18 May 2010

Sartika dan Klenteng Jun Cin Kiung


Tak terasa, sudah 25 tahun Sartika mengabdikan diri sebagai bio kong atau penjaga Klenteng Jun Cin Kiung di Jalan Ir Anwari 9 Surabaya. Sartika juga melakoni hidup sebagai vegetarian.

Di usia yang sudah senja, 72 tahun, Sartika mengaku tak punya banyak keluhan seputar kesehatannya. Dia masih lincah ke pasar, menghadiri undangan, dan rajin mengurus Klenteng Jun Cin Kiung yang menjadi tugas rutinnya sehari-hari.

"Paling hanya flu atau maag. Syukurlah, saya masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk klenteng ini," ujar Sartika alias Xiao Cao Ing kepada Radar Surabaya, Jumat (14/5/2010) siang. Saat itu beberapa jemaat sedang melakukan sembahyang, ritual rutin bulanan. Dan Sartika siap melayani sejumlah barang yang dibutuhkan untuk ritual khas Tionghoa.

Sebagai penjaga rumah klenteng, yang setiap saat berurusan dengan peribadatan, Sartika yakin fisiknya yang masih kuat di usia senja tak lepas dari karunia-Nya. Selain itu, laku vegetarian yang ditekuninya selama hampir empat dekade memang telah terbukti khasiatnya. "Saya mulai jadi vegetarian sejak tahun 1972. Gak pernah makan makanan hewani. Lauk saya, ya, tahu, tempe,kacang-kacangan," katanya seraya tersenyum.

Apa tidak kekurangan gizi atau lemas? "Apa kamu lihat saya lemah? Biasa aja tuh. Orang vegetarian itu gak akan kekurangan gizi kok. Kalo lemas mah, saya kagak bisa kerja," tukas Sartika dengan logat Betawi yang kental.

Sartika mengaku sudah lama mengetahui ajaran agama Buddha terkait vegetarianisme sejak kecil. Apalagi, dia memang sudah lama bekerja di sebuah klenteng terkenal di Jakarta. Namun, pada 1972, ketika mengikuti acara bersama rohaniwan asal Taiwan, dia bertekad untuk menjalani laku vegetarian secara total.

"Kuncinya ada di sini: iman," ujar Sartika. Tanpa niat dan iman yang kuat, menurut dia, sulit bagi seseorang menjadi vegetarian sepanjang hayatnya. Jika iman sudah kuat, maka tak ada halangan dalam menjalani praktik yang dinilai berat oleh kebanyakan orang itu.

"Kayak orang Islam puasalah. Kalau punya niat, iman, pasti bisa tahan tidak makan minum selama satu bulan," katanya.

Ditanya mengenai 'godaan' untuk menikmati makanan hewani seperti sate ayam, gule kabing, ayam bakar, atau ikan laut, Sartika mengaku tidak ada. Bila menghadiri undangan pernikahan, misalnya, dia hanya memilih makanan nonhewani. Atau, cuma mencicipi buah-buahan dan sayur-sayuran.

"Lagian, banyak orang udah tau kalo saya ini vegetarian. Jadi, gak masalah," katanya.

SEBAGAI bio kong, Sartika harus tinggal di kompleks Klenteng Jun Cin Kiung, Jalan Ir Anwari 9 Surabaya. Di samping ruang ibadah memang ada kamar untuk tempat tinggal layaknya rumah biasa. Di situlah Sartika (72) menjalani hari-hari hidupnya dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan persembahyangan.

"Saya sudah berada di sini sejak tahun 1985. Gak terasa sudah cukup lama ya," ujar Xiai Cao Ing, nama Tionghoa Sartika, kepada Radar Surabaya.

Berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lain, menurut Sartika, bekerja di klenteng membutuhkan totalitas tersendiri. Niatnya harus benar-benar tulus, karena langsung berhubungan dengan Sang Pencipta. Karena itu, selama 25 tahun ini Sartika punya jadwal kerja yang relatif stabil dan konsisten. Dia harus stand by di klenteng karena sewaktu-waktu ada saja umat yang datang untuk bersembahyang.

"Saya harus melayani semua yang datang. Saya gak boleh ke mana-mana, kecuali untuk belanja atau urusan yang sangat penting," katanya.

Sartika pun harus memperhatikan berbagai peralatan sembahyang, mulai yoshua, kertas sembahyang, lilin, minyak, buah-buahan, dan sebagainya. Urusan kebersihan klenteng pun ada di tangan Sartika. Singkatnya, seorang bio kong harus bisa membuat rumah ibadah itu bisa membantu umat melakukan sembahyangan.

Tengah malam, tepat pukul 24.00, Sartika berdoa di ruang utama seorang diri. Empat jam kemudian, pukul 04.00, Sartika kembali melakukan ritual yang sama. Bagi Sartika, sembahyang pada jam-jam sepi, ketika sebagian besar orang sedang tidur lelap, ini memberi pengalaman rohani yang luar biasa.

"Saya percaya, kalau kita selalu berdoa secara rutin pada jam itu, hati ini rasanya lebih tenang," akunya.

Pagi hari, perempuan biasanya berangkat ke pasar diantar tukang becak langganannya. Berbelanja sendiri ke pasar sangat penting karena Sartika seorang vegetarian yang menu makanannya berbeda dengan orang kebanyakan. "Kalau belanja sendiri kan kita bisa milih buah-buahan dan sayur-sayur segar," katanya.

Klenteng kecil yang berlokasi di dekat kediaman almarhum HM Noer, mantan gubernur Jawa Timur, itu kemudian dibuka sepanjang hari. Siapa saja boleh berdoa sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Malam hari, kecuali tanggal 1 dan 15 Imlek, pintu klenteng ditutup dan Sartika beristirahat. Pukul 24.00 ibu ini sudah bersiap menyampaikan doa-doa kepada Sang Mahakuasa. (lambertus hurek)

No comments:

Post a Comment