08 June 2010

Iin Indriani Keroncong Mandarin



Tak banyak orang muda yang konsisten menekuni musik keroncong. Salah satunya Iin Indriani. Iin bahkan getol mempromosikan keroncong ke negeri Tiongkok.


Sebagai orang Jawa yang asing dengan bahasa Mandarin atau bahasa-bahasa dialek Tiongkok lainnya, pilihan Iin Indriani menekuni musik keroncong, khususnya dengan lirik Mandarin, jelas tidak lazim. Namun, berkat ketekunannya, anak keempat dari lima bersaudara ini akhirnya mampu memukau penggemar dari negara panda.

"Semua hal itu bisa dipelajari kalau kita punya niat dan tekun. Saya sendiri pun awalnya sulit membawakan lagu-lagu dalam bahasa Mandarin," ujar putri pasangan seniman Soeroto Al Rotohardjono dan Soedarmi ini.

Dunia seni suara memang tak asing bagi Iin yang ibunya seorang pesinden di Solo. Pada usia delapan tahun, Iin sudah berhasil meraih juara pertama bintang radio anak-anak di kotanya. Dengan dorongan dari mamanya, Iin mempelajari berbagai teknik vokal. Selain itu, Iin digembleng Nanto Hastono dan pernah bergabung bersama Bina Vokalia RRI Surakarta.

Dunia rekaman mulai dijajaki Iin dengan menyanyikan lagu-lagu rohani yang dirilis Maranatha Record, Jakarta. Setelah itu, dia mulai terjun ke pop Mandarin pada 1996. Saat itu dia dipasangkan dengan Harry untuk sebuah misi kesenian bersama maestro keroncong, Gesang (almarhum), yang tergabung dalam Gema Nada Pertiwi ke Tiongkok.

"Di sana saya dan Harry menyanyikan lagu Bengawan Solo versi Mandarin. Ternyata, sambutan masyarakat di Tiongkok luar biasa. Mereka ternyata sudah tidak asing lagi dengan Bengawan Solo," kenang Iin yang kini dipercaya sebagai presenter Gebyar Keroncong di TVRI Stasiun Pusat Jakarta ini.

Sukses dalam misi kesenian itu, Hendarmin Susilo, bos Gema Nada Pertiwi, meminta Iin mendalami bahasa Mandarin. Maklum, label rekaman ini sedang berencana menerbitkan album lagu-lagu populer Indonesia dalam versi Mandarin. Akhirnya, pada 1999, bersama Harry, Iin Indriani merilis album bertajuk Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin Volume I.

Album berbentuk kaset dan CD ini tergolong laku keras di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa di tanah air. Sejak itulah nama Iin Indriani selalu diidentikkan sebagai penyanyi spesialis lagu-lagu berbahasa Mandarin. "Bahkan, banyak yang mengira saya ini keturunan Tionghoa," ujar Iin yang murah senyum ini.


Setelah merilis album keroncong berbahasa Mandarin, Iin Indriani bersama rekan duetnya, Harry, mulai go international. Keduanya diundang tampil di Tiongkok, Hongkong, dan Singapura.

EMPAT belas tahun silam, Iin Indriani memulai debut internasionalnya dengan mengisi konser bertajuk Beautiful Bengawan Solo di Shanghai, Tiongkok. Tak berapa lama kemudian, Iin menjadi bintang tamu dalam Shanghai Song Festival. Kedua even ini sangat berkesan di hati penyanyi yang murah senyum itu.

"Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengunjungi negeri Tiongkok. Bahkan, bukan sekadar berkunjung seperti turis, tapi menyanyi di depan warga Tiongkok," kata Iin Indriani belum lama ini.

Presenter Gebyar Keroncong di TVRI ini juga mengaku bangga karena bisa menjadi duta seni budaya di mancanegara. Sebab, meski lagu-lagu yang dibawakan berlirik bahasa Mandarin, melodi atau musiknya tetap khas Indonesia seperti Bengawan Solo, Ayo Mama, atau Rayuan Pulau Kelapa.

"Saya berusaha menjadi jembatan antara Indonesia dan Tiongkok," kata Iin dengan logat Jawa kental.

Selain di Shanghai, berdasar catatan Gema Nada Pertiwi, perusahaan rekaman yang merilis hampir semua albumnya, Iin Indriani juga pernah tampil di International Folksongs Festival di Nanning (November 2002), HUT Ke-10 Yayasan Musik Li Yi Sik di Kowloon, Hongkong (Februari 2006), Asia Arts Festival di Beijing (Agustus 2006), Moon Cake Festival di Guangzhou.

Iin pun sangat produktif di dunia rekaman. Sebut saja Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin (1999), The Best of Indonesian Folksong Versi Mandarin (2000), Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin, Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin Volume (2002), Rayuan Pulau Kelapa Versi Mandarin (2004), Gong Xi Gong Xi Ni (2006), Chinese New Year Special Album (2007).

Sebagai vokalis yang berhasil memperkenalkan lagu-lagu keroncong ke Tiongkok, khususnya Bengawan Solo, pada 27 Juli 2009 Iin Indriani berkesempatan mengunjungi Gesang Martohartono (sekarang almarhum) di Solo, Jawa Tengah. Waktu itu Gesang menerima bantuan alat bantu dengar dari PT Wavin Duta Jaya.

Nah, berkat alat bantu dengar itu, Gesang pun menyambut ajakan Iin Indriani untuk berduet menyanyikan Bengawan Solo.

"Saya mulai menyanyikan bait pertama, kemudian dilanjutkan sama Mbah Gesang. Kami menyanyi bergantian sampai selesai," kenangnya.

Bukan itu saja. Di hadapan Gesang, Iin bersama rombongan dari Jakarta mempersembahkan lagu Bengawan Solo dalam bahasa Mandarin. Gesang terharu mendengar lagu ciptaannya yang kondang di berbagai negara itu. "Kami juga dinasihati Mbah Gesang untuk melestarikan musik keroncong," kenangnya. (rek/bersambung)

3 comments:

  1. tapi kok sulit banget ya dapetin CD originalnya di jawa timur? padahal udah nyari sampai pelosok jatim tetep g dapet

    ReplyDelete
  2. wiiiii....kreatif sekali, yang biasanya lagu pop bahasa indonesia, ini malah lagu keroncong dikreasikan ke bahasa mandarin. mantap :)

    ReplyDelete
  3. Ada loo di gajahmada malang plaza.tpi emang laris manis sich.banyak penggemarnya

    ReplyDelete