05 April 2010

Jumat Agung di Surabaya-Sidoarjo

Umat Kristiani di Surabaya dan sekitarnya kemarin (2/4/2010) memperingati wafat Yesus Kristus dalam upacara Jumat Agung. Gereja-gereja diserbu jemaat.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Sejatinya perayaan mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus (Isa Almasih) sudah berlangsung sejak Kamis malam. Gereja Bethany Indonesia secara khusus menggelar perjamuan kudus yang dipimpin Pendeta Alex Abraham Tanusaputra, gembala senior serta pendiri gereja karismatik terbesar di Indonesia itu.

Ribuan jemaat Bethany tentu saja tak menyia-nyiakan perayaan setahun sekali menjelang Paskah itu. Ibadah raya di Gereja Bethany diwarnai puji-pujian, kesaksian, disertai perjamuan kudus. “Suasananya beda dengan ibadah raya atau KKR biasa,” ujar Fanny, salah satu jemaat Bethany.

Hampir bersamaan, Kamis malam, gereja-gereja Katolik menggelar perayaan ekaristi Kamis Putih. Upacara mengenang perjamuan terakhir Yesus Kristus dengan 12 muridnya sebelum menderita sengsara dan wafat. Usai misa, digelar tuguran sepanjang malam.

“Umat bergantian datang per wilayah untuk tuguran. Ini tradisi untuk menyambut Jumat Agung keesokan harinya,” jelas Pastor Paroki Gembala Yang Baik (GYB) Romo Lucius Uran SVD. Karena bangunan Gereja GYB di Jalan Jemur Handayani Surabaya terbakar pada 17 Februari lalu, misa Pekan Suci digelar di halaman parkir. Meski begitu, umat tetap antusias mengikuti perayaan yang berdurasi hampir dua jam tersebut.

Adapun ritual Jumat Agung kemarin berlangsung lebih meriah di hampir semua gereja. Gereja Hati Kudus Yesus (HKY) di Jalan Polisi Istimewa Surabaya, seperti biasa, menjadi jujugan umat Katolik dari berbagai kawasan. "Ini yang membuat Gereja HKY itu selalu penuh umat meskipun setiap tahun tempat duduknya ditambah," kata Pastor Paroki HKY Romo Eko Budi Susilo.

Anak-anak muda memanfaatkan momen Jumat Agung ini dengan mempersembahkan teater Jalan Salib alias visualisasi kisah sengsara Yesus. Di Gereja Santo Paulus Juanda, drama Jalan Salib diawali dari dalam gereja, kemudian ke halaman.

Sekitar 800 umat ikut mengantar ‘Yesus’, yang diperankan seorang pemuda kurus, ke tempat penyaliban Yesus di dekat pastoran. Sepanjang jalan para prajurit dan massa Yahudi berteriak-teriak dan menyiksa ‘Yesus’ yang sedang memanggul salib. “Kasihan, bisa-bisa ‘Yesus’ masuk rumah sakit,” ujar Denny, umat Paroki Juanda.

Jumat Agung dilanjutkan pada pukul 15.00. Misa di Gereja Santo Paulus Juanda dipimpin Romo Sonny Keraf SVD dan didampingi Romo Yosef Due SVD, yang kebetulan sama-sama berasal dari Flores. “Mudah-mudahan kita semua bisa merefleksikan dan mengambil hikmah dari peringatan Jumat Agung ini,” kata Romo Sonny.

SEBELUM Jumat Agung, umat Katolik di Keuskupan Surabaya menjalankan program Aksi Puasa Pembangunan (APP) selama 40 hari. Tahun 2010 ini Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono mengajak umat untuk mendalami pentingnya peranan keluarga.

“Maka, tema APP sekarang adalah Aku Cinta Keluarga. Selama lima minggu umat berkumpul untuk membahas tema itu,” ujar Romo Paulus Suparmono CM, provinsial ordo Kongregasi Misi (CM), pekan lalu.

Tak hanya diskusi, menurut pastor kelahiran 27 Juli 1962 ini, gereja-gereja juga mengajak umat untuk melakukan aksi atau kegiatan di lingkungannya masing-masing. Misalnya, mengunjungi orang sakit, bakti sosial, hingga penggalangan dana.

Anak-anak juga dibiasakan peduli sesama dengan menyisihkan dana setiap pekan. Dana itu kemudian dimasukkan dalam Amplop APP dan diserahkan pada perayaan Jumat Agung kemarin. “Amplop APP itu diserahkan ke keuskupan untuk dikelola,” katanya.

