26 June 2010

Gracioso Sonora Tampil di Surabaya




Gracioso Sonora Choir menggelar konser pemanasan di Aula Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya, Jumat (25/6/2010) malam. Konser menjelang tur ke Eropa bulan depan ini dihadiri sekitar 200 penggemar musik klasik, khususnya paduan suara, dari Surabaya dan sekitarnya.


Gracioso Sonora bukanlah kor sembarangan. Dipimpin konduktor Budi Susanto Yohanes, paduan suara yang berdiri pada 7 Maret 1999 ini kerap memenangi berbagai festival tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, kehadiran Gracioso Sonora ke Surabaya disambut antusias para aktivis dan pentolan musik klasik di Kota Pahlawan.

"Kita ingin memberikan support kepada Mas Budi dan Gracioso Sonora. Semoga tur mereka ke Eropa berjalan lancar dan sukses," ujar Trifina Samderubun, mantan juara seriosa putri Jawa Timur, yang kini membina sjeumlah paduan suara anak muda.

Menurut sang dirigen, Budi Susanto, Gracioso Sonora merupakan satu-satunya wakil Indonesia dalam festival musik di Cantonigros, Barcelona, Spanyol, 12 Juli. Bahkan, satu-satunya wakil Asia di festival paduan suara internasional di Elsenfeld, Miltenberg, Jerman, 15-18 Juli. "Festival ini hanya diikuti enam paduan suara," kata Budi yang lahir di Blitar tahun 1979.

Selain di dua kota itu, paduan suara berkekuatan 26 penyanyi ini juga akan tampil di kota Bussum, Belanda, 12 Juli, dan kota Bancaja, Spanyol, 14 Juli. Di Bancaja, menurut Budi, Gracioso Sonora diminta membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia. "Kami dapat kehormatan tampil di Palau de la Musica Catalana, salah satu gedung konser terbaik di Eropa," ungkap Budi.

Di Aula SMTB, Ngagel, Budi Susanto bersama Gracioso Sonora memperlihatkan kepiawaian berolah vokal dengan variasi bloking serta olah gerak nan rancak. Seluruhnya tanpa iringan musik alias a capella. Bagian pertama diisi dengan komposisi klasik seperti O Magnus Mysterium (Lauridsen), Sovra Tenere Herbette (Monteverdi), Jagdlie (Bartholdy), Salve Regina (Polulenc), El Guayaboso (Gavilan), serta Gloria Patri. Nomor terakhir ini komposisi karya Budi Susanto sendiri.

Suasana makin meriah dan rancak pada bagian kedua. Ada delapan lagu daerah yang disajikan: Lajangan (Madura), Soleram (Riau), Bubuy Bulan (Sunda), Wor (Papua), Athoi Porosh (Dayak), Sudah Berlayar (Maluku), Montor-Montor Cilik (Jawa), dan Luk Luk Lumbu (Banyuwangi).
Audiens yang tadinya tenang, serius, khidmat, dibuat senyam-senyum, bahkan ketawa, menyaksikan gerak-gerik penyanyi dan dirigen. Gracioso Sonora membawakan Montor-Montor Cilik dengan gaya dolanan anak-anak Jawa yang lucu dan menggemaskan.

"Terus terang, kami datang untuk meminta dukungan doa dan dana. Sebab, biaya untuk tur ke Eropa ini sangat mahal," kata Budi Susanto.

Setelah serius mempersiapkan diri selama empat bulan, latihan dua kali seminggu, Gracioso Sonora berhasil mendapat bantuan dana dari berbagai pihak sekitar Rp 400 juta. Dana ini, menurut Budi, belum cukup sehingga pihaknya harus 'ngamen' di Malang dan Surabaya serta masih mencari tambahan lagi.

