31 May 2010

Mudiro Penyusun Kamus Bahasa Tionghoa




Oleh Anastasia Joice Tauris Santi
Sumber: KOMPAS 26 Mei 2010

Urusan hubungan diplomatik China dan Indonesia bukan terbatas pada hubungan antara pemerintahan kedua negara itu saja. Urusan tersebut juga menjadi soal dalam rumah tangga Mudiro. Keluarga ini terimbas langsung atas naik-turunnya hubungan diplomatik kedua negara di Asia ini.


Gara-gara hubungan kedua negara yang sempat membeku, hubungan keluarga Mudiro di Beijing dengan keluarga besarnya di Tanah Air pun terputus. Bahkan, mereka sekeluarga sempat tak memiliki paspor Indonesia sejak tahun 1965 karena tidak ada Kedutaan Besar Indonesia di Beijing.

Di tengah kekosongan dan putusnya hubungan dengan Tanah Air itu, tidak terlintas sedikit pun dalam pikiran keluarga Mudiro untuk mengganti kewarganegaraan mereka. Walaupun mungkin ia sekeluarga akan menerima fasilitas yang layak sebagai seorang ahli dari luar negeri.

Ketika hubungan kedua negara mulai mencair pada 1990-an, paspor Indonesia belum juga berada di tangan Mudiro. Mereka baru mendapatkan dokumen penting itu tahun 2002, meskipun pada 2000 dia pernah pulang ke Indonesia dengan menggunakan paspor merah.

”Kami mendapatkan paspor RI tahun 2002 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid,” katanya.

Tanpa paspor selama sekitar 36 tahun membuat Mudiro dan keluarga tidak dapat menjejakkan kaki di Tanah Air. ”Ketika masa pembekuan hubungan itu, jika hendak berkirim surat, harus dititipkan pada orang di luar negeri, muter-muter dulu suratnya, sampai ke Belanda, baru surat itu sampai Indonesia,” ujarnya.

Mudiro menjejakkan kaki di China pada Desember 1963. ”Ketika itu belum ada penerbangan langsung. Jadi, saya ’terbang’ lewat Bangkok, ke Yangon, lalu ke Kunming, baru tiba di Beijing tahun 1964 setelah beberapa hari santai di Kunming,” ceritanya, akhir Maret lalu di rumahnya di pusat kota Beijing.

Dia berada di China berkat undangan Pemerintah China karena keahliannya sebagai penerjemah. Mudiro bekerja sebagai waiguo zhuanjia (tenaga ahli asing) di Penerbit Bahasa Asing (PBA) atau Foreign Language Press. Hal ini merupakan perusahaan milik Pemerintah China, anak perusahaan Distribusi Terbitan Bahasa Asing.

Tugasnya tak mudah. Mudiro harus menerjemahkan dan mengedit bahan tulisan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebagian besar tulisan itu tentang Indonesia.

Pada masa-masa sulit tersebut dia tetap bekerja dan menghabiskan masa kontraknya. ”Ada perasaan tidak enak, kecewa, sedih, terasing dari keluarga dan masyarakat negeri sendiri,” kenangnya.


Akan tetapi, dia tak tenggelam dalam kesedihan dan perasaan terasing. ”Kesedihan dalam keterasingan segera hilang setelah saya menyadari ada pekerjaan, ada tugas dan kewajiban, ada panggilan, yang harus saya laksanakan. Tugas mengajarkan bahasa Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada orang Tiongkok,” ujar Mudiro.

”Hubungan Indonesia-Tiongkok itu punya sejarah panjang dan bermanfaat. Ini tak boleh rusak. Sementara itu, Tanah Air, Jakarta, Surabaya, Trenggalek, Bukittinggi, istri saya orang Minang, terkenang terus siang-malam. Keadaan kami bagaikan pepatah, jauh di mata dekat di hati,” ujarnya.

Di tengah kesulitan itu, Mudiro dan keluarga terus membagi ilmu mengenai Indonesia di lembaga-lembaga lain di China. Ia sering diminta memberikan mata kuliah umum tentang berbagai aspek mengenai Indonesia, seperti ilmu bumi, kemasyarakatan, ekonomi, termasuk kebudayaan Indonesia di hadapan mahasiswa Universitas Bahasa-bahasa Asing Beijing.

Pada awal 1980-an, Mudiro juga mulai mengumpulkan kata, istilah, ungkapan, dan peribahasa. Kumpulan kata-kata itulah yang menjadi Kamus Baru Bahasa Indonesia-Tionghoa. Kamus itu diterbitkan tahun 1988. Mudiro bekerja di bawah tim dari Universitas Peking pimpinan Profesor Liang Liji.

Dia juga menyusun Kamus Besar Tionghoa-Indonesia bersama tim pada Penerbit Bahasa Asing. Kamus itu diterbitkan tahun 1995 untuk diedarkan di Indonesia dan pada 1997 untuk diedarkan di China.

”Bagi saya ini penting. Saya bisa ’pulang’ ke Indonesia karena nama saya tercantum dalam kamus itu. Meski (waktu itu) secara fisik saya tetap berada di Beijing karena belum diizinkan pulang,” ujar bapak dua anak dan kakek dari tiga cucu ini. Pengalaman menyusun kamus selama 15 tahun itu sulit dilupakannya.


Mudiro pun rajin berkeliling daratan China. Ia banyak menulis tentang perjalanannya ketika berkunjung ke sejumlah daerah. Laporannya itu disiarkan China Radio International (CRI) Seksi Indonesia. Dia juga rajin menyunting artikel tentang seni dan budaya China, lalu disiarkan CRI.

Selain itu, Mudiro dan istrinya juga aktif mengajar di Universitas Bahasa-bahasa Asing Beijing, khususnya mengajar pelafalan bahasa Indonesia.

”Kadang kala para mahasiswa Tiongkok saya ajak menonton film Indonesia di rumah, lalu kami berdiskusi atau berjalan-jalan di taman sambil praktik berbahasa Indonesia. Atau, saya membuat masakan Indonesia, seperti gado-gado, nasi kuning, dan mereka mencicipinya,” ujarnya.

Mudiro sangat aktif dalam berbagai diskusi dan mendengarkan kuliah yang disampaikan oleh para pengajar jurusan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Peking, seperti Profesor Liang Liji, Huang Shenfang, Kong Yuanzhi, dan Ju Sanyuan.

Dia juga aktif diskusi dengan para Indonesianis dari negara lain, seperti A Teeuw dari Belanda, Denys Lombard dan Claudine Salmon dari Perancis, Stockhoff dari Belanda, dan Langenbergh dari Australia.

”Walaupun saya tidak bisa pulang (ke Indonesia), atas kemurahan hati dan perhatian dari berbagai pihak di Tiongkok, saya memperoleh pengetahuan berharga tentang Indonesia justru dari orang luar Indonesia,” ujar Mudiro yang bersyukur bisa mendapatkan perkembangan informasi tentang Indonesia dari para ”ahli Indonesia” itu.

Elisa Christiana - Bahasa Tionghoa UK Petra



Semangat dan keseriusan Elisa Christiana dalam mengembangkan bahasa mandarin sungguh luar biasa. Sampai-sampai, dalam waktu bersamaan, dosen sastra Tionghoa di Universitas Kristen (UK) Petra tersebut mengambil dua magister khusus untuk memperdalam dan menunjang bidang itu.

Oleh Vincentius Kharisma J.U.
Sumber: Jawa Pos 30 Mei 2010


Elisa, begitu dia akrab disapa, saat ini sedang menyelesaikan dua program magister, yakni di Huaqiao University Tiongkok dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). "Saya mengambil dua bidang yang berbeda," katanya.

Pakar modern Chinese dan Chinese literature tersebut menyatakan, dirinya mengambil dua program magister itu karena ingin melengkapi ilmu yang dimiliki. "Di Huaqiao saya belajar Chinese literature lagi dan di Unesa saya belajar di pascasarjana pendidikan bahasa dan sastra," ungkapnya. Untuk keduanya, kini Elisa sudah memasuki tahap akhir penyelesaian tesis.

Elisa mengatakan, selain ingin menambah ilmu, dirinya berkeinginan meningkatkan kualitas pembelajaran sastra Tionghoa di Surabaya, terutama di UK Petra. "Saat ini saya melihat bahwa jumlah guru atau pengajar bahasa Tionghoa sangat minim. Jadi, saya terpanggil untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya," jelas dia.

Elisa menyadari mengapa tenaga pengajar bahasa mandarin belum banyak. Sebab, bahasa tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain. "Bahasa Tionghoa tidak seperti bahasa lain karena tulisan dan bunyinya tidak sama. Tidak seperti bahasa Indonesia yang bunyi dan ucapannya sama," paparnya.

Dia menambahkan, nada pengucapan juga memengaruhi arti kata itu. Elisa lantas mencontohkan kata mai. Kata tersebut dapat berarti menjual dan membeli. "Jika diucapkan dengan nada rendah, itu artinya menjual. Lalu, jika diucapkan dengan nada tinggi, itu berarti membeli," terangnya. Dari contoh tersebut, dapat dibayangkan susahnya belajar bahasa mandarin, apalagi mengajarkannya.

Untuk studinya di Huaqiao, lulusan Sastra Inggris UK Petra itu mengambil fokus classical Chinese. "Ini adalah tahap lanjut dari studi saya yang terdahulu," ucapnya. Studi kali ini, menurut Elisa, lebih mirip mempelajari budaya dan sejarah bangsa Tiongkok.

Sebab, dengan mempelajari classical Chinese, dia harus lebih banyak mempelajari karya sastra yang berumur lebih dari 3 ribu tahun. "Tulisan ini banyak ditemui di dinding gua dan dinding bangunan kuno," imbuhnya.

Apa beda antara classical Chinese dan modern Chinese? "Kalau modern Chinese, perbendaharaan katanya tidak sebanyak classical Chinese," jelas Elisa. Menurut dia, saat ini yang banyak dipakai adalah modern Chinese atau yang dikenal sebagai Chinese simplified. "Dari segi bahasa dan tulisan, Chinese simplified jauh lebih sederhana dan mudah dipelajari," ujarnya.

Classical Chinese atau Chinese traditional sendiri malah lebih banyak digunakan di Taiwan dan Hongkong. Sedangkan di Tiongkok daratan, lebih banyak digunakan Chinese simplified. Begitu pula halnya di Singapura. "Saat ini memang hanya ada di beberapa negara (yang menggunakan classical Chinese, Red) karena kerumitannya tersebut," ungkap wanita berkulit putih itu.

Perbedaan lain, lanjut Elisa, classical Chinese lebih intelektual dan lebih halus. "Kalau diibaratkan mirip kromo inggil," ujarnya lantas terkekeh. Selain memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dan lebih halus, aksara mandarin pada classical Chinese punya makna lebih utuh.

Ibu dua anak tersebut lantas memberikan contoh dengan menuliskan huruf yang memiliki arti negara. Dalam huruf classical Chinese, negara mengandung makna demikian: negara harus mempunyai wilayah, negara harus memiliki rakyat yang harus diberi makan, negara memiliki senjata dan armada tempur, serta negara harus punya kesatuan. Tapi, dalam huruf versi modern, negara memiliki makna: negara harus mempunyai wilayah, negara harus mempunyai pemimpin, negara memiliki pejabat atau orang kaya.

Saat ini Elisa tengah menyelesaikan tesisnya mengenai perkembangan bahasa suku Hakka di Indonesia untuk Huaqiao University. Sedangkan untuk di Unesa, dia menyelesaikan topik tentang teknik pengajaran karakter Han Zi (karakter bahasa mandarin). "Saya harus pintar bagi waktu untuk kuliah dan mengajar," ujarnya sembari tersenyum.

Rencananya, Juni dan Juli mendatang Elisa merampungkan dua studi magisternya tersebut. "Satu sampai dua bulan mendatang, saya akan sidang tesis," ucapnya. "Doakan saya lulus ya," sambungnya.

Rencananya, sidang untuk topik bahasa Hakka diadakan di Huaqiao University di Kota Jimei, Provinsi Fujian, Tiongkok. "Selama ini saya kuliah di Surabaya. Dosennya dipanggil ke Surabaya," terangnya.

Elisa dan 12 temannya memang menempuh kuliah jarak jauh untuk studinya di Huaqiao. Untuk kuliah tatap muka, dosennya yang datang ke Surabaya. "Saya ndak mungkin bolak-balik ke Tiongkok karena saya juga mengajar," jelasnya. Maka, Elisa meminta universitas mengirimkan dosennya ke Kota Pahlawan. "Saat ini di Indonesia ada tiga kota yang memanggil dosen dari Huaqiao," jelasnya.

Ya, teman-teman Elisa yang sedang mendalami bidang yang sama rata-rata memang orang sibuk. "Banyak teman saya yang bekerja. Jadi, kami sejak awal meminta Huaqiao mengirimkan staf pengajarnya," terang wanita berambut ikal tersebut. Jika sudah selesai mengerjakan tesis atau tugas akhir, baru mereka berangkat ke Tiongkok untuk sidang.

Kuliah tatap muka dilakukan di sebuah hotel di Surabaya. Tiap 1,5 bulan dosen datang. Selama seminggu penuh, dia memberikan materi kuliah.

