29 April 2010

Melantjong ke Koeboeran Toea Soerabaia



Sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia 3, Minggu (25/4/2010), menikmati enam objek wisata yang ada kaitan dengan kematian dan Ceng Bing di Surabaya. Capek, tapi asyik.


Sebelum pukul 08.00, para peserta sudah berkumpul di sebuah rumah tua Jalan Bibis 2, bekas kantor redaksi koran Tionghoa, Sin Tit Po. Paulina Mayasari, tour leader sekaligus pemrakarsa, menyampaikan brifing singkat kepada para peserta, khususnya tradisi Ceng Beng. Maklum, tidak semua peserta keturunan Tionghoa. Ada juga yang Jawa, Batak, Sunda, Betawi, Flores, hingga Kalimantan.

"Kita akan melihat tempat-tempat yang ada hubungan dengan kematian. Sebab, Ceng Beng pada bulan April itu merupakan tradisi Tionghoa untuk mengenang dan menghormati orang tua, leluhur, dan kerabat yang telah meninggal dunia," jelas Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari.

Lantas, para peserta menumpang bemo-bemo yang sudah disiapkan Maya dan kawan-kawan. Toko Nisan Praloyo alias Tjwan Tik Sing, pembuat bongpay terkenal di Jalan Bunguran 91, menjadi tujuan pertama. Tiba di lokasi, belasan pekerja terlihat sibuk mengukir batu-batu nisan khas Tionghoa yang sangat indah.

Suwanto, bos Tjwan Tik Sing, dengan antusias menjelaskan sejarah perusahaan, jenis-jenis bongpay, bahan baku bongpay, hingga tren bongpay masa kini. Suwanto mengaku sebagai generasi ketiga penerus usaha yang dirintis pada 1937 itu. "Setahu saya bongpay di sini tertua di Surabaya, bahkan Indonesia. Sebab, bongpay-bongpay lainnya yang seangkatan sudah nggak aktif lagi," kata pria yang ramah ini.

Menurut dia, seperti juga produk yang lain, bongpay pun terus-menerus mengalami penyesuaian dari masa ke masa. Bongpay yang sekarang cenderung lebih sederhana, tak serumit zaman dulu. Bongpay di tanah air, khususnya Surabaya, pun tak sama persis dengan di Tiongkok.

"Tapi batu yang diimpor dari Tiongkok memang yang paling kuat dan berkualitas tinggi," tutur Suwanto sembari memperlihatkan bongpay-bongpay khas tempo doeloe di bagian belakang.

Karena sudah banyak orang Tionghoa yang beragama Katolik, Kristen Protestan, dan Buddha, jelas Suwanto, bongpay-bogpay pun disesuaikan dengan agama dan kepercayaan si empunya kubur. Pihak Tjwan Tik Sing pun memahat petikan ayat Alkitab atau figur-figur Kristiani macam Yesus Kristus, Bunda Maria, atau malaikat yang bersayap.

Sembari mendengar penjelasan panjang lebar soal bongpay, sebagian peserta yang kebetulan fotografer bolak-balik mengambil gambar. "Kesempatan seperti ini sangat langka. Jangan sampai dilewatkan," ujar Cak Nawi, fotografer amatir kelahiran Bandung.

Dari rumah produksi bongpay, peserta Melantjong Petjinan Soerabaia beringsut ke Peti Mati Ario di Jalan Dinoyo. Ario Karjanto, bos Ario, bersama putri tunggalnya, Yohana, dan menantunya, Richard Woo, menyambut rombongan dengan ramah. Suasana semakin meriah karena Pak Ario ini ternyata piawai bercerita dan melontarkan joke-joke segar.

"Bisnis peti mati itu seperti bisnis hiburan. Saya ini kayak EO, event organizer," kata Ario disambut tawa para pelancong lokal ini.

"Lha, iya, tugas kami di Ario ini adalah bagaimana menghibur dan membesarkan hati keluarga yang berduka. Melayani sedemikian rupa mulai dari menyediakan peti, memandikan jenazah, mencarikan romo atau pendeta atau modin, persemayaman, sampai pemakaman," ujar Ario Karjanto.

Rombongan kemudian menuju ke kompleks makam Tionghoa di Kembang Kuning. Kembali para peserta seakan berlomba mengabadikan makam-makam lama yang kental dengan berbagai simbol khas Tionghoa. Ada sejumlah makam telantar yang kini ditinggali penduduk setempat. "Habis nggak ada yang ngurus," ujar seorang warga Kembang Kuning.

Setelah mendengar penjelasan tentang metode kremasi dari Surawi, petugas Krematorium Eka Praya, acara melancong dilanjutkan ke Makam Simokwagean dan finis di Adi Jasa, Jalan Demak 90-92. Peserta bisa melihat begitu banyak objek menarik di Adi Jasa. Mulai dari cara pengawetan jenazah dengan es di cold storage, penyemayaman, hingga penyimpanan dan perawatan abu jenazah.

"Abu yang paling lama di Adi Jasa ini sudah 18 tahun. Sementara rekor penyemayaman jenazah sampai 40 hari. Itu karena suhu yang dipakai untuk menentukan hari baiknya dari Taiwan, bukan suhu Surabaya," cerita Agus Piawai, pengurus Adi Jasa.

Peserta pun tertawa terbahak-bahak karena Pak Agus ini pandai melucu. Ini juga membuat kelelahan fisik dalam melancong selama hampir tujuh jam ini tak terasa. "Senang, dapat banyak pengetahuan baru di Surabaya," kata Febby, peserta asal Jakarta. (rek)

1 comment:

  1. Mas Hurek liputannya bagus, fotonya koq cuma 1? yang lainnya di share ya..
    Terima kasih, sukses selalu...

    ~ Myke Jeanneta

    ReplyDelete