16 May 2010

Pelukis Herman Benk Melawan Pasar



Oleh LAMBERTUS HUREK

Ketika banyak pelukis bicara tentang pasar, bagaimana menciptakan pasar, Herman Handoko bikin gebrakan dengan pameran tunggal di eks Museum Mpu Tantular Surabaya. Selama sepekan, pelukis senior yang akrab disapa Pak Benk ini menawarkan karya yang tak ramah pasar, bahkan cenderung antipasar.

Meski begitu, pameran seni rupa yang terkesan nyeleneh ini tetap diminati para penikmat seni rupa, termasuk kalangan seniman muda. Bertajuk To Be Myself, Herman Handoko menghadirkan sedikitnya 300 karya yang seluruhnya dari koran bekas.

"Korban bekas itu saya minta sama teman. Lantas, tiba-tiba muncul inspirasi untuk membuat karya seperti itu," ujar Herman Handoko kepada Radar Surabaya di sela pameran, Jumat (14/5/2010).

Sebelum berpameran di Surabaya, Herman melakukan 'uji coba' pameran di komunitas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta selama lima hari. Ternyata, menurut dia, karya-karyanya yang tak lazim itu diapresiasi mahasiswa dan dosen ISI. Bahkan, selama pameran di Solo itu beberapa seniman secara spontan menggelar performing art setelah menikmati karya-karya Herman.

"Saya merasa kurang puas kalau tidak bikin pameran di Surabaya. Kebetulan teman-teman muda ini bersedia membantu, mau meminjamkan ruangan ini, agar saya bisa pameran tunggal," kata pria yang kini telah menginjak usia 58 tahun itu.

Begitu masuk di ruang yang akrab disebut Museum of Mind, kita langsung dijejali parade 300-an kertas koran yang sudah dicorat-coret dengan tinta cina. Permainan garis yang terkesan 'ngawur' itu, ketika dijejali di keempat bidang tembok, seperti menciptakan sebuah keteraturan baru. Herman juga menggunakan bahan pewarna alami untuk mewarnai sebagian kertas koran.

Foto-foto, iklan display, cetakan besar, di koran bekas dijadikan bagian tak terpisahkan dari permainan Herman Handoko. Sejumlah pengunjung, termasuk kalangan pelukis sendiri, mengaku bingung. Tak paham apa maunya Herman. "Aku gak heran karena sejak dulu Pak Benk memang begitu. Suka bikin kejutan," ujar seorang pelukis asal Surabaya.

Lain lagi dengan Herry Biola, pemusik asal Krembung, Sidoarjo. Setelah 30 menit menyaksikan pameran Herman Handoko, dia langsung memainkan musik dan nyanyian tanpa kata. "Menikmati karya Pak Benk itu berbeda dengan menikmati pameran lukisan biasa. Kita seperti ditantang untuk berpikir atau melakukan sesuatu," tegas Heri Biola.

Di sela pameran, digelar diskusi seni rupa. Dr Djulijati Prambudi, pengajar seni rupa di Universitas Negeri Surabaya, menilai Herman Handoko sebagai sosok pelukis langka yang konsisten dengan idealisme berkesenian. Dia tidak terjebak pada komodifikasi atau kapitalisasi seni rupa.

"Ketika banyak pelukis ingin pameran di galeri swasta, Pak Herman justru memilih berpameran di tempat yang sederhana. Materi karyanya pun sangat sudra. Ini perlu keberanian yang luar biasa," tegas Djulijati.

Herman Handoko sendiri mengaku hanya menawarkan karya seni rupa yang terbuka untuk ditafsirkan oleh siapa saja. Sebagai seniman, dia tergerak untuk mengungkapkan ekspresi dan kegalauan hatinya dengan menggunakan bahan apa saja. "Kebetulan sekarang ini saya pakai koran bekas," katanya.

No comments:

Post a Comment