Tidak hanya sibuk dengan kuliah dan mengajar, mantan ketua Jurusan Sastra Tionghoa UK Petra tersebut hingga kini juga aktif di berbagai perkumpulan warga Tionghoa di Surabaya. Tak tanggung-tanggung, saat ini dia menjadi pengurus di sembilan perkumpulan.

Di antaranya di Asosiasi Pengajar Bahasa Tionghoa Honghua, Himpunan Pendidik Bahasa Tionghoa Jawa Timur, dan Ikatan Guru Bahasa Tionghoa Surabaya. Selain itu, dia menjabat ketua Asosiasi Pengajar Bahasa Tionghoa Honghua dan Ikatan Guru Bahasa Tionghoa Surabaya. (c9/nw)

28 May 2010

Koran di NTT Sangat Lokal




Di Kupang, Nusatenggara Timur, tiap pagi saya membaca koran harian POS KUPANG. Sesekali membaca TIMOR EXPRESS alias TIMEX. POS KUPANG milik Kelompok Kompas Gramedia, sedangkan TIMEX milik Grup Jawa Pos.

Meski berada di bawah manajemen konglomerat media, penampilan kedua koran utama di NTT ini tidak menarik. Mirip koran-koran lawas tahun 1980-an, bahkan 1970-an, ketika teknologi komputer belum dikenal. Desainnya pas-pasan. Foto-foto tidak menarik. Tata letak payah.

Yang jadi masalah utama koran-koran di luar Jawa, khususnya NTT, adalah kertas. Kertas sangat mahal dan harus dibeli di Jawa. Karena itu, kertas yang dipakai POS KUPANG dan TIMEX berkualitas rendahan. Dan itu akan sangat terlihat pada hasil akhir koran ketika berada di tangan pembaca. Foto-foto tidak bisa tajam.

Toh, kita orang masih bisa baca koran, bukan? Urusan penampilan, eye catching, belum masuk dalam kamus pengelola koran-koran di luar Jawa, khususnya NTT. Yang penting, berita-beritanya.

Saya jadi teringat masa kecil ketika bapak saya masih berlangganan koran mingguan DIAN yang terbit di Ende, Flores. Tata letak, desain, mutu kertas... semuanya jelek, tapi orang-orang NTT sangat suka membaca si DIAN ini. Termasuk membaca berita kecil-kecil yang tidak signifikan, misalnya, perpisahan anak-anak SD di Ende atau Ruteng.

Khusus untuk urusan isi atawa konten, saya harus angkat topi untuk POS KUPANG dan TIMEX. Hampir semua beritanya, dari halaman pertama sampai terakhir, berita-berita lokal. Ini yang sulit saya temukan di Jawa yang koran-korannya sangat Jakarta-sentris. Apa-apa yang dari Jakarta dikasih porsi sangat besar oleh koran-koran di Jawa.

Media-media NTT beda. Mereka sejak dulu berani mengangkat isu lokal, bahkan sangat lokal, di halaman depan sampai akhir. Kecuali berita olahraga yang banyak diwarnai liputan sepak bola liga-liga Eropa dan persiapan Piala Dunia.

Maka, setiap hari saya menikmati isu politik tentang pemilihan bupati Flores Timur yang terkatung-katung. Simon Hayon bersama pasangannya, terkenal dengan paket Mondial, dijegal KPU Flores Timur karena berbagai alasan. Kemudian Victor Lerik, ketua DPRD Kota Kupang, yang ditahan karena kasus pidana mengancam akan mencekik seorang pengusaha. Ada lagi berita tentang Daniel Hurek, wakil wali kota Kupang, yang membayar pajak bumi dan bangunan.

Isu-isu nasional yang selama ini dianggap besar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar di Jawa rupanya tak dapat tempat. Berita seputar Komjen Susno Duadji tidak ada. Anas Urbaningrum yang menang pemilihan ketua Partai Demokrat tidak dibahas. Kalau mau tahu isu-isu nasional macam itu, silakan menonton televisi yang memang sangat terang di Kupang. Jangan cari di POS KUPANG, TIMEX, atau FLORES POS!

Salahkah kebijakan redaksional koran-koran di NTT yang sangat fokus ke isu-isu lokal? TIDAK SALAH. Bahkan, seharusnya semua media berani mengedepankan berita-berita dan analisis tentang masalah di daerahnya masing-masing. Bukan malah ikut bergenit-genit ria dengan isu nasional yang sudah banyak dibahas di televisi kayak Metro TV dan TV One atau situs-situs berita macam www.detiknews.com atau www.okezone.com atau www.antara.co.id.

Teman-teman wartawan di NTT sudah lama dipuji kalangan pengamat media atau media watch karena liputan-liputannya yang nyaris 100 persen lokal. Semoga konsistensi media-media NTT ini tetap dijaga. Jangan mau tergoda oleh gaya liputan pers di Jawa yang sangat berkiblat ke Jakarta. Di Kupang, setelah membolak-balik 50-an edisi POS KUPANG, saya jarang menemukan berita kegiatan menteri, bahkan presiden sekalipun.

Isu Simon Hayon, Victor Lerik, kredit mobil anggota DPRD NTT jauh lebih menarik. Berita tentang persiapan turnamen sepak bola Piala El Tari, yang diikuti 21 kabupaten, juga jauh lebih disukai ketimbang pertandingan Liga Super Indonesia. Bisa jadi karena sejak dulu klub-klub NTT tak pernah berhasil menembus kompetisi sepak bola kelas nasional.

Bae sonde bae, Flobamora (NTT) lebe bae! Baik tidak baik, Flobamora lebih baik! Jargon khas NTT ini rupanya berlaku pula untuk media massa di NTT.

Marga Po di Jatim

Fu Shuigen, mantan konjen RRT di Surabaya.
 Selain sebagai wadah untuk mempererat hubungan persaudaraan sesama marga (she), Yayasan Sosial Marga Po aktif mengadakan kegiatan sosial. Yayasan juga berkomitmen untuk menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

"Selama ini aktivitas kami diadakan secara internal. Jarang dipublikasikan. Makanya, banyak yang belum tahu Yayasan Marga Po," ujar Po Tjie Swie, wakil ketua Yayasan Sosial Marga Po Jawa Timur, kepada Radar Surabaya, Selasa (18/5/2010).

Seperti juga marga-marga Tionghoa lainnya, menurut dia, Yayasan Sosial Marga Po berusaha menghimpun warga Tionghoa bermarga Po yang tersebar di seluruh Indonesia. Upaya ini gampang-gampang sulit, khususnya pada era Orde Baru, karena waktu itu banyak orang Tionghoa yang sengaja menyembunyikan marganya.

Nama yayasan ini pun dulu lebih dikenal sebagai Yayasan Margo Budi Mulia. Marga Po sama sekali tidak disebut. "Tapi secara internal sih orang tahu kalau Margo Budi Mulia itu yayasan untuk marga Po," kata Tjie Swie seraya tersenyum.

Kini, setelah diadakan konsolidasi organisasi, Yayasan Margo Budi Mulia berubah menjadi Yayasan Sosial Marga Po. Kata 'sosial', menurut Tjie Swie, sangat ditekankan karena para pengurus memang ingin mengajak semua anggota untuk terlibat dalam kegiatan sosial.

"Kita sudah banyak kali mengadakan bakti sosial seperti pengobatan gratis, bantuan sembako, biaya pendidikan, dan sebagainya. Dan itu akan selalu menjadi program yayasan ini," tegas pria yang fasih berbahasa Tionghoa itu.

Keberadaan Yayasan Sosial Marga Po di Jatim sempat menarik perhatian Konjen Tiongkok dulu dijabat Fu Shuigen. Marga diplomat senior yang akrab disapa Mr Fu itu ternyata marga Po juga.

"Fu itu ya sama dengan Po. Makanya, kami sempat audiensi dengan Mr Fu. Nggak nyangka kok marga kami sama dan dia ditugaskan di Surabaya," kata Tjie Swie. (lambertus hurek)

Puasa Internet di Kupang



TIGA KEPONAKAN: Haris, Karin, Fidel di Kupang, NTT.

Bertahun-tahun kerja, cari uang, hiburan.. di Jawa membuat irama hidup kita stabil. Terjebak rutinitas dari itu ke itu saja. Maka, saya sangat bahagia bisa kembali ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, meski hanya empat hari. Saya tidak bisa ke kampung di pelosok Lembata sana karena kebetulan ayahanda tercinta, Nikolaus Hurek, sedang istirahat dan treatment kesehatan di Kupang.

Hati begitu lega ketika malam-malam, pukul 23.00 lebih, saya dijemput Vincentia alias Yus, adik saya, dan Hendrik, suaminya. Puji Tuhan, saya akhirnya kembali menjejakkan kaki di bumi Flobamora. Orang NTT macam saya memang selalu bangga dengan Flobamora meskipun provinsi ini paling sering mencatat prestasi buruk di Indonesia.

Terakhir, NTT "juara satu" dari belakang untuk tingkat ketidaklulusan siswa. Belum lagi prestasi soal kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan, hingga arus TKI yang tak jua terbendung. Bae sonde bae, Flobamora lebe bae! Ketong makan jagung titi sonde apa-apa!

Inilah kali pertama saya benar-benar BEBAS dari rutinitas. Puasa internet. Tak hiraukan perkembangan politik nasional yang makin heboh, Susno Duadji, hingga bocah pasien Ramdan alias Putra di Surabaya yang akhirnya meninggal dunia. Saya juga menonaktifkan ponsel sehingga saya bisa bebas lepas dari gaya hidup mekanis dan rutinitas ala kota.

Untuk urusan makanan pun sama. Selama di Kupang, saya hanya makan nasi jagung dan lauk khas NTT. Wow, ternyata ikan laut di Kupang ini jauh lebih sedap ketimbang ikan-ikan sejenis di Jawa Timur. Makan pun lebih lahap. Karena itu, saya aktif berolahraga jalan kaki di kawasan Sikumana serta main bulutangkis bersama Haris, ponakan saya, anaknya Erni, adik saya. Kadang main sama Fidel, ponakan yang lain, anaknya Yus.

Malam hari, berbeda dengan di Jawa, orang Kupang tidur lebih cepat. Pukul 21.00 Wita, paling telat pukul 22.00, hampir semua orang sudah tidur. Tak ada yang peduli dengan breaking news di televisi atau acaranya Tukul Arwana, Bukan Empat Mata, yang tidak bermutu itu. Saya lihat dua televisi di rumah Yus lebih banyak nganggurnya.

"Go matak odo-odo ka go turu ki," kata penghuni rumah di Sikumana yang semuanya berasal dari Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Begitulah. Meskipun berada di Kupang, suasana yang muncul benar-benar Ile Ape, kampung halaman saya di pelosok Lembata. Kami hampir selalu berbahasa daerah, kecuali berbahasa Kupang dengan dua keponakan, Fidel Watun dan Karin Watun, yang paham bahasa Lamaholot, tapi selalu berbahasa Kupang.

Diam-diam saya mengagumi kemajuan di NTT meskipun tidaklah sepesat di Jawa. Sekarang ini penerbangan ke seluruh NTT, termasuk Lembata, lancar jaya. Tarifnya pun tidak semahal tahun 1980-an dan 1990-an. Lion Air, Batavia Air, Trans Nusa, Mandala, Merpati... dan entah maskapai apa lagi sudah berjasa melayani rakyat NTT yang tinggal terpisah di sekian banyak pulau.

"Pesawat ke Lewoleba hanya 45 menit," kata Yus. Dua jempol untuk maskapai penerbangan Trans Nusa!

Wow! Kalau begitu, saya harus mengurangi acara-acara ngelencer ke Jakarta, Jogja, dan kota-kota lain di Jawa, banyak menabung, agar bisa lebih sering pulang ke NTT. Beta suka jagung titi, gula lempe, dan sei na!

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!

21 May 2010

Warung Broto di Gereja HKY



Pak Rasno dan Pak Ketut Fransiskus jaga pos HKY. Warung Broto kebetulan lagi libur.

Tanpa banyak gembar-gembor, selama 30 tahun lebih umat Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya ikut melayani wong cilik dengan membuka Warung Broto. Warung sederhana di pintu masuk Wisma Pastoran, Jalan Mojopahit 38-B Surabaya itu buka setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

"Ide Warung Boroto ini berasal dari Romo Rekso Subroto CM yang dulu menjabat pastor paroki HKY. Warung ini sengaja dibuat untuk melayani para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja," kata Pastor Paroki HKY Romo Eko Budi Susilo.

Semangat melayani para kaum miskin memang sangat ditekankan Romo Rekso Subroto. Biarawan Kongregasi Misi ini menilai tukang becak adalah orang-orang kecil yang lekat dengan panas terik, hujan, peluh, dan kerja fisik. Karena itu, dia ingin mereka bisa mendapat pasokan makanan yang cukup untuk bekerja dan menyisihkan sebagian uang untuk keluarga.

Menurut Romo Eko, konsistensi Warung Broto yang mampu eksis selama tiga dasawarsa tak lepas dari peran serta jemaat, terutama ibu-ibu. Mereka inilah yang menyiapkan berbagai menu bergizi bagi para tukang becak. Masing-masing wilayah di Paroki HKY bergiliran memasak untuk Warung Broto.