"Kami butuh kira-kira Rp 50 juta lagi. Mudah-mudahan bisa segera teratasi," harapnya. (lambertus hurek)

Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu 27 Juni 2010

24 June 2010

Sekolah Tionghoa di Sidoarjo





Sekolah Tionghoa satu-satunya di Sidoarjo saat ini nyaris tanpa bekas. Bangunan sekolah yang ditutup pada 1960-an itu dibiarkan mangkrak di pusat pecinan Jalan Gajah Mada, Sidoarjo Kota.

Para alumni Zhonghua Xiao Xue --- Sekolah Dasar Tionghoa di Sidoarjo tempo doeloe --- tak punya tempat reuni atau jujugan. Mereka mengaku sedih melihat sekolah yang bersejarah itu menjadi puing-puing berserakan dan penuh rumput-rumput liar.

"Setiap kali melintas di Sidoarjo, saya mesti perhatikan tempat sekolah saya zaman dulu. Ingat masa-masa indah ketika masih tumbuh kembang sebagai anak-anak," ujar Sutikno, alumnus Zhonghua Xiao Xue, kepada saya, 17 Juni 2010.

Setelah ditutup pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965, sekolah khusus untuk anak-anak Tionghoa ini diambil alih pemerintah. Beberapa saat kemudian, bangunan yang berdiri di atas lahan sekitar setengah hektare itu ditempati Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sidoarjo.

Ketika MAN pindah ke kawasan Jenggolo, bangunan sekolah lawas itu pun dibiarkan merana sampai sekarang. "Kayaknya ada konflik sehingga tidak dimanfaatkan. Sayang, karena lokasinya sangat strategis," ujar Njoo Tiong Hoo, tokoh Tionghoa di Sidoarjo.

Berbeda dengan Surabaya dan kota-kota besar lainnya, yang punya banyak sekolah Tionghoa, Sidoarjo hanya punya satu sekolah Tionghoa. Itu pun terbatas untuk tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. 

"Lulus dari Zhonghua Xiao Xue, kami harus melanjutkan ke SMP, kemudian SMA di Surabaya. Toh, jarak antara Sidoarjo dan Surabaya kan sangat dekat," kata Swie Giok, juga alumnus Zhonghua Xiao Xue Sidoarjo.

Namanya juga sekolah Tionghoa, bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Mandarin. Meski begitu, pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta sejarah Indonesia tetap diberikan. "Disiplin sekolah kami sangat ketat. Guru-gurunya juga tegas. Dan itu membuat kami sulit lupa pelajaran meskipun sudah lewat puluhan tahun," katanya.

Swie Giok mengaku sulit melacak para alumni sekolah Tionghoa Sidoarjo yang sudah tersebar luas di berbagai kota di tanah air. Bahkan, sebagian di antaranya berada di Tiongkok atau negara-negara lain.

"Usia kami juga sudah sepuh semua. Banyak teman yang sudah meninggal dunia," katanya.

16 June 2010

Pesta Bacang di Sidoarjo



Hari ini (16/6/2010), warga Tionghoa rame-rame merayakan Pecun yang ditandai dengan pesta bacang. Namun, tradisi lomba dayung perahu naga yang populer di kalangan warga Tionghoa di luar Jawa tidak dilakukan di sini.

"Kita tidak punya sungai yang besar, sehingga tidak mungkin bikin lomba perahu naga. Cukup sembahyang bersama, kemudian dilanjutkan dengan pesta bacang," ujar Njoo Tiong Hoo, pemimpin Vihara Dharma Bhakti Sidoarjo.

Menjelang pesta bacang ini, sejumlah jemaat yang dianggap 'pakar bacang' diberi tugas untuk menyiapkan makanan khas Pecun itu. Tok Swie Giok merupakan salah satu pembuat bacang, yang punya banyak pelanggan di Sidoarjo dan Surabaya. Sepanjang hari kemarin, Swie Giok bersama beberapa rekannya sibuk menyiapkan bahan-bahan bacang.

"Bahan utamanya, ya, beras ketan. Mula-mula dicuci bersih, kemudian direndam satu malam," jelas Swie Giok sembari memandu Radar Surabaya di dapurnya di kawasan Jalan Raden Patah Sidoarjo.

