26 June 2010

Gracioso Sonora Tampil di Surabaya




Gracioso Sonora Choir menggelar konser pemanasan di Aula Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya, Jumat (25/6/2010) malam. Konser menjelang tur ke Eropa bulan depan ini dihadiri sekitar 200 penggemar musik klasik, khususnya paduan suara, dari Surabaya dan sekitarnya.


Gracioso Sonora bukanlah kor sembarangan. Dipimpin konduktor Budi Susanto Yohanes, paduan suara yang berdiri pada 7 Maret 1999 ini kerap memenangi berbagai festival tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, kehadiran Gracioso Sonora ke Surabaya disambut antusias para aktivis dan pentolan musik klasik di Kota Pahlawan.

"Kita ingin memberikan support kepada Mas Budi dan Gracioso Sonora. Semoga tur mereka ke Eropa berjalan lancar dan sukses," ujar Trifina Samderubun, mantan juara seriosa putri Jawa Timur, yang kini membina sjeumlah paduan suara anak muda.

Menurut sang dirigen, Budi Susanto, Gracioso Sonora merupakan satu-satunya wakil Indonesia dalam festival musik di Cantonigros, Barcelona, Spanyol, 12 Juli. Bahkan, satu-satunya wakil Asia di festival paduan suara internasional di Elsenfeld, Miltenberg, Jerman, 15-18 Juli. "Festival ini hanya diikuti enam paduan suara," kata Budi yang lahir di Blitar tahun 1979.

Selain di dua kota itu, paduan suara berkekuatan 26 penyanyi ini juga akan tampil di kota Bussum, Belanda, 12 Juli, dan kota Bancaja, Spanyol, 14 Juli. Di Bancaja, menurut Budi, Gracioso Sonora diminta membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia. "Kami dapat kehormatan tampil di Palau de la Musica Catalana, salah satu gedung konser terbaik di Eropa," ungkap Budi.

Di Aula SMTB, Ngagel, Budi Susanto bersama Gracioso Sonora memperlihatkan kepiawaian berolah vokal dengan variasi bloking serta olah gerak nan rancak. Seluruhnya tanpa iringan musik alias a capella. Bagian pertama diisi dengan komposisi klasik seperti O Magnus Mysterium (Lauridsen), Sovra Tenere Herbette (Monteverdi), Jagdlie (Bartholdy), Salve Regina (Polulenc), El Guayaboso (Gavilan), serta Gloria Patri. Nomor terakhir ini komposisi karya Budi Susanto sendiri.

Suasana makin meriah dan rancak pada bagian kedua. Ada delapan lagu daerah yang disajikan: Lajangan (Madura), Soleram (Riau), Bubuy Bulan (Sunda), Wor (Papua), Athoi Porosh (Dayak), Sudah Berlayar (Maluku), Montor-Montor Cilik (Jawa), dan Luk Luk Lumbu (Banyuwangi).
Audiens yang tadinya tenang, serius, khidmat, dibuat senyam-senyum, bahkan ketawa, menyaksikan gerak-gerik penyanyi dan dirigen. Gracioso Sonora membawakan Montor-Montor Cilik dengan gaya dolanan anak-anak Jawa yang lucu dan menggemaskan.

"Terus terang, kami datang untuk meminta dukungan doa dan dana. Sebab, biaya untuk tur ke Eropa ini sangat mahal," kata Budi Susanto.

Setelah serius mempersiapkan diri selama empat bulan, latihan dua kali seminggu, Gracioso Sonora berhasil mendapat bantuan dana dari berbagai pihak sekitar Rp 400 juta. Dana ini, menurut Budi, belum cukup sehingga pihaknya harus 'ngamen' di Malang dan Surabaya serta masih mencari tambahan lagi.

"Kami butuh kira-kira Rp 50 juta lagi. Mudah-mudahan bisa segera teratasi," harapnya. (lambertus hurek)

Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu 27 Juni 2010

3 comments:

  1. good luck and congratulation!!!! maju terus mas budi dengan gracioso sonoranya.....

    ReplyDelete
  2. aq kira budi itu fokus banget dg paduan suara, shg bisa maju dan berkembang seperti sekarang. moga2 menjadi inspirasi bagi aktivis paduan suara di mana saja...

    ReplyDelete
  3. Athoi Porosh (Dayak) paling keren, mangtab viva grasioso....

    ReplyDelete