Mereka mengusahakan agar makanan yang disediakan memenuhi kriteria empat sehat. Belum lima sempurna karena rata-rata para tukang becak kurang suka minum susu. Tak jarang, umat harus nombok agar pelayanan di Warung Broto itu jalan. "Syukurlah, sampai sekarang tidak ada masalah," kata Romo Eko.

Berbeda dengan warung-warung biasa, makanan di Warung Broto dijual dengan harga supermurah, Rp 1.000. Bahkan, Rp 250 dari uang tersebut dijadikan tabungan oleh pengelola warung yang nantinya akan dikembalikan lagi kepada mereka. Untuk memudahkan administrasi, setiap tukang becak diminta mengisi formulir keanggotaan Warung Broto.

Mereka kemudian mendapat kartu anggota, sehingga setiap kali makan di Broto cukup membayar Rp 1.000. "Dan otomatis tabungannya bertambah Rp 250," papar Romo Eko. Saat ini Warung Broto punya lebih dari 50 anggota dari kalangan tukang becak.

Ke depan, Warung Broto tidak hanya menyediakan makanan saja, tapi ingin menjalin ikatan batin yang erat dengan para tukang becak. Koordinator Pelaksana Warung Broto Imelda Chrisianti menjelaskan, pihaknya mengupayakan tabungan di luar Rp 250 yang dikutip dari harga makanan.

Para tukang becak dapat menitipkan uangnya dan dapat diambil saat hari raya maupun keperluan insidental. Jika ada keluarga yang sakit dan butuh biaya pengobatan, maka tabungan itu bisa dipakai.

”Saya prihatin dengan nasib tukang becak yang kebanyakan para perantau yang mencari nafkah di Surabaya. Mereka tidur dan hidup di becak, sehingga mungkin tidak punya tempat untuk menyimpan uang hasil nafkah mereka," ujar Imelda. (rek)

Mandarin ala Yayasan Cheng Hoo



Bahasa Mandarin semakin luas digunakan di tanah air. Pada saat bersamaan makin banyak warga Tiongkok, Taiwan, dan Hongkong yang datang berkunjung sebagai turis maupun pekerja tetap.

Karena itu, Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) menerbitkan buku praktis belajar bahasa Tionghoa dan bahasa Indonesia. Buku tipis setebal 20 halaman ini memang dimaksudkan untuk memperkenalkan kata-kata sederhana baik untuk orang Indonesia maupun Tiongkok.

Mula-mula diperkenalkan sapaan khas seperti NI HAO (apa kabar), HUAN YING (selamat datang), DUI BU QI (maaf), atau ZAI JIAN (sampai jumpa). Kemudian kata bilangan, percakapan telepon sederhana, belanja di pasar, makanan, hingga menjaga orang sakit.

Bagi orang Indonesia, buku ini lebih sederhana karena mencantumkan cara pengucapan ala Indonesia yang sangat berbeda dengan sistem penulisan standar pin-yin. Sebagai contoh, kalimat MEI GUAN XI harus dibaca MEI KUAN SI atau ZAI JIAN harus dibaca CAI JIEN.

"Kalau Anda membaca tulisan Mandarin seperti membaca kata-kata bahasa Indonesia, ya, jelas orang Tiongkok atau Taiwan nggak akan paham. Kacau balau," kata Ling Ling, gadis asal Shanghai, Tiongkok, yang tinggal di Surabaya.

Sebaliknya, bagi penutur asli dari Tiongkok, buku ini mudah dibaca karena dilengkapi aksara hanzi. Hanya saja, hampir semua warga Tiongkok kesulitan membaca aksara Latin yang digunakan secara luas di dunia internasional.

Kalaupun bisa membaca, bunyinya akan sangat berbeda dengan versi Indonesia. Frase TERIMA KASIH BANYAK, misalnya, oleh orang Tiongkok dibaca TELIMA KASIH PANYAK.

"Jadi, bagaimanapun juga harus ada guru atau teman bicara yang paham bahasa Indonesia dan Mandarin. Kalau hanya sekadar membaca di buku, ya, susah," kata Ling Ling. (rek)

20 May 2010

4 Kasta Pendidikan

Orang Miskin Dilarang Sekolah!

Demikian judul buku karya Eko Prasetyo, terbitan Resist Book, Jogjakarta, 2004. Dalam buku 256 halaman itu, Eko mengupas praktik komersialisasi pendidikan kita. Jangankan keluarga miskin, PNS, karyawan swasta, pun ngos-ngosan membayar biaya SD, bahkan TK, anak-anaknya. Boro-boro membiayai kuliah di Fakultas Kedokteran.

Prinsip education for all makin dikesampingkan. Amanat konstitusi, Pasal 31 UUD 1945, hanya manis di atas kertas. Yang muncul justru empat kasta pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

Kasta I: Anak pintar, ortu kaya.

Merekalah orang yang paling berbahagia sejak belum dilahirkan. Mulai bayi sudah sekolah mahal di baby school. Les piano. Bahasa Inggris. Mandarin. Fashion. Ikut lomba-lomba bergengsi. Dikirim ke luar negeri untuk lomba ini-itu. Sejak zaman dulu mahasiswa Fakultas Kedokteran tergolong Kasta I.

Karena itu, tidak heran kalau hampir tidak ada orang NTT yang kuliah di kedokteran. Mau bayar pakai daun? Prek!


Kasta II: Anak kurang pintar, ortu kaya.

Karena duit orang tuanya banyak, bertumpuk, anak-anak ini bisa disekolahkan di mana saja baik di dalam maupun luar negeri. Bukankah otaknya rada-rada majal?

Gampang. Banyak jalur untuk membeli tiket masuk universitas negeri dengan menyetor uang puluhan atau ratusan juta. Kasta II ini juga paling sering membeli ijazah atau nilai pada dosen atau kampus. Semua bisa diatur, asal ada UANG. Kasta II ini sangat disukai kampus-kampus karena mereka mau saja membayar mahal, berapa pun, asalkan bisa kuliah di kampus bergengsi.

Kasta III: Anak pintar, ortu miskin.

Begitu banyak anak-anak berprestasi, unas tertinggi, juara lomba sains... tak bisa kuliah karena orang tua miskin. Mereka disingkirkan secara sistematis oleh sistem pendidikan yang makin kapitalistis dan money oriented. Kampus bukan lagi kumpulan calon-calon intelektual, peneliti, pemikir, melainkan para pemburu gelar bin ijazah. Banyak kampus baru di Indonesia didirikan untuk “mengakomodasi” anak-anak Kasta III ini. Tak peduli kualitas lulusan menjadi hancur-hancuran.

Kasta IV: Anak kurang pintar, ortu miskin.

Paling sial dan tidak pernah bahagia. Sama dengan kasta sudra yang sangat sulit membebaskan diri dari keterpurukan struktural. Orang-orang macam ini perlu diberi pelatihan khusus oleh negara agar langsung kerja. Jadi tukang listrik, tukang kebun, tukang jahit, dan seterusnya. Jangan disuruh menguraikan teorema Phytagoras, rumus ABC, trigonometri, hukum Newton, dan seterusnya.

Sebenarnya juga ada kasta medioker atau tanggung: ortu tak kaya, tapi juga tidak bisa dibilang miskin.

Nah, dengan kasta pendidikan, yang merupakan implikasi kebijakan pemerintah, maka praktis hanya Kasta I dan II yang bisa kuliah. Kasta III, meskipun pintar, bahkan jenius, tak akan mampu membayar SPP puluhan juta. Apalagi, kuliah di Kedokteran.

Kasus Wildan Rabbani Kurniawan, peraih nilai unas tertinggi Jatim asal SMAN 1 Gresik, menjadi contoh kasus malapraktik pendidikan. Wildan jelas Kasta III. Bapaknya, Kusdaryanto, tak punya pekerjaan tetap.

Di Tiongkok, sejak era Deng Xiaoping, pemerintah punya perhatian khusus pada anak-anak jenius kayak si Wildan ini. Mereka dibiayai negara hingga doktor baik di dalam maupun luar negeri. Dus, tidak perlu ‘mengadu’ ke koran atau televisi.

18 May 2010

HM Handoko alias Poo Tji Swie



Di sela-sela kesibukannya sebagai dealer salah satu merek sepeda motor Jepang ternama, HM Handoko aktif mengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sidoarjo. Dia juga tak segan-segan bergabung dengan partai politik.

KESIBUKAN Handoko, yang bernama Tionghoa, Poo Tji Swie, ini memang luar biasa. Pagi hingga siang mengurus bisnis, berhubungan dengan konsumen, relasi, hingga kalangan perbankan. Namun, di sela kesibukan itu, Handoko bisa dengan mudah melakukan 'improvisasi' dengan bertemu orang-orang nonbisnis seperti politisi, aktivis ormas, hingga pengurus PITI.

Sebagai salah satu tokoh teras Partai Golkar Sidoarjo, tentu saja Handoko ikut sibuk membahas persiapan pemilihan bupati di Sidoarjo. Dia banyak memberi masukan tentang strategi, taktik, hingga analisis mengenai kemampuan para kandidat. Handoko sejak dulu punya feeling yang kuat dalam menebak hasil pemilu.

"Saya memang tidak bisa diam. Ada saja yang harus saya kerjakan. Dan itu membuat saya lebih semangat dalam menjalani kehidupan ini," ujar ayah dua anak ini, Yuliana Handoko dan Albert Handoko, kepada Radar Surabaya pekan lalu (pertengahan Mei 2010).

Sebagai muslim Tionghoa, selama ini nama HM Handoko alias Poo Tji Swie identik dengan PITI. Maklum, dialah yang dipercaya untuk babat alas organisasi para mualaf keturunan Tionghoa di Kabupaten Sidoarjo. Selama tiga periode atau 15 tahun lebih, Handoko menjadi orang nomor satu di PITI Sidoarjo.

"Saya sih maunya tidak lama-lama mengurus PITI. Kalau bisa cukup satu periode, gantian ke orang lain. Tapi ternyata mencari orang yang bersedia meluangkan waktu untuk organisasi itu gak gampang," katanya seraya tersenyum.

Ketika hendak mengakhiri periode kedua di PITI Sidoarjo, Handoko mengaku sudah mengader beberapa aktivis muslim Tionghoa untuk menggantikan posisinya di PITI. Dia bikin acara-acara keagamaan Islam, bakti sosial seperti sunatan massal, hingga diskusi atau audiensi dengan pejabat. Handoko pun senang karena para pengusaha muslim Tionghoa yang selama ini hanya fokus di bisnis mulai bersedia membagi waktu untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Sayang, ketika menjelang muktamar untuk mengganti dirinya, para kader itu merasa belum siap mengelola organisasi PITI. Handoko pun geleng-geleng kepala. Pria yang fasih bahasa Hokkian dan Mandarin ini kemudian sengaja mengulur-ulur waktu muktamar sambil melakukan lobi-lobi dengan beberapa kader muda yang dianggap potensial. Hasilnya? "Tidak memuaskan," kenang Handoko.

Apa boleh buat, muktamar PITI Sidoarjo akhirnya digelar juga pada 2005. Dan HM Handoko terpilih kembali sebagai ketua PITI Sidoarjo untuk masa jabatan lima tahun. "Itu yang membuat saya selalu identik dengan PITi Sidoarjo. Orang kalau omong PITI Sidoarjo, ya, mesti larinya ke saya. Padahal, saya sendiri sih tidak ingin berlama-lama duduk di depan," katanya.

Mengurus organisasi sosial keagamaan seperti PITI Sidoarjo, menurut Handoko, sangat berbeda dengan organisasi politik, parlemen, pemerintahan, atau organisasi bisnis. Kalau di dunia politik orang berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi bupati/wali kota, gubernur, atau anggota dewan, di PITI malah seakan berlomba-lomba menghindar.

"Sebab, di PITI itu kita harus benar-benar berjiwa sosial yang tinggi. Kita harus banyak berkorban untuk organisasi dan masyarakat," akunya.


Salah satu obsesi HM Handoko adalah membangun masjid berarsitektur Tionghoa di Kabupaten Sidoarjo. Sayang, sampai sekarang impian itu belum juga terwujud.

HARUS diakui, Masjid Cheng Hoo di Jalan Gading 2 Surabaya yang arsitekturnya unik, khas Tionghoa, bahkan sekilas mirip klenteng, menjadi inspirasi bagi para pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di seluruh Indonesia. Bahkan, mereka yang bikin PITI pun tergerak untuk mendirikan masjid sejenis di kotanya masing-masing.

Tak usah jauh-jauh. Di Pandaan, tetangga Sidoarjo, sudah berdiri Masjid Cheng Hoo milik Pemkab Pasuruan yang sangat menarik perhatian para pengguna jalan Surabaya-Malang. Di Sumatera pun sudah ada masjid semacam Masjid Cheng Hoo di Surabaya. "Nah, saya ingin Sidoarjo punya Masjid Cheng Hoo juga. Bahkan, kita sudah punya konsep sebelum yang di Pandaan itu jadi," kata HM Handoko kepada Radar Surabaya belum lama ini.

