01 May 2010

Eka Praya, Krematorium Tertua di Surabaya



Paulina Mayasari mengajak peserta Melantjong Petjinan Soerabaia 3 ke Krematorium Eka Praya di kompleks Makam Kembang Kuning Surabaya, Ahad (25/4/2010). Saat itu sedang diadakan kebaktian kristiani menjelang kremasi salah satu jenazah. Puji-pujian rohani nan syahdu pun terdengar dari dalam aula.

Sementara itu, Surawi, petugas Eka Praya, mengajak para peserta untuk menyaksikan alat-alat kremasi di luar aula yang kebetulan sedang 'nganggur'. Surawi membuka pintu oven berukuran sekitar 2 x 1,4 meter, tempat jenazah bersama petinya dipanaskah hingga menjadi abu.

"Cara kremasi itu gampang sekali. Yang penting, kita melakukan dengan hati yang bersih dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan," ujar pria yang sudah 44 tahun bekerja di Eka Praya sembari tersenyum.

Setelah upacara keagamaan, sesuai dengan agama si jenazah, beres, pihak keluarga diminta menyampaikan keikhlasannya untuk melepas almarhum/almarhumah pergi ke alam baka. Untuk itu, menurut Surawi, salah satu wakil keluarga harus menekan tombol listrik di depan 'oven' agar proses pembakaran segera dimulai.

Mengapa harus pakai penekanan tombol segala?

Pihak Eka Praya pernah punya pengalaman yang tak menyenangkan. Pada 1978, ketika peti jenazah hendak dimasukkan ke dalam oven dan api mulai menjilat-jilat, salah satu anggota keluarga almarhum syok dan pingsan. Dibawa ke rumah sakit, nyawa orang itu tak tertolong.

"Rupanya, dia kena serangan jantung. Sejak itulah pengurus Eka Praya memutuskan untuk tidak lagi mengizinkan pihak keluarga berada di dekat peti jenazah saat dikremasi. Mereka cukup menekan tombol itu secara simbolis saja," papar Surawi seraya tersenyum.

Berdasar pengalamannya, kremasi satu jenazah rata-rata hanya membutuhkan waktu paling lama 2,5 jam. Itu sudah termasuk proses penggilingan tulang-belulang. Tulang ini digiling halus sebagai abu jenazah setelah petugas membersihkan elemen-elemen yang bukan jasad manusia. "Gilingannya kayak gilingan kopi di kampung," katanya.

"Lantas, bagaimana dengan daging dan kulitnya?" seorang peserta Melantjong Petjinan nyeletuk.

"Ya, sudah menguap semua, terbang ke udara. Hilang. Kalau nggak yakin, silakan Anda bakar hewan di rumah. Apa dagingnya masih ada sisanya?" tukas Surawi disambut 50-an pelancong domestik itu.

Untuk kremasi satu jenazah, Surawi dan kawan-kawan membutuhkan bahan bakar solar sebanyak 100-200 liter. Karena itu, jangan heran, jika melintas di kompleks makam Kembang Kuning, Anda kemungkinan besar akan melihat cerobong yang mengeluarkan asap hitam tebal.

Biaya kremasi bervariasi antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta tergantung ketebalan peti. "Khusus jenazah bayi dapat potongan 20 persen," katanya.

Sebagai krematorium tertua di Surabaya, didirikan pada 1958, menurut Surawi, Eka Praya akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas layanannya. Kalau dulu satu bulan hanya mengkremasi 10 jenazah, sekarang rata-rata 60-70 jenazah sebulan. Bukan itu saja. Pihaknya juga berencana melakukan elektrifikasi dengan oven listrik.

Dengan sistem elektrik, maka tulang-tulang jenazah langsung berubah menjadi tepung alias abu. "Jadi, nggak perlu digiling lagi," kata Surawi. (rek)

Foto: Andre Jr.

2 comments:

  1. kapan2 kalo ada wisata lagi, kasih tau ya... asyik juga nih...

    ReplyDelete
  2. Saya baru sekali mengikuti upacara kematian etnik Cina di sini.
    Itupun tidak lengkap, karena yg meninggal adalah murid asal negara Cina yg sedang belajar di sekolah saya. Jadi semua serba darurat.

    Kalau melihat dan mengamati dari kejauhan saja sih sudah beberapa kali, tapi tentu tidak sampai ke tempat kremasi. Hanya di ruang serba guna di dekat rumah yg memang bisa disewa untuk upacara kematian.

    Apa di Surabaya masih ada juga kebiasaan jaga 'wake' jenazah selama bbrp hari? Ada iring2 an jenazah lengkap dengan musik dari alat musik tiup dan tambur? Di sini masih ada :-) mungkin suatu saat nanti akan saya tulis ya hehe

    ReplyDelete