28 July 2010

Bahasa Indonesia under threat





By ASSOCIATED PRESS/THE STRAITS TIMES, July 26, 2010

Paulina Sugiarto's three children played together at a mall here the other day, chattering not in Indonesia's national language, but English. Their fluency often draws admiring questions from other Indonesian parents Mrs Sugiarto encounters in this city's upscale malls.

But the children's ability in English obscured the fact that, though born and raised in Indonesia, they were struggling with the Indonesian language, known as Bahasa Indonesia. Their parents, who grew up speaking the Indonesian language but went to college in the United States and Australia, talk to their children in English. And the children attend a private school where English is the main language of instruction.

'They know they're Indonesian,' Mrs Sugiarto, 34, said. 'They love Indonesia. They just can't speak Bahasa Indonesia. It's tragic.' Indonesia's linguistic legacy is increasingly under threat as growing numbers of wealthy and upper-middle-class families shun public schools where Indonesian remains the main language, but English is often taught poorly. They are turning, instead, to private schools that focus on English and devote little time, if any, to Indonesian.

For some Indonesians, as mastery of English has become increasingly tied to social standing, Indonesian has been relegated to second-class status. In extreme cases, people take pride in speaking Indonesian poorly.

The global spread of English, with its sometimes corrosive effects on local languages, has caused much hand-wringing in many non-English-speaking corners of the world. But the implications may be more far-reaching in Indonesia, where generations of political leaders promoted Indonesian to unite the nation and forge a national identity out of countless ethnic groups, ancient cultures and disparate dialects.

The government recently announced that it would require all private schools to teach the nation's official language to Indonesian students by 2013. Details remain sketchy, though.

125 Tahun Eng An Kiong Malang



Ratusan warga Tionghoa asal Surabaya berpartisipasi dalam kirab ritual untuk memeriahkan hari jadi ke-125 Eng An Kiong di Malang, Ahad (18/7/2010). Eng An Kiong merupakan klenteng terkemuka di Jalan Laksamana Martadinata 1, Kota Lama, Malang, Jawa Timur.


Sejumlah klenteng yang mengirim utusan antara lain Hong San Ko Tee (Jalan Cokroaminoto), Pak Kik Bio (Jagalan), serta TITD Gresik. Mereka bergabung dengan ribuan jemaat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tak ketinggalan, ratusan peserta asal kota-kota di Jawa Tengah seperti Lasem, Rembang, Jepara, hingga Semarang.

Sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya tampak hadir di tengah hajatan akbar ini. Sebut saja Sutamat (ketua Perhimpunan TITD Jatim), Chandra Wurianto dari Yayasan Senopati, Ivan Gunawan (pengusaha, tokoh klenteng), serta Juliani Pudjiastuti (TITD Hong San Ko Tee). Tim Pak Kik Bio start di posisi kedua, sementara Hong San nomor empat.

“Kami sengaja datang untuk berpartisipasi sekaligus memeriahkan HUT Eng An Kiong. Ini sebagai solidaritas sesama TITD di Jatim. Bagaimanapun juga, sebagai sesama jemaat, kami perlu memberikan dukungan,” ujar Juliani Pudjiastuti, pengurus TITD Hong San Ko Tee, kepada saya di sela acara.

Juliani sendiri, meski duduk di kursi roda, terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara sejak Sabtu siang hingga kirab ritual, hingga penutupan. Sebagai ketua TITD Hong San Ko Tee, Juliani memimpin tim barongsai, para pengusung kim sin, serta rombongan yang berjumlah sekitar 200 orang.

“Anggota kita cukup banyak karena kebetulan jarak Surabaya-Malang tidak begitu jauh. Ini juga berkat dukungan para donatur dan kontribusi umat,” ujar Juliani seraya merangkul Ny Ivan Gunawan, salah satu donatur, yang berada di sampingnya.

Secara umum, penampilan peserta kirab asal Surabaya, baik Hong San maupun Pak Kik Bio, cukup atraktif. Sepanjang lima kilometer jalan raya di kawasan Kota Lama, Malang, ribuan warga memberikan sambutan meriah. Tua-muda, anak-anak sekolah, dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama berbaur jadi satu.

“Sangat mengharukan. Suasana kirab di Malang ini membuktikan bahwa masyarakat kita itu pada dasarnya punya rasa toleransi sangat tinggi. Warga bisa saling menghargai satu sama lain,” kata Budi Darmawan, pengusaha asal Jl Semarang, yang ikut rombongan Hong San Ko Tee.

Para pemain barongsai Surabaya, meski kelelahan, beroleh rezeki nomplok. Maklum, sejumlah pemilik toko di kawasan Kota Lama tidak pelit menyediakan angpao dan makanan. Namun, sebelum itu, para pemain ditantang untuk bisa mengambil amplop merah berisi uang itu di posisi yang cukup tinggi.

Ketika angpao berhasil dicaplok, warga pun bertepuk tangan meriah. (rek)

23 July 2010

Didung Motor PSM Unej



Oleh NUR FITRIANA


Gaudemus igitur,
juvenes dum sumus
Post icundum iuventutem
post molestam senectutem
nos habebit humus.



Lagu dengan irama yang mengentak itu, Gaudemus Igitur, tentu sudah sangat familiar, meski mungkin tidak banyak yang tahu arti syair berbahasa Latin tersebut. Lagu itu sangat identik dengan upacara wisuda. Lagu yang aslinya berjudul De Brevitate Vitae itu dinyanyikan dengan khidmat oleh paduan suara mahasiswa (PSM) Fakultas Kedokteran Universitas Jember pada saat pengambilan sumpah dokter baru.

Adalah Rokhmad Hidayanto, lelaki berperawakan tinggi yang hampir selalu ada di setiap acara wisuda Unej untuk mengiringi paduan suara dengan piano yang selalu ada di Gedung Soetardjo.

Siapa yang menyangka, jika laki-laki berkacamata tersebut adalah lulusan Unej yang sudah mengabdi selama belasan tahun untuk paduan suara mahasiswa Unej. Dengan senyum dan keramahannya, Didung begitu ia biasa dipanggil, selalu mendapatkan tempat di hati setiap anggota paduan suara mahasiswa yang diiringinya.

Mulanya, Didung begitu tergila-gila dengan musik. Kebetulan, yang dia kuasai secara otodidak adalah piano. Laki-laki asal Ponorogo ini mengaku sudah bergelut dengan piano sejak usianya masih belia. Di bangku SMP, Didung berpetualang dari satu band ke band yang lain.

Berbekal keinginan untuk mempelajari musik lebih dalam rupanya membuat bosan laki-laki lulusan Fakultas Sastra Unej ini. Bergabung dalam sebuah band dirasa terlalu memaksa dirinya untuk jalan di tempat, tanpa bisa mengeksplorasi lebih dalam kemampuan bermusiknya.

