23 April 2010

Jupri Abdullah dan Lukisan Mikro

Di antara sekian banyak pelukis di Jawa Timur, Jupri Abdullah tergolong pelukis paling 'heboh'. Akhir-akhir ini, wajahnya sering muncul di televisi nasional karena getol membuat lukisan mikro Presiden AS Barack Obama dan almarhum Gus Dur. Jupri yang asli Pandaan, Pasuruan, ini juga kerap bikin heboh dengan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Jupri Abdullah di sela-sela kesibukan mempersiapkan pameran mengenang Gus Dur di Jakarta, kemarin (10/4/2010).

Oleh LAMBERTUS HUREK




Apa kesibukan Anda saat ini?

Saya lagi melukis dua tokoh besar dunia, Husein Barack Obama dan Gus Dur. Presiden Amerika Serikat Obama menjadi tema pameran tunggal saya 1001 Obama. Sedangkan pameran lukisan untuk mengenang Gus Dur bertema Gus Dur di Mata Dunia. Dua tokoh besar ini tetap saya lukis dengan ukuran mini. Sebanyak 20 lukisan Gus Dur dan potret diri Gus Dur dengan ukuran 1 x 1 cm akan dipamerkan di Museum Istiqlal TMII Jakarta, tanggal 19 sampai 30 April 2010.

Bagaimana sosok Gus Dur di mata Jupri Abdullah?

Wah, almarhum Gus Dur ini menarik untuk diperbincangkan daripada bicara masalah Century. Gus Dur adalah sosok pemikir yang belum ada tandingannya di negeri ini. Ungkapannya sedikit, namun penuh arti. Gus Dur bukan saja bisa membangun Indonesia dalam segi fisik, tapi dia mampu membangun mental setiap manusia. Tidak membedakan suku dan golongan. Gus Dur laik mendapat penghargaan Nobel sebagai tokoh yang mempelopori pluralisme dan perdamaian. Gus Dur itu seorang ulama dan pemikir Islam yang moderat. Bicaranya jeplas ceplos, rileks.

Kalau tak salah, Anda juga bikin lukisan mikro Presiden Obama. Ideanya dari siapa?

Ide melukis Obama terkecil dari saya sendiri. Memang sudah saya rencanakan sejak lukisan saya yang pertama berjudul Obama, antara Gedung Putih dan Istana Negara yang diterima Konsulat Jenderal AS di Surabaya pada 100 hari pemerintahan Obama.

Kabarnya, lukisan tersebut telah diterima Gedung Putih. Potret diri Obama menarik untuk saya lukis dengan ukuran mini. Paling tidak dunia akan melihat bagaimana sepak terjang pelukis Indonesia yang melukis Obama mini di atas batu cincin. Ini perlu sebab bagaimana saya sebagai pelukis Indonesia bisa dilihat oleh kacamata dunia (seni rupa). Dan dampak dari kerja keras saya pada akhirnya lukisan saya menjadi liputan menarik televisi dan media cetak.

Tapi kan ada juga pihak tertentu yang menolak kedatangan Obama?

Sebagai manusia, kita ini tak boleh suudlon, berburuk sangka. Kita ini hidup dalam keterbukaan. Apakah kita ini sudah merasa baik dan suci? Janganlah jadi manusia-manusia yang munafik. Bagi saya, tamu merupakan orang yang perlu kita hargai dan hormati.

Kabarnya, lukisan Obama itu hilang. Bagaimana ceritanya?

Ya, lukisan itu memang hilang saat saya naik taksi di Jakarta. Lukisan berjudul SBY Menatap Obama saya buat saat saya diundang live oleh tvOne, 19 Februari 2010 di Wisma Nusantara Jakarta. Namun, sertifikat lukisan tersebut tetap saya simpan. Dari peristiwa itu, akhirnya muncul ide melukis Obama di atas batu cincin berukuran 1 x 1 cm. Dan lukisan tersebut telah dipesan untuk kado Obama. Alhamdulillah.

Sejak kapan Anda menggeluti lukisan mikro? Idenya dari siapa?

Saya melukis mikro sejak tahun 2002 di Jakarta. Ide datang dari ritual pribadi. Nggak ada pelukis yang saya jadikan rujukan.

Lukisan mikro itu kan sulit dinikmati orang banyak. Ada kolektor yang berminat?

Yah, lambat laun kolektor mulai melirik. Alhamdulillah, salah satu museum di Jakarta sudah mengoleksi lukisan saya kaligrafi terkecil di atas batu giok.