Terpisah, Swie Giok menyiapkan daging ayam dan daging babi sebagai pengisi. Setelah direbus, daging itu kemudian dilapisi dengan ketan. Adonan ini dibungkus dengan daun bambu.

"Lalu, direbus selama kurang lebih empat jam. Sederhana sekali cara memasak bacang itu. Tapi gak semua orang bisa membuat bacang yang enak," ujar Swie Giok yang juga biasa membuat kue ranjang untuk tahun baru Imlek itu.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Swie Giok mengaku tak membuat bacang dalam jumlah besar untuk dikomersialkan. Alumnus sekolah Tionghoa di Sidoarjo itu hanya melayani pesanan jemaat Vihara Dharma Bhakti. "Saya senang karena bisa ikut membantu jemaat yang mau sembahyangan," katanya.

Tradisi Pecun setiap tanggal 5 bulan 5 Imlek juga dirayakan di klenteng-klenteng Surabaya dan sekitarnya. Klenteng Pak Kik Bio di Jalan Jagalan 74 Surabaya, seperti biasa, tak lupa mengadakan acara mendirikan telur. Mengapa telur bisa berdiri setiap perayaan Pecun?

Bukan sulap, bukan sihir! Pada tanggal tersebut posisi bulan tepat berada pada garis lurus bumi, sehingga gaya gravitasi bulan pada siang hari akan tepat berada di bawah bumi. Akibatnya, kuning telur akan tertarik sedikit lebih rendah dibandingkan pada hari-hari biasa. Hal ini membuat titik berat telur lebih ke bawah dan membantu sang telur berdiri pada ujung lancipnya. (rek)

12 June 2010

China Tour Murah



Oleh NOVITA ANGELINA
Mahasiswa FBS Unesa
Jurusan Bahasa Jerman


Tren wisatawan Indonesia mengunjungi Tiongkok semakin hari semakin meningkat. Saat ini sudah banyak biro perjalanan di Surabaya yang menawarkan paket perjalanan murah ke negeri tirai bambu ini.

Salah satunya Akdirasa Tours and Travel. Mereka menawarkan paket perjalanan delapan hari ke Shanghai seharga USD 488 atau sekitar Rp 5 juta.

Nanik Sutaningtyas, pemilik Akdirasa Tours and Travel, mengatakan, rombongan wisatawan ini rencananya akan berangkat dari Bali pada 11 Juli 2010. Di Tiongkok, wisatawan akan diajak mengunjungi tujuh kota, yaitu Shanghai, Suzhou, Hangzhou, Wuxi, Wuzhen, Huaxicun, Yiwu.

Perjalanan ke Tiongkok akan ditempuh selama tujuh jam. Di sana mereka akan menginap di hotel bintang tiga dan dajak mengunjungi beberapa objek wisata, seperti Wuzhen Water Town, Xuaxiake Residence, Golden Tower dan beberapa tempat menarik lainnya. Selain wisata alam, rencananya mereka akan diajak berwisata budaya dan wisata belanja.

Paket wisata ini sengaja diselenggarakan pada masa liburan kali ini. Selain karena momen yang pas, di saat liburan banyak orang Tiongkok yang mengunjungi Indonesia. Dan pesawat yang balik akan tidak punya penumpang. Oleh karena itu, travel agent dapat menyewa pesawat China Airlines itu dengan harga murah.

“Dalam bisnis, kita harus pandai melihat peluang,” ungkap Nanik.

Sebelumnya, ketika tahun baru Imlek kemarin, Akdirasa juga menawarkan paket perjalanan wisata serupa. Dan peminatnya cukup banyak. Sekitar 40 orang mengikuti paket perjalanan ke Tiongkok. Mereka yang ikut tidak hanya warga keturunan Tionghoa, tetapi etnis lain di tanah air.