Konsep Masjid Cheng Hoo Sidoarjo yang digodok Handoko dan kawan-kawan sebetulnya mirip dengan Cheng Hoo Surabaya. Selain masjid berarsitektur Tionghoa, Handoko menginginkan pusat budaya Islam dan Tionghoa, sekolah, perpustakaan, lapangan olahraga, gedung serbaguna. Karena itu, lahannya harus cukup luas.

"Kalau sekadar masjid yang biasa-biasa saja, buat apa? Kita ingin ada nilai tambah bagi masyarakat di Kabupaten Sidoarjo," ujar pria bernama asli Poo Tji Swie itu.

Setelah membahas secara internal, Handoko bersama beberapa pengurus teras PITI Sidoarjo mengadakan audiensi dengan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso dan pejabat-pejabat lain. Intinya, Win Hendrarso memberikan respons positif. Handoko juga menggelar jumpa pers untuk mengetuk hati para pengusaha Tionghoa baik muslim maupun nonmuslim yang peduli pada rencana pembangunan Masjid Cheng Hoo Sidoarjo.

"Alhamdulillah, banyak pihak yang tertarik untuk memberikan dukungan. Itu yang membuat saya dan teman-teman sangat antusias. Insya Allah, jadi," kenang ayah dua anak ini.

Sayang, setelah konsep itu digulirkan selama lima tahun, rencana pembangunan Masjid Cheng Hoo Sidoarjo tak kunjung terealisasi. Pemkab Pasuruan yang tak pernah gembor-gembor justru lebih dulu mewujudkan masjid berarsitektur Tionghoa. Handoko pun mulai lemas dan tampaknya tak lagi berselera membicarakan rencana pembangunan Masjid Cheng Hoo.

"Tapi kita tetap punya komitmen ke sana kok," tegasnya.

Menurut Handoko, persoalan utama yang mengganjal rencana pembangunan Masjid Cheng Hoo di Sidoarjo adalah persoalan lahan. Awalnya, beberapa pengusaha properti alias pengembang berjanji menghibahkan sebagai lahan fasilitas umum (fasum) kepada PITI Sidoarjo. Ukurannya pun cukup memadai. "Tapi belakangan komitmennya kurang kuat," katanya.


Di era Orde Baru, warga keturunan Tionghoa sangat alergi politik. Mereka fokus 100 persen di bisnis. Setelah Orde Baru ambruk pada 1998, banyak pengusaha Tionghoa yang mulai terjun ke politik. Salah satunya Haji Muhammad Handoko.


SEBAGAI orang Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), HM Handoko tentu saja aktif turun ke lapangan. Bikin pengajian, bakti sosial, mengunjungi kiai-kiai berpengaruh, hingga menyumbang sejumlah masjid dan ormas Islam. Nama Handoko pun akhirnya dikenal luas di Kabupaten Sidoarjo, khususnya di kawasan Sedati dan sekitarnya.

Aktivitas sosial keagamaan ini ternyata menjadi modal yang besar bagi Handoko setelah reformasi. Ketika partai-partai baru bermunculan setelah Orde Baru tumbang, Handoko pun dilirik sejumlah aktivis politik di partai baru. Singkat kata, Handoko akhirnya memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Handoko sangat aktif dalam proses pembentukan PKB di Jawa Timur. "Saya memang cocok dengan figur Gus Dur dan komunitas nahdliyin. Kita memang ingin mengedepankan pemahaman Islam yang ramah, toleran, dan demokratis," kata pengusaha diler sebuah merek sepeda motor terkenal asal Jepang itu.

Handoko bahkan kemudian dipercaya menjadi pengurus teras di partai bintang sembilan itu. Sejak itu aktivitas keseharian ayah dua anak itu luar biasa padatnya. Sambil mengurus bisnis, ada saja aktivis politik yang datang ke kantornya di kawasan Sedati Agung.

"Saya menjadi paham liku-liku dan seluk-beluk politik. Bahwa di politik itu faktor kepentingan sangat dominan. Kalau sudah bicara kepentingan, teman sendiri bisa disikut," katanya.

Alhasil, selama 10 tahun terakhir, Handoko sudah mencicipi pengalaman sebagai aktivis, bahkan pengurus, beberapa partai politik. Ketika dia berusaha mengambil jarak dengan dunia politik, ada saja kader partai yang merangkulnya. "Saya pikir berpolitik juga bagian dari pengabdian kita kepada masyarakat. Politik juga bisa dikatakan sebagai ibadah," ujar pria yang kini menjadi pengurus DPD Partai Golkar Sidoarjo itu.

Sebagai warga negara yang baik, menurut Handoko, orang Tionghoa seharusnya perlu memberi warna tersendiri pada kehidupan politik di tanah air. Sebab, suka tidak suka, berbagai kebijakan dalam kehidupan berbangga dan bernegara ditentukan oleh para politisi di lembaga legislatif atau eksekutif. "Maka, orang Tionghoa perlu terlibat di politik supaya kita bisa bicara, kasih masukan, dan ikut menentukan kebijakan publik," tegasnya.

Hanya, Handoko buru-buru menambahkan, semua orang PITI yang terjun ke politik tidak boleh membawa-bawa organisasi, melainkan pribadi. Sebab, PITI itu organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi politik. PITI pun tidak dibenarkan terlibat dalam dukung-mendukung calon tertentu.

"Apalagi, orang PITI itu partainya bermacam-macam. Ada yang Golkar, PKB, PAN, Demokrat, dan sebagainya," akunya.

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 13-15 Mei 2010.

Sartika dan Klenteng Jun Cin Kiung


Tak terasa, sudah 25 tahun Sartika mengabdikan diri sebagai bio kong atau penjaga Klenteng Jun Cin Kiung di Jalan Ir Anwari 9 Surabaya. Sartika juga melakoni hidup sebagai vegetarian.

Di usia yang sudah senja, 72 tahun, Sartika mengaku tak punya banyak keluhan seputar kesehatannya. Dia masih lincah ke pasar, menghadiri undangan, dan rajin mengurus Klenteng Jun Cin Kiung yang menjadi tugas rutinnya sehari-hari.

"Paling hanya flu atau maag. Syukurlah, saya masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk klenteng ini," ujar Sartika alias Xiao Cao Ing kepada Radar Surabaya, Jumat (14/5/2010) siang. Saat itu beberapa jemaat sedang melakukan sembahyang, ritual rutin bulanan. Dan Sartika siap melayani sejumlah barang yang dibutuhkan untuk ritual khas Tionghoa.

Sebagai penjaga rumah klenteng, yang setiap saat berurusan dengan peribadatan, Sartika yakin fisiknya yang masih kuat di usia senja tak lepas dari karunia-Nya. Selain itu, laku vegetarian yang ditekuninya selama hampir empat dekade memang telah terbukti khasiatnya. "Saya mulai jadi vegetarian sejak tahun 1972. Gak pernah makan makanan hewani. Lauk saya, ya, tahu, tempe,kacang-kacangan," katanya seraya tersenyum.

Apa tidak kekurangan gizi atau lemas? "Apa kamu lihat saya lemah? Biasa aja tuh. Orang vegetarian itu gak akan kekurangan gizi kok. Kalo lemas mah, saya kagak bisa kerja," tukas Sartika dengan logat Betawi yang kental.

Sartika mengaku sudah lama mengetahui ajaran agama Buddha terkait vegetarianisme sejak kecil. Apalagi, dia memang sudah lama bekerja di sebuah klenteng terkenal di Jakarta. Namun, pada 1972, ketika mengikuti acara bersama rohaniwan asal Taiwan, dia bertekad untuk menjalani laku vegetarian secara total.

"Kuncinya ada di sini: iman," ujar Sartika. Tanpa niat dan iman yang kuat, menurut dia, sulit bagi seseorang menjadi vegetarian sepanjang hayatnya. Jika iman sudah kuat, maka tak ada halangan dalam menjalani praktik yang dinilai berat oleh kebanyakan orang itu.

"Kayak orang Islam puasalah. Kalau punya niat, iman, pasti bisa tahan tidak makan minum selama satu bulan," katanya.

Ditanya mengenai 'godaan' untuk menikmati makanan hewani seperti sate ayam, gule kabing, ayam bakar, atau ikan laut, Sartika mengaku tidak ada. Bila menghadiri undangan pernikahan, misalnya, dia hanya memilih makanan nonhewani. Atau, cuma mencicipi buah-buahan dan sayur-sayuran.

"Lagian, banyak orang udah tau kalo saya ini vegetarian. Jadi, gak masalah," katanya.

SEBAGAI bio kong, Sartika harus tinggal di kompleks Klenteng Jun Cin Kiung, Jalan Ir Anwari 9 Surabaya. Di samping ruang ibadah memang ada kamar untuk tempat tinggal layaknya rumah biasa. Di situlah Sartika (72) menjalani hari-hari hidupnya dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan persembahyangan.

"Saya sudah berada di sini sejak tahun 1985. Gak terasa sudah cukup lama ya," ujar Xiai Cao Ing, nama Tionghoa Sartika, kepada Radar Surabaya.

Berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lain, menurut Sartika, bekerja di klenteng membutuhkan totalitas tersendiri. Niatnya harus benar-benar tulus, karena langsung berhubungan dengan Sang Pencipta. Karena itu, selama 25 tahun ini Sartika punya jadwal kerja yang relatif stabil dan konsisten. Dia harus stand by di klenteng karena sewaktu-waktu ada saja umat yang datang untuk bersembahyang.

"Saya harus melayani semua yang datang. Saya gak boleh ke mana-mana, kecuali untuk belanja atau urusan yang sangat penting," katanya.

Sartika pun harus memperhatikan berbagai peralatan sembahyang, mulai yoshua, kertas sembahyang, lilin, minyak, buah-buahan, dan sebagainya. Urusan kebersihan klenteng pun ada di tangan Sartika. Singkatnya, seorang bio kong harus bisa membuat rumah ibadah itu bisa membantu umat melakukan sembahyangan.

Tengah malam, tepat pukul 24.00, Sartika berdoa di ruang utama seorang diri. Empat jam kemudian, pukul 04.00, Sartika kembali melakukan ritual yang sama. Bagi Sartika, sembahyang pada jam-jam sepi, ketika sebagian besar orang sedang tidur lelap, ini memberi pengalaman rohani yang luar biasa.

"Saya percaya, kalau kita selalu berdoa secara rutin pada jam itu, hati ini rasanya lebih tenang," akunya.

Pagi hari, perempuan biasanya berangkat ke pasar diantar tukang becak langganannya. Berbelanja sendiri ke pasar sangat penting karena Sartika seorang vegetarian yang menu makanannya berbeda dengan orang kebanyakan. "Kalau belanja sendiri kan kita bisa milih buah-buahan dan sayur-sayur segar," katanya.

Klenteng kecil yang berlokasi di dekat kediaman almarhum HM Noer, mantan gubernur Jawa Timur, itu kemudian dibuka sepanjang hari. Siapa saja boleh berdoa sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Malam hari, kecuali tanggal 1 dan 15 Imlek, pintu klenteng ditutup dan Sartika beristirahat. Pukul 24.00 ibu ini sudah bersiap menyampaikan doa-doa kepada Sang Mahakuasa. (lambertus hurek)

16 May 2010

Pelukis Herman Benk Melawan Pasar



Oleh LAMBERTUS HUREK

Ketika banyak pelukis bicara tentang pasar, bagaimana menciptakan pasar, Herman Handoko bikin gebrakan dengan pameran tunggal di eks Museum Mpu Tantular Surabaya. Selama sepekan, pelukis senior yang akrab disapa Pak Benk ini menawarkan karya yang tak ramah pasar, bahkan cenderung antipasar.

Meski begitu, pameran seni rupa yang terkesan nyeleneh ini tetap diminati para penikmat seni rupa, termasuk kalangan seniman muda. Bertajuk To Be Myself, Herman Handoko menghadirkan sedikitnya 300 karya yang seluruhnya dari koran bekas.

"Korban bekas itu saya minta sama teman. Lantas, tiba-tiba muncul inspirasi untuk membuat karya seperti itu," ujar Herman Handoko kepada Radar Surabaya di sela pameran, Jumat (14/5/2010).

Sebelum berpameran di Surabaya, Herman melakukan 'uji coba' pameran di komunitas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta selama lima hari. Ternyata, menurut dia, karya-karyanya yang tak lazim itu diapresiasi mahasiswa dan dosen ISI. Bahkan, selama pameran di Solo itu beberapa seniman secara spontan menggelar performing art setelah menikmati karya-karya Herman.

"Saya merasa kurang puas kalau tidak bikin pameran di Surabaya. Kebetulan teman-teman muda ini bersedia membantu, mau meminjamkan ruangan ini, agar saya bisa pameran tunggal," kata pria yang kini telah menginjak usia 58 tahun itu.

Begitu masuk di ruang yang akrab disebut Museum of Mind, kita langsung dijejali parade 300-an kertas koran yang sudah dicorat-coret dengan tinta cina. Permainan garis yang terkesan 'ngawur' itu, ketika dijejali di keempat bidang tembok, seperti menciptakan sebuah keteraturan baru. Herman juga menggunakan bahan pewarna alami untuk mewarnai sebagian kertas koran.

