05 June 2010

Jazz Terpuruk di Surabaya

Musik jazz di Surabaya sempat menggeliat, tapi seperti biasa surut lagi. Satu-satunya kafe yang menyajikan jazz tiap malam, Vista Cafe, di halaman Hotel Garden, Jalan Pemuda sudah lama tutup. Sengketa tanah yang melibatkan hotel itu, eksekusi oleh pengusaha pemenang, membuat Vista harus tutup.

Malam-malam, pukul 22.00, ketika saya mampir ke warung nasi goreng di Jalan Taman Simpang, persis di samping eks Vista Cafe, suasananya sangat muram. Mirip bangunan tua yang mangkrak. Sama sekali tak ada nuansa jazz yang tersisa. "Kafenya sudah lama tutup, Mas," kata si tukang nasi goreng.

Lantas, penggemar musik jazz mau ke mana?

Sulit dijawab. Kawan-kawan dari komunitas jazz sempat gerilya, bikin even di beberapa tempat, tapi tidak bisa dijamin konsistensinya ala Vista Cafe. Beberapa kali ada konser "jazz-jazzan" yang digelar perusahaan rokok di Gramedia Expo bertajuk crossover dan sejenisnya. Tapi itu tidak bisa dijadikan jujugan.

Ironis banget! Surabaya yang dulu pernah menjadi barometer jazz, bahkan punya maestro jazz sekaliber Bubi Chen, saat ini menghadapi situasi yang sangat pelik. Ajang untuk tumbuh kembangnya bakat-bakat baru di bidang jazz nyaris punah. Bahkan, sekadar menikmati musik jazz ringan secara live pun sudah sulit ditemukan di kota yang katanya terbesar kedua di Jakarta itu.

Jakarta punya even jazz tahunan berkaliber internasional macam Java Jazz dan Jak Jazz. Surabaya punya apa?

Beberapa waktu lalu pernah muncul gagasan untuk bikin festival jazz yang rada nggenah di Surabaya. Tapi, melihat animo masyarakat dan kehidupan jazz yang sangat muram di Kota Pahlawan, gagasan itu pun mati sendiri. Maka, Jakarta jalan sendiri dengan Java Jazz dan Jak Jazz yang sangat gebyar itu.

Kalau mau jujur, jazz di Jakarta pun sebetulnya sama merananya kayak di Surabaya. Mana ada album rekaman jazz artis Indonesia akhir-akhir ini? Pemusik jazz tampil di televisi-televisi Jakarta yang padat iklan itu? Nothing. Paling cuma di TVRI dengan jadwal tayangan yang tidak menentu.

"Indonesia itu tidak punya kultur jazz. Yah, wajar saja kalau jazz nggak bisa berkembang," ujar James Chu, pemusik kenalan saya yang tinggal di Hongkong. Pak James Chu ini pernah tampil di Java Jazz dengan gaya khasnya memainkan steel guitar.

Syukurlah, sampai hari ini Radio Suara Surabaya masih setia memutar musik jazz di program Jazz Traffic setiap Senin sampai Jumat. Mas Isa Anshory, penyiar Radio Suara Surabaya, tak jemu-jemunya mendedikasikan dirinya untuk menjaga eksistensi musik jazz di Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

Salut banget buat Mas Isa, Pak Sutojo, dan Pak Errol di Radio Surabaya!

No comments:

Post a Comment