12 April 2010

Romo Sakya Putra Suyono




Uji materi Undang-Undang PNPS Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama saat ini tengah berlangsung di Mahkamah Konstitusi. Pro-kontra pun merebak di mana-mana. Lantas, bagaimana sebenarnya konteks keluarnya PNPS 1/1965 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno itu?

Romo Sakya Putra Suyono (68), rohaniwan Buddha di Vihara Buddhayana Surabaya, merupakan salah satu agamawan yang diundang Bung Karno ke Istana Negara menjelang keluarnya PNPS itu. Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Romo Sakya Putra Suyono di Vihara Buddhaya, Jl Putat Gede 1 Surabaya, Jumat (19/3/2010).


Oleh LAMBERTUS HUREK


PNPS 1/1965 diributkan lagi setelah berlaku selama 30 tahun lebih. Bisa di-flash back kondisi masyarakat Indonesia pada 1960-an yang mendorong lahirnya PNPS itu?

Situasinya sangat mencekam karena ada keresahan di kalangan umat beragama, khususnya tokoh-tokoh agama. Tak hanya satu dua agama, semua agama di tanah air mengalaminya. Begitu banyak aliran kepercayaan atau kebatinan yang berkembang di masyarakat. Semaunya ingin eksis, semua ingin diakui oleh negara. Bahkan, kondisinya sudah sampai ke konflik fisik antarpenganut kepercayaan atau agama yang berbeda. Orang yang pernah hidup pada tahun 1960-an, saya kira, mengalami sendiri keresahan yang luas di masyarakat.

Penyebab keresahan itu apa?

Nah, aliran-aliran yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu, ternyata mirip-mirip dengan agama-agama yang ada di Indonesia. Ada aliran yang bernuansa Buddhis, tapi bukan Buddha. Ada yang mirip Kristen, tapi bukan Kristen. Mirip Islam, tapi ternyata berbeda signifikan dengan ajaran-ajaran Islam. Istilah sekarang, banyak sempalan yang muncul di berbagai agama. Dan itu tak bisa dilepaskan dengan kondisi masyarakat Indonesia waktu itu yang memang sedang kacau-balau karena konflik politik yang luar biasa. Orang mencari pelarian ke aliran-aliran itu.

Karena itu, pemerintah, dalam hal ini Presiden Soekarno, langsung turun tangan. Beliau mengundang semua pemuka agama ke Istana untuk membahas fenomena ini secara khusus. Bung Karno mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang dalam revolusi. Jangan sampai kita menguras energi hanya karena konflik antarpemeluk agama atau aliran-aliran itu. Diskusinya berjalan panjang lebar dan sangat serius.

Lantas?

Bung Karno ingin agar aliran-aliran yang sedemikian banyak itu 'dikembalikan' ke agama induknya. Yang mirip Islam kembali ke Islam. Yang mirip Kristen kembali ke Kristen. Yang mirip Buddha kembali ke Buddha dan seterusnya.

Nah, untuk itu, Bung Karno yang mendapat masukan dari penasihat-penasihatnya, khususnya Kementerian Agama, menetapkan lima kriteria agama. Yakni, harus mengakui adanya Tuhan, Sang Pencipta; punya kitab suci, punya nabi, punya tujuan setelah kehidupan di dunia, dan punya kiblat. Para agamawan dari masing-masing agama diminta memberikan penjelasan bahwa agamanya memenuhi lima kriteria itu.

Anda ikut dalam tim agamawan Buddha?

Iya. Dari semua peserta yang diundang ke Istana Negara, saya yang paling muda. Bante Ashin Jinaratkhita yang menjadi juru bicara umat Buddha. Saya yang duduk di sebelahnya--maklum, saya memang muridnya Bante Ashin--beberapa kali membisikkan beliau untuk menyampaikan pandangan Buddhis.

Saya merupakan satu-satunya peserta pertemuan dari kalangan Buddha yang masih hidup. Yang lain sudah meninggal semua, termasuk Bante Ashin. Jadi, boleh dikata saya menjadi saksi hidup pertemuan bersejarah itu.

Nah, lima kriteria itu akhirnya bisa diterima pemerintah. Bung Karno secara tegas mengatakan, bila lima kriteria itu tidak terpenuhi, maka sebuah aliran atau ajaran mana pun tidak bisa disebut agama. Kami sendiri awalnya khawatir mengingat Sang Buddha itu disebut guru agung, tidak pernah disebut nabi. Tapi setelah mengutip beberapa referensi, akhirnya bisa diterima dengan baik di forum itu.