Ketika masuk Unej, dia bergabung begitu saja dengan PSM Unej. Ketika itu ada lomba paduan suara untuk mahasiswa baru. Dari situ, ia berkenalan dengan Lilik Slamet, pelatih paduan suara mahasiswa Unej. Menurut dia, Lilik adalah orang yang paling memberikan andil bagi dirinya yang akhirnya memilih bergelut di dunia paduan suara.

Apalagi, Lilik juga memberikan iming-iming yang menggiurkan baginya yang haus dengan eksplorasi musik. Latihan di Gedung Soetardjo dirasanya sangat menarik, karena jika datang lebih awal untuk latihan, maka kesempatan untuk berlatih piano akan jatuh padanya.

Belajar partitur, not balok, adalah hal yang cukup baru bagi seorang Didung. Baginya bermusik tak hanya menggunakan kaki atau tangan untuk memainkan alat musik. Mata adalah alat bermusik yang bisa membuatnya lebih jauh melanglang buana dalam dunia musik.

”Kita mungkin biasa bermusik dengan menggunakan tangan ataupun kaki dalam bermusik. Karena untuk bisa memainkan alat musik hanyalah butuh kemauan. Tapi untuk mengeksplorasi lebih dalam, kita butuh mata agar tak buta not balok,” jelasnya.

Didung juga semakin menanamkan kecintaannya pada PSM karena di dalamnya, ia bisa mengenal karakter banyak orang, memiliki banyak saudara, serta bebas dalam mengeksplorasi lagu yang diaransemennya. Kecintaannya terhadap PSM dia awali dengan belajar menyanyi kemudian belajar untuk menjadi dirigen lantas, PSM juga menggiringnya untuk belajar menjadi arranger.

Folksong adalah salah satu jenis lagu yang membuat dirinya bisa mengeksplorasi kemampuan dirinya. Folksong atau lagu daerah yang diaransemen ulang dalam bentuk paduan suara membuatnya memiliki kesempatan mempelajari berbagai paduan musik sehingga menghasilkan harmoni yang selaras.

Selain itu, ia juga ingin mengangkat lagu daerah yang belum familiar di tengah masyarakat. Banyaknya lagu daerah di Indonesia adalah kekayaan yang menurut Didung haruslah diangkat ke permukaan dan mulai dikenalkan pada khalayak.

Kecintaan pada paduan suara juga membuat naluri berkeseniannya memilih Jember menjadi kota tempat tinggalnya. ”Waktu itu, saya sudah hampir lupa dengan kewajiban saya untuk memperoleh pekerjaan karena saking asyiknya menggeluti bidang ini,” ujarnya.

Beruntung, tepat ketika ia mulai menargetkan untuk mendapatkan pekerjaan pada 2005, ada lowongan untuk pegawai Unej. Ia pun mengikuti tes tersebut dengan harapan bisa tetap mengabdi pada PSM yang sudah memberinya banyak ilmu dalam bermusik dan juga ilmu tentang hidup.

Dan ternyata, keberuntungan itu tetap bertengger di pundak pria yang lahir pada 25 November 1975 ini. Ia diterima sebagai pegawai Humas Unej. Pekerjaan itu merupakan anugerah baginya. Sebab, dengan bekerja di Unej, ia bisa tetap konsisten bergelut di dunia paduan suara.

Pekerjaan tersebut juga memberinya ruang untuk mengajar paduan suara tak hanya di Unej, melainkan juga di sekolah dasar dan menengah. ”Pekerjaan saya ini untungnya bisa menyesuaikan. Saya bisa tetap mobile untuk berkecimpung di paduan suara,” ungkapnya.

Mengajar paduan suara di sekolah dasar dan menengah bagi Didung bukanlah harus menanamkan target bisa menyanyi bagus. Bisa menyanyi bagus adalah bonus bagi paduan suara anak-anak. Yang terpenting adalah menanamkan nilai nasionalisme, kejujuran, tanggung jawab, serta kerja sama yang solid.

Paduan suara yang selalu identik dengan lagu nasional menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk cinta pada bangsanya. Selain itu, paduan suara tak pernah terpisah dari partitur. Tanpa partitur, maka menyanyi bisa jadi asal-asalan.

”Menyanyi dalam paduan suara memberikan nilai bagi anak-anak. Mereka bertanggung jawab untuk membawa partitur setiap latihan. Mereka juga harus jujur. Tidak boleh menyanyikan bagian orang lain,” katanya.

Menjadi bagian dari paduan suara bagi Didung adalah anugerah. Kini, pria yang sehari-harinya mengajar paduan suara di SMPN 2 Jember ini selalu rajin untuk menggerakkan insting bermusiknya dengan mempraktikkan paduan suara klasik untuk anak didiknya.

”Saya ingin menjadi seperti air. Bisa berjuang dan bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun. Termasuk dalam berkesenian,” tandasnya. (*)

Sumber: Radar Jember 23 Juli 2010

21 July 2010

Guru Swiss Wisata ke Jatim




Selama dua hari saya berbincang akrab, ngopi bareng, dengan Christine Rod. Wanita asal Jenewa, Swiss, ini sedang berlibur di Indonesia bersama suaminya, pelukis Nasrullah yang asli Tanggulangin, Sidoarjo. Christine ini orangnya asyik banget. Bahasa Indonesianya tidak begitu lancar, tapi bagus untuk ukuran orang Eropa.

"Saya harus menikmati beberapa tempat di Indonesia karena saya sangat suka Indonesia. Sidoarjo, Surabaya, Bali, Solo, Jogjakarta," kata Christine lantas tersenyum. Bahkan, dia berencana menjadi warga negara Indonesia setelah pensiun, kemudian menetap seterusnya di Jogja. Menghabiskan masa senja di sana.

Sehari-hari Christine bekerja sebagai GURU matematika sekolah dasar di Jenewa. Dia juga bertugas menangani anak-anak berkebutuhan khusus di kota internasional itu. Di sela-sela kesibukannya, kerja hampir 12 jam, Christine masih sempat menikmati lukisan, lihat pemeran, rekreasi, ngelencer bareng suami, dan sebagainya.

Yang selalu saya kagumi dari Christine adalah tradisi berlibur ke banyak negara. Saya selalu geleng-geleng kepala. Seorang guru SD bisa berlibur ke mana-mana, khususnya Indonesia, dengan biaya sendiri. Beberapa waktu lalu dia bersama Nasrullah liburan di Maroko.

"Saya ingin agar Roel (Nasrullah) punya wawasan tentang masyarakat Islam di Afrika. Jangan cuma tahu Islam di Indonesia saja," katanya.

