21 July 2010

Guru Swiss Wisata ke Jatim




Selama dua hari saya berbincang akrab, ngopi bareng, dengan Christine Rod. Wanita asal Jenewa, Swiss, ini sedang berlibur di Indonesia bersama suaminya, pelukis Nasrullah yang asli Tanggulangin, Sidoarjo. Christine ini orangnya asyik banget. Bahasa Indonesianya tidak begitu lancar, tapi bagus untuk ukuran orang Eropa.

"Saya harus menikmati beberapa tempat di Indonesia karena saya sangat suka Indonesia. Sidoarjo, Surabaya, Bali, Solo, Jogjakarta," kata Christine lantas tersenyum. Bahkan, dia berencana menjadi warga negara Indonesia setelah pensiun, kemudian menetap seterusnya di Jogja. Menghabiskan masa senja di sana.

Sehari-hari Christine bekerja sebagai GURU matematika sekolah dasar di Jenewa. Dia juga bertugas menangani anak-anak berkebutuhan khusus di kota internasional itu. Di sela-sela kesibukannya, kerja hampir 12 jam, Christine masih sempat menikmati lukisan, lihat pemeran, rekreasi, ngelencer bareng suami, dan sebagainya.

Yang selalu saya kagumi dari Christine adalah tradisi berlibur ke banyak negara. Saya selalu geleng-geleng kepala. Seorang guru SD bisa berlibur ke mana-mana, khususnya Indonesia, dengan biaya sendiri. Beberapa waktu lalu dia bersama Nasrullah liburan di Maroko.

"Saya ingin agar Roel (Nasrullah) punya wawasan tentang masyarakat Islam di Afrika. Jangan cuma tahu Islam di Indonesia saja," katanya.

GURU SD di Swiss! Kok punya uang begitu banyak sehingga bisa melancong ke negara-negara yang jauh ya? Gaji guru di Swiss kok banyak betul ya? Christine tertawa kecil mendengar pertanyaan plus komentar saya ini.

"Hehehe.... Jelas gaji guru di Swiss lebih banyak daripada di Indonesia. Di Indonesia sistem penggajian belum bagus. Tiap negara memang punya sistem sendiri-sendiri," katanya.

Saya terdiam sejenak. Saya lantas membandingkan nasib guru-guru di Indonesia, negaraku. Jangankan guru SD, guru SMA sampai dosen, bahkan profesor, pun belum digaji secara layak. Untuk hidup saja susah. Gaji guru PNS sering tak cukup untuk hidup sang guru dan keluarga selama satu bulan.

Begitu banyak guru di Indonesia yang harus nyambi jadi tukang kredit, tukang ojek, petani (di kampung saya, Flores), makelar, sopir, tukang warung, jualan diktat, makelar buku pelajaran, dan sebagainya. Sudah nyambi ke mana-mana toh masih tetap kurang juga. Jangankan berwisata ke luar negeri, sekadar rekreasi di dalam kota atau makan di restoran di Surabaya atau Sidoarjo saja susahnya bukan main.

Kapankah negara kita yang katanya punya kekayaan alam luar biasa, indah permai, sangat luas... itu bisa memberikan kemakmuran kepada rakyatnya? Kapankah guru-guru di Indonesia bisa berwisata ke mana-mana sehingga wawasannya menjadi lebih luas dan benar-benar menginternasional?

Kapan? Kapan? Kapan?

2 comments:

  1. wah jadi inget acara tv belajar indonesia nih.
    kl bwt guru2 tuh mending dari sistem dirubah, cz yg sekarang belum cukup bagus

    ReplyDelete
  2. Kalo saja ada guru diIndonesia yang seprti Christine Rod, Pasti kita akan bangga ya.....!!!

    ReplyDelete