Foto-foto, iklan display, cetakan besar, di koran bekas dijadikan bagian tak terpisahkan dari permainan Herman Handoko. Sejumlah pengunjung, termasuk kalangan pelukis sendiri, mengaku bingung. Tak paham apa maunya Herman. "Aku gak heran karena sejak dulu Pak Benk memang begitu. Suka bikin kejutan," ujar seorang pelukis asal Surabaya.

Lain lagi dengan Herry Biola, pemusik asal Krembung, Sidoarjo. Setelah 30 menit menyaksikan pameran Herman Handoko, dia langsung memainkan musik dan nyanyian tanpa kata. "Menikmati karya Pak Benk itu berbeda dengan menikmati pameran lukisan biasa. Kita seperti ditantang untuk berpikir atau melakukan sesuatu," tegas Heri Biola.

Di sela pameran, digelar diskusi seni rupa. Dr Djulijati Prambudi, pengajar seni rupa di Universitas Negeri Surabaya, menilai Herman Handoko sebagai sosok pelukis langka yang konsisten dengan idealisme berkesenian. Dia tidak terjebak pada komodifikasi atau kapitalisasi seni rupa.

"Ketika banyak pelukis ingin pameran di galeri swasta, Pak Herman justru memilih berpameran di tempat yang sederhana. Materi karyanya pun sangat sudra. Ini perlu keberanian yang luar biasa," tegas Djulijati.

Herman Handoko sendiri mengaku hanya menawarkan karya seni rupa yang terbuka untuk ditafsirkan oleh siapa saja. Sebagai seniman, dia tergerak untuk mengungkapkan ekspresi dan kegalauan hatinya dengan menggunakan bahan apa saja. "Kebetulan sekarang ini saya pakai koran bekas," katanya.

Maya 'Petjinan Soerabaia' ke Brasil



Maya lagi wawancara Pak Ario Karjanto, bos Peti Mati Ario di Jalan Dinoyo Surabaya.

By LAMBERTUS HUREK

Kerja keras Paulina Mayasari menelusuri jejak peranakan Tionghoa di Surabaya beroleh apresiasi dunia internasional. Petjinan Soerabaia bakal dipresentasikan dalam Bridging Cultures, Building Peace Third Forum di Rio de Janeiro, Brasil, pada 27-29 Mei 2010.

"Saya diminta mempresentasikan ide saya tentang wisata Petjinan Soerabaia di forum itu," ujar Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari, penggagas Komunitas Jejak Petjinan Soerabaia, kepada Radar Surabaya, kemarin.

Forum internasional itu kabarnya akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari seluruh dunia.

Awalnya, arek Suroboyo asli Kelurahan Bibis itu diminta membuat esai tentang konsep Melantjong Petjinan Soerabaia yang dimulai sejak akhir 2009 itu. Program wisata kota ke tempat-tempat khas pecinan ini sudah berlangsung tiga kali. Terakhir, mengunjungi objek-objek yang berkaitan dengan Ceng Beng atau kematian pada pekan ketiga April 2010.

Dalam esai itu, Maya memaparkan bahwa orang Tionghoa merupakan kaum yang mudah dijadikan kambing hitam untuk menyebarkan isu rasial yang memancing kerusuhan. Karena itu, "Saya menggagas wisata pecinan di Kota Surabaya," katanya.

Ternyata, pihak United Nations Alliance of Civilizations menerima esai itu. Maya kemudian diminta untuk mempresentasikan konsep Petjinan Soerabaia dalam forum peradaban dunia itu.

"Saya dipilih karena Melantjong Petjinan Soerabaia itu dianggap sebagai proyek untuk menumbuhkan budaya antidiskriminasi di tengah masyarakat," kata alumnus Universitas Trisakti Jakarta itu.

Peserta forum di Rio de Janeiro itu sangat majemuk. Mulai dari aktivis sosial, pemuda, jurnalis, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga agamawan. Maya sendiri mengaku terkejut dengan penghargaan internasional atas proyek wisata budaya pecinan yang sebetulnya baru dikembangkan di Surabaya.

"Saya hanya ingin melestarikan budaya Tionghoa bagi generasi muda dan menumbuhkan wawasan bagi warga Surabaya. Saya juga mau menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Surabaya itu bukan lagi rakyat Tiongkok. Kami adalah orang Indonesia. Kami memang lebih mencintai Indonesia daripada negeri asal-usul leluhur kami," tandas Maya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 15 Mei 2010

13 May 2010

Tionghoa Hemat, Indonesier Boros?



Kwee Thiam Tjing, wartawan tempo doeloe, penulis buku TJAMBOEK BERDOERI, menggambarkan secara hidup bagaimana suasana revolusi di Jawa Timur. Suasana anarkistis, bakar-bakaran terjadi, karena sistem pemerintahan kacau-balau. Dan, orang Tionghoa lagi-lagi menjadi kambing hitam, korban kecemburuan sosial, yang dibakar api revolusi nan panas.

Di balik cerita itu, Kwee Thiam Tjing menggambarkan streotipe Tionghoa versus Pribumi (istilah Kwee: Indonesier) yang rupanya masih bertahan sampai hari ini. Tionghoa digambarkan kaya, makmur, sukses; sementara Pribumi suka boros, royal, tak bisa menabung, sehingga tetap miskin.

Alkisah, 29 Oktober 1945, pemerintah mengumumkan pergantian mata uang. Uang Jepang tidak berlaku, diganti ORI (Oewang Republik Indonesia). Semua orang, entah pribumi, Tionghoa, Arab, Indo... tiba-tiba jatuh miskin. Kembali ke titik nol. Masing-masing suami dikasih uang ORI senilai satu rupiah tiga sen, sedangkan istri satu rupiah.

Bagaimana orang pribumi menanggapi krisis ekonomi yang luar biasa ini? Kwee Thiam Tjing punya cerita menarik [ejaannya sengaja saya ganti dengan EYD]:

"Marilah sekarang pembaca tilik bagaimana umumnya orang Indonesier atur economie dalam rumah tangganya. Di saya punya lingkungan ada suami-istri. Ketika pada si suami ditrimaken ia punya satu rupia tiga cent dan pada istrinya satu rupia, saya masih inget bagaimana saya coba briken marika nasehat.

Di antara laen-laen saya musti bilang, ini uwang ada uwang yang dikularken oleh pamerentahnya sendiri. Marika kudu bisa hargaken itu serta jangan maen royaal bila tida sanget perlu musti dikluarken kerna owang cuma ada satu rupia."

'Tentu, Tuan!' kata marika.

Tapi malemnya yang lelaki dateng pada saya... buat minta pinjem beras, kerna dari itu dua rupia tiga cent sudah ketinggalan barang satu cent. Si suami di paginya pergi pasar dan saking murahnya, ia kepincut beli kopiah seharga satu rupia, samentara istrinya dengan gumbirah jajan tahu, jajan kuwee, jajan ini dan itu, sebab harganya cuma duwa tiga cent saja.

Sisanya tinggal setengah rupia dan saking girangnya sekarang Republik Indonesia sudah mardika, sudah punya mata uwang sendiri, itu lima puluh cent marika gunaken buat pesiar sama dokardengen merdika!"


Bagaimana dengan orang Tionghoa di Jawa Timur, tepatnya Malang, dua bulan setelah kemerdekaan, 17 Agustus 1945?

Menurut Kwee Thiam Tjing, orang-orang Tionghoa lebih mampu "cocoken diri dengan keadaan". Istilah sekarang: punya sense of crisis! Melakukan sesuatu mengingat uang mereka yang dikumpulkan bertahun-tahun kini tak ada harganya lagi. Dan pengumuman pemerintah soal ORI ini sangat mendadak.

Kwee Thiam Tjing menulis:

"Waktu ORI baru berider, banyak dari keluarga Tionghoa yang masuk golongan mampu atawa yang sedengan, nyonya rumahnya di hari-hari pertama sedari tanggal 30 October 1945, pada sibuk bikin pisang goreng, serabi, limpang-limpung, getas... tegesnya kuwe-kuwe yang sederhana cara bikinnya.

Kemudian bujangnya yang disuru iderkan. Sabentar saja itu kuwe-kuwe cuma tinggal tenongnya saja, sebab harganya pun murah, di antara duwa dan tiga cent. Kenapa itu banyak familie Tionghoa berbuat begitu? Supaya sedikit banyak bisa tambahken persediaan uwangnya yang oleh pamerentah ditetepken satu orang cuma bole trima satu rupia...."


Meski begitu, wartawan dan pengarang yang lahir di Pasuruan, 9 Februari 1900, ini menegaskan bahwa gambaran yang stereotipe ini tidak selamanya begitu. Tak ada jaminan kalau orang Tionghoa mesti lebih hemat, ulet, dan kaya. Dan sebaliknya dengan Indonesier alias Bumiputra.

Kwee Thiam Tjing menulis:

"Tapi nonsens adanya itu dongengan yang bilang orang Tionghoa maka umumnya bisa simpen duwit, kerna ia ada satu pemeres, satu lintah darat, satu orang yang cuma bisa perhatiken duit, duit, dan lagi sekali duit saja.

Yang kita (Tionghoa) umumnya ada lebih kuat economie kita, itu disebabken kerna kita lebi HIMAT di mana laen orang masih uro-uro sembari dengerin ulemnya suara dari ia punya perkutut, kita sudah cincing lengen baju kita. Inilah sebabnya dan laen sebab ada onzin."


Kwee Thiam Tjing adalah wartawan dan kolumnis yang sangat piawai menulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa. Kwee sahabat dekat Liem Koen Hian, wartawan dan redaktur, pendiri Partai Tionghoa Indonesia, tokoh nasionalis dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kwee belajar dari Liem untuk menjadi "anak Indonesia" meskipun dia terlahir di Pasuruan sebagai orang Tionghoa.

Saking kerapnya mengkritik penjajah Belanda, Kwee Thiam Tjing pernah dipenjara di Penjara Kalisosok, Surabaya, kemudian dipindahkan ke Penjara Cipinang, Jakarta. Kwee punya gaya bahasa yang asyik, ugal-ugalan, jenaka, penuh humor, kadang sinis. Dengan gaya yang sinis, Kwee kerap menertawakan kehidupan kaumnya yang Tionghoa.

11 May 2010

HUT Makco di Sidoarjo



Peringatan ulang tahun ke-1.051 YM Tian Siang Bo di Klenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo berlangsung meriah. Sejak Kamis (6/5/2010) petang, jemaat berdatangan di klenteng yang beralamat di Jalan Hang Tuah 32 Sidoarjo itu.

Sejumlah ruas jalan di kompleks pecinan Sidoarjo itu pun macet saking banyaknya warga setempat yang ikut menikmati 'pesta rakyat' setahun sekali itu. Sebab, di luar halaman klenteng disediakan panggung khusus untuk pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Beberapa seniman rakyat juga memeriahkan perayaan HUT Makco, sang dewi samudera ini, dengan tari-tarian di pinggir jalan. "Suasananya asyik, kayak pasar malam," ujar Haryanto, warga Surabaya yang baru pertama kali menyaksikan atraksi kesenian di halaman Klenteng Tjok Hok Kiong.

Diawali atraksi wayang potehi dengan dalang Ki Subur, barongsai dan Liang-Liong dari Lima Naga Surabaya tampil atraktif menghibur jemaat dan warga sekitar klenteng. Makin malam, Gema Band dari Jombang mengiringi sejumlah penyanyi lokal serta Mei Ling, penyanyi terkenal asal Madiun.

Tari-tarian Flamboyan Dance Grup Surabaya pun terlihat rancak. Mereka menampilkan modifikasi tarian bernuansa Tionghoa, Indonesia, dan Eropa (balet). Di sela-sela acara dilakukan penarikan undian berhadiah. Inilah yang membuat penonton rela bertahan di tempat duduknya hingga larut malam.

Ketika sebagian besar warga Tionghoa kembali ke rumahnya masing-masing, sekitar 100 orang masih bertahan di depan panggung wayang kulit. Mereka tampak asyik menikmati wayang yang dimainkan Ki Sugilar meski dalang asal Mojokerto itu tak banyak melontarkan guyonan. (rek)

Isabela Diaz Gonzales Ibu Kaum Kusta



Isabela Diaz Gonzales (83), dulunya terkenal keras, disiplin, kasih sayang, cinta tanpa batas dan berdedikasi tinggi melayani sesama menderita. Usia membuatnya tak setegar dulu lagi. Pengorbanan luar biasa, ia memberi diri seutuhnya kepada sesama. Merawat orang kusta, makan dan minum bersama mereka. Pengorbanan mencontoh Santo Damian, Bapak Penderita di Molokai, Kepulauan Hawai.

Oleh EUGENIUS MOA
Sumber: Pos Kupang 10 Januari 2010


Di tahun 1959 datang pertama ke Lewoleba, Mama Is keluar masuk kampung, kebun dan padang mencari penderita kusta bersembunyi karena diusir dari kampungnya. Kebanyakan orang takut penyakit ini menular. Namun, ia berani mengumpulkan mereka dan merawatnya penuh kasih sayang mendapatkan kesembuhan. Pengabdian itu dilakoninya sampai tahun 1992, ketika ia menyerahkan penanganan penderita lepra kepada para suster SSpS di RS Santo Damian Lewoleba.