GURU SD di Swiss! Kok punya uang begitu banyak sehingga bisa melancong ke negara-negara yang jauh ya? Gaji guru di Swiss kok banyak betul ya? Christine tertawa kecil mendengar pertanyaan plus komentar saya ini.

"Hehehe.... Jelas gaji guru di Swiss lebih banyak daripada di Indonesia. Di Indonesia sistem penggajian belum bagus. Tiap negara memang punya sistem sendiri-sendiri," katanya.

Saya terdiam sejenak. Saya lantas membandingkan nasib guru-guru di Indonesia, negaraku. Jangankan guru SD, guru SMA sampai dosen, bahkan profesor, pun belum digaji secara layak. Untuk hidup saja susah. Gaji guru PNS sering tak cukup untuk hidup sang guru dan keluarga selama satu bulan.

Begitu banyak guru di Indonesia yang harus nyambi jadi tukang kredit, tukang ojek, petani (di kampung saya, Flores), makelar, sopir, tukang warung, jualan diktat, makelar buku pelajaran, dan sebagainya. Sudah nyambi ke mana-mana toh masih tetap kurang juga. Jangankan berwisata ke luar negeri, sekadar rekreasi di dalam kota atau makan di restoran di Surabaya atau Sidoarjo saja susahnya bukan main.

Kapankah negara kita yang katanya punya kekayaan alam luar biasa, indah permai, sangat luas... itu bisa memberikan kemakmuran kepada rakyatnya? Kapankah guru-guru di Indonesia bisa berwisata ke mana-mana sehingga wawasannya menjadi lebih luas dan benar-benar menginternasional?

Kapan? Kapan? Kapan?

19 July 2010

Nelayan Spesialis Kupang




Ahad, 18 Juli 2010, ratusan warga Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo, mengadakan ritual tahunan nyadran. Sebanyak 40 perahu beriringan menuju Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri, di Pantai Kepetingan.

Usai pengajian di petilasan lawas itu, warga nelayan Balongdowo berlayar lagi ke muara sungai. Lantas, pulang ke desanya. Pengajian malam, makan bersama, lomba-lomba, menikmati hiburan sederhana layaknya wong kampung.

Balongdowo sejak dulu dikenal sebagai kampung nelayan spesialis kupang. Kalau nelayan Bluru Kidul di Kecamatan Sidoarjo spesialis kerang. Memang ada semacam kearifan lokal di kalangan nelayan untuk membuat spesialisasi. Dengan begitu, potensi konflik sesama nelayan di laut bisa diredam.

Sesekali cobalah Anda datang ke Balongdowo. Begitu perahu bersandar di pinggir kali, ibu-ibu datang menyerbu untuk menurunkan hasil tangkapan. Mengolah sejenis kerang kecil: mengeluarkan tubuh si kupang dari cangkangnya.

“Biasanya, yang berangkat kelaut lima sampai delapan,” ujar Danu, ketua nelayan Balongdowo. “Kalau ibu-ibu itu tugasnya mencuci kupang."

Kupang diolah menjadi berbagai makanan. Mulai dari petis, kerupuk, hingga lontong kupang yang sering kita lihat di pinggir Sidoarjo. Saban hari, ibu-ibu mengolah kupang sejak malam hari hingga subuh. Hasilnya lumayan. Dalam sehari mereka dapat Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.

Kupang ini ada dua macam: kupang putih dan kupang merah. Kupang putih diolah menjadi petis, sedangkan kupang merah menjadi kerupuk. Dari segi harga, kupang merah lebih mahal. Kupang merah dihargai Rp 4.000, sedangkan kupang putih Rp 1.500 per timba.

Kulit cangkang yang melindung daging lunak si kupang pun tidak terbuang percuma. Kulit itu dapat digunakan sebagai campuran makanan ayam. Tentu saja, harus digiling terlebih dahulu menjadi tepung, kemudian dicampurkan ke dedak. “Ada pabrik pakan ternak di Mojokerto yang nampung kulit kupang,” ujar Danu.

Bagi nelayan tradisonal seperti di Balongdowo ini, alam sangat menentukan dalam upaya pencarian si kupang. Mereka harus pandai membaca bintang utara sebagai penunjuk arah atawa kompas dan gerakan bulan. Ombak bukan hambatan karena karakteristik laut di pesisir utara Pulau Jawa jauh lebih tenang dibandingkan laut selatan yang ganas.

Berangkat melaut selalu menunggu air pasang dua kali sehari. “Jadi, berangkatnya gak tentu. Kalau berangkat siang, pulangnya malam. Begitu sebaliknya.” .

Kendala yang sering dihadapi saat musim hujan tiba. Sebab, suhu di permukaan laut lebih rendah dari daratan.

Berbekal peralatan sederhana berupa serok dan sepatu, para nelayan terjun ke dasar laut untuk mengais kupang di antara lumpur. Mereka pakai sepatu untuk melindungi kaki dari serpihan cangkang kupang yang tajam dan hewan laut yang punya sengat atau berbisa.

Mencari kupang bukanlah pekara mudah. Dibutuhkan keahlian, pengalaman, dan nasib baik. Kupang hidup di air payau, selalu berada di perairan dangkal yang berlumpur. Sehingga, lumpur sering ikut terambil jika belum biasa.

Nelayan yang tidak punya perahu dapat menyewa perahu dengan tarif Rp 50 ribu per hari. Karena itu, uang sewa dapat ditanggung bersama para nelayan yang melaut. Berapa hasil tangkapan nelayan kupang Balongdowo? Rata-rata delapan karung. Kalau diuangkan sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Ini kupang mentah yang belum diolah sama sekali.

Bila dibandingkan dengan nasib nelayan umumnya, kesejahteraan nelayan kupang di Sidoarjo relatif lebih baik. Alam telah memberikan rezeki secara turun-temurun. Posisi kupang selalu di tempat yang sama. Dan, meski terus-menerus diambil, si kupang tidak pernah habis.

“Hasil kupang juga bisa jadi uang semua. Jadi, kehidupan nelayan di sini bisa dianggap cukuplah,” kata Danu.

Cukup gak cukup, ya, dicukup-cukupno ae, Cak!

Petis Khas Sidoarjo

Sudah pernah lihat petis? Makan petis yang hitam itu? Kalau belum, datang saja ke Sidoarjo. Sidoarjo yang sejak akhir Mei 2006 terkenal ke seluruh dunia karena semburan lumpur Lapindo itu sejak dulu dijuluki kota petis.

Sebetulnya, petis ini juga dibuat di beberapa kota lain. Tapi orang Sidoarjo selalu membanggakan petisnya. "Petis Sidoarjo is the best!" klaim orang Sidoarjo (asli). Sebagai pemegang KTP Sidoarjo, saya membenarkan klaim itu.