Menurut dia, pada saat Imlek biasanya warga Tiongkok jarang pelesir ke luar negeri, karena mereka sibuk merayakan tahun baru sehingga harga tiket pesawat ke sana menjadi lebih murah.

Nanik, yang juga sekretaris eksekutif ASITA (Association of Indonesia Travel Agents) Jawa Timur, menjelaskan bahwa sekarang sudah mulai booming para wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia. Destinasi yang paling diminati tetap Bali.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 12 Juni 2010

08 June 2010

Petahana Sangkil dan Mangkus



Anda rutin membaca koran, khususnya KOMPAS?

Akhir-akhir ini ada kata baru: PETAHANA. Kata ini belum ada dalam kamus baku bahasa Indonesia. Rupanya, redaksi KOMPAS berniat membumikan kata INCUMBENT yang sangat produktif di era pemilihan umum secara langsung itu.

Persoalannya, apakah PETAHANA ini akan berterima? Digunakan secara luas oleh masyarakat? Sulit ditebak. Waktu jualah yang akan menjawab.

Dulu, kata MANTAN diperkenalkan sebagai padanan kata BEKAS dan ternyata berterima. Sekarang banyak orang merasa lebih sreg menggunakan MANTAN ketimbang BEKAS ketika merujuk manusia. MANTAN dianggap lebih halus ketimbang BEKAS jika konotasinya orang.

Berbeda dengan MANTAN yang segera tersebar luas, naga-naganya PETAHANA masih sulit diterima kebanyakan orang. Termasuk saya. Rasanya janggal, aneh, tidak umum. Saya memperhatikan koran-koran baik terbitan Surabaya maupun Jakarta. Ternyata hanya KOMPAS (dan anak-anaknya) saja yang menggunakan PETAHANA. Media-media lain masih menggunakan INCUMBENT yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Kita sebetulnya bisa dengan mudah menghindarkan kata INCUMBENT dan PETAHANA jika mengubah struktur kalimat. Banyak variasi kalimat yang bisa dibuat untuk memperlihatkan bahwa calon A saat ini sedang menjabat bupati, wali kota, atau gubernur.

Ketika membaca koran dan bertemu dengan PETAHANA, saya teringat kata SANGKIL, MANGKUS, atau LAHAN YASAN yang pernah diperkenalkan Pusat Bahasa pada 1990-an. Kata-kata itu--dan ratusan kata lain yang umumnya dipetik dari khasanah arkais--terbukti tidak laku di masyarakat. Bukan tidak mungkin Pusat Bahasa atau pakar yang merekayasa kata SANGKIL atau MANGKUS tak pernah menggunakan kata-kata itu.

Iin Indriani Keroncong Mandarin



Tak banyak orang muda yang konsisten menekuni musik keroncong. Salah satunya Iin Indriani. Iin bahkan getol mempromosikan keroncong ke negeri Tiongkok.


Sebagai orang Jawa yang asing dengan bahasa Mandarin atau bahasa-bahasa dialek Tiongkok lainnya, pilihan Iin Indriani menekuni musik keroncong, khususnya dengan lirik Mandarin, jelas tidak lazim. Namun, berkat ketekunannya, anak keempat dari lima bersaudara ini akhirnya mampu memukau penggemar dari negara panda.

"Semua hal itu bisa dipelajari kalau kita punya niat dan tekun. Saya sendiri pun awalnya sulit membawakan lagu-lagu dalam bahasa Mandarin," ujar putri pasangan seniman Soeroto Al Rotohardjono dan Soedarmi ini.

Dunia seni suara memang tak asing bagi Iin yang ibunya seorang pesinden di Solo. Pada usia delapan tahun, Iin sudah berhasil meraih juara pertama bintang radio anak-anak di kotanya. Dengan dorongan dari mamanya, Iin mempelajari berbagai teknik vokal. Selain itu, Iin digembleng Nanto Hastono dan pernah bergabung bersama Bina Vokalia RRI Surakarta.