Mengapa APP tahun ini berfokus pada keluarga?

Menurut Romo Suparmono, gereja ikut prihatin dengan kondisi keluarga-keluarga Indonesia yang semakin modern, tapi semakin kehilangan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Ayah-ibu sibuk kerja, anak-anak dititipkan pada pembantu atau baby sitter di rumah.

Anak-anak juga dimanja dengan aneka hiburan seperti televisi, games, ponsel, dan sebagainya. Padahal, tidak semua fasilitas itu sehat bagi perkembangan jiwa anak-anak. “Kalau kita perhatikan, banyak acara di televisi itu yang justru menjadi racun bagi anak-anak kita,” tegasnya.

Romo Suparmono mencontohkan sebuah film animasi yang sangat digemari anak-anak. Dilihat sepintas, film kartun itu lucu dan menghibur. Namun, di balik itu, ada adegan-adegan yang justru ‘mengajarkan’ kekerasan kepada anak-anak.

“Maka, anak-anak butuh pendampingan dari orang tua,” tegasnya.

Selama masa Prapaskah, Romo Suparmono juga mengkritisi situs-situs jejaring sosial macam Facebook, Friendster, atau Twitter, yang juga sangat disukai kaum muda. Begitu asyiknya, sehingga anak-anak muda ini seperti tak punya waktu lagi untuk berkomunikasi dengan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri.

Menurut pastor ini, jika kebiasaan ber-Facebook ria ini dibiarkan, bukan tak mungkin generasi muda kita kurang merespons apa yang terjadi di dunia nyata. Dia hanya asyik dengan dunia virtual yang sebenarnya semu. “Timbullah sifat cuek, kurang peduli, tidak punya empati, egoisme, dan hedonisme,” pungkasnya. (rek)





Ajang Silaturahmi Umat Kristen Jawi


TAK hanya di kota, umat Kristen yang tinggal di pedesaan pun ikut memperingati wafat Yesus Kristus, sang mesias. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Luwung, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, kemarin, tak mampu menampung luberan umat.


Gereja tua di tengah-tengah perkampungan yang dikitari persawahan ini dirintis sejak 1928. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Waktu itu jemaatnya hanya dua orang Jawa yang bekerja sebagai petani.

“Sekarang ini jemaat saya tercatat 125 kepala keluarga,” ujar Pendeta Dwi Cahyo, gembala GKJW Luwung, kepada Radar Surabaya kemarin.

Namun, berbeda dengan dua dekade silam, saat ini jemaat GKJW Luwung tak hanya para petani dan buruh pabrik yang bekerja di Balongbendo, Krian, Mojosari, atau Mojokerto. Sudah banyak jemaat yang pindah ke kota-kota lain menjadi pegawai negeri sipil, karyawan swasta, atau membuka usaha kecil-kecilan.

Karena itu, setiap kali kebaktian hari Minggu, menurut Dwi Cahyo, tidak semua jemaat yang 125 KK itu bisa hadir. Mereka baru pulang kampung rame-rame pada Jumat Agung untuk mengikuti perjamuan kudus. “Jadi, Jumat Agung di GKJW Luwung ini juga menjadi momentum mempererat persekutuan di antara jemaat,” kata pendeta kelahiran Mojokerto, 2 Maret 1981, ini.

Ada empat kali perjamuan kudus di Luwung. Selain Jumat Agung, sakramen penting ini digelar pada saat Natal, pekan Oikumene, dan hari jadi GKJW. "Kalau hari-hari biasa sih partisipasi jemaat kami kira-kira 80 persenlah. Tapi Jumat Agung kayak begini, bisa melebihi 100 persen karena ada saja jemaat tamu," kata Dwi Cahyo.

Namanya juga gereja desa, cikal bakal jemaat Kristen di Jawa Timur, selain GKJW Mojowarno di Jombang, nuansa pedesaan Jawa sangat terasa di GKJW Luwung. Banyak jemaat pria mengenakan busana Jawa, blangkon, atau kopiah. Sementara jemaat perempuan, khususnya ibu-ibu, mengenakan kebaya. Kebaktian pun umumnya menggunakan bahasa Jawa halus (krama inggil).

“Tapi sejak beberapa tahun lalu, kami juga menggunakan bahasa Indonesia karena generasi muda dan para tamu agak sulit memahami bahasa Jawa,” tutur Dwi Cahyo.

No comments:

Post a Comment