21 May 2010

Mandarin ala Yayasan Cheng Hoo



Bahasa Mandarin semakin luas digunakan di tanah air. Pada saat bersamaan makin banyak warga Tiongkok, Taiwan, dan Hongkong yang datang berkunjung sebagai turis maupun pekerja tetap.

Karena itu, Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) menerbitkan buku praktis belajar bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia. Buku tipis setebal 20 halaman ini memang dimaksudkan untuk memperkenalkan kata-kata sederhana baik untuk orang Indonesia maupun Tiongkok.

Mula-mula diperkenalkan sapaan khas seperti NI HAO (apa kabar), HUAN YING (selamat datang), DUI BU QI (maaf), atau ZAI JIAN (sampai jumpa). Kemudian kata bilangan, percakapan telepon sederhana, belanja di pasar, makanan, hingga menjaga orang sakit.

Bagi orang Indonesia, buku ini lebih sederhana karena mencantumkan cara pengucapan ala Indonesia yang sangat berbeda dengan sistem penulisan standar pin-yin. Sebagai contoh, kalimat MEI GUAN XI harus dibaca MEI KUAN SI atau ZAI JIAN harus dibaca CAI JIEN.

"Kalau Anda membaca tulisan Mandarin seperti membaca kata-kata bahasa Indonesia, ya, jelas orang Tiongkok atau Taiwan nggak akan paham. Kacau balau," kata Ling Ling, gadis asal Shanghai, Tiongkok, yang tinggal di Surabaya.

Sebaliknya, bagi penutur asli dari Tiongkok, buku ini mudah dibaca karena dilengkapi aksara hanzi. Hanya saja, hampir semua warga Tiongkok kesulitan membaca aksara Latin yang digunakan secara luas di dunia internasional.

Kalaupun bisa membaca, bunyinya akan sangat berbeda dengan versi Indonesia. Frase TERIMA KASIH BANYAK, misalnya, oleh orang Tiongkok dibaca TELIMA KASIH PANYAK.

"Jadi, bagaimanapun juga harus ada guru atau teman bicara yang paham bahasa Indonesia dan Mandarin. Kalau hanya sekadar membaca di buku, ya, susah," kata Ling Ling. (rek)

No comments:

Post a Comment