28 July 2010

125 Tahun Eng An Kiong Malang



Ratusan warga Tionghoa asal Surabaya berpartisipasi dalam kirab ritual untuk memeriahkan hari jadi ke-125 Eng An Kiong di Malang, Ahad (18/7/2010). Eng An Kiong merupakan klenteng terkemuka di Jalan Laksamana Martadinata 1, Kota Lama, Malang, Jawa Timur.


Sejumlah klenteng yang mengirim utusan antara lain Hong San Ko Tee (Jalan Cokroaminoto), Pak Kik Bio (Jagalan), serta TITD Gresik. Mereka bergabung dengan ribuan jemaat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tak ketinggalan, ratusan peserta asal kota-kota di Jawa Tengah seperti Lasem, Rembang, Jepara, hingga Semarang.

Sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya tampak hadir di tengah hajatan akbar ini. Sebut saja Sutamat (ketua Perhimpunan TITD Jatim), Chandra Wurianto dari Yayasan Senopati, Ivan Gunawan (pengusaha, tokoh klenteng), serta Juliani Pudjiastuti (TITD Hong San Ko Tee). Tim Pak Kik Bio start di posisi kedua, sementara Hong San nomor empat.

“Kami sengaja datang untuk berpartisipasi sekaligus memeriahkan HUT Eng An Kiong. Ini sebagai solidaritas sesama TITD di Jatim. Bagaimanapun juga, sebagai sesama jemaat, kami perlu memberikan dukungan,” ujar Juliani Pudjiastuti, pengurus TITD Hong San Ko Tee, kepada saya di sela acara.

Juliani sendiri, meski duduk di kursi roda, terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara sejak Sabtu siang hingga kirab ritual, hingga penutupan. Sebagai ketua TITD Hong San Ko Tee, Juliani memimpin tim barongsai, para pengusung kim sin, serta rombongan yang berjumlah sekitar 200 orang.

“Anggota kita cukup banyak karena kebetulan jarak Surabaya-Malang tidak begitu jauh. Ini juga berkat dukungan para donatur dan kontribusi umat,” ujar Juliani seraya merangkul Ny Ivan Gunawan, salah satu donatur, yang berada di sampingnya.

Secara umum, penampilan peserta kirab asal Surabaya, baik Hong San maupun Pak Kik Bio, cukup atraktif. Sepanjang lima kilometer jalan raya di kawasan Kota Lama, Malang, ribuan warga memberikan sambutan meriah. Tua-muda, anak-anak sekolah, dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama berbaur jadi satu.

“Sangat mengharukan. Suasana kirab di Malang ini membuktikan bahwa masyarakat kita itu pada dasarnya punya rasa toleransi sangat tinggi. Warga bisa saling menghargai satu sama lain,” kata Budi Darmawan, pengusaha asal Jl Semarang, yang ikut rombongan Hong San Ko Tee.

Para pemain barongsai Surabaya, meski kelelahan, beroleh rezeki nomplok. Maklum, sejumlah pemilik toko di kawasan Kota Lama tidak pelit menyediakan angpao dan makanan. Namun, sebelum itu, para pemain ditantang untuk bisa mengambil amplop merah berisi uang itu di posisi yang cukup tinggi.

Ketika angpao berhasil dicaplok, warga pun bertepuk tangan meriah. (rek)

1 comment:

  1. TITD Klenteng En Ang Kiong membagikan 10rb sembako ke masyarakat, Selasa 24 Agustus 2010.

    ReplyDelete