13 May 2010

Tionghoa Hemat, Indonesier Boros?



Kwee Thiam Tjing, wartawan tempo doeloe, penulis buku TJAMBOEK BERDOERI, menggambarkan secara hidup bagaimana suasana revolusi di Jawa Timur. Suasana anarkistis, bakar-bakaran terjadi, karena sistem pemerintahan kacau-balau. Dan, orang Tionghoa lagi-lagi menjadi kambing hitam, korban kecemburuan sosial, yang dibakar api revolusi nan panas.

Di balik cerita itu, Kwee Thiam Tjing menggambarkan streotipe Tionghoa versus Pribumi (istilah Kwee: Indonesier) yang rupanya masih bertahan sampai hari ini. Tionghoa digambarkan kaya, makmur, sukses; sementara Pribumi suka boros, royal, tak bisa menabung, sehingga tetap miskin.

Alkisah, 29 Oktober 1945, pemerintah mengumumkan pergantian mata uang. Uang Jepang tidak berlaku, diganti ORI (Oewang Republik Indonesia). Semua orang, entah pribumi, Tionghoa, Arab, Indo... tiba-tiba jatuh miskin. Kembali ke titik nol. Masing-masing suami dikasih uang ORI senilai satu rupiah tiga sen, sedangkan istri satu rupiah.

Bagaimana orang pribumi menanggapi krisis ekonomi yang luar biasa ini? Kwee Thiam Tjing punya cerita menarik [ejaannya sengaja saya ganti dengan EYD]:

"Marilah sekarang pembaca tilik bagaimana umumnya orang Indonesier atur economie dalam rumah tangganya. Di saya punya lingkungan ada suami-istri. Ketika pada si suami ditrimaken ia punya satu rupia tiga cent dan pada istrinya satu rupia, saya masih inget bagaimana saya coba briken marika nasehat.

Di antara laen-laen saya musti bilang, ini uwang ada uwang yang dikularken oleh pamerentahnya sendiri. Marika kudu bisa hargaken itu serta jangan maen royaal bila tida sanget perlu musti dikluarken kerna owang cuma ada satu rupia."

'Tentu, Tuan!' kata marika.

Tapi malemnya yang lelaki dateng pada saya... buat minta pinjem beras, kerna dari itu dua rupia tiga cent sudah ketinggalan barang satu cent. Si suami di paginya pergi pasar dan saking murahnya, ia kepincut beli kopiah seharga satu rupia, samentara istrinya dengan gumbirah jajan tahu, jajan kuwee, jajan ini dan itu, sebab harganya cuma duwa tiga cent saja.

Sisanya tinggal setengah rupia dan saking girangnya sekarang Republik Indonesia sudah mardika, sudah punya mata uwang sendiri, itu lima puluh cent marika gunaken buat pesiar sama dokardengen merdika!"


Bagaimana dengan orang Tionghoa di Jawa Timur, tepatnya Malang, dua bulan setelah kemerdekaan, 17 Agustus 1945?

Menurut Kwee Thiam Tjing, orang-orang Tionghoa lebih mampu "cocoken diri dengan keadaan". Istilah sekarang: punya sense of crisis! Melakukan sesuatu mengingat uang mereka yang dikumpulkan bertahun-tahun kini tak ada harganya lagi. Dan pengumuman pemerintah soal ORI ini sangat mendadak.

Kwee Thiam Tjing menulis:

"Waktu ORI baru berider, banyak dari keluarga Tionghoa yang masuk golongan mampu atawa yang sedengan, nyonya rumahnya di hari-hari pertama sedari tanggal 30 October 1945, pada sibuk bikin pisang goreng, serabi, limpang-limpung, getas... tegesnya kuwe-kuwe yang sederhana cara bikinnya.

Kemudian bujangnya yang disuru iderkan. Sabentar saja itu kuwe-kuwe cuma tinggal tenongnya saja, sebab harganya pun murah, di antara duwa dan tiga cent. Kenapa itu banyak familie Tionghoa berbuat begitu? Supaya sedikit banyak bisa tambahken persediaan uwangnya yang oleh pamerentah ditetepken satu orang cuma bole trima satu rupia...."


Meski begitu, wartawan dan pengarang yang lahir di Pasuruan, 9 Februari 1900, ini menegaskan bahwa gambaran yang stereotipe ini tidak selamanya begitu. Tak ada jaminan kalau orang Tionghoa mesti lebih hemat, ulet, dan kaya. Dan sebaliknya dengan Indonesier alias Bumiputra.

Kwee Thiam Tjing menulis:

"Tapi nonsens adanya itu dongengan yang bilang orang Tionghoa maka umumnya bisa simpen duwit, kerna ia ada satu pemeres, satu lintah darat, satu orang yang cuma bisa perhatiken duit, duit, dan lagi sekali duit saja.

