23 April 2010

Wang Huagen Konjen Tiongkok



Di antara sekian banyak diplomat asing yang bertugas di Surabaya, Wang Huagen (56) terbilang paling luwes. Belum setahun menjabat konsul jenderal (konjen) Tiongkok, Mr Wang--sapaan populernya--sudah akrab dengan berbagai kalangan di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Dia pun selalu terlihat di acara-acara warga keturunan Tionghoa seperti tahun baru Imlek atau ulang tahun Masjid Cheng Hoo Surabaya.

Sebagai diplomat senior yang pernah bertugas di banyak negara, Wang Huagen sudah banyak mempelajari budaya, tradisi, maupun sejarah Kota Surabaya, dan Indonesia umumnya, sebelum menjabat sebagai konjen Tiongkok pada pertengahan tahun lalu. "Indonesia dan Tiongkok punya banyak kesamaan," kata Wang Huagen dalam wawancara khusus dengan Radar Surabaya di ruang kerjanya, Rabu (14/4/2010).

Oleh LAMBERTUS HUREK



Selama satu jam lebih, Mr Wang menjelaskan perjanjian China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok, rencana kedatangan Perdana Menteri Wen Jiabao, hingga kesenangannya pada baju batik dan soto ayam. Berikut petikannya:

Terkait 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok, mengapa Konjen RRT mengadakan perayaan istimewa?

Menurut tradisi Tionghoa, 60 tahun merupakan ulang tahun yang pantas dirayakan secara istimewa dan besar-besaran. Ini merupakan saat yang tepat untuk kembali menengok sejarah dan memandang ke muka. Pada 13 April 1950, Tiongkok dan Indonesia secara resmi menjalin hubungan diplomatik. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling dini yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Juga negara pendiri ASEAN pertama yang mengakui negara Tiongkok. Syukurlah, selama 60 tahun ini hubungan antara kedua negara mendapat kemajuan yang menonjol.

Saat ini isu yang sedang ramai adalah CAFTA. Bagaimana sebenarnya pandangan pihak Tiongkok?

CAFTA ini memang sangat penting dan harus dipahami dengan benar oleh semua pihak. Awal tahun ini, Dai Bingguo datang ke Jakarta. Beliau itu anggota dewan negara, setingkat wakil perdana menteri. Beliau membicarakan secara luas kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama dalam CAFTA itu sangat luas. Dan sebentar lagi Perdana Menteri Wen Jiabao juga akan berkunjung ke Indonesia. Selain memperingati 60 tahun hubungan Indonesia-Tiongkok, tentu akan dibahas kerja sama perdagangan kedua negara, termasuk CAFTA.

Saat ini ada sejumlah pihak yang meminta agar CAFTA ditunda atau direvisi.

Kerja sama perdagangan bebas, CAFTA, itu tidak muncul tiba-tiba, tapi sudah didiskusikan selama 10 tahun. Sejak 10 tahun lalu tarif bea cukai diturunkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya CAFTA mulai diberlakukan sejak awal tahun ini. Dan kami melihat dalam 10 tahun ini kedua belah pihak diuntungkan dengan kebijakan penurunan bea masuk itu. CAFTA itu merupakan kerja sama yang sangat luas isinya. Melibatkan 11 negara (Tiongkok dan 10 negara ASEAN) dengan 1,9 miliar penduduk. CAFTA ini akan menjadikan ASEAN dan Tiongkok sebagai daerah perdagangan bebas terbesar ketiga di dunia. Jadi, CAFTA ini justru kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan 11 negara itu.

Tapi ada kritikan dari kalangan pengusaha bahwa CAFTA ini bisa membuat produk Indonesia makin kalah bersaing dengan produk Tiongkok?

Saya memang mendengar komplain itu dari sebagian pengusaha di Indonesia. Tapi saya juga membaca di surat kabar, industri tekstil, tidak terpengaruh dengan ACFCA. Tekstil-tekstil Tiongkok yang masuk ke sini umumnya untuk kelas menengah ke bawah yang harganya murah. Sementara tekstil Indonesia yang dieskpor ke Tiongkok rata-rata untuk menengah ke atas dengan kualitas bagus. Jadi, menurut saya, industri di Indonesia justru mendapat keuntungan dari kerja sama CAFTA ini.

Mengapa?

Republik Rakyat Tiongkok itu negara yang sangat luas dengan penduduk yang sangat banyak. Penduduk Tiongkok itu terbanyak di dunia. Karena begitu luas, kebutuhan penduduk di setiap provinsi berbeda-beda. Pakaian batik, misalnya, tidak cocok di bagian utara, tapi sangat cocok di selatan. Nah, pengusaha-pengusaha Indonesia punya kesempatan untuk mengisi pasar yang sangat luas di Tiongkok itu. Masalahnya, selama ini kedua belah pihak kurang mengenal satu sama lain. Kita semua harus lebih banyak berkomunikasi dan saling mengenal.

Bagaimana Anda menilai peluang investasi di Indonesia?

Indonesia sangat stabil perkembangannya. Ekonomi makro bagus, situasi sosial politik kondusif untuk investasi. Juga sudah ada beberapa undang-undang yang sangat menunjang seperti UU Otonomi Daerah, UU pertambangan, batu bara, listrik. Yang penting, kita harus lebih saling mengenal dan berkomunikasi dengan lebih baik lagi. Dan itu juga sslah satunya tugas media massa. CCTV, televisi Tiongkok, sudah datang untuk membuat beberapa liputan di Jawa Timur. Ini sangat penting karena selama ini masyarakat lebih banyak mendapat informasi dari media-media Barat yang tidak selalu positif. Berita-berita negatif seperti gempa bumi atau bencana alam memang perlu diberitakan, tapi harus ada berita yang positif. Kalau media hanya memberitakan yang negatif, kesan yang muncul tidak baik. Dan itu sangat mengganggu industri pariwisata.