Sosok yang tegar itu telah lemah dan tua. Penyakit stroke menyerangnya 11 tahun silam, selang beberapa hari setelah perayaan 40 tahun RS Lepra Damian Lewoleba, mengantarnya ke kursi roda sampai kini. Matanya juga tak bisa melihat lagi. Seorang wanita dan anak-anak angkatnya setia merawatnya, mendorongnya di kursi roda keluar dari dalam kamar tidur, Kamis pagi (7/1/2010) sekitar pukul 09.15 Wita di kediamannya yang dipenuhi pohon mangga dan bunga di bilangan Walakeam, Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Lembata, NTT.

Pada hari Rabu (6/1/2010) petang sekitar pukul 17.00 Wita, Pos Kupang menjambangi rumahnya. Namun, anak-anak angkatnya menyatakan, hari terlalu sore. Mama Is hanya bisa menerima tamu pada pukul 10.00 dan pukul 16.00 Wita, setelah jam tersebut ia harus istirahat, karena kondisi kesehatannya.

Pertemuan yang dinanti terjadi. Usia sudah uzur, tampilnya masih rapi. Rambutnya yang telah banyak uban dipotong setengah bahu. Mengenakan baju rumah warna hijau muda dan putih, ditutup kain lipa (sarung) kotak-kotak warna coklat. Seutas rosario berada di dalam genggamannya.

Dalam wawancara sekitar satu jam lebih, jalan pikiran dan ingatannya masih sangat kuat. Ia masih ingat benar, apa yang dilakukannya sejak masih kecil hidup bersama ayah dan ibunya di kampung di Pohon Sirih, menjadi anak angkat dokter Jerman di Larantuka, perjalanan ke Bali, Jakarta, Roma, Jerman, India, pengadian di tanah Lomblen (Lembata) sampai usia senja.

Kenapa Mama Is mau mengurus penderit kusta?

Karena keinginan orangtua saya. Bapak saya (Aloysius), hanya juru mudi kapal Arnoldus milik misi. Dia selalu rajin berdoa rosario. (Mama Is terdiam, suaranya parau dan air bening meluncur dari matanya).

Sejak kapan Mama Is tertarik mengurus mereka?

Saya sejak kecil, usia saya sekitar 12 atau 13 tahun, saya kelas III sekolah rakyat. Mama menyuruh saya dan saudara saya, Klara Diaz, membeli sayur di rumah nenek Lina. Kami bawa uang dua benggol dan 50 sen. Ketika bicara dengan Nenek Lina, ada suara memanggil minta tolong diberikan air. Suaranya terdengar tak jauh dari rumah Nenek Lina. Dia bilang jangan dekat, orang itu sakit, nanti jangkit ke kamu.

Nenek Lina berjalan petik sayur, saya gunakan kesempatan masuk ke pondok, tempat suara berasal. Laki-laki bernama Kakek Lesu. Ia dijaga seorang wanita tua yang juga sakit. Wajahnya luka, lehernya bengkok dan tubuhnya dikerumuni lalat. Bonsu Bela (bungsu Bela), tolong beri air se. Tapi jangan minta ke Nenek Lina karena dia amat kikir. Orang Nagi bilang, genggam air te tiris. Kakek Lesu mengeluh. Lewat belakang, ketika nenek Lina memetik sayur saya mencuri airnya. Saya bawa air dalam tempayan besar. Saya mendekat dia melarang.

Kenapa sejak kecil Mama Is mau mengurus orang sakit lepra yang diungsikan ke kebun dan hutan?

Tuhan yang menyuruh saya, dia sudah memberi saya kesehatan. Saya harus mengurus mereka. Saya tidak takut terkena penyakit ini karena Tuhan berada bersama dengan saya.

Mulai kapan dan di mana Mama Is mengenal cara mengobati penderita lepra yang sebenarnya?

Saya diutus oleh organisasi lepra sedunia ke India. Saya menjalani praktek lapangan di sana selama tujuh bulan. Saya belajar tentang penanangan kusta pada dr. Van Stein, ahli kusta untuk India. Di India ada ribuan orang kusta. Pada saat itu masyarakat miskin dan kelaparan sangat hebat. Dari India, saya terbang ke Jakarta.

Kenangan apa dari India yang masih tersimpan sampai sekarang?

Saya membawa dua baju India. Ketika masih sehat, saya sering mengenakan baju-baju itu pada saat acara ulang tahun. Yang terakhir pada perayaan 40 tahun saya berkarya di lepra. Itu kali terakhir saya pakai baju India, setelah itu saya tidak mengenakan lagi baju-baju tersebut. Semuanya masih tersimpan rapi di rumah ini.

(Isabela mementingkan pengabdian menjadi perawat penderita kusta sampai enggan memikirkan hal-hal pribadi, pacaran dan berkeluarga. Kalau dia mau, banyak pria bule menaruh hati kepadanya. Ia membujang sampai usia tuanya kini).

Apakah tidak tertarik dengan laki-laki?

Ada banyak orang di Jerman menaruh hati tetapi saya tolak semua. Satu pria dari Belanda namanya Meneer Warnas. Dia pasien (penyakit lain) yang rawat di Jerman. Setiap hari mamanya datang menjenguknya. Saya tolak dia, saya katakan itu ego, tidak baik. Engkau hanya memikirkan diri sendiri. (Mama Is tertawa mengenang Meneer Warnas). Saya mati rawat engkau tidak apa-apa. Di tempat praktek maupun di kampus, saya hitam coklat sendirian. Teman-teman yang tinggi putih gemuk-gemuk. Saya yang paling kecil dan menjadi barang tontonan seperti di kampung-kampung anak-anak menonton turis.

(Tujuh bulan praktek di India, Mama Is kembali ke Indonesia. Hanya dua malam di rumah orangtuanya di Larantuka, ia bersama Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel Manek (alm) berangkat ke Lembata. Mereka mencari lokasi mendirikan BKIA ).

Kenapa Pulau Lomblen dipilih mendirikan rumah sakit lepra, padahal Mgr. Gabriel Manek meninginkan RS lepra dibangun di Lambunga, Pulau Adonara, karena di sana sudah banyak orang kusta?

Kalau di Adonara, orangnya keras-keras. Mulut saya cerewet sekali.. Jo kejo jo_. Tidak bisa rawat orang ka. Maka dipilih Lomblen mendirikan RS lepra. Tanggal 5 Juni 1959 kami tiba di Lomblen. Tanggal 6 Juni, kami jalan keliling mencari lokasi rumah tinggal yang bisa menampung banyak. Kami menemukan rumah Bapak Bernadus Weka. Kami buat kontrak dan Bapak Uskup menandatangani surat kontrak. Bangunan pertama untuk BKIA (Balai kesehatan ibu dan anak). Atap bangunan dari daun dan dinding bambu berhasil didirikan. Banyak warga yang mulai datang berobat.

Siapakah pasien pertama lepra asal Lembata?

Suatu hari saya bersama Pater Ben Berbander (deken Lembata saat itu) datang ke Tanjung dengan sepeda motor roda tiga. Di suatau tempat di padang, saya lihat kenapa ada rumput yang bergerak-gerak. Saya pikir ada babi hutan. Ternyata ada seorang kakek tua. Daun telinganya lebar sampai menyentuh ke bahunya dan rambutnya juga gondrong. Bentuk hidungnya tidak tertatur, luka-luka di seluruh anggota tubuhnya.

Saya kasih tahu kepada Pater Berbander, "Ini orang yang saya cari." Saya tanya Pater Ben, apakah dia boleh ikut? Pater menyatakan dia harus dibawa. Saya membersihkan luka-lukanya sampai kering. Saya balut rapi dengan kain putih. Dia bisa berbahasa Indonesia. Namanya Napa Bunga asal dari Atawatung. Kami naikkan ke motor roda tiga.

Kami pulang ke Lewoleba. Tiba di Lewoleba, saya minta rumah kosong kepada Bruder Patris, SVD. Dia baik hati memberinya dengan satu tempat tidur besi. Saya mandikan kakek Napa dan luka-lukanya saya balut lagi. Telinganya saya operasi lagi sampai bentuknya normal. Pater Lamber Padji SVD memangkas rambutnya. Sekitar seminggu kemudian, dia sudah bersih.

Dari Kakek Napa, tersiar cerita ada satu perawat yang bisa mengobat orang kusta. Saya juga datang ke kampung-kampung memberi penerangan kusta, pemeriksaan dini anak-anak, ibu hamil. Saya lakukan sampai di Flores, Pulau Babi, Adonara, Solor, Kojadoi, dan Palue. Saya katakan kalau ada pasien bawa ke Lomblen atau saya jemput. Setelah itu makin banyak pasien yang datang. Jumlah tambah banyak. Jumlahnya sampai 60 orang, ada 14 perempuan dan 46 wanita.

Bagaimana kehidupan penderita lepra saat itu?

Mereka semua ada di dalam satu rumah, karena kita harus dibangun tambah satu rumah. Mereka ada mulai jatuh cinta. Saya katakan, jangan sampai ada yang hamil. Saya ini cerewet, saya marah mereka. Saya katakan kita ini hidup dari bantuan orang lain. Mereka semua tunduk. Malu. Mereka pahami apa yang saya katakan. Tidak ada yang hamil waktu itu. Biar tinggal di rumah bambu, semua sangat gembira. Untuk makan dan minum kami membuka kebun di misi. Obat-obatan dibantu dari organisasi lepra di Jerman.

Tidak khawatir terjangkit kusta?

Saya tidak takut. Kami masak, makan dan minum bersama mereka. Saya minta kepada Bunda Maria, berikan saya kesehatan supaya saya bisa urus mereka. Mengurus banyak orang saya harus tegas dan keras. Saya teriak-teriak dan bentak-bentak karena ada pasien yang keras kepala.

Saya temukan banyak mujizat mengurus orang kusta. Ketika tak punya makanan, ada yang datang membantu. Suatu waktu di tahun 1963 tak pernah dibayangkan, rekan saya di sekolah perawat di Jerman, Gizela Barowka, yang biasa dipanggil `Mama Putih' oleh para penderita kusta datang membantu. Kontraknya hanya tiga tahun, namun ia tinggal selama 24 tahun di Lomblen. Tahun 1987, ia tinggalkan Lomblen dan berangkat ke Kalabahi dan menetap dan mengurus panti asuhan di sana sampai kini.

Tahun 1966, organisasi kusta di Jerman membantu seluruh bahan bangunan membangun RS Lepra dan mengirim Ir. Walfred Jakl. Dua tahun kemudian, bangunan selesai dan digunakan. Semua penderita kusta pindah dari rumah bambu ke rumah besi. Orang Lembata menyebutnya rumah bintang.

Apakah kecewa dengan pengabdian yang diberikan?

Saya tidak kecewa. Saya tidak dapat gaji. Tuhan dan Bunda Maria selalu menolong saya. Penyakit stroke saya terima dengan senang hati. Penyakit itu sebagai pemberian Tuhan. Orang lain menderita penyakit yang lebih berat dari saya. (eugenius moa)

BIODATA SINGKAT

Nama: Isabela Diaz Gonzales.
Tempat/tanggal Lahir: Larantuka, 13 Januari 1927.
Ayah: Aloysius Diaz Gonzales
Mama: Agnes Agata de Rosari

Riwayat Pendidikan

1934-1940 : SR di Balela Larantuka.
1947-1950 : Sekolah Perawat Pemberantasan Penyakit Lepra di Jakarta.
1953-1956: Sekolah Perawat di Wurzburg-Jerman
1956-1958: Diploma Kebidanan di Wurzburg-Jerman Tahun 1958-1959:Praktek kebidanan dan Perawatan Kusta di India

5 Juni 1959: Kembali ke Larantuka
9 Juni 1959: Menetap di Lewoleba, Lembata, mulai mendirikan BKIA dan poliklinik.
1959-1980: Memimpin RS Lepra Damian Lewoleba.
1980-1992: Melayani sebagai perawat bersama suster di RS Damian.
1992: bebas tugas dari RS Damian.

Tanda Penghargaan

1970: Penghargaan Badan Internasional Penanggulan Kusta di Wurzburg-Jerman.
1972: Penghargaan dari Pemerintah Pusat.
1985: Penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
2000: Sidomuncul Award di Semarang, Jawa Tengah.

Kampung Eks Kusta di Lembata



Oleh KORNELIS KEWA AMA
Sumber: KOMPAS edisi 11 Mei 2010


Nama Woloklaus memang tidak umum, bahkan di kalangan masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur, sekalipun. Tak banyak orang yang tahu ini nama sebuah desa. Lebih banyak lagi yang tidak tahu bahwa 80 persen dari 1.112 jiwa penduduknya adalah bekas penderita lepra.

Sudah puluhan tahun mereka menetap di desa itu, desa yang dibangun khusus untuk mereka. Disatukan perasaan ”senasib sepenanggungan”, para bekas penderita lepra yang kerap dikucilkan dari kehidupan masyarakat umum itu membangun persaudaraan yang kuat.

”Kami menderita penyakit yang sama, disembuhkan dari satu rumah sakit yang sama, dan oleh perawat yang sama. Semua itu sangat mengikat rasa persatuan dan persaudaraan kami. Perasaan itu tak mungkin kami temukan di tanah kelahiran kami atau di tempat lain,” kata Yanto ketika ditemui Kompas, beberapa pekan lalu.