Petis dibuat dari kupang. Dan, di Sidoarjo, kupang merupakan hasil tangkapan nelayan di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. Sejak zaman baheula, nelayan Balongdowo dikenal paling jago mengumpulkan kupang. Ibu-ibu nelayan kemudian menjadi pembuat petis nomor wahid.

Ibu Sila salah satunya. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada petis. Dia bikin petis putih (cere) dan petis hitam (letek) untuk dijual di Kejapanan, Gempol, Pasuruan, tiap pagi. Petis cere hanya menggunakan gula pasir, sedangkan petis letek dicampur gula aren, sehinga warnanya menjadi gelap.

“Warnanya bisa hitam karena dicampur dengan gula aren. Jadi, bukan warna asli petis,” terang Supirwan, pembuat petis yang lain.

Dari segi ketahanan dan kualitas, petis cere lebih baik ketimbang petis hitam. Petis hitam ini sering dijumpai sebagai teman makan gorengan. “Bila disimpan di lemari es bisa bertahan sampai satu bulan,” ujar Ibu Sila.

Petis cere disebut juga petis kualitas pertama. Sedangkan petis letek yang bertahan maksimal tiga hari disebut kualitas biasa.

Petis dibuat dari kupang putih karena kaldunya lebih mengembang ketimbang kupang merah. Selain itu, harga kupang merah lebih mahal.

Biasanya, pembuat petis mulai mengolah kaldu kupang dari pagi. Kaldu tersebut dimasak sambil diaduk hingga dua jam sampai mengental. Kemudian ditiriskan hingga mengembang.

Petisi letek sering digunakan pedagang kecil dan menengah karena harganya lebih murah. Sedangkan petis cere lazimnya dijual di rumah makan dan restoran yang memang mengutamakan kualitas. “Harga petis cere per kilonya Rp 20.000. Petis letek hanya Rp 8.000,” jelas Supirwan.

Dalam sehari, pembuat petis di Balongdowo dapat menghasilkan 50 kg petis. Kalau diuangkan berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Itu pun tergantung jumlah kaldu kupang yang disetorkan nelayan.

Vivin tiap hari menjual petis letek per bungkus dengan harga Rp 2.000. “Sehari 125 bungkus. Jadi, kira-kira dapat Rp 250.000,” katanya.

Usaha menembus pasar yang lebih tinggi ternyata tidak gampang. Ini karena masyarakat selama ini hanya tahu kalau petis itu terbuat dari udang. Padahal, kualitas dan daya tahan petis udang ini kurang bagus. “Kami pernah coba naruh di mini market, tapi gak laku,” ungkap Supirwan.

Kendala lain yang menghantui ialah harga gula yang terus naik. Otomatis harga petis pun ikut merangkak naik. Warga Balongdowo berharap agar pemerintah, khususnya bupati Sidoarjo yang baru, lebih mempromosikan petis kupang ke masyarakat. Entah di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.

Dengan begitu, Sidoarjo Kota Petis tak hanya sekadar slogan belaka.

13 July 2010

Maya Petjinan di Brasil



Serasa bermimpi, Paulina Mayasari akhirnya sukses mempresentasikan Jejak Petjinan Soerabaia di depan forum United Nations Alliance of Civilizations, Rio de Janeiro, Brasil.

Meski sudah sering berbicara dalam bahasa Inggris sebagai staf UNESCO, Paulina Mayasari mengaku grogi mempresentasikan komunitas Tionghoa Surabaya di forum internasional itu. Maya, sapaan akrab arek asli Jalan Bibis Surabaya ini, harus latihan menghafal pidato, membuat contekan, dan sebagainya.

"Saya juga mesti ingat ngeklik laptop supaya slide presentasi berubah sesuai pidato. Hahaha... I definitely lost my art of presentation. Kayaknya dulu gak separah gini deh," kenang Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari, kepada Radar Surabaya, Kamis (8/7/2010).

Menjelang gilirannya berpidato, Maya tambah grogi saja. Larilah dia ke toilet. "Saya latihan pidato di toilet sambil matut-matut baju dan rias. Dengan kaca yang besar itu, saya bisa melihat mimik muka dan gerak tubuh dengan jelas. Kembali ke ruangan, gak betah duduk diam. Saya nyempetin ngobrol sama Wanjiru, salah seorang finalis."

Tapi akhirnya Maya bisa mengatasi demam panggungnya. Dia menyampaikan presentasi tentang komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya, berikut program wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan yang digagasnya. "Saya orang Indonesia keturunan Tionghoa. Di negara saya ada banyak streotipe tentang warga Tionghoa. Dan saya sedang bekerja keras untuk mengubah strereotipe ini," katanya.

Maya kemudian menyinggung kerusuhan tahun 1998 menjelang jatuhnya rezim Orde Baru. Saat itu perempuan berkacamata tebal ini sangat khawatir dengan kelanjutan kuliahnya di Universitas Trisakti Jakarta, karena muncul kerusuhan hebat. Warga Tionghoa jadi sasaran. "Saya cemas dengan kehidupan saya. Itu yang mendorong saya menghentikan stereotipe ini."

Di tengah kecemasan itu, Maya akhirnya bisa menyelesaikan studinya di Usakti. Sejak itu Maya bertekad mengajak orang untuk mengenal lebih jauh kehidupan warga Tionghoa di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2009, program Melantjong Petjinan Soerabaia resmi dimulai.

"Saya senang karena pesertanya dari berbagai latar belakang etnis, agama, pendidikan, pekerjaan. Semua diajak untuk menghargai perbedaan dan keragaman," katanya.

Maya pun lega. Presentasi ditutup dengan hadirnya masing-masing perwakilan sponsor yang memberikan sertifikat para finalis, dan foto bersama. Selesai? "Belum sampai di lobi saya sudah diselamati oleh Renata, orang Indonesia (yang tinggal di New York, USA). Ternyata, banyak juga orang Indonesia yang hadir di forum ini, tapi rata-rata tidak tinggal di Indonesia."

Beberapa gadis Brasil, cerita Maya, juga memberikan ucapan kepadanya. Mereka ingin belajar dari Maya bagaimana membuat program semacam Melantjong Petjinan di negaranya.

