21 May 2010

Warung Broto di Gereja HKY



Pak Rasno dan Pak Ketut Fransiskus jaga pos HKY. Warung Broto kebetulan lagi libur.

Tanpa banyak gembar-gembor, selama 30 tahun lebih umat Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya ikut melayani wong cilik dengan membuka Warung Broto. Warung sederhana di pintu masuk Wisma Pastoran, Jalan Mojopahit 38-B Surabaya itu buka setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

"Ide Warung Boroto ini berasal dari Romo Rekso Subroto CM yang dulu menjabat pastor paroki HKY. Warung ini sengaja dibuat untuk melayani para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja," kata Pastor Paroki HKY Romo Eko Budi Susilo.

Semangat melayani para kaum miskin memang sangat ditekankan Romo Rekso Subroto. Biarawan Kongregasi Misi ini menilai tukang becak adalah orang-orang kecil yang lekat dengan panas terik, hujan, peluh, dan kerja fisik. Karena itu, dia ingin mereka bisa mendapat pasokan makanan yang cukup untuk bekerja dan menyisihkan sebagian uang untuk keluarga.

Menurut Romo Eko, konsistensi Warung Broto yang mampu eksis selama tiga dasawarsa tak lepas dari peran serta jemaat, terutama ibu-ibu. Mereka inilah yang menyiapkan berbagai menu bergizi bagi para tukang becak. Masing-masing wilayah di Paroki HKY bergiliran memasak untuk Warung Broto.

Mereka mengusahakan agar makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat. Belum lima sempurna karena rata-rata para tukang becak kurang suka minum susu. Tak jarang, umat harus nombok agar pelayanan di Warung Broto itu jalan. "Syukurlah, sampai sekarang tidak ada masalah," kata Romo Eko.

Berbeda dengan warung-warung biasa, makanan di Warung Broto dijual dengan harga supermurah, Rp 1.000. Bahkan, Rp 250 dari uang tersebut dijadikan tabungan oleh pengelola warung yang nantinya akan dikembalikan lagi kepada mereka. Untuk memudahkan administrasi, setiap tukang becak diminta mengisi formulir keanggotaan Warung Broto.

Mereka kemudian mendapat kartu anggota, sehingga setiap kali makan di Broto cukup membayar Rp 1.000. "Dan otomatis tabungannya bertambah Rp 250," papar Romo Eko. Saat ini Warung Broto punya lebih dari 50 anggota dari kalangan tukang becak.

Ke depan, Warung Broto tidak hanya menyediakan makanan saja, tapi ingin menjalin ikatan batin yang erat dengan para tukang becak. Koordinator Pelaksana Warung Broto Imelda Chrisianti menjelaskan, pihaknya mengupayakan tabungan di luar Rp 250 yang dikutip dari harga makanan.

Para tukang becak dapat menitipkan uangnya dan dapat diambil saat hari raya maupun keperluan insidental. Jika ada keluarga yang sakit dan butuh biaya pengobatan, maka tabungan itu bisa dipakai.

”Saya prihatin dengan nasib tukang becak yang kebanyakan para perantau yang mencari nafkah di Surabaya. Mereka tidur dan hidup di becak, sehingga mungkin tidak punya tempat untuk menyimpan uang hasil nafkah mereka," ujar Imelda. (rek)

3 comments:

  1. Warung Broto, wow kegiatan dan artikel yang menarik.

    Salam,
    Anton.

    ReplyDelete
  2. salam utk pengelola warung. ide yg bagus.

    ReplyDelete
  3. Wah Ide dan Artikel yang sangat menarik tu.....

    ReplyDelete