20 May 2010

4 Kasta Pendidikan

Orang Miskin Dilarang Sekolah!

Demikian judul buku karya Eko Prasetyo, terbitan Resist Book, Jogjakarta, 2004. Dalam buku 256 halaman itu, Eko mengupas praktik komersialisasi pendidikan kita. Jangankan keluarga miskin, PNS, karyawan swasta, pun ngos-ngosan membayar biaya SD, bahkan TK, anak-anaknya. Boro-boro membiayai kuliah di Fakultas Kedokteran.

Prinsip education for all makin dikesampingkan. Amanat konstitusi, Pasal 31 UUD 1945, hanya manis di atas kertas. Yang muncul justru empat kasta pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

Kasta I: Anak pintar, ortu kaya.

Merekalah orang yang paling berbahagia sejak belum dilahirkan. Mulai bayi sudah sekolah mahal di baby school. Les piano. Bahasa Inggris. Mandarin. Fashion. Ikut lomba-lomba bergengsi. Dikirim ke luar negeri untuk lomba ini-itu. Sejak zaman dulu mahasiswa Fakultas Kedokteran tergolong Kasta I.

Karena itu, tidak heran kalau hampir tidak ada orang NTT yang kuliah di kedokteran. Mau bayar pakai daun? Prek!


Kasta II: Anak kurang pintar, ortu kaya.

Karena duit orang tuanya banyak, bertumpuk, anak-anak ini bisa disekolahkan di mana saja baik di dalam maupun luar negeri. Bukankah otaknya rada-rada majal?

Gampang. Banyak jalur untuk membeli tiket masuk universitas negeri dengan menyetor uang puluhan atau ratusan juta. Kasta II ini juga paling sering membeli ijazah atau nilai pada dosen atau kampus. Semua bisa diatur, asal ada UANG. Kasta II ini sangat disukai kampus-kampus karena mereka mau saja membayar mahal, berapa pun, asalkan bisa kuliah di kampus bergengsi.

Kasta III: Anak pintar, ortu miskin.

Begitu banyak anak-anak berprestasi, unas tertinggi, juara lomba sains... tak bisa kuliah karena orang tua miskin. Mereka disingkirkan secara sistematis oleh sistem pendidikan yang makin kapitalistis dan money oriented. Kampus bukan lagi kumpulan calon-calon intelektual, peneliti, pemikir, melainkan para pemburu gelar bin ijazah. Banyak kampus baru di Indonesia didirikan untuk “mengakomodasi” anak-anak Kasta III ini. Tak peduli kualitas lulusan menjadi hancur-hancuran.

Kasta IV: Anak kurang pintar, ortu miskin.

Paling sial dan tidak pernah bahagia. Sama dengan kasta sudra yang sangat sulit membebaskan diri dari keterpurukan struktural. Orang-orang macam ini perlu diberi pelatihan khusus oleh negara agar langsung kerja. Jadi tukang listrik, tukang kebun, tukang jahit, dan seterusnya. Jangan disuruh menguraikan teorema Phytagoras, rumus ABC, trigonometri, hukum Newton, dan seterusnya.

Sebenarnya juga ada kasta medioker atau tanggung: ortu tak kaya, tapi juga tidak bisa dibilang miskin.

Nah, dengan kasta pendidikan, yang merupakan implikasi kebijakan pemerintah, maka praktis hanya Kasta I dan II yang bisa kuliah. Kasta III, meskipun pintar, bahkan jenius, tak akan mampu membayar SPP puluhan juta. Apalagi, kuliah di Kedokteran.

Kasus Wildan Rabbani Kurniawan, peraih nilai unas tertinggi Jatim asal SMAN 1 Gresik, menjadi contoh kasus malapraktik pendidikan. Wildan jelas Kasta III. Bapaknya, Kusdaryanto, tak punya pekerjaan tetap.

Di Tiongkok, sejak era Deng Xiaoping, pemerintah punya perhatian khusus pada anak-anak jenius kayak si Wildan ini. Mereka dibiayai negara hingga doktor baik di dalam maupun luar negeri. Dus, tidak perlu ‘mengadu’ ke koran atau televisi.

4 comments:

  1. susah memang, biaya kuliah sekarang mahal banget. gimana ya bisa kuliah dg biaya murah di ptn2 terbaik. saya sendiri pusing mikiran nasib anak saya.