Desa Woloklaus tercatat keberadaannya mulai tahun 1984, ”dibangun” oleh Isabela Dias Gonsales (82), perawat spesialis penyakit lepra. Nama desa ini diambil dari kata ”wolo”, yang dalam bahasa suku Lamaholot (Flores Timur, Lembata, Alor) berarti bukit. Adapun kata ”klaus” diambil dari nama pendonor asal Jerman, Klaus Wisiachk.

Luas desa ini sekitar 3 hektar, dengan jumlah penduduk 157 keluarga atau 1.112 jiwa. Dari jumlah itu, 80 persennya atau 890 penduduk adalah eks penderita penyakit lepra atau kusta. Mereka tak hanya berasal dari daerah-daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga datang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi.

Ketika Kompas mengunjungi permukiman yang berada di pinggiran pusat Kecamatan Lewolebata, Lembata, NTT, itu pada minggu pertama Mei 2010, mereka terlihat sangat ramah. Senyum dan sapa selalu terucap setiap ada tamu yang melintas di depan rumah mereka. Jika ada tetangga sedang kesulitan beras, uang, atau jatuh sakit, tetangga sekitar berusaha membantu meski kondisi perekonomian mereka sangat terbatas.

Mereka menyadari, apa yang mereka dapatkan—seperti pengobatan lepra gratis dan keberadaan permukiman yang mereka tinggali sekarang—diperoleh secara cuma-cuma dari orang lain. Kesadaran itulah yang kian menguatkan kepedulian antarsesama warga Desa Woloklaus.

Segala persoalan menyangkut kepentingan desa selalu dimusyawarahkan. Dana bantuan pemerintah, termasuk raskin (beras untuk rakyat miskin), pun dibagi secara adil.

Tak heran bila semua warga terlihat kerasan tinggal di desa itu. Yohanes Baptista Yanto (45) yang berasal dari Jawa Timur adalah salah satunya. Ia merasa semua tetangga dan orang sekitar adalah saudara dekat yang bahkan lebih dekat daripada saudara kandung. Mereka juga memiliki perkumpulan arisan dan perkumpulan doa bersama. Mereka berbagi pengalaman, saling meneguhkan satu sama lain bila sedang dalam kesulitan.

Guna menopang hidup sehari-hari, banyak di antara mereka bekerja sebagai penggarap lahan kebun di desa tetangga atau sekadar membantu membersihkan rumah dan pekarangan mereka yang berpunya. Menjadi tukang kayu dan tukang batu juga dilakoni eks penderita lepra ini.

Ismael Laode (46), eks penderita lepra asal Buton, Sulawesi Tenggara, mengaku berbahagia dan sangat menikmati sisa hidupnya di Desa Woloklaus. Meski hanya bekerja sebagai pembantu di kediaman Isabela Dias Gonsales, ia pun bisa menyekolahkan dua putranya sampai SMA. Semua keluarganya dalam kondisi sehat tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

Suami dari Mery Blikololong ini merasa penderitaan lepra yang menimpa sebagian besar warga Woloklaus telah membawa berkah baru, yakni kebinekaan yang mempersatukan mereka. Meski berasal dari suku yang berbeda, mereka selalu hidup rukun dan bersaudara.


Orang yang paling dikenang sekaligus dihormati para eks penderita lepra di Woloklaus tak lain adalah Isabela Dias Gonsales, yang sehari-hari mereka panggil ”mama”. Selain merawat mereka, Isabela Dias Gonsales adalah pendiri permukiman itu.

”Tahun 1960-an, lepra masih dianggap penyakit kutukan. Tak ada obatnya dan sulit disembuhkan. Saat itu, kami membangun rumah sakit lepra dan berhasil menyembuhkan banyak orang dari berbagai wilayah di Indonesia,” kenang Isabela.

Satu-satunya rumah sakit lepra di daratan Flores, Lembata, dan Alor adalah Rumah Sakit Lepra Santo Damian Lewoleba, Lembata. Rumah sakit milik Keuskupan Larantuka ini berdiri sejak tahun 1965, menampung ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Kesohoran rumah sakit tersebut tersebar dari mulut ke mulut para eks pasien lepra yang berobat di sana hingga sembuh dan pulang ke kampung asal mereka. Informasi mengenai rumah sakit lepra di Lewoleba juga disampaikan melalui jaringan gereja di sejumlah daerah.

Setelah berobat enam bulan sampai dua tahun dan dinyatakan bebas dari bakteri yang disebut Mycobacterium leprae, mereka diizinkan pulang ke kampung halaman. Namun, setelah tiba di daerah asal, banyak di antara eks penderita kusta yang telah kehilangan sebagian anggota tubuhnya itu ternyata tidak diterima warga desa asalnya.

”Mereka sangat tertekan, kemudian lari, kembali ke Lewoleba. Rumah saya sampai dipenuhi oleh eks pasien lepra. Makin hari makin padat,” tutur Isabela.

Mereka yang terdiri atas pria dan wanita dewasa ini pun ada yang jatuh cinta satu sama lain, atau dengan warga sekitar. Mengingat penghuninya makin lama makin banyak, Isabela pun mencarikan pendonor dari Jerman untuk membangun permukiman khusus bagi eks penderita lepra ini. Alhasil, tahun 1984, permukiman Woloklaus pun dibangun.

Tak terasa, Desa Woloklaus kini sudah berusia lebih dari seperempat abad. Permukiman ini bukan hanya memberi ketenteraman hidup bagi para penderita eks lepra, tetapi juga mengisyaratkan sebuah pesan persaudaraan bagi kita semua.

08 May 2010

Tidak Sekolah, Kaya-Raya



Begitu banyak siswa yang tak lulus ujian nasional (unas). Bahkan, di Riau ada yang sampai gantung diri, tewas. Seakan-akan unas merupakan jaminan hidup sukses di masa depan. Seakan-akan pemilik otak cemerlang, IQ tinggi, lebih sukses dalam hidup ketimbang orang yang pas-pasan atau yang tidak lulus unas.

Berbahagialah anak-anak yang tidak lulus unas! Merekalah yang akan menjadi pengusaha dan orang kaya pada 10 atau 20 tahun mendatang! Tidak percaya? Fakta sudah terlalu banyak bicara tentang perjalanan hidup orang sukses di negara ini. Mana ada yang sekolahnya tinggi sampai universitas, punya gelar profesor doktor?

Prof. Thomas Santoso, sosiolog dari Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam buku ORANG MADURA DAN ORANG PERANAKAN TIONGHOA menulis:

"... tidak ada orang peranakan Tionghoa yang menjadi KAYA melalui jalur pendidikan. Kenyataan membuktikan bahwa orang Tionghoa yang kaya biasanya pendidikannya rendah."

Coba sebut pabrik-pabrik besar yang punya belasan ribu, bahkan 20-an ribu karyawan, di Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Saya bisa pastikan semua pendirinya adalah orang Tionghoa perantauan yang pendidiknya pas-pasan. Bermula jadi pedagang kelontong keliling, coba-coba buka usaha, tekun, ulet, tahan banting, pantang menyerah, bangun jejaring, bisa membaca pasar... dan akhirnya maju.

Perlahan tapi pasti, pabrik-pabrik yang mulanya kecil, hanya satu dua pekerja, menjadi raksasa. Kini, setelah dua tiga generasi, pabrik-pabrik itu makin maju. Atau, setidaknya stabil. Anak cucu si pendiri pun dikenal sebagai orang-orang terkaya di Jawa Timur.

Saya kenal baik seorang pengusaha keturunan Tionghoa, leluhurnya dari Hokkian (Tiongkok Selatan), yang sangat sukses di kawasan Sidoarjo. Sekolahnya tidak bisa tinggi karena pemerintah menutup sekolah-sekolah Tionghoa pada akhir 1960-an. SMA tak bisa tamat. Ijazah SMP-nya pun diragukan orang.

Tapi justru karena tekanan sosial-politik, tak punya banyak pilihan, Mr. Sun membuka usaha sendiri. Tidak langsung hebat, tentu saja. Tapi, yang jelas, sejak 1990-an beliau sudah menjelma menjadi miliarwan. Rumahnya banyak, mewah, dan besar-besar. Punya tambak ratusan hektare. Punya banyak karyawan. Beberapa lulusan terbaik dari universitas ternama kerja perusahaan Pak Sun.

Mobilnya juga banyak dan bermerek kelas atas. Sudah mandi uang Mr. Sun yang pendidikannya pas-pasan itu.

Salah satu anaknya sangat cerdas, pendidikan bagus, kuliah di Amerika. Dibandingkan sang papa, wawasan dan pengetahuan si anak ini ibarat langit dan bumi. Tapi kayakah anak yang sekolah tinggi di Amerika itu?

Hehehe.... Dia harus minta uang dari ayahnya untuk beli mobil dan berbagai kebutuhan lain. "Yah, namanya juga anak, ya, saya harus kasih. Untuk orang lain saja, saya nyumbang kok," kata Mr. Sun.

Sekali lagi, bagi para siswa yang gagal unas, jangan putus asa! Seorang motivator terkenal selalu menyebut orang-orang macam inilah yang punya banyak kesempatan merintis karir sebagai pengusaha, entrepreneur. Pengalaman orang-orang peranakan Tionghoa di tanah air, juga pengusaha bumiputra kayak Bob Sadino, bisa menjadi cermin yang sangat baik.

Ketika Anda sudah menjalankan usaha sendiri selama 5-10 tahun, ketahuilah bahwa teman-teman Anda baru lulus universitas. Sarjana baru yang dulunya punya nilai unas luar biasa itu harus mengirim surat lamaran kerja ke mana-mana. Sementara usaha Anda sudah maju, punya mobil banyak, rumah bagus, tabungan sudah menumpuk. Bahkan, jangan-jangan teman Anda yang sarjana itu melamar kerja di perusahaan Anda.

Xu Lian dan Bahasa Indonesia




Siapa pun yang pernah berhubungan dengan Konsulat Jenderal Tongkok di Surabaya, khususnya yang buta bahasa Mandarin, pasti mengenal nona manis ini: Xu Lian. Dialah penerjemah resmi Konjen Tiongkok baik di era Fu Shugen maupun Wang Huagen yang sekarang.

Meski kental dengan logat Beijing, kemampuan berbahasa Indonesia Xu Lian sangat bagus untuk ukuran warga negara asing. Xu Lian bahkan mampu menangkap bahasa percakapan tak resmi seperti bahasa gaul atau kata-kata serapan dari bahasa Jawa atau Betawi.

Ketika saya mewawancarai Konjen Tiongkok Mr Wang Huagen, dan sebelumnya Mr Fu Shuigen, Xu Lian dengan lincahnya menjadi interpreter. Pertanyaan-pertanyaan saya dalam bahasa Indonesia dengan cepat ditransfer ke Mandarin. Sebaliknya, jawaban Konjen Tiongkok segera ditransfer ke bahasa Indonesia yang mudah dipahami.

"Siapa bilang bahasa Indonesia saya bagus? Anda saja yang bilang begitu," kata Xu Lian yang sudah tiga tahun bertugas di Surabaya ini. "Saya masih perlu belajar lagi karena bahasa Indonesia itu ternyata sulit."

Bahasa Indonesia sulit? Xu Lian menjawab tegas, "Ya!"

Sama seperti orang Indonesia yang menganggap bahasa Mandarin sebagai bahasa yang sulit, bahkan tersulit di dunia, Xu Lian pun menganggap bahasa Indonesia ternyata tidak mudah dipelajari orang-orang dari daratan Tiongkok. Tata bahasa, pembentukan kalimat, kosa kata, hingga cara pengucapan tak mudah buat lidah Tiongkok.

"Buktinya, saya ini sampai lulus SMA pun belum bisa berbahasa Indonesia," kenangnya.

Tapi, karena minat belajarnya yang besar, Xu Lian akhirnya mempelajari bahasa Indonesia secara intensif di sebuah universitas di Beijing. Kebetulan di ibukota Tiongkok itu ada perguruan tinggi khusus yang mengajarkan bahasa-bahasa asing, khususnya bahasa-bahasa di Asia Tenggara.

Di universitas itu pun kemampuan bahasa Indonesianya belum begitu bagus. Alasannya, belum ada buku pelajaran bahasa Indonesia yang bagus untuk warga Tiongkok di Beijing. Xu Lian baru benar-benar bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia ketika bertugas di Surabaya tiga tahun lalu. Membaca buku, surat kabar, majalah, hingga situs internet berbahasa Indonesia. Xu Lian pulalah yang bertugas memasukkan data dan informasi berbahasa Indonesia milik Konjen Tiongkok.

Tak terasa, kemampuan berbahasa Indonesia Xu Lian meningkat dengan sangat pesat. Bahkan, jika tak ada logat Beijing, bisa jadi orang mengira Nona Xu ini perempuan asal Kembang Jepun atau Kapasan, Surabaya.

Pada perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok di ballroom Hotel Shangri-La belum lama ini, Xu Lian didaulat sebagai pemandu acara (MC). Di situ Xu Lian memperlihatkan kepiawainnya memamerkan kemampuannya berbahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. Dia juga bisa melontarkan joke-joke segar secara spontan.

