11 July 2010

Jawa Pos Ganti Font



Oleh Leak Kustiya
Pemimpin Redaksi Jawa Pos
Sumber: Jawa Pos 4 juli 2010


SEJAK 1 Juli lalu, di hari ulang tahun LXI (baca: keenam puluh satu) Jawa Pos, keramaian ruang redaksi sungguh layaknya area food court. Penuh sorak-sorai kemeriahan dan aroma aneka makanan merebak ke mana-mana. Dari pagi hingga malam para pembaca terus berdatangan untuk menggelontor kami dengan penganan, tumpeng nasi kuning, siomay, kue tart, jajan pasar, hingga buah-buahan. Bahkan, ada relasi kami yang mengirimkan soto ayam lengkap dengan angkringannya sekaligus.

Terima kasih banyak, kenyang banget!

Kami di redaksi sebenarnya ingin ada sedikit keheningan ketika koran kesayangan Anda ini menapaki usia ke-61. Di umur yang tak lagi muda, kerinduan akan jeda sejenak untuk berefleksi di antara rutinitas panjang kami. Melihat sekilas ke belakang, perjalanan bersama pembaca yang telah terjalin sekian lama.

Untuk mewujudkan keinginan sederhana itu, redaksi, departemen iklan, pemasaran, bagian umum, dan IT sepakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun yang bisa dikategorikan pesta. Bahkan, kami sepakat untuk menyediakan satu nasi tumpeng dan satu kue tart saja. Dipotong lalu dimakan bersama-sama.

"Biarpun nasi tumpengnya kecil, yang penting doanya (dibaca oleh ustad Subur, rekan kami di bagian pajak) kan panjaaaang...," kata ibu Nany Wijaya, direktur kami.

Tapi apa daya, niat untuk berhening-hening itu gagal. Para pembaca ternyata punya bahasa cinta yang grafik kehebohannya tak pernah turun. Setiap kali datang hari ulang tahun JP, selalu saja berduyun-duyun dengan aneka makanan, bingkisan, rangkaian bunga, ucapan lewat SMS, e-mail, bahkan tari-tarian yang betul-betul tak bisa kami rem. Kian tahun kian seru! Terhadap itu semua, bohong kalau kami tak merasa tersanjung dan bahagia.

Pembaca yang budiman, sesunguhnya kami juga memberikan kado buat Anda yang kami kirimkan secara diam-diam tepat di hari ulang tahun kami, 1 Juli lalu. Kado itu berupa pergantian font. Ya, font untuk naskah dan judul yang selama ini menggunakan huruf Times New Roman kini kita ganti dengan font baru dengan nama Utopia. Times yang tak lagi kita pakai itu sudah menjadi body text (huruf naskah) di Jawa Pos sejak 14 tahun lalu.

Times New Roman, meskipun dipakai oleh banyak surat kabar, sesungguhnya huruf itu tidak dirancang khusus untuk kebutuhan koran. Tapi, 14 tahun lalu, pilihan huruf untuk surat kabar memang tidak sebanyak sekarang. Sedangkan mengganti font, juga kurang elok kalau dilakukan terlalu sering. Sebab, bisa timbul kesan main-main dan tidak serius.

Utopia, font yang sekarang Anda baca, adalah huruf yang memang dirancang untuk surat kabar. Tidak pasaran, karena memang tidak beredar bebas seperti Times New Roman. Konstruksinya tidak rumit dan cenderung mengarahkan mata kita untuk bergerak ke kanan. Membaca bisa lebih cepat. Koran yang juga memakai font Utopia adalah harian Sydney Morning Herald, koran terbesar Australia.

Oma, Opa, Eyang Kakung, Eyang Putri, kami yakin mata Anda lebih nyaman sekarang. Huruf Jawa Pos terlihat lebih jelas, tidak terlalu kecil, dan tidak berlarian ke sana-kemari saat beritanya dibaca.

Pembaca yang budiman, tiada hari tanpa inovasi. Selalu ada yang baru adalah komitmen yang terus kami jaga. Komitmen itu telah menjadi busur yang melesatkan kami bagai anak panah sang waktu. Tahun demi tahun terlewat tanpa terasa. Jawa Pos, di usia 61 tahun, telah menjadi koran yang dibaca semua usia. Ya, Jawa Pos adalah koran untuk semua. Dari yang belia hingga yang tua. Kenyataan itulah yang memaksa kami untuk lebih peduli. Pergantian font kali ini adalah wujud kepedulian itu.

Maaf, meski pergantian font sudah kami lakukan sejak 1 Juli lalu, baru sekarang kami mengumumkannya. Sengaja. Pertimbangannya, sebagai sebuah bingkisan, jelas ini tidak sebanding dengan soto dan aneka makanan kiriman pembaca tadi. Maka itu, sengaja kami umumkan empat hari kemudian. Menunggu kiriman makanan reda. Siapa tahu Anda benar-benar terkesan dengan font Jawa Pos yang baru, lalu mengirimkan makanan lagi buat kami. Hehee, bercanda.

Selamat membaca, salam.

No comments:

Post a Comment