    ReplyDelete
  2. Keren sekali Opu, go ijin repost le..

    ReplyDelete
  3. Bung Hurek, sahabat karib saya, si-Flores, perawakannya kecil, kulit hitam dan rambutnya keriting, jika kami berdua naik trem, berbincang dengan bahasa Indonesia, orang2 bule disekitar kami, hanya geleng2 kepala. Bahasa apa yang digunakan si-Jepang dan si-Afrika itu dengan sedemikian lancar ?
    Tahun 1972 saya belum pernah mendengar nama Deng Xiao-ping, yang saya kenal adalah nama2 : Mao Zedong, Liu Shaoqi, Zhou Enlai, Lin Biao dan Zhu De.
    Si-Flores yang pengetahuan umum-nya tentang politik sangat mendalam, selalu meng-elu2 seorang tokoh bernama Deng Xiaoping. Dia bilang orang itu sangat pandai, kita, negara Indonesia perlu memiliki seorang tokoh seperti Deng.
    Saya yang tidak mengenal seorang bernama Deng Xiaoping tentu saja tidak menanggapi serius ocehan si- Flores.
    Setelah Deng menjadi presiden dan ketua partai RRT, barulah saya mengenal beliau.
    Satu hal yang saya kagumi adalah Visi-nya Deng, sesuai dengan situasi sekarang yang melanda negara2 barat. Ketika Jimmy Carter berkunjung ke China, dia mengkritisi China melanggar HAM. Deng berkata kepada Carter: Coba Anda jelaskan secara konkrit ! Carter : Anda melarang rakyat China bepergian keluar negeri. Deng : Okay, seandainya saya turuti anjuran Anda, apakah USA bersedia menerima 400 juta orang2 Chinese yang ingin menjadi immigrant ke Amerika ?
    Carter, cep-cep tutup mulut. Sekarang negara2 Eropa kepusingan menerima para immigrant dari Timur-tengah, Afghanistan dan benua Afrika. USA juga membatasi immigrant dari negara2 Amerika Latin.
    Seorang Perdana Menteri Eropa yang masih muda, mengkritisi Deng soal HAM.
    Deng hanya diam dan ngangguk. Setelah itu Deng memerintahkan Menteri Luar Negeri RRT untuk memanggil segera Duta Besar negara asing itu.
    Menteri Luar Negeri RRT berkata kepada si-Dubes : Eh, tolong beritahu kepada Kanselir-anda, dia itu datang kesini, karena ingin menjalin hubungan dagang ataukah mau kasih kuliah kepada Deng Xiaoping ? Kalau mau kasih kuliah, suruh Kanselir-anda segera meninggalkan negara kami, sebab dibudaya Cina, ora ilok, seorang anak ngajari orang tua.
    Conclusio, jangan selalu percaya mulut orang barat soal HAM.

    ReplyDelete
  4. Di RRT kebanyakan murid2 sekolah sangat rajin, karena dipaksa dan terpaksa.
    Hanya yang pandai bisa lulus ujian SMA dan ujian masuk universitas.
    Menurut statistik kajian negara2 OECD ( negara2 G-20 ) :
    Tahun 2000 : Penelitian penduduk usia 25 sampai 34 tahun, RRT 17 % lulusan akademisi, sama dengan USA.
    Tahun 2010 : RRT 18 %, USA 14 %.
    Tahun 2020 : perkiraan ( prognose ) RRT 29 %, USA 11 %.
    Jadi pada tahun 2020 yang akan datang, jumlah penduduk RRT yang memiliki ijasah sekolah tinggi akan menjadi 200 juta manusia.
    200 juta manusia2 itu bukanlah orang bodoh. Seumpamanya 90% dari 200 juta itu otaknya hanya pas-pasan ( merendahkan diri, bak padi ), maka sisanya yang 10% adalah orang2 yang sangat pandai. Saya tidak berani memakai kata genius, karena itu terlalu sok dan sombong. Negara manakah memiliki 20 juta penduduk yang otaknya tergolong sangat pandai ? Semuanya berkat jasa seorang yang bernama Deng Xiaoping, yang sudah di-elu2 oleh seorang Flores, 43 tahun silam.
    Padahal waktu itu orang2 China masih naik sepeda onthel, tidak kenal WC dan celana Jeans.

    ReplyDelete