01 May 2010

Makam Tionghoa yang Telantar





Peserta Melantjong Petjinan Soerabaia III niscaya tak asing lagi dengan Kembang Kuning, kompleks makam Kristen dan Tionghoa terbesar di Kota Surabaya. Namun, tak sedikit yang kaget ketika melihat sendiri begitu banyak makam Tionghoa telantar.

Umumnya, pihak ahli waris makam-makam tua ini sudah puluhan tahun tinggal jauh di luar kota, bahkan luar negeri. Karena itu, jangankan nyekar setiap Ceng Beng, sekadar menyewa penjaga makam untuk merawat makam pun tak dilakukan. Padahal, kebanyakan makam-makam Tionghoa yang telantar ini dilengkapi hiasan yang artistik.

Tak heran, sejumlah makam telantar itu kini diokupasi oleh penduduk setempat. Dibangun atap, dinding tambahan, dan dijadikan tempat tinggal permanen. Ada lagi makam yang dijadikan tempat menggantung pakaian-pakaian kotor dan sepatu. Sangat ironis!

"Habis nggak ada yang ngurus, ya, dipakai oleh orang kampung. Dan itu sudah berlangsung lama kok," ujar Ahmad, seorang warga Kembang Kuning, kepada Radar Surabaya.

Peserta acara Melantjong yang dikoordinasi Paulina Mayasari, arek Tionghoa Suroboyo asli Jalan Bibis, ini pun ramai-ramai mengabadikan makam-makam tua telantar itu. “Sangat unik karena meskipun tinggal di Surabaya, kita jarang mengetahui pemandangan seperti ini,” ujar Iwan Gunawan, peserta yang hobi memotret situs-situs bersejarah di Kota Surabaya.

Di Kembang Kuning Kulon Gang I terdapat beberapa makam Tionghoa yang sudah ‘bergabung’ dengan rumah-rumah penduduk. Yang paling terkenal adalah makam Loe Gien San, mantan pengusaha terkenal, bersama istrinya. Layaknya orang kaya tempo doeloe, makam ini sangat menarik dengan detil-detil khas Tionghoa.

Namun, karena tidak diperhatikan oleh ahli warisnya selama 15 tahun lebih, makam tua itu pun merana. “Selama 15 tahun itu keluarganya tidak pernah ke sini. Saya juga tidak pernah dibayar atau sekadar biaya perawatan makam,” jelas Sukadi, penjaga makam keluarga Loe Gien San.

Menurut Sukadi, karut-marutnya kondisi makam Tionghoa lama di Kembang Kuning tak lepas dari situasi politik nasional pada 1960-an yang tidak menentu. Banyak sekali orang Tionghoa yang melarikan diri ke luar daerah atau luar negeri karena merasa tidak nyaman.

Maka, lahan-lahan kosong di kompleks makam yang pada masa itu masih sangat luas dan lengang diserbu warga. Kemudian dipatok-patok dan dibangun rumah-rumah darurat. Makin lama kompleks yang tadinya dialokasikan hanya untuk makam, kini menjadi perkampungan yang padat penduduk.

“Kalau ahli warisnya nggak pernah nengok, ya, lama-kelamaan akan hilang,” kata Sukadi. (rek)

Foto: Andre Jr.

1 comment:

  1. bagaimana dengan Ijin mendirikan bangunan? karena ini kaum minoritas, makanya pemerintah dan penduduk sepertinya gak menghargai sama sekali.

    ReplyDelete