Minat wisatawan Tiongkok ke Indonesia bagaimana?

Sangat baik. Tahun lalu saja, lebih dari 200 ribu warga Tiongkok datang berlibur ke Pulau Bali. Jawa Timur sendiri masih kurang diminati wisatawan Tiongkok. Padahal, saya tahu di sini ada beberapa tempat wisata yang bagus seperti Bromo, peninggalan Dinasti Majapahit, atau Karapan Sapi di Pulau Madura.

Bagaimana kerja sama di bidang pendidikan?

Saat ini ada sekitar 8.000 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Tiongkok. Ada yang studi bahasa Mandarin, ada juga yang kuliah di fakultas-fakultas lain. Tapi, harus diakui, faktor komunikasi atau bahasa (Mandarin) masih menjadi kendala, sehingga perkembangan jumlah mahasiswa tidak selancar yang kita harapkan. Di Tiongkok sendiri ada delapan perguruan tinggi yang punya jurusan bahasa Indonesia. Dan makin lama minat orang Tiongkok untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia semakin tinggi. Kami sendiri sedang mendorong kerja sama antara Universitas Airlangga dengan universitas di Beijing dalam bidang pengobatan tradisional. (*)



BIODATA SINGKAT

Nama : Wang Huagen
Lahir : Zhejiang, Tiongkok, Januari 1954
Pendidikan: Graduate Studies
Istri : Zhao Yuezhen
Jabatan : Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya.
Hobi : musik, wisata.

RIWAYAT KARIR

1974-1979 : Staf Protokol Kemenlu Tiongkok
1979-1982 : Staf Kedubes Tiongkok untuk Denmark
1982-1984 : Atase Kedubes Tiongkok di Malaysia
1984-1988 : Atase, Sekretaris III, Protokoler Kemenlu Tiongkok.
1988-1989 : Fletcher School of Law Diplomacy, USA
1989-1994 : Deputi Direktur, Sekretaris I, Departemen Protokol Kemenlu Tiongkok.
1994-1997 : Sekretaris I, Wakil Tiongkok dalam Sino-British di Hong Kong
1997-1998 : Sekretaris I, Direktur, Departemen Protokol, Kemenlu Tiongkok.
1998-2001 : Konselor, Direktur, Departemen Protokol, Kemenlu Tiongkok.
2001-2004 : Konselor di Kedubes Tiongkok untuk Afrika Selatan.
Juni 2009 - sekarang : Konjen Tiongkok di Surabaya.




SUKA SOTO AYAM

Namanya juga diplomat, Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok Wang Huagen selalu berusaha menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan penduduk setempat. Karena itu, jangan heran, di berbagai kesempatan Mr Wang selalu mengenakan kemeja batik lengan panjang.
Dia baru memakai setelan jas resmi ketika menghadiri acara-acara formal seperti konser musik klasik atau pertemuan dengan diplomat negara-negara lain.

"Saya senang pakai batik karena nyaman. Baju batik ini saya beli di Surabaya," kata Mr Wang saat ditemui Radar Surabaya di ruang kerjanya, Rabu (14/4/2010) pagi.

Bagaimana dengan makanan? Seperti konjen Tiongkok sebelumnya, Fu Shuigen, Mr Wang pun mencoba menikmati khas Jawa Timur. Jika Mr Fu doyan nasi goreng ikan asin, Mr Wang mengaku senang dengan soto ayam. "Saya suka soto ayam," ujar ayah satu anak ini. Ingat, di Tiongkok masih berlaku kebijakan 'satu keluarga satu anak' untuk membatasi jumlah penduduk.

Selain soto ayam, Mr Wang juga mencoba mencicipi aneka makanan khas Jawa Timur yang mudah dijumpai di Surabaya. Untung saja, sebagai sesama bangsa Asia, selera kuliner orang Tiongkok dengan Indonesia tak jauh berbeda. Bahkan, tak sedikit makanan Tionghoa yang sudah ratusan tahun diterima sebagai kekayaan kuliner tanah air. Karena itu, Mr Wang mengaku tidak kesulitan dalam beradaptasi ketika ditugaskan di Surabaya sejak pertengahan tahun lalu.

Kalau Anda sering menghadiri acara-acara kesenian seperti konser musik di Surabaya, kemungkinan besar Anda bertemu Mr Wang ditemani Xu Lian, konsul muda, sekaligus penerjemah. Maklum, Pak Konjen yang satu ini mengaku sangat antusias menikmati acara-acara seni budaya. "Saya suka musik, tapi lebih suka lagi tari-tarian Indonesia," kata Mr Wang.

Selain di Surabaya dan daerah-daerah lain di Jawa Timur, Mr Wang sering disuguhi tari-tarian ketika berkunjung ke tiga provinsi yang menjadi wilayah kerjanya, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa tenggara Timur. "Saya lihat tari-tarian daerah di Indonesia dan Tiongkok punya banyak kemiripan. Dan itu yang membuat saya senang," katanya. (rek)

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi Minggu 18 April 2010.

2 comments:

  1. ni hao ma? aq kira mr wang ini diplomat kawakan yg bisa memajukan hub kedua negara.

    ReplyDelete
  2. sangat tertarik pada karangan saudara, terima kasih.

    ReplyDelete