16 May 2010

Maya 'Petjinan Soerabaia' ke Brasil



Maya lagi wawancara Pak Ario Karjanto, bos Peti Mati Ario di Jalan Dinoyo Surabaya.

By LAMBERTUS HUREK

Kerja keras Paulina Mayasari menelusuri jejak peranakan Tionghoa di Surabaya beroleh apresiasi dunia internasional. Petjinan Soerabaia bakal dipresentasikan dalam Bridging Cultures, Building Peace Third Forum di Rio de Janeiro, Brasil, pada 27-29 Mei 2010.

"Saya diminta mempresentasikan ide saya tentang wisata Petjinan Soerabaia di forum itu," ujar Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari, penggagas Komunitas Jejak Petjinan Soerabaia, kepada Radar Surabaya, kemarin.

Forum internasional itu kabarnya akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari seluruh dunia.

Awalnya, arek Suroboyo asli Kelurahan Bibis itu diminta membuat esai tentang konsep Melantjong Petjinan Soerabaia yang dimulai sejak akhir 2009 itu. Program wisata kota ke tempat-tempat khas pecinan ini sudah berlangsung tiga kali. Terakhir, mengunjungi objek-objek yang berkaitan dengan Ceng Beng atau kematian pada pekan ketiga April 2010.

Dalam esai itu, Maya memaparkan bahwa orang Tionghoa merupakan kaum yang mudah dijadikan kambing hitam untuk menyebarkan isu rasial yang memancing kerusuhan. Karena itu, "Saya menggagas wisata pecinan di Kota Surabaya," katanya.

Ternyata, pihak United Nations Alliance of Civilizations menerima esai itu. Maya kemudian diminta untuk mempresentasikan konsep Petjinan Soerabaia dalam forum peradaban dunia itu.

"Saya dipilih karena Melantjong Petjinan Soerabaia itu dianggap sebagai proyek untuk menumbuhkan budaya antidiskriminasi di tengah masyarakat," kata alumnus Universitas Trisakti Jakarta itu.

Peserta forum di Rio de Janeiro itu sangat majemuk. Mulai dari aktivis sosial, pemuda, jurnalis, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga agamawan. Maya sendiri mengaku terkejut dengan penghargaan internasional atas proyek wisata budaya pecinan yang sebetulnya baru dikembangkan di Surabaya.

"Saya hanya ingin melestarikan budaya Tionghoa bagi generasi muda dan menumbuhkan wawasan bagi warga Surabaya. Saya juga mau menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Surabaya itu bukan lagi rakyat Tiongkok. Kami adalah orang Indonesia. Kami memang lebih mencintai Indonesia daripada negeri asal-usul leluhur kami," tandas Maya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 15 Mei 2010

6 comments:

  1. Sukses untuk cici Paulina Mayasari.
    Dan terima kasih untuk mas Hurek atas informasinya.
    Jejak Petjinan, memang luar bisasa

    ReplyDelete
  2. mantap bung!!! salut utk org2 kayak mbak maya ini.

    ReplyDelete
  3. mas Hurek, emailnya yang aktif apa? yang hurek2001@yahoo.com tidak bisa dikirimi email :(

    ReplyDelete
  4. Suwun Mbak Myke lan Mbak Yus...
    Emailku ya tetap iku: hurek2001(at)yahoo.com. Nyoba maneh, pasti iso. Selamat motret2.

    ReplyDelete
  5. Kagum dengan kegiatan Melantjong ini, yang ikut ternyata dari berbagai latar belakang yang ingin tahu tentang budaya Tionghoa di Surabaya khususnya. Salut dan salam -AW

    ReplyDelete