23 July 2010

Didung Motor PSM Unej



Oleh NUR FITRIANA


Gaudemus igitur,
juvenes dum sumus
Post icundum iuventutem
post molestam senectutem
nos habebit humus.



Lagu dengan irama yang mengentak itu, Gaudemus Igitur, tentu sudah sangat familiar, meski mungkin tidak banyak yang tahu arti syair berbahasa Latin tersebut. Lagu itu sangat identik dengan upacara wisuda. Lagu yang aslinya berjudul De Brevitate Vitae itu dinyanyikan dengan khidmat oleh paduan suara mahasiswa (PSM) Fakultas Kedokteran Universitas Jember pada saat pengambilan sumpah dokter baru.

Adalah Rokhmad Hidayanto, lelaki berperawakan tinggi yang hampir selalu ada di setiap acara wisuda Unej untuk mengiringi paduan suara dengan piano yang selalu ada di Gedung Soetardjo.

Siapa yang menyangka, jika laki-laki berkacamata tersebut adalah lulusan Unej yang sudah mengabdi selama belasan tahun untuk paduan suara mahasiswa Unej. Dengan senyum dan keramahannya, Didung begitu ia biasa dipanggil, selalu mendapatkan tempat di hati setiap anggota paduan suara mahasiswa yang diiringinya.

Mulanya, Didung begitu tergila-gila dengan musik. Kebetulan, yang dia kuasai secara otodidak adalah piano. Laki-laki asal Ponorogo ini mengaku sudah bergelut dengan piano sejak usianya masih belia. Di bangku SMP, Didung berpetualang dari satu band ke band yang lain.

Berbekal keinginan untuk mempelajari musik lebih dalam rupanya membuat bosan laki-laki lulusan Fakultas Sastra Unej ini. Bergabung dalam sebuah band dirasa terlalu memaksa dirinya untuk jalan di tempat, tanpa bisa mengeksplorasi lebih dalam kemampuan bermusiknya.

Ketika masuk Unej, dia bergabung begitu saja dengan PSM Unej. Ketika itu ada lomba paduan suara untuk mahasiswa baru. Dari situ, ia berkenalan dengan Lilik Slamet, pelatih paduan suara mahasiswa Unej. Menurut dia, Lilik adalah orang yang paling memberikan andil bagi dirinya yang akhirnya memilih bergelut di dunia paduan suara.

Apalagi, Lilik juga memberikan iming-iming yang menggiurkan baginya yang haus dengan eksplorasi musik. Latihan di Gedung Soetardjo dirasanya sangat menarik, karena jika datang lebih awal untuk latihan, maka kesempatan untuk berlatih piano akan jatuh padanya.

Belajar partitur, not balok, adalah hal yang cukup baru bagi seorang Didung. Baginya bermusik tak hanya menggunakan kaki atau tangan untuk memainkan alat musik. Mata adalah alat bermusik yang bisa membuatnya lebih jauh melanglang buana dalam dunia musik.

”Kita mungkin biasa bermusik dengan menggunakan tangan ataupun kaki dalam bermusik. Karena untuk bisa memainkan alat musik hanyalah butuh kemauan. Tapi untuk mengeksplorasi lebih dalam, kita butuh mata agar tak buta not balok,” jelasnya.

Didung juga semakin menanamkan kecintaannya pada PSM karena di dalamnya, ia bisa mengenal karakter banyak orang, memiliki banyak saudara, serta bebas dalam mengeksplorasi lagu yang diaransemennya. Kecintaannya terhadap PSM dia awali dengan belajar menyanyi kemudian belajar untuk menjadi dirigen lantas, PSM juga menggiringnya untuk belajar menjadi arranger.

Folksong adalah salah satu jenis lagu yang membuat dirinya bisa mengeksplorasi kemampuan dirinya. Folksong atau lagu daerah yang diaransemen ulang dalam bentuk paduan suara membuatnya memiliki kesempatan mempelajari berbagai paduan musik sehingga menghasilkan harmoni yang selaras.

Selain itu, ia juga ingin mengangkat lagu daerah yang belum familiar di tengah masyarakat. Banyaknya lagu daerah di Indonesia adalah kekayaan yang menurut Didung haruslah diangkat ke permukaan dan mulai dikenalkan pada khalayak.

Kecintaan pada paduan suara juga membuat naluri berkeseniannya memilih Jember menjadi kota tempat tinggalnya. ”Waktu itu, saya sudah hampir lupa dengan kewajiban saya untuk memperoleh pekerjaan karena saking asyiknya menggeluti bidang ini,” ujarnya.

Beruntung, tepat ketika ia mulai menargetkan untuk mendapatkan pekerjaan pada 2005, ada lowongan untuk pegawai Unej. Ia pun mengikuti tes tersebut dengan harapan bisa tetap mengabdi pada PSM yang sudah memberinya banyak ilmu dalam bermusik dan juga ilmu tentang hidup.

Dan ternyata, keberuntungan itu tetap bertengger di pundak pria yang lahir pada 25 November 1975 ini. Ia diterima sebagai pegawai Humas Unej. Pekerjaan itu merupakan anugerah baginya. Sebab, dengan bekerja di Unej, ia bisa tetap konsisten bergelut di dunia paduan suara.

Pekerjaan tersebut juga memberinya ruang untuk mengajar paduan suara tak hanya di Unej, melainkan juga di sekolah dasar dan menengah. ”Pekerjaan saya ini untungnya bisa menyesuaikan. Saya bisa tetap mobile untuk berkecimpung di paduan suara,” ungkapnya.

Mengajar paduan suara di sekolah dasar dan menengah bagi Didung bukanlah harus menanamkan target bisa menyanyi bagus. Bisa menyanyi bagus adalah bonus bagi paduan suara anak-anak. Yang terpenting adalah menanamkan nilai nasionalisme, kejujuran, tanggung jawab, serta kerja sama yang solid.

Paduan suara yang selalu identik dengan lagu nasional menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk cinta pada bangsanya. Selain itu, paduan suara tak pernah terpisah dari partitur. Tanpa partitur, maka menyanyi bisa jadi asal-asalan.

”Menyanyi dalam paduan suara memberikan nilai bagi anak-anak. Mereka bertanggung jawab untuk membawa partitur setiap latihan. Mereka juga harus jujur. Tidak boleh menyanyikan bagian orang lain,” katanya.

Menjadi bagian dari paduan suara bagi Didung adalah anugerah. Kini, pria yang sehari-harinya mengajar paduan suara di SMPN 2 Jember ini selalu rajin untuk menggerakkan insting bermusiknya dengan mempraktikkan paduan suara klasik untuk anak didiknya.

”Saya ingin menjadi seperti air. Bisa berjuang dan bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun. Termasuk dalam berkesenian,” tandasnya. (*)

Sumber: Radar Jember 23 Juli 2010

1 comment:

  1. maju terus mas didung, semoga sukses n makin banyak anak muda yg mau belajar nyanyi yg benar.

    ReplyDelete