05 April 2010

Jay Wijayanto - The Indonesia Choir




JAY WIJAYANTO, pentolan paduan suara, yang belakangan jadi Bang Zaitun di film Sang Pemimpi, muncul di Kick Andy - Metro TV. Gaya bicaranya masih seperti dulu: ceplas-ceplos, nyentil sana-sini, tak lupa guyonan pahit. Orang dibuat ketawa atau senyam-senyum, tapi juga prihatin.

"Tidak ada paduan suara yang buruk. Yang ada pelatih paduan suara yang buruk," ujar Jay Wijayanto alias Jegger membuat Andy F. Noya, host Kick Andy, tertawa lebar. Jay Wijayanto diwawancarai dalam kapasitas sebagai pendiri, pelatih, dan dirigen The Indonesia Choir. Paduan Suara Indonesia.

"Begitu juga tidak ada acara talkshow yang buruk. Yang ada host yang buruk. Dan... host Kick Andy ini bagus." Hehehe.... Andy Noya tertawa lagi.

Tahun 1990-an, saya pernah merasakan gemblengan Jay Wijayanto di Jember. Sejumlah mahasiswa di Jember, yang beragama Katolik dan suka paduan suara, ditatar khusus oleh si Jengger. Begitu mendengar kata-kata pengantarnya pada 10 menit pertama, saya sudah bisa meraba-raba gaya si Jegger. Nyentil sana, nyentil sini, kritik kiri-kanan. Jay tak lupa kasih contoh cara menyanyi yang kurang benar.

Orang Jogja ini juga bisa menirukan gaya menyanyi penyanyi-penyanyi mana pun. Ebiet G. Ade, Rhoma Irama, Eddy Silitonga, hingga Nikita, penyanyi rohani remaja, yang waktu itu kondang dengan hit Di Doa Ibuku Namaku Disebut. Jegger mengupas habis teknik vokal para penyanyi pop yang memang tak pernah ikut pakem seni suara klasik atawa paduan suara itu.

"Sekarang kita belajar resonansi," kata Jay Wijayanto, sang instruktur vokal. Dia bikin ilustrasi gambar kayak telur ayam. Ada kuning telur, dilapisi putih telur.

Lantas, selama satu jam lebih kami, peserta kursus paduan suara diminta membunyikan NG. Gampang-gampang susah. Posisi lidah, tekak, mulut... sangat menentukan kualitas suara yang keluar. Teman-teman keringat dingin, takut dijadikan bahan guyonan si Jegger. Humor pahit. Setelah lulus membunyikan NG, latihan dilanjutkan dengan NGO....

"Latihan lagunya kapan? Kok NG dan NGO terus?" bisik teman di sebelah.

Rupanya, Jay Wijayanto tahu persis apa sejatinya kelemahan para penyanyi, khususnya paduan suara, di Indonesia. Terlalu banyak menyanyi, latihan macam-macam lagu, tapi abai pada teknik produksi suara. Padahal, di situlah kunci utama teknik vokal yang harus sangat-sangat diperhatikan.

Setelah dilanda ketegangan cukup lama, pelan-pelan kami mulai merasa nyaman digembleng si Jegger. Latihan lagu pun menjadi jauh lebih enak. Saya masih ingat beberapa komposisi seperti REJOICE IN THE LORD dan I DON'T KNOW HOW TO LOVE HIM. Dua komposisi ini diulang-ulang karena tingkat kesulitannya relatif tinggi.

Dua hari kemudian, paduan suara yang baru saja digembleng Jay Wijayanto bikin konser di dalam Gereja Santo Yusuf, Jalan Kartini Jember. Sebelumnya, si Jegger ngetes apakah akustik gereja di tengah kota Jember itu oke atau tidak. "Wah, bagus. Gak usah sound system," katanya.

Maka, malam itu saya menjadi saksi konser tunggal vokalis seriosa bernama Ignatius Wijayanto alias Jay Wijayanto alias Jegger. Paduan suara kami, yang dadakan itu, kebagian membawakan beberapa komposisi. Saya akhirnya mahfum mengapa Jegger berani tampil di konser tunggal tanpa pengeras suara. Wong, suaranya sendiri sudah sangat keras. Power-nya luar biasa.

