyata, banyak juga orang Indonesia yang hadir di forum ini, tapi rata-rata tidak tinggal di Indonesia."

Beberapa gadis Brasil, cerita Maya, juga memberikan ucapan kepadanya. Mereka ingin belajar dari Maya bagaimana membuat program semacam Melantjong Petjinan di negaranya.

"Yah, saya jelaskan bahwa Melantjong Petjinan Soerabaia itu inisiatif yang saya coba adakan sendiri bersama teman-teman dan masyarakat. Tanpa ada bantuan dari organisasi internasional mana pun," tegasnya. (rek)

Sumber: Radar Surabaya 12 Juli 2010

No comments:

Post a Comment