Dunia rekaman mulai dijajaki Iin dengan menyanyikan lagu-lagu rohani yang dirilis Maranatha Record, Jakarta. Setelah itu, dia mulai terjun ke pop Mandarin pada 1996. Saat itu dia dipasangkan dengan Harry untuk sebuah misi kesenian bersama maestro keroncong, Gesang (almarhum), yang tergabung dalam Gema Nada Pertiwi ke Tiongkok.

"Di sana saya dan Harry menyanyikan lagu Bengawan Solo versi Mandarin. Ternyata, sambutan masyarakat di Tiongkok luar biasa. Mereka ternyata sudah tidak asing lagi dengan Bengawan Solo," kenang Iin yang kini dipercaya sebagai presenter Gebyar Keroncong di TVRI Stasiun Pusat Jakarta ini.

Sukses dalam misi kesenian itu, Hendarmin Susilo, bos Gema Nada Pertiwi, meminta Iin mendalami bahasa Mandarin. Maklum, label rekaman ini sedang berencana menerbitkan album lagu-lagu populer Indonesia dalam versi Mandarin. Akhirnya, pada 1999, bersama Harry, Iin Indriani merilis album bertajuk Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin Volume I.

Album berbentuk kaset dan CD ini tergolong laku keras di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa di tanah air. Sejak itulah nama Iin Indriani selalu diidentikkan sebagai penyanyi spesialis lagu-lagu berbahasa Mandarin. "Bahkan, banyak yang mengira saya ini keturunan Tionghoa," ujar Iin yang murah senyum ini.


Setelah merilis album keroncong berbahasa Mandarin, Iin Indriani bersama rekan duetnya, Harry, mulai go international. Keduanya diundang tampil di Tiongkok, Hongkong, dan Singapura.

EMPAT belas tahun silam, Iin Indriani memulai debut internasionalnya dengan mengisi konser bertajuk Beautiful Bengawan Solo di Shanghai, Tiongkok. Tak berapa lama kemudian, Iin menjadi bintang tamu dalam Shanghai Song Festival. Kedua even ini sangat berkesan di hati penyanyi yang murah senyum itu.

"Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengunjungi negeri Tiongkok. Bahkan, bukan sekadar berkunjung seperti turis, tapi menyanyi di depan warga Tiongkok," kata Iin Indriani belum lama ini.

Presenter Gebyar Keroncong di TVRI ini juga mengaku bangga karena bisa menjadi duta seni budaya di mancanegara. Sebab, meski lagu-lagu yang dibawakan berlirik bahasa Mandarin, melodi atau musiknya tetap khas Indonesia seperti Bengawan Solo, Ayo Mama, atau Rayuan Pulau Kelapa.

"Saya berusaha menjadi jembatan antara Indonesia dan Tiongkok," kata Iin dengan logat Jawa kental.

Selain di Shanghai, berdasar catatan Gema Nada Pertiwi, perusahaan rekaman yang merilis hampir semua albumnya, Iin Indriani juga pernah tampil di International Folksongs Festival di Nanning (November 2002), HUT Ke-10 Yayasan Musik Li Yi Sik di Kowloon, Hongkong (Februari 2006), Asia Arts Festival di Beijing (Agustus 2006), Moon Cake Festival di Guangzhou.

Iin pun sangat produktif di dunia rekaman. Sebut saja Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin (1999), The Best of Indonesian Folksong Versi Mandarin (2000), Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin, Tembang Cinta Indonesia Versi Mandarin Volume (2002), Rayuan Pulau Kelapa Versi Mandarin (2004), Gong Xi Gong Xi Ni (2006), Chinese New Year Special Album (2007).

Sebagai vokalis yang berhasil memperkenalkan lagu-lagu keroncong ke Tiongkok, khususnya Bengawan Solo, pada 27 Juli 2009 Iin Indriani berkesempatan mengunjungi Gesang Martohartono (sekarang almarhum) di Solo, Jawa Tengah. Waktu itu Gesang menerima bantuan alat bantu dengar dari PT Wavin Duta Jaya.