Yang kita (Tionghoa) umumnya ada lebih kuat economie kita, itu disebabken kerna kita lebi HIMAT di mana laen orang masih uro-uro sembari dengerin ulemnya suara dari ia punya perkutut, kita sudah cincing lengen baju kita. Inilah sebabnya dan laen sebab ada onzin."


Kwee Thiam Tjing adalah wartawan dan kolumnis yang sangat piawai menulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa. Kwee sahabat dekat Liem Koen Hian, wartawan dan redaktur, pendiri Partai Tionghoa Indonesia, tokoh nasionalis dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kwee belajar dari Liem untuk menjadi "anak Indonesia" meskipun dia terlahir di Pasuruan sebagai orang Tionghoa.

Saking kerapnya mengkritik penjajah Belanda, Kwee Thiam Tjing pernah dipenjara di Penjara Kalisosok, Surabaya, kemudian dipindahkan ke Penjara Cipinang, Jakarta. Kwee punya gaya bahasa yang asyik, ugal-ugalan, jenaka, penuh humor, kadang sinis. Dengan gaya yang sinis, Kwee kerap menertawakan kehidupan kaumnya yang Tionghoa.

4 comments:

  1. stereotype itu mungkin ada benarnya utk chinese generasi pertama yg memang gak punya apa2, pendatang miskin. anak keturunannya, generasi berikut, biasanya tinggal menikmati harta kekayaan bapak dan kakeknya sehingga perjuangan hidupnya gak setangguh generasi awal.

    tony

    ReplyDelete
  2. Bukan hendak banggakan sebage buku hikayat, pun tidak di sajikan sebagai buku ilmu pengetahuan, hanya sekedar catatat" peringatan buat anak cucu kita, supaia ia mereka boleh mengetahui apa" yg pernah dialami pendahulunya di jaman yg paling endan"an.


    ..... biar bagaimana ia masih sama golongan dengan saya. "Blunt or clever, my Compatriot.!! (hal 94 terbitan 1947)

    Salam kenal
    Tjamboek Berdoeri28

    ReplyDelete
  3. tulisan ini punya hikmah mendalam buat saya. hemat!!!!

    ReplyDelete
  4. Boekoe, Indonesia dalem api dan bara, karangan Kwee Thiam Tjing sudah pernah saya baca beberapa tahun lalu, sampai lungset, karena saya baca sambil tiduran.
    Pada masa pendudukan tentara Jepang, mata uang kolonial Belanda diganti dengan mata uang penjajahan Jepang yang ada tulisannya DAI NIPPON TEIKOKU SEIHU. Ayah-saya yang doeloe punya penggilingan padi dipaksa oleh kempetai Jepang untuk menggiling padi, hasil beli paksa ( setengah rampokan ) dari para petani. Saya sebut setengah rampokan, sebab uang yang dibayar oleh tentara Jepang, zaman itu hampir tidak ada harganya.
    Setelah Indonesia merdeka, didalam lemari dikantoran papa, bertumpuk-tumpuk uang Jepang yang masih baru gres, bahkan Serie-nomor-nya masih urut.
    Yang saya masih ingat pecahan; Sepoeloeh Roepiah, gambar Gatotkaca, dan Seratoes Roepiah, gambar patoeng Betara Krisna naik boeroeng Garoeda.
    Ketika kami sesaudara masih kanak2, uang2 itu kita gunakan untuk mainan.
    Saudara2 perempuan mainan jadi bibi jualan rujak, sedangkan kita yang lelaki jadi pembeli, bayarnya ya pakai uang2 Jepang itu. Habis bubaran, uang2 itu, ya kita buang atau robek-robek. Kalau mau mainan lagi, ya tinggal ngambil dari lemari.
    Jumlah nilai mata uang tsb. ada ratusan ribu. Sekarang selembar-pun kita tidak memilikinya. Lha wong uang2 itu adalah upah menggiling padi selama hampir 3 tahun.
    Tahukah Bung Hurek, kalau seandainya uang2 tersebut kami jual sekarang, kepada orang2 yang hobby-nya mengoleksi mata-uang kuno, Kurs tukarnya 1 Roepiah = 50 Cents Euro, bahkan bisa 1 Euro, jika uangnya masih baru gres.
    Yah, jadi manusia tidak boleh ber-andai2.
    Begitulah seperti ceritanya Oom Kwee, setiap pergantian penguasa, orang kaya bisa mendadak jadi miskin. Buku itu seharusnya dibaca oleh lebih banyak orang2 di Indonesia, biar tahu mengapa Nganjuk dan Kertosono dijuluki kota janda cina.

    ReplyDelete