Ketika beberapa tamu undangan memuji kemampuan bahasa Indonesianya, Xu Lian kontan membalas. "Bahasa Mandarin saya tetap lebih bagus," katanya lantas tertawa kecil. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 8 Mei 2010

05 May 2010

ACFTA dan CAFTA

Sejak 1 Januari 2010 perjanjian perdagangan bebas negara-negara ASEAN dan Tiongkok (China) mulai diberlakukan. Perjanjian ini lebih dikenal dengan ASEAN-China Free Trade Area. Media-media massa di Indonesia biasa menyingkat perjanjian ini dengan ACFTA.

ACFTA. Anda sulit membaca singkatan ini? Hampir pasti ya. Sebab, singkatan ini punya tiga konsonan di depan A sehingga tidak bisa dibaca sebagai kata dalam bahasa Indonesia. Maka, harus dieja hurufnya satu per satu menurut lafal bahasa Inggris. Bisa juga mengeja ala bahasa Indonesia: A-CE-EF-TE-A.

Singkatan berupa huruf awal atau akronim berupa suku kata plus huruf awal tidak bisa dibuat asal-asalan. Singkatan atawa akronim yang baik, dalam bahasa Indonesia, harus bisa "dibunyikan". Harus bisa diucapkan sebagaimana layaknya kata yang mandiri.

Dalam hal ini, Bung Karno merupakan tokoh yang paling jago bikin singkatan. Semua akronim yang dibuat Bung Karno -- dan kemudian jadi jargon nasional -- selalu bisa dibunyikan dengan enak. Sebut saja BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri), MONAS untuk monumen nasional, GESURI untuk genta suara revolusi Indonesia, hingga TAVIP untuk tahun vivere pericoloso.

ACFTA jelas bukan singkatan yang dibuat orang Indonesia. Karena itu, sulit bagi kita, orang Indonesia, membacanya. Lantas, bagaimana solusinya? Saya akhirnya menemukan di kalangan warga negara Tiongkok alias China itu.

Setiap kali bicara tentang perjanjian perdagangan ASEAN-China, para diplomat Tiongkok ini selalu menggunakan singkatan ini: CAFTA. China-nya digeser ke depan, ASEAN-nya ke belakang. China-ASEAN Free Trade Area disingkat CAFTA. Siapa pun pasti bisa dengan mudah membaca singkatan ini: CAFTA.

Saya pun geleng-geleng kepala "menemukan" solusi penting ini. Ternyata, untuk urusan istilah yang sepele ini, kita harus belajar ke orang Zhongguo alias Tiongkok. Dan sejak mendengar kata CAFTA yang sangat sering diucapkan para diplomat Tiongkok di Surabaya, saya pun lebih suka menggunakan CAFTA ketimbang ACFTA.

04 May 2010

CICAK vs CECAK, LIVER vs LEVER

Sejak masih di sekolah dasar di Flores Timur, saya mengenal kata CECAK dalam bahasa Indonesia. Orang-orang di Flores, atau Nusa Tenggara Timur umumnya, terbiasa menggunakan kata CECAK dan bukan CICAK. Meskipun ada lagu kanak-kanak CICAK-CICAK di dinding, kata CECAK dianggap paling benar dan baku.

Di kamus-kamus bahasa Indonesia, termasuk kamus baku, halaman 198, kata CECAK yang dianggap baku. Tapi mengapa akhir-akhir ini kata CICAK -- dalam konteks CICAK lawan buaya -- lebih populer dan dipakai di media-media utama? Mengapa ucapan Irjen Susno Duadji yang informal itu, CICAK, akhirnya mengalahkan CECAK yang baku?

Saya tidak tahu. Bisa jadi CICAK bakal menggeser CECAK sebagai kata baku. Yang jelas, mayoritas orang Indonesia di Pulau Jawa memang lebih lazim menggunakan CICAK ketimbang CECAK. Beda dengan orang NTT yang lebih suka menggunakan CECAK.

Rupanya, orang Flores lebih dekat dengan bahasa baku meskipun jarang mengenal kamus baku. Hehehe....

Kata lain yang populer di Jawa Timur di koran-koran adalah LIVER alias hati alias hepar. Organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Begitu banyak orang yang sakit, kemudian meninggal, gara-gara gangguan LIVER alias LEVER itu.

Seperti juga CECAK dan CICAK, para pelajar dan tentunya guru-guru di Flores sejak dulu bilang LEVER, bukan LIVER. Tulisannya LEVER, juga dibaca LEVER, kedua-duanya pakai E benar. Khas orang Indonesia Timur yang sering kali susah membedakan E pepet dan E benar.

Saya cek di kamus baku, halaman 667, kata LEVER yang dianggap benar. Hanya saja, ucapannya berbeda dengan orang Flores. Yang betul: Huruf E pertama dengan E benar, sedangkan E kedua dengan E pepet. Kata LIVER di halaman 679 dianggap tak baku. Dus, harus dirujuk ke LEVER yang baku itu.

Lantas, mengapa kata yang tak baku mengalahkan yang baku? Apakah para redaktur, khususnya editor bahasa, tidak sempat mengecek kamus? Atau, apakah ada kesepakatan untuk menggunakan LIVER yang memang lebih populer di Jawa?

Entahlah.

Tapi mengapa di koran-koran besar di Indonesia saat ini yang dipakai kata LIVER, bukan LEVER?

03 May 2010

Adi Jasa Surabaya



Semula 50-an peserta Melantjong Petjinan Soerabaia III akan makan siang di makam Tionghoa Simo Kwagean, Ahad siang (25/4/2010). Namun, cuaca yang mendung akhirnya membatalkan rencana ini. Paulina Mayasari, sang tour leader, memutuskan untuk mengakhir perjalanan wisata ke Adi Jasa, Jalan Demak 90-92.

Oleh LAMBERTUS HUREK

"Kita makan siang di Adi Jasa saja. Saya khawatir, tiba-tiba hujan di sini, acara kita bisa berantakan," kata Maya, sapaan karib Paulina Mayasari yang alumnus Universitas Trisakti Jakarta ini.

Di makam Simo Kwagen sendiri tak ada objek yang istimewa. Makamnya biasa-biasa saja seperti layaknya kompleks permakaman umum di Surabaya. Karena itu, keputusan untuk langsung bergerak ke Adi Jasa disambut gembira para peserta.

"Saya ini orang Surabaya, tapi belum tahu isinya Adi Jasa," ujar Ny Sudarsih, peserta asal Semolowaru, yang selalu didampingi rekannya sesama lansia, Ny Sukarti.

Tiba di Adi Jasa, para pelancong lokal ini langsung diarahkan ke gedung tempat penitipan abu jenazah. Total ada 720 kotak, terdiri dari 600 kotak besar dan 120 kotak kecil. Abu-abu jenazah ini sedang menunggu saat yang tepat untuk dilarung ahli warisnya. Nah, selama menunggu proses itu, abu-abu ini dirawat dengan baik.

Pihak keluarga memperlakukan abu jenazah layaknya si almarhum atau almarhumah masih hidup. Maka, makanan kecil kesukaan diletakkan di depan tempat abu di dalam kotak. Ada foto kenangan semasa hidup berikut simbol-simbol rohani sesuai dengan agamanya. Ada rosario, patung Bunda Maria, Alkitab, hingga buku nyanyian Puji Syukur.

"Itu semacam doa dan harapan dari keluarga agar yang meninggal berbahagia di alam baka," jelas Agus Piawai, pengurus Adi Jasa, di hadapan peserta. Abu jenazah yang paling lama di Adi Jasa berusia 18 tahun.

Dibangun pada 1986, tempat persemayaman jenazah Adi Jasa ini baru dimanfaatkan pada 1988. Setiap tahun rata-rata Adi Jasa menyemayamkan 1.000 sampai 1.500 jenazah. Hari itu, Ahad (25/4/2010), ada 28 jenazah yang disemayamkan sembari menunggu jadwal pemakaman atau kremasi yang biasanya mengacu pada hari baik ala Tionghoa. Di sini peranan suhu atau astrolog sangat penting.

Agus Piawai punya cerita menarik. Ada sebuah keluarga di Surabaya yang lebih percaya ramalan suhu asal Taiwan ketimbang suhu Surabaya. Kalau suhu-suhu lokal biasanya persemayaman tidak makan waktu lama, sang suhu Taiwan ini sebaliknya.

"Akhirnya, jenazah disemayamkan selama 40 hari. Itu merupakan rekor terlama di Adi Jasa. Yah, siapa suruh lebih percaya sama Taiwan," tutur Agus Piawai disambut tawa para pelancong.

Usai mendengar sejarah Adi Jasa, rombongan diantar Agus Piawai ke ruang pemandian dan pengawetan jenazah dengan balok-balok es. Semua jenazah yang baru masuk ke Adi Jasa wajib diproses lebih dulu di ruangan ini. Dan pihak Adi Jasa sendiri tak akan berani membuka 'lemari es' berisi jenazah tanpa ada permintaan resmi dari keluarga.

Karena itu, apa boleh buat, para turis domestik ini tidak bisa melihat secara langsung sosok mayat-mayat yang diawetkan di Adi Jasa.

"Pak Agus, Apa tidak takut sama jenazah?" celetuk salah satu peserta.

Agus Piawai malah tertawa. "Takut apanya? Dua puluh tahun lalu semua orang bergidik kalau datang ke Adi Jasa. Bahkan, dengar nama Adi Jasa saja orang sudah takut. Tapi sekarang ini kalian bisa cari makan enak di sini karena ada banyak depotnya," tukas Agus.

01 May 2010

Eka Praya, Krematorium Tertua di Surabaya



Paulina Mayasari mengajak peserta Melantjong Petjinan Soerabaia 3 ke Krematorium Eka Praya di kompleks Makam Kembang Kuning Surabaya, Ahad (25/4/2010). Saat itu sedang diadakan kebaktian kristiani menjelang kremasi salah satu jenazah. Puji-pujian rohani nan syahdu pun terdengar dari dalam aula.

Sementara itu, Surawi, petugas Eka Praya, mengajak para peserta untuk menyaksikan alat-alat kremasi di luar aula yang kebetulan sedang 'nganggur'. Surawi membuka pintu oven berukuran sekitar 2 x 1,4 meter, tempat jenazah bersama petinya dipanaskah hingga menjadi abu.

"Cara kremasi itu gampang sekali. Yang penting, kita melakukan dengan hati yang bersih dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan," ujar pria yang sudah 44 tahun bekerja di Eka Praya sembari tersenyum.

Setelah upacara keagamaan, sesuai dengan agama si jenazah, beres, pihak keluarga diminta menyampaikan keikhlasannya untuk melepas almarhum/almarhumah pergi ke alam baka. Untuk itu, menurut Surawi, salah satu wakil keluarga harus menekan tombol listrik di depan 'oven' agar proses pembakaran segera dimulai.

Mengapa harus pakai penekanan tombol segala?

Pihak Eka Praya pernah punya pengalaman yang tak menyenangkan. Pada 1978, ketika peti jenazah hendak dimasukkan ke dalam oven dan api mulai menjilat-jilat, salah satu anggota keluarga almarhum syok dan pingsan. Dibawa ke rumah sakit, nyawa orang itu tak tertolong.

"Rupanya, dia kena serangan jantung. Sejak itulah pengurus Eka Praya memutuskan untuk tidak lagi mengizinkan pihak keluarga berada di dekat peti jenazah saat dikremasi. Mereka cukup menekan tombol itu secara simbolis saja," papar Surawi seraya tersenyum.

Berdasar pengalamannya, kremasi satu jenazah rata-rata hanya membutuhkan waktu paling lama 2,5 jam. Itu sudah termasuk proses penggilingan tulang-belulang. Tulang ini digiling halus sebagai abu jenazah setelah petugas membersihkan elemen-elemen yang bukan jasad manusia. "Gilingannya kayak gilingan kopi di kampung," katanya.

"Lantas, bagaimana dengan daging dan kulitnya?" seorang peserta Melantjong Petjinan nyeletuk.

"Ya, sudah menguap semua, terbang ke udara. Hilang. Kalau nggak yakin, silakan Anda bakar hewan di rumah. Apa dagingnya masih ada sisanya?" tukas Surawi disambut 50-an pelancong domestik itu.

Untuk kremasi satu jenazah, Surawi dan kawan-kawan membutuhkan bahan bakar solar sebanyak 100-200 liter. Karena itu, jangan heran, jika melintas di kompleks makam Kembang Kuning, Anda kemungkinan besar akan melihat cerobong yang mengeluarkan asap hitam tebal.

Biaya kremasi bervariasi antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta tergantung ketebalan peti. "Khusus jenazah bayi dapat potongan 20 persen," katanya.

Sebagai krematorium tertua di Surabaya, didirikan pada 1958, menurut Surawi, Eka Praya akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas layanannya. Kalau dulu satu bulan hanya mengkremasi 10 jenazah, sekarang rata-rata 60-70 jenazah sebulan. Bukan itu saja. Pihaknya juga berencana melakukan elektrifikasi dengan oven listrik.

Dengan sistem elektrik, maka tulang-tulang jenazah langsung berubah menjadi tepung alias abu. "Jadi, nggak perlu digiling lagi," kata Surawi. (rek)

Foto: Andre Jr.