Setahu saya, selain lukisan mikro, Anda juga membuat lukisan biasa, bahkan jumbo.

Lukisan saya ada yang berukuran besar berjudul 1001 Obama ukuran 4 x 2,4 meter. Sedang lukisan mikro saya buat ukuran 4 x 4 milimeter. Lukisan kecil memang saya awali lewat pemecahan rekor (Muri), dan tidak banyak pelukis yang suka. Namun, saya optimistis suatu saat lukisan kecil akan menjadi primadona. Karena itu, saya berencana membangun museum lukisan mini. Baik dari lukisan-lukisan maupun bentuk museumnya, sehingga orang ingin melihat lukisan di museum dengan jalan jongkok. Ini merupakan obsesi saya yang saya persembahkan untuk bangsa. Saya juga merencanakan melukis para pemimpin dunia dengan ukuran supermini. Dan saya rencana mengadakan pameran keliling dunia.

Ada sejumlah pengamat, bahkan sesama pelukis, yang menilai Anda suka mencari sensasi. Apa tanggapan Anda?

Bagi saya, melukis merupakan kepuasan tersendiri. Sebagai pelukis di era sekarang, kita harus cerdik dan nekat. Sensasi atau apa istilahnya, yang jelas, seniman harus punya manajemen yang baik dan mampu melakukan public relations (PR). Pelukis sekelas Pablo Picassa saja pernah membawa karyanya ke sidang PBB. Apa ini tidak lebih gila? Pelukis harus optimis dan punya mimpi yang menjulang.

Apa lukisan Anda yang paling berkesan?

Judulnya Istriku Marah, berukuran 15 x 25 cm, cat minyak di atas kanvas. Ini merupakan lukisan yang sangat bersejarah dalam hidup saya. Lukisan itu lahir saat istriku klimaks marahnya hingga ingin pisah. Malamnya lukisan itu saya buat. Dan semenjak lukisan itu ada, istriku tak pernah marah dan bikin ribut-ribut lagi. Dulu kalau gak ada uang marah, sekarang kalau gak ada uang ya cari pinjaman. Hehehe.... (*)



PELUKIS JATIM BELUM DIREKEN


TAK banyak yang tahu kalau Muhammad Jupri alias Jupri Abdullah belajar melukis secara otodidak. Di usia 15 tahun, dia melihat buku seni lukis di Toko Buku Sari Agung, Jalan Tunjungan Surabaya. Dari buku itulah, Jupri mulai belajar menggambar dan akhirnya merasa mantap memilih menekuni seni rupa.

"Tapi baru tahun 1990 saya merasa siap menjadi pelukis profesional. Saat itu saya hidup dan berjuang di Jakarta. Masuk di Pasar Seni Ancol dari 1993 sampai 1994," kata Jupri Abdullah.

Sejak 1990-an itulah, Jupri aktif membangun jaringan dengan sesama pelukis, kolektor, kurator, maupun wartawan di berbagai kota di tanah air. Dia juga aktif ikut pameran, baik pameran bersama maupun pameran tunggal, di Surabaya, Jogjakarta, Malang, Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi, Bali, Jakarta, dan Malaysia.

Lantas, bagaimana perkembangan seni rupa di Jawa Timur, khususnya Surabaya? Jupri menegaskan, sampai sekarang Jatim belum diperhitungkan di kancah seni rupa nasional. Referensi seni rupa di Jatim sangat minim. Kritik seni rupa nyaris tidak ada. "Surabaya juga belum punya tempat pameran yang prestisius. Museum seni rupa di Jatim nggak ada," kata suami Rahmawati ini.

Ajang pameran dua tahunan alias Biennale Jatim yang sudah tiga kali digelar, menurut Jupri, justru makin menurun kualitasnya. Gemanya tak menasional. "Kenapa? Karena tidak melibatkan orang-orang yang kapabel. Padahal, waktu satu tahun sudah cukup untuk mempersiapkan biennale."