Sejak itulah dikenal enam agama resmi di Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dan perlahan-lahan berbagai aliran dalam masyarakat itu tersaring dengan sendirinya oleh lima kriteria tadi. Awalnya memang tidak mudah, karena ini menyangkut kepercayaan seseorang. Tapi, setelah Orde Baru, gejolak berbau SARA ini bisa dikendalikan oleh pemerintah dan aparat keamanan. Aliran-aliran kepercayaan memang masih ada, tapi tidak sebanyak tahun 1960-an.

PNPS 1/1965 yang sedang diujikan di MK itu terkait dengan pertemuan bersama Bung Karno itu?

Itu tindak lanjut pertemuan para tokoh agama dengan Bung Karno di Istana Negara. Intinya, ya, untuk melindungi agama-agama resmi dan agar masyarakat pemeluk agama tidak resah. Tingkat pendidikan masyarakat kita saat itu masih rendah. Masih banyak yang buta huruf. Jangan sampai masyarakat terombang-ambing dengan begitu banyak aliran yang saling mencari pengaruh di masyarakat. Kapan kita membangun kalau waktu kita habis untuk berpolemik?

Setelah berlalu 35 tahun, apakah PNPS itu masih relevan dengan kondisi sekarang?

Wah, ini isu yang sangat sensitif karena bangsa Indonesia itu sangat heterogen. Agamanya banyak dan pandangan orang pasti berbeda-beda. Karena sekarang sudah bergulir di MK, ya, kita semua menunggu putusan MK. Bagaimanapun juga konstitusi kita, UUD 1945, dengan tegas menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan menjalankan ibadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Bagaimanapun juga isu ini kan terkait SARA sehingga semua pihak harus sangat bijaksana dan ekstrahati-hati. Kita tidak ingin ada gejolak di masyarakat.

Apa masukan Anda agar bangsa Indonesia yang majemuk ini bisa hidup rukun dan damai?

Inti semua agama itu kan damai dan cinta kasih. Kalau semua orang Indonesia yang mengaku beragama--apa pun agamanya--mau menghayati bahwa inti agama itu adalah damai dan cinta, saya kira, tak akan terjadi gejolak di masyarakat. Kita akan hidup dalam kedamaian. Karena saya rohaniwan Buddha, maka saya selalu mengajak umat saya untuk introspeksi, melakukan meditasi, berserah kepada Tuhan. (rek)




Senen-Kemis hingga Puasa Ngebleng


SEJAK remaja Sakya Putra Suyono sudah memperlihatkan minat dan bakat yang besar pada dunia spiritual. Ketika teman-teman seusianya masih senang main-main, bercanda, pelesir ke sana kemari, Suyono justru lebih suka berpuasa senen-kemis. Ritual ini dilakoninya secara rutin.


Bukan itu saja. Suyono juga menjalankan puasa mutih selama tujuh kali tujuh hari. Ada lagi puasa ngrowat, yakni hanya makan biji-bijian yang terpendam alias polo pendhem. Kemudian puasa ngalong: tidak tidur semalaman dan hanya makan buah-buahan yang bergelantungan seperti jambu, mangga, pepaya, dan sebagainya. Mirip kalong alias kelelawar.

"Saya mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa di kampung saya," kenangnya.
Waktu itu Suyono mengaku belum menganut salah satu agama resmi yang diakui pemerintah. Kalau ditanya apa agamanya, Suyono dengan polos mengatakan tidak tahu. "Yang penting, saya melakukan olah rasa. Saya tidak mau rame-rame berdebat soal agama," paparnya.

Ternyata, laku puasa yang dijalani secara konsisten itu membawa banyak manfaat bagi Suyono. Dia merasa lebih tenang, sabar, hening, tidak gampang marah, bisa mengontrol emosi, tidak mudah takut. Dia juga merasa lebih dekat pada Sang Pencipta Alam Semesta. "Hidup jadi tidak ngoyo. Kita apa adanya saja."

Saking senangnya Suyono pada ritual puasa, dia pernah mencoba jenis puasa yang tergolong sangat berat untuk orang kebanyakan. Namanya puasa ngebleng alias pati geni. Yakni, masuk ke dalam kamar gelap dan tidak makan-minum tujuh kali tujuh hari. Ini, katanya, untuk mengasah sinar batin atau mendapat pencerahan rohani.

"Saya bersyukur sudah mendapat gemblengan batin sejak kecil," ujarnya sambil tersenyum.

