08 June 2010

Petahana Sangkil dan Mangkus



Anda rutin membaca koran, khususnya KOMPAS?

Akhir-akhir ini ada kata baru: PETAHANA. Kata ini belum ada dalam kamus baku bahasa Indonesia. Rupanya, redaksi KOMPAS berniat membumikan kata INCUMBENT yang sangat produktif di era pemilihan umum secara langsung itu.

Persoalannya, apakah PETAHANA ini akan berterima? Digunakan secara luas oleh masyarakat? Sulit ditebak. Waktu jualah yang akan menjawab.

Dulu, kata MANTAN diperkenalkan sebagai padanan kata BEKAS dan ternyata berterima. Sekarang banyak orang merasa lebih sreg menggunakan MANTAN ketimbang BEKAS ketika merujuk manusia. MANTAN dianggap lebih halus ketimbang BEKAS jika konotasinya orang.

Berbeda dengan MANTAN yang segera tersebar luas, naga-naganya PETAHANA masih sulit diterima kebanyakan orang. Termasuk saya. Rasanya janggal, aneh, tidak umum. Saya memperhatikan koran-koran baik terbitan Surabaya maupun Jakarta. Ternyata hanya KOMPAS (dan anak-anaknya) saja yang menggunakan PETAHANA. Media-media lain masih menggunakan INCUMBENT yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Kita sebetulnya bisa dengan mudah menghindarkan kata INCUMBENT dan PETAHANA jika mengubah struktur kalimat. Banyak variasi kalimat yang bisa dibuat untuk memperlihatkan bahwa calon A saat ini sedang menjabat bupati, wali kota, atau gubernur.

Ketika membaca koran dan bertemu dengan PETAHANA, saya teringat kata SANGKIL, MANGKUS, atau LAHAN YASAN yang pernah diperkenalkan Pusat Bahasa pada 1990-an. Kata-kata itu--dan ratusan kata lain yang umumnya dipetik dari khasanah arkais--terbukti tidak laku di masyarakat. Bukan tidak mungkin Pusat Bahasa atau pakar yang merekayasa kata SANGKIL atau MANGKUS tak pernah menggunakan kata-kata itu.

1 comment:

  1. Ya sepakat. Karena bahasa itu ,sepengetahuan saya, juga mengandung nilai rasa (tidak hanya fungsional saja). Untuk kasus ini ('petahana'), rasanya masih kurang 'pas' (maaf, seperti 'plesetan').

    ReplyDelete