16 June 2010

Pesta Bacang di Sidoarjo



Hari ini (16/6/2010), warga Tionghoa rame-rame merayakan Pecun yang ditandai dengan pesta bacang. Namun, tradisi lomba dayung perahu naga yang populer di kalangan warga Tionghoa di luar Jawa tidak dilakukan di sini.

"Kita tidak punya sungai yang besar, sehingga tidak mungkin bikin lomba perahu naga. Cukup sembahyang bersama, kemudian dilanjutkan dengan pesta bacang," ujar Njoo Tiong Hoo, pemimpin Vihara Dharma Bhakti Sidoarjo.

Menjelang pesta bacang ini, sejumlah jemaat yang dianggap 'pakar bacang' diberi tugas untuk menyiapkan makanan khas Pecun itu. Tok Swie Giok merupakan salah satu pembuat bacang, yang punya banyak pelanggan di Sidoarjo dan Surabaya. Sepanjang hari kemarin, Swie Giok bersama beberapa rekannya sibuk menyiapkan bahan-bahan bacang.

"Bahan utamanya, ya, beras ketan. Mula-mula dicuci bersih, kemudian direndam satu malam," jelas Swie Giok sembari memandu Radar Surabaya di dapurnya di kawasan Jalan Raden Patah Sidoarjo.

Terpisah, Swie Giok menyiapkan daging ayam dan daging babi sebagai pengisi. Setelah direbus, daging itu kemudian dilapisi dengan ketan. Adonan ini dibungkus dengan daun bambu.

"Lalu, direbus selama kurang lebih empat jam. Sederhana sekali cara memasak bacang itu. Tapi gak semua orang bisa membuat bacang yang enak," ujar Swie Giok yang juga biasa membuat kue ranjang untuk tahun baru Imlek itu.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Swie Giok mengaku tak membuat bacang dalam jumlah besar untuk dikomersialkan. Alumnus sekolah Tionghoa di Sidoarjo itu hanya melayani pesanan jemaat Vihara Dharma Bhakti. "Saya senang karena bisa ikut membantu jemaat yang mau sembahyangan," katanya.

Tradisi Pecun setiap tanggal 5 bulan 5 Imlek juga dirayakan di klenteng-klenteng Surabaya dan sekitarnya. Klenteng Pak Kik Bio di Jalan Jagalan 74 Surabaya, seperti biasa, tak lupa mengadakan acara mendirikan telur. Mengapa telur bisa berdiri setiap perayaan Pecun?

Bukan sulap, bukan sihir! Pada tanggal tersebut posisi bulan tepat berada pada garis lurus bumi, sehingga gaya gravitasi bulan pada siang hari akan tepat berada di bawah bumi. Akibatnya, kuning telur akan tertarik sedikit lebih rendah dibandingkan pada hari-hari biasa. Hal ini membuat titik berat telur lebih ke bawah dan membantu sang telur berdiri pada ujung lancipnya. (rek)

No comments:

Post a Comment