Nah, berkat alat bantu dengar itu, Gesang pun menyambut ajakan Iin Indriani untuk berduet menyanyikan Bengawan Solo.

"Saya mulai menyanyikan bait pertama, kemudian dilanjutkan sama Mbah Gesang. Kami menyanyi bergantian sampai selesai," kenangnya.

Bukan itu saja. Di hadapan Gesang, Iin bersama rombongan dari Jakarta mempersembahkan lagu Bengawan Solo dalam bahasa Mandarin. Gesang terharu mendengar lagu ciptaannya yang kondang di berbagai negara itu. "Kami juga dinasihati Mbah Gesang untuk melestarikan musik keroncong," kenangnya. (rek/bersambung)

05 June 2010

Jazz Terpuruk di Surabaya

Musik jazz di Surabaya sempat menggeliat, tapi seperti biasa surut lagi. Satu-satunya kafe yang menyajikan jazz tiap malam, Vista Cafe, di halaman Hotel Garden, Jalan Pemuda sudah lama tutup. Sengketa tanah yang melibatkan hotel itu, eksekusi oleh pengusaha pemenang, membuat Vista harus tutup.

Malam-malam, pukul 22.00, ketika saya mampir ke warung nasi goreng di Jalan Taman Simpang, persis di samping eks Vista Cafe, suasananya sangat muram. Mirip bangunan tua yang mangkrak. Sama sekali tak ada nuansa jazz yang tersisa. "Kafenya sudah lama tutup, Mas," kata si tukang nasi goreng.

Lantas, penggemar musik jazz mau ke mana?

Sulit dijawab. Kawan-kawan dari komunitas jazz sempat gerilya, bikin even di beberapa tempat, tapi tidak bisa dijamin konsistensinya ala Vista Cafe. Beberapa kali ada konser "jazz-jazzan" yang digelar perusahaan rokok di Gramedia Expo bertajuk crossover dan sejenisnya. Tapi itu tidak bisa dijadikan jujugan.

Ironis banget! Surabaya yang dulu pernah menjadi barometer jazz, bahkan punya maestro jazz sekaliber Bubi Chen, saat ini menghadapi situasi yang sangat pelik. Ajang untuk tumbuh kembangnya bakat-bakat baru di bidang jazz nyaris punah. Bahkan, sekadar menikmati musik jazz ringan secara live pun sudah sulit ditemukan di kota yang katanya terbesar kedua di Jakarta itu.

Jakarta punya even jazz tahunan berkaliber internasional macam Java Jazz dan Jak Jazz. Surabaya punya apa?

Beberapa waktu lalu pernah muncul gagasan untuk bikin festival jazz yang rada nggenah di Surabaya. Tapi, melihat animo masyarakat dan kehidupan jazz yang sangat muram di Kota Pahlawan, gagasan itu pun mati sendiri. Maka, Jakarta jalan sendiri dengan Java Jazz dan Jak Jazz yang sangat gebyar itu.

Kalau mau jujur, jazz di Jakarta pun sebetulnya sama merananya kayak di Surabaya. Mana ada album rekaman jazz artis Indonesia akhir-akhir ini? Pemusik jazz tampil di televisi-televisi Jakarta yang padat iklan itu? Nothing. Paling cuma di TVRI dengan jadwal tayangan yang tidak menentu.

"Indonesia itu tidak punya kultur jazz. Yah, wajar saja kalau jazz nggak bisa berkembang," ujar James Chu, pemusik kenalan saya yang tinggal di Hongkong. Pak James Chu ini pernah tampil di Java Jazz dengan gaya khasnya memainkan steel guitar.

Syukurlah, sampai hari ini Radio Suara Surabaya masih setia memutar musik jazz di program Jazz Traffic setiap Senin sampai Jumat. Mas Isa Anshory, penyiar Radio Suara Surabaya, tak jemu-jemunya mendedikasikan dirinya untuk menjaga eksistensi musik jazz di Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

Salut banget buat Mas Isa, Pak Sutojo, dan Pak Errol di Radio Surabaya!