"Yah, saya jelaskan bahwa Melantjong Petjinan Soerabaia itu inisiatif yang saya coba adakan sendiri bersama teman-teman dan masyarakat. Tanpa ada bantuan dari organisasi internasional mana pun," tegasnya. (rek)

Sumber: Radar Surabaya 12 Juli 2010

11 July 2010

Jawa Pos Ganti Font



Oleh Leak Kustiya
Pemimpin Redaksi Jawa Pos
Sumber: Jawa Pos 4 juli 2010


SEJAK 1 Juli lalu, di hari ulang tahun LXI (baca: keenam puluh satu) Jawa Pos, keramaian ruang redaksi sungguh layaknya area food court. Penuh sorak-sorai kemeriahan dan aroma aneka makanan merebak ke mana-mana. Dari pagi hingga malam para pembaca terus berdatangan untuk menggelontor kami dengan penganan, tumpeng nasi kuning, siomay, kue tart, jajan pasar, hingga buah-buahan. Bahkan, ada relasi kami yang mengirimkan soto ayam lengkap dengan angkringannya sekaligus.

Terima kasih banyak, kenyang banget!

Kami di redaksi sebenarnya ingin ada sedikit keheningan ketika koran kesayangan Anda ini menapaki usia ke-61. Di umur yang tak lagi muda, kerinduan akan jeda sejenak untuk berefleksi di antara rutinitas panjang kami. Melihat sekilas ke belakang, perjalanan bersama pembaca yang telah terjalin sekian lama.

Untuk mewujudkan keinginan sederhana itu, redaksi, departemen iklan, pemasaran, bagian umum, dan IT sepakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun yang bisa dikategorikan pesta. Bahkan, kami sepakat untuk menyediakan satu nasi tumpeng dan satu kue tart saja. Dipotong lalu dimakan bersama-sama.

"Biarpun nasi tumpengnya kecil, yang penting doanya (dibaca oleh ustad Subur, rekan kami di bagian pajak) kan panjaaaang...," kata ibu Nany Wijaya, direktur kami.

Tapi apa daya, niat untuk berhening-hening itu gagal. Para pembaca ternyata punya bahasa cinta yang grafik kehebohannya tak pernah turun. Setiap kali datang hari ulang tahun JP, selalu saja berduyun-duyun dengan aneka makanan, bingkisan, rangkaian bunga, ucapan lewat SMS, e-mail, bahkan tari-tarian yang betul-betul tak bisa kami rem. Kian tahun kian seru! Terhadap itu semua, bohong kalau kami tak merasa tersanjung dan bahagia.

Pembaca yang budiman, sesunguhnya kami juga memberikan kado buat Anda yang kami kirimkan secara diam-diam tepat di hari ulang tahun kami, 1 Juli lalu. Kado itu berupa pergantian font. Ya, font untuk naskah dan judul yang selama ini menggunakan huruf Times New Roman kini kita ganti dengan font baru dengan nama Utopia. Times yang tak lagi kita pakai itu sudah menjadi body text (huruf naskah) di Jawa Pos sejak 14 tahun lalu.

Times New Roman, meskipun dipakai oleh banyak surat kabar, sesungguhnya huruf itu tidak dirancang khusus untuk kebutuhan koran. Tapi, 14 tahun lalu, pilihan huruf untuk surat kabar memang tidak sebanyak sekarang. Sedangkan mengganti font, juga kurang elok kalau dilakukan terlalu sering. Sebab, bisa timbul kesan main-main dan tidak serius.

Utopia, font yang sekarang Anda baca, adalah huruf yang memang dirancang untuk surat kabar. Tidak pasaran, karena memang tidak beredar bebas seperti Times New Roman. Konstruksinya tidak rumit dan cenderung mengarahkan mata kita untuk bergerak ke kanan. Membaca bisa lebih cepat. Koran yang juga memakai font Utopia adalah harian Sydney Morning Herald, koran terbesar Australia.

Oma, Opa, Eyang Kakung, Eyang Putri, kami yakin mata Anda lebih nyaman sekarang. Huruf Jawa Pos terlihat lebih jelas, tidak terlalu kecil, dan tidak berlarian ke sana-kemari saat beritanya dibaca.

Pembaca yang budiman, tiada hari tanpa inovasi. Selalu ada yang baru adalah komitmen yang terus kami jaga. Komitmen itu telah menjadi busur yang melesatkan kami bagai anak panah sang waktu. Tahun demi tahun terlewat tanpa terasa. Jawa Pos, di usia 61 tahun, telah menjadi koran yang dibaca semua usia. Ya, Jawa Pos adalah koran untuk semua. Dari yang belia hingga yang tua. Kenyataan itulah yang memaksa kami untuk lebih peduli. Pergantian font kali ini adalah wujud kepedulian itu.

Maaf, meski pergantian font sudah kami lakukan sejak 1 Juli lalu, baru sekarang kami mengumumkannya. Sengaja. Pertimbangannya, sebagai sebuah bingkisan, jelas ini tidak sebanding dengan soto dan aneka makanan kiriman pembaca tadi. Maka itu, sengaja kami umumkan empat hari kemudian. Menunggu kiriman makanan reda. Siapa tahu Anda benar-benar terkesan dengan font Jawa Pos yang baru, lalu mengirimkan makanan lagi buat kami. Hehee, bercanda.

Selamat membaca, salam.

07 July 2010

Bola BUNDAR di KOTAK Penalti



Istilah BOLA BUNDAR kita dengarkan setiap hari pada musim Piala Dunia macam ini. Gara-gara bola yang BUNDAR, orang sulit menebak hasil pertandingan. Tim yang lemah, di atas kertas, bisa gugur di babak penyisihan.

Siapa sih yang meragukan kehebatan Inggris dengan nama-nama besar macam Rooney, Lampard, Gerrard, Terry... yang dilatih Fabio Capello? Aha, ternyata kinerja tim nasional Inggris sangat buruk. Juga Prancis dan Italia. "Jangan lupa, Bung, bola itu BUNDAR," kata teman-teman penggila bola.

Memangnya ada bola sepak yang segi empat, segi tiga, atau segi lima?

Musim bola begini, banyak pengamat bermunculan baik di televisi, koran, hingga warung kopi di pinggir jalan. Orang Indonesia sejak dulu memang komentator ulung. Paling jago komentar soal bola, tak kalah dengan pengamat sekaliber Menotti (Meksiko) atawa Beckenbauer (Jerman).

Anehnya, tim sepak bola Indonesia sendiri gak becus. Apa boleh buat, kita ini lebih berbakat omong daripada berbuat. Ngomong doang! NATO: no action talk only! Nah, para pengamat bola di televisi atau yang di pinggir jalan sering sekali menggunakan istilah KOTAK PENALTI. Itulah garis persegi empat di depan garis gawang. Siapa pun pemain yang melakukan pelanggaran di dalam area ini, hukumannya penalti.

Pertanyaannya, tepatkah istilah BOLA BUNDAR dan KOTAK PENALTI?

