01 May 2010

Ario Peti Mati dan Siupan




Dari rumah produksi bongpay Tjwan Tik Sing di Jalan Bunguran 91, peserta Melantjong Petjinan Soerabaia 3 beringsut ke Peti Mati Ario di Jalan Dinoyo 94-96 Surabaya, Ahad 25 April 2010.


Ario Karjanto, bos Ario, bersama putri tunggalnya, Yohana, dan menantunya, Richard Woo, menyambut rombongan dengan ramah. Suasana semakin meriah karena Pak Ario ini ternyata seorang pengusaha yang piawai bercerita dan melontarkan joke-joke segar.

"Bisnis peti mati itu nggak seseram yang dibayangkan orang, tapi seperti bisnis hiburan. Saya ini kayak EO (event organizer)," kata Ario Karjanto disambut tawa para turis lokal ini.

"Lha, iya, tugas kami di Ario ini ya, menghibur dan keluarga-keluarga yang berdukacita. Orang-orang yang keluarganya meninggal kami servis sedemikian rupa supaya terhibur,” tambahnya.

Perusahaan Jasa Pemakaman Ario ini memang melayani segala urusan seputar kematian dari kamar mayat hingga selamatan atau doa untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Mulai menyediakan peti, memandikan jenazah, mencarikan romo atau pendeta atau modin, persemayaman di Adi Jasa atau rumah duka, sampai pemakaman.

Bahkan, menurut Ario Karjanto, pihaknya juga setiap tahun mengadakan Ceng Beng di laut. Pihak Ario menjadi EO atau panitia yang menghimpun orang-orang Tionghoa yang ingin menabur bunga di laut. Ini karena abu jenazah sebagian orang Tionghoa memang dilarung di laut, sehingga Ceng Beng-nya pun tidak diadakan di makam.

“Daripada menyewa kapal sendiri-sendiri, yang pasti sangat mahal, sebaiknya memang bareng-bareng nyewa kapal ke laut. Dan itu selalu kami lakukan setiap bulan April,” kata pria berusia 64 tahun ini.

Ario Karjanto kemudian memperkenalkan putri tunggalnya, Yohana. Istri Richard Woo ini dikuliahkan di Amerika Serikat, tepatnya di University of Central Oklahoma, khusus untuk mendalami ilmu pemakaman alias mortuary science. Mengapa harus di Amerika? tanya beberapa peserta.

“Karena Amerika itu paling jago dalam industri hiburan. Hiburan apa saja yang dari Amerika pasti disukai di seluruh dunia. Makanya, Yohana ini sengaja tak bujuki supaya kuliah di Amerika. Kalau gak dibujuki, siapa sih yang mau kuliah pemakaman?” ujar Ario disambut tawa peserta.

“Richard, yang sekarang jadi suami saya, juga tak bujuki supaya ikut saya ke Surabaya ngurus peti mati Ario. Dia ini asli Taiwan, nggak bisa bahasa Indonesia,” sambung Yohana, lagi-lagi disambut tawa.

Fakultas Ilmu Pemakaman boleh jadi tak dikenal di kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia. Tapi di negara Paman Sam itu ilmu mortuary science ini sangat umum dan diajarkan di 37 universitas. Nah, selama empat tahun Yohana belajar tentang ekonomi perusahaan serta bagaimana menangani jenazah hingga pemakaman.

“Yang paling penting adalah mengetahui budaya bangsa-bangsa. Sebab, tradisi pemakaman setiap etnis, agama, kepercayaan, pasti berbeda,” kata Yohana.
Karena itu, meski sudah menimba ilmu pemakaman di Oklahoma, USA, menurut Yohana, tidak semuanya bisa diterapkan di Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Setelah mendengar penjelasan Richard Woo tentang tradisi Ceng Beng di Tiongkok, Taiwan, dan Indonesia, peserta diajak melihat gudang peti jenazah Ario. Begitu banyak peti jenazah siap pakai tertumpuk rapi di sana. Juga kayu jati gelondongan kelas tinggi yang sudah dipesan kalangan penguasaha kaya di Surabaya.

"Biar kalau dipanggil Tuhan, tidak merepotkan keluarga yang hidup," kata Pak Ario.

Begitulah. Kehidupan orang Tionghoa itu selalu terencana dan penuh kalkulasi. Termasuk mempersiapkan peti jenazah, lokasi makam, dan tetek-bengek lainnya.



Foto-foto: Andre Jr.

4 comments:

  1. unik juga bisnis itu ya. itulah hebatnya org chinese... semua bisa dibisniskan mulai org lahir sampek mati...

    ReplyDelete
  2. Saya punya tanah seluas 45 ha, sertifikat, milik pribadi, di lingkar timur, Sidoarjo cocok untuk perumahan atam makam estate, bisa juga untuk kerjasama...
    ditawarkan seharga 45.000 m2...hub.agoes 031 60661096

    ReplyDelete
  3. memang hebat orang china dalam berbisnis ..klu boleh q jg mau dlm bisnis itu unt kpengadaan barang

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya itu bukan hebatnya orang Chinese. Orang barat pun juga begitu, karena mereka hidup dengan perencanaan. Berserah kepada Tuhan bukan berarti tidak melakukan persiapan.

    ReplyDelete