03 June 2010

Gereja Satu Jam Saja





Sejak Februari 2010, Pendeta Samuel Gunawan membuka gereja baru yang unik. Gereja Satu Jam Saja, nama gereja ini, menyelenggarakan kebaktian rutin setiap Ahad di Gramedia Expo, Jalan Basuki Rahmat Surabaya.

Meski baru lima bulan berdiri, menurut Samuel, gereja ini sudah banyak menarik perhatian jemaat dari Kota Surabaya dan sekitarnya. Buktinya, kebaktian mingguan itu digelar sampai 1o sesi. Sekadar perbandingan, misa di gereja-gereja Katolik di Surabaya atau kebaktian di gereja Protestan, Pentakosta, Karismatik, etc... di Surabaya paling banyak empat atau lima sesi.

"Puji Tuhan, banyak jemaat yang tertarik dengan tawaran kami. Rupanya, orang kota yang sibuk sangat cocok dengan konsep kebaktian satu jam saja," ujar Samuel Gunawan yang saya hubungi, Kamis (3/6/2010).

Mengapa disebut 'Satu Jam Saja'?

Berdasarkan pengalamannya sebagai evangelis, Samuel menemukan fakta bahwa banyak orang Kristen di kota-kota besar yang mulai enggan ke gereja pada hari Minggu karena kebaktian terlalu lama. Khotbah, puji-pujian, kesaksian, doa-doa... makan banyak waktu.

Selain itu, sering kali lama kebaktian sangat sulit ditebak. Karena itu, Samuel memberanikan diri untuk membuka gereja dengan konsep satu jam.

"Kebaktiannya tidak berpanjang-panjang, tapi padat dan efektif. Puji-pujian, pembacaan Alkitab, khotbah, dan sebagainya kami padatkan. Yang penting, inti kebaktian tidak hilang," tegasnya.

Bahkan, jikapun ada bintang tamu yang diundang untuk memberikan kesaksian, pengelola gereja ini mengatur sedemikian rupa agar durasi kebaktian tetap satu jam. Belum lama ini, misalnya, pelawak Polo dari Srimulat Jakarta diminta memberikan kesaksian tentang pengalaman imannya. Meskipun kesaksian Polo ini menarik, ada bumbu lawaknya, durasinya diatur sedemikian rupa sehingga lama kebaktian tetap satu jam.

"Harus satu jam, karena jemaat di luar sudah menunggu untuk sesi berikutnya," ujar Samuel lagi.

Sejumlah jemaat mengaku pas dengan konsep kebaktian yang singkat dan padat ala Gereja Satu Jam Saja. Dan, sesuai dengan keinginan Samuel Gunawan, banyak jemaat yang tadinya aras-rasan ke gereja makin semangat ikut kebaktian.

"Saya sudah beberapa kali ikut kebaktian di gerejanya Pak Samuel dan cocok. Kalau kebaktian terlalu lama, kita yang susah. Apalagi, kalau lagu-lagunya diulang-ulang dan berpanjang-panjang," kata Tante Xin Lan, pengusaha berusia 60-an tahun.

Bagaimana komentar Anda?

02 June 2010

Pasar Loak di Singapura




Tak sengaja saya menemukan foto lawas di komputer lawas saya. Foto penjual barang bekas di Singapura. Negara kaya nan makmur kok ada pedagang barang bekas?

Begitulah. Sekaya-kayanya sebuah kota atau negara pasti ada masyarakat yang kurang beruntung. Tak semua orang Singapura kaya-raya lho! Di negara kecil seluas Surabaya atau Sidoarjo ini ada juga tukang becak, makelar, pedagang kaki lima, penjual obat kuat lelaki, hingga pedagang barang-barang bekas.