Mbak Siti Mustika, pakar bahasa dari Dewan Pers, yang sering menatar para redaktur media massa di seluruh Indonesia, sudah lama menyoroti istilah salah kaprah ini. Salah, tapi terus dikaprahkan, sehingga dianggap "benar". Jadi kebiasaan berbahasa di kalangan jutaan pemakai bahasa Indonesia.

Menurut akal sehat, bola yang dipakai dalam permainan sepak bola atawa football atawa soccer itu tidak BUNDAR, melainkan BULAT. Kata BUNDAR itu lebih pas dipakai dalam istilah MEJA BUNDAR - ingat, Konferensi Meja Bundar di Denhaag, Belanda, tempo doeloe! Meja bundar juga sering dipakai di restoran-restoran Tionghoa.

Si BUNDAR jelas berbeda dengan si BULAT. Kata BULAT selalu punya dimensi volume atau isi. Sedangkan BUNDAR tidak ada dimensi ruang atau isi, tapi dua dimensi. Cakram digital (CD) jelas BUNDAR, bukan BULAT. Bola sepak yang dipakai di Piala Dunia jelas BULAT, bukan BUNDAR.

Kasus BOLA BUNDAR itu mirip KOTAK PENALTI yang sering kita dengan di televisi. Mbak Sri Mustika bilang, "Memangnya ada KOTAK di lapangan sepak bola?"

"Hehehe.... Mau bagaimana lagi? Sudah telanjur populer: KOTAK PENALTI," kata saya.

KOTAK, menurut pelajaran matematika dasar di sekolah dasar dan menengah, itu batasannya jelas. Ada panjang, lebar, tinggi. KOTAK itu ada isinya. Akhir-akhir ini KOTAK lebih sering disebut BOKS. Kata serapan dari bahasa Inggris: BOX. Para pemain sulap, yang juga sering muncul di televisi, biasanya membawa KOTAK ke atas panggung sebagai bahan permainan.

Jelas, istilah KOTAK PENALTI salah kaprah. Kekeliruan berjemaah yang akhirnya dianggap benar dan lazim. Jika Anda cermat menyimak komentar penyiar dalam bahasa Inggris saat pertandingan Piala Dunia, maka Anda pasti sering mendengar istilah PENALTY AREA. Tidak pernah ada istilah PENALTY BOX. Kalau diindonesikan, ya, seharusnya AREA PENALTI atau DAERAH PENALTI.

Ada baiknya para presenter atau pengamat sepak bola di televisi macam Olan Fattah, Ricky Jo, Darius, Bung Towel... diberi kursus singkat oleh Dewan Pers atawa Pusat Bahasa. Setidaknya untuk meluruskan beberapa istilah salah kaprah di atas.

Obesitas di Gereja



Ada baiknya gereja-gereja di Surabaya meniru Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, yang memberikan subsidi general check-up kepada jemaat. Umat di kota besar ini memang kelebihan kalori dan rawan penyakit generatif. Jarang olahraga, tak pernah jalan kaki, naik mobil atau motor ke mana-mana, suka makan enak di restoran kelas atas.

Maka, saya tidak kaget melihat begitu banyak jemaat di kota yang gemuk luar biasa alias terkena OBESITAS. Bahkan, obesitas ini juga menimpa para pastor. Ketika masih frater kurus kering. Praktik pastoral tambah empat lima kilogram. Tahbis diakon timbangan bertambah. Setelah menerima Sakramen Imamat alias ditahbiskan menjadi romo, kemakmuran pun dimulai: perut membuncit, olahraga jarang, suka makan enak.

Lima tahun jadi romo? Wow... berat badan makin tak terkendali.

Saya sering pangling melihat sejumlah frater yang kini sudah menjadi romo yang makmur. Dan kemakmuran di kota besar biasanya identik dengan perut buncit, berat badan berlebihan, kegemukan, dengan segala keluhannya. Maklum, pola konsumsi umat dan pastor di kota rata-rata kalori tinggi. Kebiasaan berolahraga ketika masih sekolah atau kuliah di seminari pun menghilang seiring kesibukan para romo melayani umat.

Melihat acara pemeriksaan kesehatan umat di Paroki Ngagel -- yang kebetulan punya klinik bagus di belakang gereja, Jalan Ngagel Madya 1 Surabaya -- saya teringat kondisi umat Katolik di Pulau Lembata, Nusatenggara Timur, tahun 1980-an dan 1990-an yang kurus-kurus. Kurang gizi. Krisis pangan, sering kelaparan. Karena stok jagung, apalagi beras, habis, penduduk terpaksa mencari buah-buahan di hutan atau bakau di pantai.

Pastor-pastor di pelosok Lembata umumnya tak sampai kurang gizi, tapi jarang yang kelebihan berat badan. Bagaimana bisa gemuk kalau tiap hari harus jalan kaki atau naik sepeda pancal dari desa ke desa? Saya masih ingat betul Pater Petrus M. Geurtz SVD, asal Belanda, yang selalu jalan kaki sambil menuntun kuda putih. Atau, Pastor Pater Willem van de Leur SVD, juga asal kota Breda, Belanda, yang suka naik sepeda onthel dengan kecepatan tinggi.

Tiba di gereja stasi tujuan, baik Pater Geurtz maupun Pater van de Leur mandi keringat. Capek luar biasa! Tapi sang pastor harus siap sedia melayani umat yang berdatangan, anak-anak, hingga mempersiapkan misa malam hari atau esok hari.

Para pastor misionaris Eropa, yang kini hampir semuanya sudah wafat ini, benar-benar luar biasa energinya. Kerja keras di kebun anggur Tuhan dan melayani domba-domba yang sederhana di pelosok-pelosok terpencil. Mereka bebas obesitas dan baru meninggal pada usia di atas 80 tahun. Bahkan, ada pastor Belanda yang usianya melebihi 100 tahun.

Lain di Pulau Lembata, lain di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, para pastor punya segala kemewahan. Mobil sangat bagus. Ruangan ber-AC. Makanan berlimpah dan berkalori tinggi. Mau makan di mana saja, menu kelas atas, bisa dilakukan kapan saja. Kamar makan di pastoran-pastoran di Jawa penuh makanan lezat. Tinggal pilih sesuai selera.

Begitu kompletnya kenikmatan, banyak pastor dan umat di kota-kota besar lupa berolahraga. Maka, datanglah penyakit-penyakit modern khas orang kota yang tak usah disebutkan lagi. Segala macam penyakit akibat gaya hidup dan pola konsumsi berlebihan.

Begitulah. Sejak dulu, di mana-mana, sudah ada ceramah kesehatan di lingkungan Gereja Katolik. Bedanya, di NTT, tema ceramah biasanya tentang cara mengatasi kekurangan gizi, menyiapkan makanan sehat, melawan malnutrisi, pemberantasan malaria, kebersihan lingkungan, hingga keluarga berencana alamiah.