Semua penonton terpana mendengarkan lagu-lagu klasik dan semiklasik yang dibawakan Jegger. Dont't Cry for Me Argentina, Climb Every Mountains, Ave Maria, dan beberapa lagi. Programnya dibuat di kertas fotokopian. Lumayan, di kota kecil yang tak punya tradisi musik klasik bisa digelar konser vokal klasik nyaris tanpa biaya sama sekali.

Sekitar 10 tahun kemudian, Jegger muncul di majalah TEMPO. Cerita dua halaman tentang kiprah wong Jogja, alumni UGM ini, dalam menyebarluaskan musik paduan suara dengan komposisi-komposisi Nusantara. Lagu-lagu daerah, dolanan anak-anak, dibawakan dengan santai, riang, ringan, menghibur. Penulis di TEMPO memuji penampilan paduan suara yang dipimpin Jegger di Jakarta.

Saya makin salut sama Jegger. Gak nyangka, mantan jawa bintang radio jenis seriosa ini serius dan fokus pada hobi seni suaranya. Gayanya tak jauh-jauh dari Vocalista Sonora, paduan suara milik Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, yang sejak awal 1970-an fokus pada pengembangan lagu-lagu daerah.

Ketika menyaksikan siaran ulang Kick Andi di Metro TV, Minggu 29 Maret 2010, karena tak sempat lihat versi Jumat, saya langsung teringat pengalaman digembleng paduan suara oleh Jay Wijayanto. Di Metro TV, Jegger mengenakan kain sarung khas Tapanuli alias ulos. Bicaranya pun masih ceplas-ceplos kayak dulu. Logat Jawanya masih kental, bahkan justru makin kental.

"Orang Indonesia itu nggak ada yang suaranya benar-benar fals," kata Jegger. Karena itu, dia kerap mengajak penonton bernyanyi bersama-sama paduan suaranya.

Seni pertunjukan kita memang seperti itu. Para seniman (penampil) dan penonton selalu berinteraksi. Tak ada batasan. Unggah-ungguh priyayi ala konser musik klasik Barat tidak dikenal. Menurut Jegger, justru aneh kalau penonton seni pertunjukan Indonesia duduk terpaku, tegang, tak memberi respons selama pergelaran berlangsung.

"Bayangkan, Anda nonton jathilan dan diam saja seperti patung," ujar Jegger usai menembangkan Jula-Juli ala Suroboyoan.

Jay Wijayanto bersama The Indonesia Choir bertekad mengeksplorasi tembang-tembang daerah di seluruh Indonesia. Mengutip catatan dari sebuah lembaga statistik, menurut Jegger, bahasa daerah di Indonesia saat ini berjumlah 350-an bahasa daerah. Masing-masing warga pengguna bahasa daerah ini tentu saja punya lagu daerah dengan musik tradisionalnya yang unik.

Andai saja, masing-masing suku ini punya 10 lagu daerah saja, kita sudah punya ribuan komposisi. Padahal, faktanya, di Jawa saja ada ratusan, bahkan ribuan tembang daerah mulai dari Banyuwangi di Jawa Timur, hingga Semarang, Banyumas, dan seterusnya.

"Kita sering mengabaikan kesenian daerah dan mengagung-agungkan kesenian asing," kritik Jegger.

5 comments:

  1. moga2 jay ini sukses mengangkat lagu2 daerah yg mulai tenggelam.

    ReplyDelete
  2. Maju trus bang jay..

    ReplyDelete
  3. wow harapannya mas jay keren bgt,smoga lagu bangsa kita dapat terus dilestarikan.

    ReplyDelete
  4. two thumbs Bang.Zaitun buaaangeeeet dalam SP.q sampai SEMLENGEREN. Tetap berkarya untuk lagu2 daerah yang buaaanyaaak banget.Good Luck Bang.

    ReplyDelete
  5. Silahkan, apabila ada yang akan menonton pertunjukan TIC ada pada tanngal 26 Juni 2012 di Goethe House- Jakarta

    ReplyDelete