28 May 2010

Puasa Internet di Kupang



TIGA KEPONAKAN: Haris, Karin, Fidel di Kupang, NTT.

Bertahun-tahun kerja, cari uang, hiburan.. di Jawa membuat irama hidup kita stabil. Terjebak rutinitas dari itu ke itu saja. Maka, saya sangat bahagia bisa kembali ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, meski hanya empat hari. Saya tidak bisa ke kampung di pelosok Lembata sana karena kebetulan ayahanda tercinta, Nikolaus Hurek, sedang istirahat dan treatment kesehatan di Kupang.

Hati begitu lega ketika malam-malam, pukul 23.00 lebih, saya dijemput Vincentia alias Yus, adik saya, dan Hendrik, suaminya. Puji Tuhan, saya akhirnya kembali menjejakkan kaki di bumi Flobamora. Orang NTT macam saya memang selalu bangga dengan Flobamora meskipun provinsi ini paling sering mencatat prestasi buruk di Indonesia.

Terakhir, NTT "juara satu" dari belakang untuk tingkat ketidaklulusan siswa. Belum lagi prestasi soal kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan, hingga arus TKI yang tak jua terbendung. Bae sonde bae, Flobamora lebe bae! Ketong makan jagung titi sonde apa-apa!

Inilah kali pertama saya benar-benar BEBAS dari rutinitas. Puasa internet. Tak hiraukan perkembangan politik nasional yang makin heboh, Susno Duadji, hingga bocah pasien Ramdan alias Putra di Surabaya yang akhirnya meninggal dunia. Saya juga menonaktifkan ponsel sehingga saya bisa bebas lepas dari gaya hidup mekanis dan rutinitas ala kota.

Untuk urusan makanan pun sama. Selama di Kupang, saya hanya makan nasi jagung dan lauk khas NTT. Wow, ternyata ikan laut di Kupang ini jauh lebih sedap ketimbang ikan-ikan sejenis di Jawa Timur. Makan pun lebih lahap. Karena itu, saya aktif berolahraga jalan kaki di kawasan Sikumana serta main bulutangkis bersama Haris, ponakan saya, anaknya Erni, adik saya. Kadang main sama Fidel, ponakan yang lain, anaknya Yus.

Malam hari, berbeda dengan di Jawa, orang Kupang tidur lebih cepat. Pukul 21.00 Wita, paling telat pukul 22.00, hampir semua orang sudah tidur. Tak ada yang peduli dengan breaking news di televisi atau acaranya Tukul Arwana, Bukan Empat Mata, yang tidak bermutu itu. Saya lihat dua televisi di rumah Yus lebih banyak nganggurnya.

"Go matak odo-odo ka go turu ki," kata penghuni rumah di Sikumana yang semuanya berasal dari Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Begitulah. Meskipun berada di Kupang, suasana yang muncul benar-benar Ile Ape, kampung halaman saya di pelosok Lembata. Kami hampir selalu berbahasa daerah, kecuali berbahasa Kupang dengan dua keponakan, Fidel Watun dan Karin Watun, yang paham bahasa Lamaholot, tapi selalu berbahasa Kupang.

Diam-diam saya mengagumi kemajuan di NTT meskipun tidaklah sepesat di Jawa. Sekarang ini penerbangan ke seluruh NTT, termasuk Lembata, lancar jaya. Tarifnya pun tidak semahal tahun 1980-an dan 1990-an. Lion Air, Batavia Air, Trans Nusa, Mandala, Merpati... dan entah maskapai apa lagi sudah berjasa melayani rakyat NTT yang tinggal terpisah di sekian banyak pulau.

"Pesawat ke Lewoleba hanya 45 menit," kata Yus. Dua jempol untuk maskapai penerbangan Trans Nusa!

Wow! Kalau begitu, saya harus mengurangi acara-acara ngelencer ke Jakarta, Jogja, dan kota-kota lain di Jawa, banyak menabung, agar bisa lebih sering pulang ke NTT. Beta suka jagung titi, gula lempe, dan sei na!

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!

5 comments:

  1. Trims telah berbagi cerita kampung halamannya. Saya besar di Jawa, sangat merindukan suasana kampung tahun 80an yg belum banyak pengaruh 'hedonisme' kota. Sungguh menyenangkan bebas dari hiruk pikuk kota besar yg penuh polusi budaya.

    Salam/JW

    ReplyDelete
  2. keheningan, keramahan, ketenangan hanya bisa kita dapatkan di kota kota kecil (contohnya di waibalun, larantuka di kampung opa saya). namun itulah yang membawa kaki kita ingin melangkah pulang kembali ke kampung halaman..apalagi buat para orangtua yang mendambakan ketenangan jauh dari hiruk pikuk keramaian dan permasalahan yang kompleks. salam kenal kk..

    ReplyDelete
  3. Makasih opu su berbagi cerita, dengar kalimat "Bae sonde bae, Flobamora lebe bae! Ketong makan jagung titi sonde apa-apa!" rasanya pingin pulang sa ni....

    ReplyDelete
  4. uda pernah jalan ke nangaroro juga kah? ada pantai yang masih perawan di kampung tonggo watu woso....

    ReplyDelete
  5. Blog yang keren. Kalau sempat bermain ke http://www.nttzine.com

    ReplyDelete