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, tema ceramah di gereja-gereja berkisar pada obesitas, bahaya kolesterol, jantung koroner, diabetes, hipertensi, indeks massa tubuh, stroke, kanker, makanan kaya serat, dan sejenisnya.

03 July 2010

Slamet A. Sjukur 85 Tahun



Usai memberikan kursus komposisi untuk enam bocah di Wisma Musik Melodia, Jalan Ngagel Jaya Surabaya, 30 Juni 2010, pukul 15.00, Slamet Abdul Sjukur mendapat kejutan. Komponis dan guru piano terkenal itu menerima kue ulang tahun dari para bocah sekolah dasar. Anak-anak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, kemudian menyalami lelaki yang doyan memelihara brewok itu.

Slamet Abdul Sjukur akhirnya ngeh kalau hari itu, Rabu 30 Juni 2010, usianya bertambah satu. "Saya malah nggak tahu kalau sedang ulang tahun. Wong saya nggak pernah bikin perayaan," ujar Slamet kepada Radar Surabaya. Komentar-komentar Slamet yang spontan dan cenderung nyeleneh membuat anak-anak asuhnya tertawa kecil.

Slamet Abdul Sjukur lahir di Surabaya, 30 Juni 1925. Karena itu, usianya kini telah 85 tahun. Hebatnya, sampai sekarang rambutnya masih hitam lebat, bahkan gondrong. Hanya deretan gigi bagian bawah yang sudah tak utuh. "Saya ikhlas saja menjalani hidup. Mengalir saja, nggak stres dan nggak mau dibikin stres," ujar peraih penghargaan Officier de l'Ordre Arts et des Letters dari pemerintah Prancis itu.

Dulu, Slamet mengaku sengaja 'mendiskon' usianya 10 tahun agar kelihatan muda. Tak heran, banyak pemusik yang menyangka seniman nyentrik ini lahir pada 1935. "Tapi sekarang saya justru bangga kelihatan sudah tua. Tahun lahir saya yang benar, ya, 1925. Bangga karena sampai usia 85 saya masih bisa ke mana-mana untuk mengajar, nonton konser, membuat komposisi, dan makan enak," ujar Slamet.

Dibandingkan orang-orang seusianya, Slamet A Sjukur tak punya keluhan apa pun. Kolesterol normal. Tekanan darah oke. Kadar gula darah no problem. Asam urat normal. "Saya bisa makan makanan apa saja, kapan saja saya mau. Apalagi, saya kan gak punya tanggungan," katanya.

Di usia mendekati 90 tahun, Slamet Abdul Sjukur justru memperkenalkan program musik baru, yakni menciptakan sebanyak mungkin komponis baru. Menjadi komponis atau pencipta musik itu tidak sulit. "Menjadi komponis itu sama mudahnya dengan membuat telur mata sapi," katanya.

Program 'mata sapi' inilah yang diberikan Slamet kepada enam anak di Wisma Musik Melodia selama empat hari. Tidak semua anak bisa main musik. Misalnya, Vajra Virya alias Koko, putra penulis Lan Fang. Namun, oleh Slamet, Vajra dan kawan-kawan dicetak menjadi komponis hanya dalam tempo empat hari. "Koko ini sudah bisa bikin komposisi. Dan bagus lagi," kata Slamet.

Si Koko kemudian mengetukkan tangannya di meja membuat ritme, ditingkahi bebunyian aneh dari mulutnya. Menurut Slamet, kursus kilat komposisi ini selain mengembalikan kegembiraan bermain anak-anak, juga untuk mengimbangi banjir pemain piano di Surabaya dan Jakarta. Tidak ada tugas atau pekerjaan rumah.

"Saya buat seramah mungkin kayak kursus masak," katanya.

Romo Soni dan Romo Thoby Imamat Perak



Dua pastor kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) asal Pulau Lembata, NTT, merayakan 25 tahun imamatnya di Gereja Santo Paulus Juanda. Misa syukur dihadiri Uskup Surabaya dan puluhan pastor.


Dua pastor itu Romo Petrus Soni Keraf SVD dan Romo Thoby Muda Kraeng SVD. Romo Soni Keraf bertugas sebagai pastor Paroki Santo Paulus Juanda, sedangkan Romo Thoby Kraeng bertugas di RKZ Santo Vincentius a Paulo Surabaya. Romo Thoby juga dikenal sebagai pastor moderator Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya.

Sebenarnya, pesta perak imamat ini juga diikuti Romo Laurentius Laba SVD. Namun, Romo Lorens, sapaan akrabnya, sudah dipanggil Tuhan pada 20 April 2009 akibat kanker ganas. Sebagai gantinya, Romo Alex Dato SVD, kakak kandung mendiang Romo Lorens, ikut mendampingi Romo Soni dan Romo Tobi.

Selain Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, misa syukur 25 tahun imamat dua pastor asal Lembata ini juga diikuti puluhan pastor, suster, bruder, frater, dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Tak ketinggalan 13 pastor teman seangkatan Romo Soni dan Romo Tobi.

Melihat latar belakang kedua pastor dari etnis Lamaholot di NTT, misa raya ini kental dengan nuansa Flores. Paduan suara gabungan membawakan Misa Dolo-Dolo, nyanyian rakyat Lamaholot. Sekadar catatan, warga etnis Lamaholot mendiami Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor di NTT. Tak ayal, pekan lalu (22/6/2010), misa di Gereja Juanda itu sangat meriah.

"Sampai sekarang saya masih terkesan. Jarang saya temui misa macam ini di Jawa," ujar Aleks, warga Flores Barat, yang tinggal di Surabaya.

Pihak panitia tak menyangka kalau umat yang mengikuti misa imamat perak ini berjubel, jauh dari prediksi sebelumnya. Agus Benyamin, ketua panitia, mengatakan, misa syukur imamat perak Romo Soni dan Romo Thoby ini sebenarnya tidak dirancang besar-besaran. Cukup diikuti keluarga dekat, sahabat, serta undangan yang terbatas. Namun, rupanya rencana pesta perak ini bocor ke mana-mana.

"Tadinya, kami perkirakan hanya 600 umat yang hadir. Puji Tuhan, ternyata yang datang lebih dari 2.000 orang. Ini benar-benar luar biasa,” ujar Agus Benyamin. Agus mengaku bersyukur karena pada saat-saat terakhir, Romo Alex Dato SVD, kakak kandung mendiang Romo Lorens, menyempatkan diri datang ke Gereja Juanda.

Maklum, Romo Soni, Romo Thoby, dan Romo Lorens ditahbiskan bersama-sama di Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, NTT, pada 22 Juni 1985.