Tapi tentu saja barang-barang bekas yang dijajak di Singapura tidak sesemrawut di pusat-pusat barang rombengan di Surabaya macam Jalan Demak, Gemblongan, atau Jalan Semarang. Yang jual tidak banyak, yang beli pun sedikit. Katanya sih para pembeli umumnya orang Indonesia yang memang kantongnya pas-pasan.

Hehehe....

FOTO: Lambertus Hurek

14 Bandara di NTT



Bandara El Tari di Kupang menjadi HUB untuk penerbangan komersial TRANS NUSA di 14 bandara mini di seluruh NTT.

Dibandingkan Bandara Juanda (Surabaya), apalagi Soekarno-Hatta (Jakarta), Bandara El Tari di Kupang sangat kecil. Gak ada apa-apanya. Ruang tunggu kecil saja. Para calon penumpang harus jalan kaki, lalu naik tangga pesawat. Belum ada garbarata yang menghubungkan ruang tunggu dengan pintu masuk pesawat.

Maklum, Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, ini bukan kota besar. Bandara El Tari pun bukan bandara internasional. Tapi saya terkagum-kagum karena saat ini layanan penerbangan di NTT maju pesat. Paling tidak dibandingkan dengan tahun 1990-an, apalagi 1990-an. Dulu, sewaktu masih tinggal di Lembata, kemudian Larantuka, angkutan udara benar-benar milik kaum borjuis, kalangan beruang.

Pekan lalu, ketika berada di Bandara El Tari, saya menyaksikan suasana bandara yang cukup sibuk. Penumpang antre check-in. Ada beberapa loket yang melayani penerbangan ke luar NTT, khususnya Surabaya, Denpasar, Jakarta, maupun di dalam NTT sendiri. Wow, paling kanan ada loket maskapai Trans Nusa yang melayani penerbangan ke Lewoleba di Pulau Lembata.

Lewoleba punya bandara? Begitulah. Tahun 1990-an hal ini dianggap mustahil. Kalau mau naik pesawat terbang ke Kupang, yang pakai baling-baling itu, ya harus ke Larantuka. Lapangan terbang di Larantuka, namanya Gewayantana, pun sangat kecil. Hanya pesawat-pesawat kecil yang bisa mendarat. Tapi itu dulu. Roda terus berputar sehingga Pulau Lembata punya lapangan terbang yang melayani penerbangan berjadwal.

Trans Nusa bahkan menjadikan Kupang sebagai HUB. Ada 14 kota di NTT yang dilayani Trans Nusa. Selain Kupang sebagai pusat distribusi, ada Sabu, Rote, Atambua, Alor, Lewoleba, Larantuka, Maumere, Ende, Bajawa, Ruteng, Labuanbajo (Komodo), Tambolaka, Waingapu. Luar biasa!

Kita, warga NTT, harus berterima kasih kepada Trans Nusa yang bersedia melayani angkutan udara di bumi Flobamora tercinta ini. Mudah-mudahan bisnisnya terus membaik sehingga makin banyak kota di NTT yang terlayani. Dan semoga pula tiketnya semakin terjangkau.

14 lapangan terbangan, sekali lagi EMPAT BELAS bandara mini, di NTT jelas bukan jumlah yang sedikit. Bandingkan dengan tetangga sebelah, NTB, yang hanya punya tiga lapangan terbang, yakni Bima, Sumbawa, dan Mataram. Bahkan, di Jawa Timur sekalipun hanya ada dua bandara komersial (umum): Bandara Juanda di Sidoarjo dan Lanud Abdulrachman Saleh di Malang. Lanud yang di Malang ini sebenarnya milik TNI AU dan sekarang hanya dilayani Sriwijaya Air rute Malang-Jakarta.

Adapun rencana membuka lapangan terbang di Jember, Madura, atau Pulau Bawean (Kabupaten Gresik) sudah digulirkan sejak puluhan tahun lalu, tapi belum mewujud sampai pertengahan 2010 ini. Maka, berbahagialah kita di NTT. Tanpa banyak cincong, saat ini sudah ada 14 bandara mini yang melayani penerbangan komersial.

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!