Maka, ketika terpanggil menjadi cantrik Bante Ashin Jinaratkhita (almarhum), tokoh Buddhis terkenal di Indonesia, Suyono mengaku tak kesulitan mengikuti berbagai ritual Buddhis seperti meditasi.

Setelah melewati beberapa tahapan, akhirnya Suyono menyerahkan diri sebagai Buddhis (upasaka) pada 1966. "Kalau soal puasa itu, nggak bisa dipaksakan. Semuanya kembali ke individu masing-masing," tegasnya. (rek)



Enggan Tinggal di Vihara


RUMAH Romo Sakya Putra Suyono di kawasan Pradah Kalikendal Surabaya masuk jauh ke dalam gang. Sulit dipercaya rumah sederhana di gang sempit itu milik seorang rohaniwan sebuah vihara ternama di Surabaya. Setiap hari ada saja kendaraan roda empat milik jemaat yang melintas di depannya.


Mobil-mobil itu tidak bisa parkir karena dipastikan akan menutup sebagian besar gang. Romo Suyono sebenarnya bisa saja tinggal di kompleks Vihara Buddhayana, Jl Putat Gede 1, karena sejumlah fasilitas untuk rohaniwan sudah disediakan. Urusan makan-minum pun lebih terjamin. Tapi sejak dulu dia memilih berbaur di tengah masyarakat.

"Yah, begini inilah rumah saya. Saya memang lebih suka tinggal di kampung bersama masyarakat biasa. Jadi, saya bisa mengetahui keseharian masyarakat kita yang memang heterogen," ujar Romo Suyono, sapaan akrab Sakya Putra Suyono, yang ditemui Radar Surabaya di kediamannya.

Meski sangat sederhana, tak ada meja kursi di ruang tamu, suasana rumah selalu ceria dengan tawa renyah anak kecil. Belum lagi kaum Buddhis yang kerap mampir sekadar menyampaikan oleh-oleh berupa buah-buahan atau makanan kecil. Tapi, itu tadi, para tamu tak bisa berlama-lama di rumah karena tak ada lahan parkir.

"Jadi rohaniwan itu, ya, kayak begini. Tidak pernah kesepian, selalu saja ada kiriman dari umat. Kalau ada makanan dari umat, ya, silakan kita nikmati bersama-sama," ujar Romo Suyono sambil mempersilakan Radar Surabaya menikmati pisang pemberian umatnya.

Selain makanan, pria asal Semarang ini merasa bersyukur punya banyak jemaat yang senantiasa mendoakan dirinya. Saat jatuh sakit bulan lalu, misalnya, jemaat secara bergantian datang ke rumahnya. Telepon selulernya pun tak henti-hentinya berdering menerima ucapan simpati dan doa tulus dari jemaat. "Berkat doa-doa itu, saya sekarang sudah sembuh dan lebih fit. Saya membutuhkan umat dan umat juga membutuhkan rohaniwan," katanya.

Jumat siang (19/3/2010), Romo Suyono buru-buru meninggalkan rumah karena sudah ditunggu jemaat di vihara. Setelah itu, dia harus memberikan pelayanan rohani di rumah seorang jemaat. Dia mengaku selalu berusaha meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah umatnya.

"Sekalian silaturahmilah," katanya.


BIODATA SINGKAT

Nama : SAKYA PUTRA SUYONO
Tempat/Tanggal Lahir : Semarang 20 Agustus 1942
Istri : Titin Martini Damayanti
Anak : tiga orang.
Jabatan : Rohaniwan Vihara Buddhayana sejak 2003
Hobi : Membaca, wisata rohani
Alamat : Vihara Buddhayana, Jl Putat Gede Surabaya

Pendidikan :
SR Ungaran
SMPN Ungaran
Sekolah Teologi di Vihara Bandung

Tahbisan: 1964 di Medan

2 comments:

  1. Kalau di film-film kungfu, biasanya pendeta Buddha itu selibat. Begitu juga dengan pendeta Buddha dari aliran Tibet, Thailand. Mengapa Romo ini boleh menikah? Apakah itu karena aliran Buddha di Indonesia berbeda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umat Buddha ada 2 kelompok besar bersadarkan disiplin hidup. Yg mengambil Sila Besar/Berat tidak berkeluarga dan disebut Bhikkhu/ni (Bhiksu/ni). Umat berkeluarga (boleh menikah) disebut Upasaka-Upasika; diantaranya bertugas memimpoin upacara atau khotbah dan disebut Pandita, panggilannya Romo/Ramani.

      Delete