Baik Romo Soni maupun Romo Thoby mengaku sangat bersyukur bisa mengarungi perjalan imamat selama 25 tahun. Perjalan itu tak selalu mulus. “Semua ini merupakan warna-warni dalam perjalanan hidupku,” kata Romo Soni Keraf, putra Dominikus Keraf, nelayan pemburu ikan paus di Lamalera, Lembata. (rek)

Josephine MJ Ratna - AEC Tutup



Selama sembilan tahun Josephine Maria Julianti Ratna dipercaya sebagai direktur Australia Education Center (AEC). Namun, Selasa (29/6/2010), lembaga konsultan pendidikan yang bermarkas di International Village Ubaya, Kalirungkut, itu resmi tutup. Tentu saja, Josephine pun tak lagi bekerja untuk AEC.

"Wah, kebetulan sekali Anda datang ke sini. Pas hari terakhir saya di AEC. Besok, AEC sudah tidak ada lagi," ujar Josephine MJ Ratna yang ditemui Radar Surabaya di ruang kerjanya.

Kantor AEC yang biasanya rapi, penuh buku, serta brosur-brosur seputar pendidikan di Australia itu pun berbeda total. Cukup banyak kardus menumpuk mulai di ruang depan hingga belakang. "Kami sudah ngusung-ngusung sejak beberapa hari lalu. Yang ini tinggal sisa-sisanya saja," kata Josephine sembari tersenyum lebar.

Sebagai institusi yang berada di bawah Kedutaan Besar Australia, keberadaan AEC memang tak lepas dari kebijakan pemerintah negara kanguru itu. Setelah eksis selama sembilan tahun di Surabaya, rupanya Kedubes Australia memandang tak perlu ada lagi AEC di Surabaya. Apalagi, di era internet ini orang bisa dengan mudah mencari informasi tentang sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Australia secara online.

"Sejak akhir tahun lalu, kami sudah diberi tahu rencana penutupan AEC di Surabaya. Yah, begitulah hidup. Selalu ada perubahan yang sering tidak kita rencanakan," tegas mantan ketua Ikatan Alumni Australia di Surabaya itu.

Lantas, ke mana Josephine pergi setelah penutupan AEC?

Ternyata, psikolog lulusan Australia itu sudah mempersiapkan 'proyek' baru yang masih ada kaitan dengan urusan pendidikan tinggi. Kantornya pun masih sama, ya, di eks ruangan AEC di Ubaya itu.

"Tapi saya belum bisa cerita banyak karena ruangannya saja belum jadi. Tunggulah kalau sudah berjalan baru saya bicara. Hehehe," tukas perempuan yang ramah ini.

Josephine mengaku banyak menemukan pengalaman menarik selama sembilan tahun mengelola AEC. Hampir setiap hari dia harus melayani pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang seluk-beluk pendidikan di Australia. Mulai dari biaya hidup, biaya kuliah, sistem pendidikan, pendalaman bahasa Inggris, dan sebagainya.

"Saya harus telaten menjelaskan karena sistem pendidikan di Australia memang berbeda dengan Indonesia," katanya.

Selain itu, Josephine bersama timnya kerap memberikan pelatihan kepada sejumlah sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Juga memberikan beasiswa kepada siswa-siswa cerdas sesuai dengan kriteria AEC. "Pokoknya, banyak banget deh pengalaman manis bersama AEC. Dan itu tidak mungkin bisa saya lupakan," pungkasnya. (rek)

Budi Susanto - Gracioso Sonora





Sekitar 200 penonton seakan tak beranjak dari tempat duduknya meskipun program konser Gracioso Sonora Choir di Aula Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, sudah berakhir. Konser selama hampir dua jam dengan 15 komposisi itu dirasa masih kurang. Sayang, Budi Susanto Yohanes, sang dirigen, sudah telanjur turun panggung.

"Terima kasih atas dukungan kawan-kawan di Surabaya. Mudah-mudahan tur kami ke Eropa berjalan lancar dan sukses," ujar Budi Susanto. Sejumlah pelatih dan dirigen paduan suara di Surabaya pun tak lupa memberikan dukungan kepada Gracioso Sonora, kelompok paduan suara independen yang didirikan pada 7 Maret 1999 ini.

Gracioso Sonora Choir akan melakukan lawatan ke Jerman, Belanda, dan Spanyol mulai 8 Juli mendatang. Mereka antara lain tampil di ajang The 8th International Choir Competition 2010 di Miltenberg, Jerman, festival paduan suara bergengsi tingkat dunia. Tahun ini, menurut Budi, festival itu hanya diikuti tim dari Argentina, Kolombia, Polandia, Slovenia, Ukraina, dan Indonesia.

"Puji Tuhan, kami yang dipercaya mewakili Indonesia," kata Budi Susanto yang mengaku mempelajari musik klasik, khususnya paduan suara, secara otodidak.

Bagi kalangan aktivis paduan suara di tanah air, Gracioso Sonora merupakan komunitas paduan suara yang fenomenal. Betapa tidak. Usianya relatif sangat muda, baru 10 tahun lebih, tapi sudah mampu merebut berbagai penghargaan baik tingkat regional, nasional, hingga internasional.

Setelah membangun kekuatan selama dua tahun, Gracioso mengikuti kompetisi paduan suara yang diadakan Universitas Parahyangan Bandung pada 2001. Hasilnya mencengangkan: kor anak-anak muda ini meraih juara pertama kategori folksong. Kemudian, hampir setiap hari Gracioso merebut juara pertama beberapa kategori lagi.

Karena juara terus di dalam negeri, Budi dan para pembina bertekad go international. Setelah mencari dukungan sponsor dari berbagai pihak, paduan suara ini berangkat mengikuti festival paduan suara di Busan, Korea Selatan, 2006. Tak sia-sia.

"Kami meraih silver prize kategori classic mixed choir dan bronze prize kategori etnik," ungkap Budi. Prestasi ini diulang dua tahun kemudian di tempat sama, Busan,Korea Selatan.

Apa rahasia sukses Gracioso Sonora? Bagi Budi Susanto, jawabannya sederhana saja: cinta! Semua anggota, dirigen, pembina, menekuni paduan suara dengan cinta dan senang. Mereka percaya bahwa apa pun yang dilakukan dengan cinta, maka Tuhan akan memberikan jalan keluar. Menjelang keberangkatan ke Eropa kali ini pun Budi dan kawan-kawan sebenarnya dipusingkan oleh persoalan dana. Sambil latihan, harus pontang-panting cari sponsor ke sana kemari.

"Syukurlah, akhirnya kami bisa dapat Rp 400 juta," aku Budi.