24 June 2010

Sekolah Tionghoa di Sidoarjo





Sekolah Tionghoa satu-satunya di Sidoarjo saat ini nyaris tanpa bekas. Bangunan sekolah yang ditutup pada 1960-an itu dibiarkan mangkrak di pusat pecinan Jalan Gajah Mada, Sidoarjo Kota.

Para alumni Zhonghua Xiao Xue --- Sekolah Dasar Tionghoa di Sidoarjo tempo doeloe --- tak punya tempat reuni atau jujugan. Mereka mengaku sedih melihat sekolah yang bersejarah itu menjadi puing-puing berserakan dan penuh rumput-rumput liar.

"Setiap kali melintas di Sidoarjo, saya mesti perhatikan tempat sekolah saya zaman dulu. Ingat masa-masa indah ketika masih tumbuh kembang sebagai anak-anak," ujar Sutikno, alumnus Zhonghua Xiao Xue, kepada saya, 17 Juni 2010.

Setelah ditutup pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965, sekolah khusus untuk anak-anak Tionghoa ini diambil alih pemerintah. Beberapa saat kemudian, bangunan yang berdiri di atas lahan sekitar setengah hektare itu ditempati Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sidoarjo.

Ketika MAN pindah ke kawasan Jenggolo, bangunan sekolah lawas itu pun dibiarkan merana sampai sekarang. "Kayaknya ada konflik sehingga tidak dimanfaatkan. Sayang, karena lokasinya sangat strategis," ujar Njoo Tiong Hoo, tokoh Tionghoa di Sidoarjo.

Berbeda dengan Surabaya dan kota-kota besar lainnya, yang punya banyak sekolah Tionghoa, Sidoarjo hanya punya satu sekolah Tionghoa. Itu pun terbatas untuk tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. 

"Lulus dari Zhonghua Xiao Xue, kami harus melanjutkan ke SMP, kemudian SMA di Surabaya. Toh, jarak antara Sidoarjo dan Surabaya kan sangat dekat," kata Swie Giok, juga alumnus Zhonghua Xiao Xue Sidoarjo.

Namanya juga sekolah Tionghoa, bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Mandarin. Meski begitu, pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta sejarah Indonesia tetap diberikan. "Disiplin sekolah kami sangat ketat. Guru-gurunya juga tegas. Dan itu membuat kami sulit lupa pelajaran meskipun sudah lewat puluhan tahun," katanya.

Swie Giok mengaku sulit melacak para alumni sekolah Tionghoa Sidoarjo yang sudah tersebar luas di berbagai kota di tanah air. Bahkan, sebagian di antaranya berada di Tiongkok atau negara-negara lain.

"Usia kami juga sudah sepuh semua. Banyak teman yang sudah meninggal dunia," katanya.

3 comments:

  1. Dalam lafal Mandarin yang standar (artinya dari dekat Beijing sana), sebenarnya dibacanya Zhong hua xiao xue. Mengucapkan xu dalam xue seperti su, dengan u-nya umlaut (monyongkan bibir). Inilah uniknya Tionghoa di Jawa. Karena pengaruh Bahasa Hokkian dan Bahasa Jawa, Xue diucapkannya Siuk. Kuping Orang Tionghoa yang asli dari Da Lu (mainland) jadi keriting mendengarkan Tionghoa Jawa berbahasa Mandarin.

    ReplyDelete
  2. salam kenal, saya pengelolah Sidoarjo tempo dulu , mohon ijin untuk re posting terhadap postingan di blog anda untuk saya muat di Sidoarjo tempo dulu dengan tetap menampilkan asal tulisan dari blog anda
    semoga kerjasama ini bisa berlangsung terus

    ReplyDelete
  3. sangat menarik tulisan tentang sekolah Tionghoa di Sidoarjo jaman dulu karena banyak anak muda yg tidak tahu keberadaan sekolah tionghoa di pecinan. mudah2an kita tidak melupakan sejarah seperti yg selalu diingatkan oleh Bung Karno.

    ReplyDelete