Dia mengaku prihatin karena saat ini masih banyak seniman yang hanya membanggakan diri dengan gelar 'seniman', padahal karyanya belum matang. Tidak ada gregetnya. Bahkan, banyak pelukis yang suka mengeluh karena lukisannya tidak laku-laku jual. "Ini preseden buruk bagi pelukis. Bagaimana lukisan bisa terjual, sementara karya yang dihasilkan tidak matang? Baik dari sisi penggarapan, artistik, dan ideanya," tukasnya. (rek)


BIODATA

Nama Asli : Muhamad Jupri
Nama Artis : Jupri Abdullah
Lahir : Pasuruan, 23 Pebruari 1963
Nama Istri : Rahmawati
Anak : Eko Adi Kurniawan (20), Putri Daarmiawati (14), Anggie Laraswati (7)
Alamat Rumah : Wunut, Pandaan, Pasuruan
Pelukis Idola: Affandi dan Pablo Picasso
Hobi: dengar musik, film, dan melancong


Pendidikan :
SDN Gempol I Gempol Pasuruan
SMP Ma'arif Gempol Pasuruan
SMPP Negeri Pandaan Pasuruan
D-3 Sinematografi jurusan Editor dan Sutradara

Moto: Hidup adalah sebuah perjuangan dan kelak dipertanggungjawabkan.
Karyaku adalah napasku, kuasku adalah tasbihku, goresanku adalah doaku.

Penghargaan :

2003 : Pelukis Kaligrafi Terkecil Rekor Muri
2004 : Pemrakarsa dan Penyelenggara Konvoi Lukisan Terpanjang 100 Km Rekor Muri
2005 : Pelukis Sari buah (Nanas) di Atas Kertas Foto Warna Rekor Muri
2006 : Lukisan Termahal Pameran Lukisan Hikmah Musibah Lapindo - JTV, BPLS
2008 : Pelukis Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 2008, di Istana Negara Rekor Muri (belum diserahkan)
2009 : Pemrakarsa dan Penyelenggara Pembuatan Katalog Terbesar Rekor Muri


MURI DISAYANG, MURI DIGUGAT


NAMA Jupri Abdullah mulai akrab dengan Museum Rekor Indonesia (Muri) sejak 2003. Saat itu Jupri ditabalkan sebagai sebagai pelukis kaligrafi terkecil di Indonesia. Lukisan kaligrafinya berukuran 0,5 x 0,5 sentimeter.

Setahun kemudian, dia kembali beroleh penghargaan Muri sebagai pemrakarsa dan penyelenggara konvoi lukisan terpanjang 100 kilometer. Pria 47 tahun ini tak puas sampai di situ. Pada 2005, dia melukis menggunakan sari buah nanas di atas kertas foto. Tahun 2008, Jupri nekat datang ke Istana Negara untuk melukis peringatan detik-detik Proklamasi.

"Terakhir, tahun lalu, saya dapat Muri lagi sebagai pemrakarsa dan penyelenggara pembuatan katalog terbesar," tuturnya kepada Radar Surabaya, Kamis (8/4/2010).

Untuk apa membuat begitu banyak karya hanya agar dicatat di Muri? "Motivasi saya sederhana saja. Saya ingin tercatat dalam sejarah, sehingga kelak anak cuku saya mengetahui bahwa pernah terlahir di dunia ini seorang yang mukanya jelek, pelukis otodidak, yang mampu membuat karya mini, bernama Jupri Abdullah. Hehehe," ujarnya.

Ihwal berbagai kritik yang dialamatkan kepadanya, seperti suka mencari sensasi dan popularitas, Jupri tetap menanggapi dengan enteng. "Terserah orang mau bilang apa. Bagi saya, prestasilah yang dapat mendongkrak populatitas seseorang yang bergelut dengan karya seni rupa. Jangan banyak bicara, tong kosong nyaring bunyinya."

Meski namanya terdongkrak berkat rekor Muri, belum lama ini Jupri menggugat museum rekor milik Jaya Suprana yang berpusat di Semarang itu. Gara-garanya, buku Rekor-Rekor Muri 1990-2008 yang diterbitkan Aylawati Sarwono menggunakan salah satu lukisannya untuk cover buku tanpa izin. Yakni, lukisan kaligrafi Basmallah di atas batu Lapindo yang dibuat tahun 2007?

"Kenapa foto itu yang ditampilkan? Wong, lukisan itu nggak dapat Muri. Kemudian pihak Muri juga tidak izin saya," protes pelukis berambut gondrong itu.

Saat ini, menurut dia, perkara ini tengah ditangani tim pengacara dari Jakarta. Beberapa waktu lalu Juri juga telah dipanggil Direktur Kesenian Kementerian Budaya dan Pariwisata untuk membahas persoalan yang sempat mencuat di media massa itu.

"Saya disarankan untuk melakukan musyawarah. Namun, jika tidak ditemukan jalan damai, ya, saya akan tempuh jalur hukum," tegasnya. (rek)

1 comment:

  1. hati2 dia bukan pelukis hanya orang yg pandai mencari sensasi untuk menipu orang lain...sudah banyak korbanya..waspada

    ReplyDelete