10 April 2010

Kafir di Flores dan Jawa




Orang Indonesia harus punya agama. Kartu tanda penduduk (KTP) ada kolom agama. Dan harus diisi salah satu dari enam agama (dulu lima): Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Khonghucu.

Bagaimana jika orang Indonesia itu beragama Tao, Sikh, atau agama-agama "asli" yang sedemikian banyak itu? Bagaimana kalau orang Indonesia itu tidak punya agama? Sstt... pertanyaan sangat peka di Indonesia.

Di Flores Timur, pada tahun 1980-an dan 1990-an, orang-orang kampung yang tidak menganut agama Islam atau Katolik [kebetulan di sana hanya ada dua agama ini], maka ditulis: KAFIR. Istilah KAFIR biasa disebut anak-anak atau masyarakat luas tanpa ada yang merasa tersinggung.

Dan orang-orang KAFIR ini banyak sekali di kampung-kampung pelosok Flores Timur, khususnya Pulau Lembata, hingga akhir 1990-an. Anak-anak dan cucu-cucu mereka memang sudah Katolik, tapi para pemeluk "agama asli" ini tetap melaksanakan "tula gudung" alias pemujaan ala animisme-dinamisme.

Begitulah. Bagi orang-orang Flores yang kurang makan sekolah, KAFIR artinya orang yang belum menganut salah satu dari enam agama resmi di Indonesia atau agama-agama besar di dunia. Orang Islam bukan kafir. Orang Protestan bukan kafir. Orang Hindu bukan kafir. Orang Buddha bukan kafir. Orang Khonghucu bukan kafir. Orang Yahudi bukan kafir. Orang Sikh bukan kafir. Orang Sinto bukan kafir. Dan seterusnya.

Setelah tinggal dan makan sekolah di Jawa Timur, bergaul luas dengan berbagai kalangan di Jawa Timur, akhirnya saya jadi tahu betapa besar perbedaan definisi KAFIR di Flores dengan KAFIR di Jawa. Istilah KAFIR sering diteriakkah para demonstran ketika melakukan unjuk rasa ke kantor diplomat negara-negara Barat, khususnya Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jalan Soetomo Surabaya.

Amerika Serikat selalu dibilang KAFIR. Israel yang Yahudi KAFIR. Pokoknya, hampir semua lawan politik si demonstran dibilang KAFIR. Tapi, uniknya, warga negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau Rusia yang tidak beragama, ateis, tidak peduli Tuhan, hampir tak pernah diteriakin KAFIR.

Tahulah saya bahwa istilah KAFIR yang berlaku di Jawa tidak sama dengan di Flores Timur yang masih terbelakang itu. Gampangnya begini: Semua pihak yang berada di luar kaumku, golonganku, agamaku, aliranku, pahamku... Anda layak disebut KAFIR. Yang beriman dan disayangi Tuhan, ya, orang-orang dari kelompok atau golongannya sendiri.

Ihwal kata atau istilah KAFIR ini tentu sangat sensitif. Umat beragama (apa pun) yang rajin berdoa, ikut kegiatan sosial, peduli sesama, menjalankan ajaran agamanya... bisa tersinggung dicap KAFIR. Kecuali orang-orang kampung di Flores, kakek-kakek dan nenek kami, tempo dulu yang tenang-tenang saja meskipun kolom KTP atau identitas kependudukan lain ditulis besar-besar: KAFIR.

Yang menarik, orang-orang KAFIR di Flores Timur yang usianya rata-rata sudah di atas 70 atau 80 tahun itu tidak pernah korupsi. Tidak pernah mencuri. Selalu hidup selaras dengan alam. Yang doyan korupsi sejak 1980-an sampai hari ini adalah pejabat-pejabat eksekutif, legislatif, pegawai pajak, pegawai negeri sipil, pemborong bangunan yang sebagian besar beragama... KATOLIK.

Kata teman saya: "Pejabat-pejabat di Flores itu rajin ke gereja; kalau misa selalu duduk di depan; tapi juga rajin korupsi. Orang-orang kampung yang masih KAFIR tidak pernah korupsi. Mau korupsi apa? Mereka itu kan buta huruf, tidak bisa berbahasa Indonesia, dan hanya bisa hidup sederhana di kampung."

Iseng-iseng saya membuka Kamus Bahasa Indonesia karangan Sutan Mohammad Zain, terbitan PT Grafica Jakarta, 1952. Sutan yang orang Sumatera Barat ini, selain ahli bahasa Indonesia terkemuka pada 1950-an dan 1960-an seperti Sutan Takdir Alisjabana, juga pakar agama Islam. Di halaman 320 buku kamus lama ini, Sutan Mohammad Zain menjelaskan arti kata KAFIR, serapan dari bahasa Arab.

KAFIR : Tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Kafir itu ada tiga macam.

1. Kafir MAJUSI: Orang kafir yang menyembah api.

2. Kafir MUSYRIK: orang yang memberi serikat atau sekutu kepada Tuhan. Artinya, ada pula yang lain yang berkuasa bersama-sama dengan Tuhan.

3. Kafir AHLU'KITAB: Orang kafir yang mempunyai kitab, yaitu orang Yahudi dan Nasrani.


Definisi yang ditulis Sutan Mohammad Zain ini sudah jelas dan gamblang menyebutkan manusia-manusia macam apa saja yang disebut KAFIR itu. Orang Kristen alias Nasrani tergolong KAFIR jenis ketiga: Kafir Ahlu'kitab.

Jadi, kalau di pelosok Flores Timur, para pejabat desa atau pengurus RT/RW suka meng-KAFIR-kan orang-orang tua yang tidak menganut agama Islam atau Katolik, di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan daerah-daerah lain di luar Flores, definisi KAFIR tidak lagi seluas yang biasa dipahami di Flores. Ingat, lain padang, lain belalang!

Karena itu, seharusnya orang-orang Flores tidak boleh lagi menggunakan istilah KAFIR untuk mencap siapa pun, dengan alasan apa pun, apalagi kepada leluhur atau nenek moyang kita sendiri. Jangan lagi menulis KAFIR di kolom agama di KTP!

No comments:

Post a Comment